skip to main content

ASUPAN MIKRONUTRIEN DAN RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI PADA BALITA STUNTING DI UPTD PUSKESMAS LIMBANGAN KECAMATAN SUKARAJA KABUPATEN SUKABUMI

Aas Asiah  -  Program Studi Gizi, STIKes Immanuel Bandung, Indonesia
*Gurdani Yogisutanti orcid  -  Program Studi Kesehatan Masyarakat, STIKes Immanuel Bandung, Indonesia
Asep Iwan Purnawan  -  Departemen Gizi, Politeknik Kesehatan Bandung, Indonesia
Received: 8 Sep 2019; Published: 25 Apr 2020.

Citation Format:
Abstract

Latar belakang: Anak stunting beresiko mudah sakit, untuk itu diperlukan asupan zat gizi yang dapat meningkatkan respon imun tubuh agar dapat meningkatkan kekebalan tubuhnya. Zat gizi tersebut bisa didapatkan dalam vitamin dan mineral yang seimbang;

Tujuan: Mengetahui hubungan antara asupan mikronutrien dengan riwayat penyakit infeksi pada balita stunting;

Metode: : Penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional di UPTD Puskesamas Limbangan Sukaraja Sukabumi, jumlah sampel 74 balita stunting usia 12-59 bulan, dipilih dengan proportional random sampling dari 4 desa. Data yang dikumpulkan meliputi: asupan mikronutrien yang diperoleh dari formulir recall 2 x 24 jam dan kuesioner riwayat penyakit infeksi, seperti: diare, ISPA dan kecacingan. Data dianalisis dengan uji analisis univariat, analisis bivariate menggunakan uji chi-square;

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan mikronutrien pada balita stunting termasuk dalam kategori kurang. Balita yang menderita infeksi sebesar 78,4%. Hasil analisis statistik disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara asupan vitamin A, vitamin C, zat besi, zinc dan tembaga (p<0,05) dan tidak ada hubungan antara asupan vitamin B1, B6, B9 dan vitamin E dengan kejadian infeksi balita stunting (p>0,05). Semakin baik asupan mikronutrien pada balita stunting, maka kejadian infeksi semakin menurun.

Simpulan: Kejadian infeksi pada balita stunting berhubungan dengan intake mikronutrien yang diperlukan untuk mempertahankan kekebalan tubuh.

Fulltext View|Download
Keywords: mikronutrien; vitamin; stunting; infeksi; balita
Funding: Immanuel School of Health Sciences; Puskesmas Limbangan;

Article Metrics:

  1. Kemenkes RI. Hasil Pemantauan Status Gizi dan Penjelasannya. Jakarta; 2017
  2. Arfines PP, Puspitasari FD. Hubungan stunting dengan prestasi belajar anak sekolah dasar di daerah kumuh, Kotamadya Jakarta Pusat. Bul Penelit Kesehat. 2017;45(1):45–52
  3. Kementerian Kesehatan Nasional RI. Laporan Nasional Riskesdas 2018 [Internet]. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2018. 20–21 p. Available from: http://www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/materi_rakorpop_2018/Hasil Riskesdas 2018.pdf
  4. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi. Profil Kesehatan Kabupaten Sukabumi Tahun 2018. Sukabumi. Sukabumi; 2018
  5. Fedriyansyah F, Hz HN, Theodorus T, Husin S. Hubungan kadar seng dan vitamin A dengan kejadian ISPA dan diare pada anak. Sari Pediatr. 2016;12(4):241
  6. Salfiyadi T, Lura LS. Hubungan asupan mineral zinc (seng) dan vitamin A dengan kejadian diare pada balita di kecamatan Seulimeum. Idea Nurs J. 2013;4(3)
  7. Farapti RADLM. Pemberian asi eksklusif pada balita stunting dan nonstunting. Media Gizi Indones. 2016;11(1):61–9
  8. Rahman MS, Howlader T, Masud MS, Rahman ML. Association of low-birth weight with malnutrition in children under five years in Bangladesh: Do mother’s education, socio-economic status, and birth interval matter? PLoS One [Internet]. 2016;11(6):1–16. Available from: http://dx.doi.org/10.1371/journal.pone.0157814
  9. Wahyudi B. Analisis faktor yang berkaitan dengan kasus gizi buruk pada balita. J Pediomaternal [Internet]. 2015;3(1):83–91. Available from: journal.unair.ac.id/download-fullpapers-pmnjf19af4e326full.docx
  10. Maulia PH, Farapti. Status zinc dan peran suplementasi zinc terhadap sistem imun pada pasien HIV / AIDS : a systematic review. Media Gizi Indones. 2019;14(2):115–22
  11. Mursalim, Juffrie M, Nenny Sri Mulyani. Pemberian fortifikasi multi-mikronutrien berpengaruh terhadap pertumbuhan balita keluarga miskin. J Gizi Klin Indinesia. 2011;8(2):69–80
  12. Supariasa. Pendidikan Dan Konsultasi Gizi. Jakarta: EGC; 2012
  13. Almatsier S. Prinsip Dasar Pangan dan Gizi. Cetakan Ke. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama; 2013
  14. Sumedi E, Sandjaja. Asupan zat besi, vitamin A dan zink anak Indonesia umur 6-23 bulan. Penelit Gizi dan Makanan. 2015;38(2):167–75
  15. Wahyuni E, Dermawan S. Hubungan asupan seng dan vitamin A dengan kejadian diare pada anak umur 1-5 tahun. Holistik J Kesehat. 2018;12(3):136–45
  16. Sanin KI, Munirul Islam M, Mahfuz M, Shamsir Ahmed AM, Mondal D, Haque R, Ahmed T. Micronutrient adequacy is poor, but not associated with stunting between 12-24 months of age: A cohort study findings from a slum area of Bangladesh. PLoS One [Internet]. 2018;13(3):1–17. Available from: http://dx.doi.org/10.1371/journal.pone.0195072
  17. Traber MG. Vitamin E inadequacy in humans. Adv Nutr An Int Rev J. 2014;5(5):503–14
  18. Astuti Y. Hubungan antara asupan protein , zat besi dan vitamin C dengan kadar hb pada anak umur ( 7-15 ) tahun di desa Sidoharjo , Samigaluh , Kulon Progo. Mutiara Med. 2010;10(2):172–9
  19. Christianto E. Tembaga dengan kadar hemoglobin pada mahasiswa angkatan 2014. 2014;1–16
  20. Losong NHF, Adriani M. Perbedaan kadar hemoglobin ,asupan zat besi , dan zinc pada balita stunting dan non stunting. Amerta Nutr. 2017;1(2):117–23

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.