KANDUNGAN GIZI DAN DAYA TERIMA COOKIES BERBASIS TEPUNG IKAN TERI (Stolephorus sp) SEBAGAI PMT-P UNTUK BALITA GIZI KURANG

*Rahmawati Ramadhan -  Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Indonesia
Nuryanto Nuryanto -  Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Indonesia
Hartanti Sandi Wijayanti -  Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 26 Nov 2019; Published: 26 Nov 2019.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Full Text:
Abstract

Latar Belakang: Ikan Teri (Stolephorus sp) merupakan pangan lokal di Kabupaten Tegal yang potensial dijadikan  PMT-P untuk balita gizi kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtitusi  tepung  ikan teri terhadap kandungan gizi  dan daya terima PMT-P Cookies Ikan Teri.

Metode: Penelitian eksperimental rancangan acak lengkap satu faktor dengan variasi persentase subtitusi tepung ikan teri (n=4) dari  F0= 0% (kontrol), F1= 10%, F2=15% dan F3=20%. Kadar protein diukur dengan menggunakan metode Micro-Kjedahl, karbohidrat dengan metode by difference, lemak dengan metode Soxhlet, energi melalui perhitungan, kadar air dengan metode gravimetri, kadar abu dengan metode pengabuan kering dan  kadar kalsium serta besi diukur dengan menggunakan metode Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Daya terima menggunakan uji hedonik.

Hasil:  Rata-rata kandungan gizi per 100 gram  PMT-P cookies ikan teri  F0, F1,F2, dan F3 secara berturut-turut adalah energi sebesar 424±0,24; 421±0,97; 413±0,42; 422±0,40; protein sebesar 7,67±0,20; 9,48±0,03; 11,85±0,07; 12,77±0,08 g; lemak sebanyak 9,20±0,04; 10,35±0,18; 9,58±0,12; 10.47±0.11 g, karbohidrat sebesar 77,70±0,17; 72,59±0,16; 70,03±0,25; 69,17±0,17 g; kadar air sebanyak 3,75±0,03; 4,56±0,01; 4,66±0,03; 4,40±0,06 %; kadar abu sebesar 1,66±0,01; 3,01±0,03; 3,86±0,02; 3,18±0,02 %; besi 4,04±0,08; 4,51±0,06; 4,78±0,08; 5,32±0,14 mg; dan kalsium sebanyak 1419±3,02; 2600±1,98; 2880±1,98; 3133±2,29 mg. Semakin tinggi subtitusi  tepung ikan teri semakin rendah  daya terima warna, aroma, dan rasa cookies. Cookies yang mendekati standar permenkes dan daya terimanya baik yaitu F1 dengan subtitusi tepung ikan teri sebanyak 10%.

Simpulan: Semakin meningkat subtitusi tepung ikan teri maka semakin meningkat protein, lemak, kadar air, kadar abu,  besi, dan kalsium serta menurunnya karbohidrat juga daya terima warna, aroma, dan rasa cookies ikan teri.

