Analisis Pola Konsumsi dan Pengetahuan Konsumen terhadap Keamanan Pangan Produk Bakso Curah di Kecamatan Tembalang, Semarang

*Asri Astuti  -  Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Yoga Pratama  -  Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Bhakti Etza Setiani  -  Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Received: 19 Apr 2019; Published: 30 Nov 2019.
Open Access Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Citation Format:
Article Info
Section: Artikel Penelitian
Language: EN
Full Text:
Statistics: 14 81
Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola konsumsi konsumen sehingga mendapatkan informasi mengenai pengetahuan masyarakat terhadap keamanan pangan khususnya terhadap produk bakso curah yang beredar di Kecamatan Tembalang, Semarang. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan wawancara responden menggunakan kuesioner dan uji formalin. Data yang telah diperoleh sebesar 235 responden dan 80 sampel bakso kemudian ditabulasi dan dianalisis menggunakan Microsoft Excel kemudian data ditampilkan dalam bentuk tabel dan pie chart. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden sebanyak 98% mengkonsumsi bakso dimana 85%-nya membeli bakso di pasar tradisional (pedagang sayur keliling/warung) dan 13% membeli bakso di pasar modern. Konsumen bakso sebanyak 97% mengaku mengetahui bahaya konsumsi bakso berformalin dan sebesar 51%-nya dapat menyebutkan contoh bahayanya. Konsumen sebesar 97% mengetahui ciri-ciri bakso yang mengandung formalin dimana 65%-nya dapat menyebutkan ciri-cirinya. Jadi dapat disimpulkan bahwa konsumen bakso memiliki pengetahuan terhadap penggunaan bahan berbahaya formalin dengan cukup baik.

This study aims to determine consumer consumption patterns so that they get information about people's knowledge of food security, especially on bulk meatball products circulating in Tembalang District, Semarang. This study uses a survey method by interviewing respondents using questionnaires and formalin tests. The data obtained was 235 respondents and 80 meatball samples were tabulated and analyzed using Microsoft Excel and the data was displayed in the form of tables and pie charts. The results showed that 98% of respondents consumed meatballs where 85% of them bought meatballs in traditional markets (vegetable vendors / stalls) and 13% bought meatballs in the modern market. Consumers of 97% meatballs claimed to know the dangers of formalin meatball consumption and 51% of them could mention examples of dangers. Consumers 97% know the characteristics of meatballs containing formalin where 65% of them can mention their characteristics. So it can be concluded that meatball consumers have a good knowledge of the use of hazardous formalin ingredients.

Keywords
Consumption patterns; knowledge; formaldehyde; bulk meatballs

Article Metrics:

  1. Abdollahi, M., and A. Hosseini. 2014. Formaldehyde. Encyclopedia of Toxicology 2: 653–656. DOI: 10.1016/B978-0-12-386454-3.00388-2.
  2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2014. Studi Diet Total: Survei Konsumsi Makanan Individu Indonesia 2014. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta.
  3. Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2017. Laporan Tahunan Badan POM 2017. Badan POM, Jakarta.
  4. Faradila, A. Yustini, dan Elmatris. 2014. Identifikasi formalin pada bakso yang dijual pada beberapa tempat di kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas 3(2), 156–158.
  5. Handayani, S dan Hartono. 2016. Hubungan pengetahuan guru dan pengelola kantin tentang gizi btp(bahan tambahan pangan) terhadap penggunaan btp beresiko pada makanan anak sd di Surakarta. Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan, 5(2): 188–192.
  6. Hariyadi, P. 2010. Mewujudkan keamanan pangan produk-produk unggulan daerah dalam Prosiding seminar nasional peran keamanan pangan produk unggulan daerah dalam menunjang ketahanan pangan dan menekan laju inflasi. Purwekorto, Jawa Tengah.
  7. Hermanianto, J dan Y. Andayani. 2002. Studi perilaku konsumen dan identifikasi parameter bakso sapi berdasarkan preferensi konsumen di wilayah dki jakarta. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan 13(1): 1–10.
  8. Mahbub, M. A., Y. B Pramono, dan S. Mulyani, 2012. Pengaruh edible coating dengan konsentrasi berbeda terhadap tekstur, warna, dan kekenyalan bakso sapi. Animal Agriculture Journal 1(2): 177-185.
  9. Nasution, N., T. Ferasyi., Razali, Erina, Nazaruddin, dan A. Harris. 2018. Pemeriksaan cemaran formalin dan mikroba pada bakso yang dijual di beberapa tempat di kota langsa. Jurnal Ilmu Mahasiswa Veteriner 2(3), 288–295.
  10. Oktaviani, W. D., L.D. Saraswati dan M. Z. Rahfiludin. 2012. Hubungan kebiasaan konsumen fast food, aktivitas fisik, pola konsumsi, karakteristik remaja dan orang tua dengan indeks massa tubuh (imt) (sudi kasus pada siswa sma negeri 9 semarang tahun 2012). Jurnal Kesehatan Masyarakat 1(2): 542–553.
  11. Pratmanitya, Y., dan V. Aprilia. 2016. Kandungan bahan tambahan pangan berbahaya pada makanan jajan anak sekolah dasar di Kabupaten Bantul. Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia 4(1): 49–55.