Keywords
PMT-P; Balita Gizi Kurang; Ikan Teri
  1. Kementerian Kesehatan RI. Hasil Utama Riskesdas 2018. In: htttp://www.depkes.go.id. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2015. p. 8–9.
  2. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Hasil Pemantauan Status Gizi ( PSG ) Tahun 2017. Jakarta Selatan: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2017. p.128.
  3. WHO. Nutrition Landscape Information System (NLIS) Country Profile Indicators: Interpretation Guide. Switzerland: Department of Nutrition for Health and Development WHO; 2010. p. 2.
  4. Black R, Allen L, Bhutta, Caulfield L, Onis M. Maternal and child undernutrition: global and regional exposures and health consequences. Lancet. 2008;07:14.
  5. Dinniyah S, Nindya T. Asupan Energi , Protein dan Lemak dengan Kejadian Gizi Kurang pada Balita Usia 24-59 Bulan di Desa Suci , Gresik. Amerta Nutr. 2017;4:341–350.
  6. Paudel R, Pradhan B, Wagle R, Pahari D. Risk Factors for Stunting Among Children: A Community Based Case Control Study in Nepal. Kathmandu Univ Med J. 2012;39(3):7.
  7. Uzogara SG. Underweight, the Less Discussed Type of Unhealthy Weight and Its Implications : A Review Underweight , the Less Discussed Type of Unhealthy Weight and Its Implications : A Review. Am J Food Sci Nutr Res. 2016;3(5):126–142.
  8. Bender D. Introduction to Nutrition and Metabolism. 4th ed. Boca Raton: CRC Press; 2008. p. 382.
  9. Victora CG, Adair L, Fall C, Hallal PC, Martorell R, Richter L, et al. Maternal and Child Undernutrition 2 Maternal and Child Undernutrition : Consequences for Adult Health and Human Capital. Lancet. 2008;371:340–57.
  10. Retnowati DH, Syamsianah A, Handarsari E. Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan Terhadap Perubahan Berat Badan Balita Bawah Garis Merah Kecacingan di Wilayah Puskesmas Klambu Kabupaten Grobogan. J Gizi Univ Muhammadiyah Semarang. 2015;4(1):30–36.
  11. Minarto. Rencana Aksi Pembangunan Gizi Masyarakat Tahun 2015 – 2019. Jakarta: Dirjen Bina Gizi dan KIA , Kementerian Kesehatan RI; 2015. p.7.
  12. Departemen Kesehatan RI. Panduan Penyelenggaraan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan Bagi Balita Gizi Kurang (BOK). Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2011. p.5.
  13. UNICEF. Paket konseling : Pemberian Makan Bayi dan Anak paket konseling : Pemberian Makan Bayi dan Anak [Internet]. Booklet Pesan Utama. [cited 2019 Apr 8]. p. 29–31. Available from: www.unicef.org
  14. PERSAGI. Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Jakarta: Elex Media Komputindo; 2009. p.22.
  15. Kementrian Kesehatan RI. Tabel Komposisi Pangan Indonesia 2017. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI; 2018. p.22.
  16. Whitney E, Rady Rolfes S. Understanding Nutrition. 12th ed. Williams P, editor. Wadsworth: Cengage Learning; 2011. p.425-426.
  17. Petry N, Olofin I, Boy E, Angel M, Rohner F. The Effect of Low Dose Iron and Zinc Intake on Child Micronutrient Status and Development during the First 1000 Days of Life: A Systematic and Meta-Analysis. Nutrients. 2016;8:773.
  18. Stuijvenberg M, Nel J, Schoeman S, Lombard C, du Plessis L, MA D. Low intake of calcium and vitamin D, but not zinc, iron or vitamin A, is associated with stunting in 2-5 years old children. Nutrition. 2015;31:841–846.
  19. Wang M, San C, Diego S. Iron Deficiency and Other Types of Anemia in Infants and Children. Am Fam Physician. 2016;93:272–278.
  20. Rahmawati H, Rustanti N. Pengaruh Subtitusi Tepung Tempe dan Ikan Teri Nasi (Stolephorus sp) Terhadap Kandungan Protein, Kalsium, dan Organoleptik Cookies. J Nutr Coll. 2013;2(3):382–390.
  21. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Standar Produk Suplementasi Gizi. Pearturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia N0. 51; 2016 p. 10–11.
  22. Shaviklo AR. Development of fish protein powder as an ingredient for food applications : a review. J Food Sci Technol. 2015;52(2):648–661.
  23. Abraha B, Admassu H, Mahmud A, Tsighe N. Effect of processing methods on nutritional and physico-chemical composition of fish : a review. MOJ Food Process Technol. 2018;6(4):376–382.
  24. Idah PA, Nwankwo I. Effects of smoke-drying temperatures and time on physical and nutritional quality parameters of Tilapia (Oreochromis niloticus). African J Agric Econ Rural Dev. 2013;1(2):53–57.
  25. Rohman A. Analisis Komponen Makanan. Yogjakarta: Universitas Gajah Mada; 2007. p.5-10.
  26. Association of Analytical Chemist. Official Methodes of Analysis of AOAC International. 18th ed. Horwitz W, editor. Virginia USA: AOAC International; 2005. p.6.
  27. Dewey K, Brown K. Update on Technical Issues Corcerning Complementary Feeding Of Young Children in Developing Countries and Implications for Intervention Program. Food Nutr Bull United Nations Univ. 2003;24(1).
  28. Samsundari. Identifikasi Ikan Segar Yang Dipilih Konsumen Beserta Kandungan Gizinya Pada Beberapa Pasar Tradisional di Kota Malang. J Protein. 2007;14(1):41–49.
  29. Bechthold AB. Food Energy Density and Body Weight A scientific statement from the DGE. Ernaehrungs Umschau Int. 2014;1(January 2014):5.
  30. Rauf R. Kimia Pangan. Yogyakarta: C.V Andi Offset; 2015. p.40-43.
  31. Rahmaningsih A, Surti T, Dwi Anggo A. Pengaruh Penambahan Tepung Buah Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) Terhadap Kualitas Biskuit Ikan Lele (Clarias batrachus). JPeng Biotek Has Pi. 2016;5(3):52–9.
  32. Sundari D, Almasyhuri, Lamid A. Pengaruh Proses Pemasakan Terhadap Protein. Media Litbangkes. 2015;25(4):235–242.
  33. Akhade A, Koli J, Sadawarte R, Akhade R. Functional Properties of Fish Protein Concentrate Extracted from Ribbon Fish, Lepturacanthus Savala by Different Methods. Int J Proc Post Harvest Technol. 2016;7(3):274–283.
  34. Fennema O. Food chemistry. Fourth Edi. New York (USA): Marcel Dekker, Inc; 2004. p.1160.
  35. Msusa N, Likongwe J, Kapute F, Mtethiwa A, Sikawa D. Effect of Processing Method on Proximate Composition of Gutted fresh Mcheni (Rhamphochromis species)(Pisces : Cichlidae) from Lake Malawi. Int Food Res J. 2017;24(4):1513–1518.
  36. Tien R M, Fitriyono A. Teknologi Proses Pengolahan Pangan. Bandung: Alfabeta; 2010. p.11.
  37. Asyik N, Ansharullah, Rusdin H. Formulasi Pembuatan Biskuit Berbasis Tepung Komposit Sagu ( Metroxylon sp .) dan Tepung Ikan Teri (Stolephorus commersonii ). Biowallacea. 2018;5(1):696–707.
  38. Fitri RR. Pemanfaatan Ikan Gabus (Channa striata) dan Tomat (Lypersion esculentum mill) Sebagi Penyedap Rasa Alami. J Prot Kesehat. 2018;7(2):94–100.
  39. Subandoro R, Basito, Atmaka W. Pemanfaatan Tepung Millet Kuning dan Tepung Ubi Jalar Kuning sebagai Substitusi Tepung Terigu dalam Pembuatan Cookies terhadap Karakteristik Organoleptik dan Fisikokimia. J Teknosains Pangan. 2013;2(4):1–5.
  40. Lianitya C, Kumalaningsih S, Mulyadi A. Karakteristik Organoleptik Biskuit dengan Penambahan Tepung Ikan Teri Nasi (Stolephorus sp). J Teknol Pertan. 2012;12(3):157–168.
  41. Istinganah M, Rauf R, Nur Widyaningsih E. Tingkat Kekerasan dan Daya Terima Biskuit Dari Campuran Tepung Jagung dan Tepung Terigu dengan Volume Air Yang Proporsional. J Kesehat. 2017;10(2):83–93.
  42. Widodo S, Riyadi H, Astawan M. Acceptance Test of Blondo, Snakehead Fish Flour and Brown Rice Flour based Biscuit Formulation. Int J Sci Basic Appl Res. 2015;4531:264–276.
  43. Listiana L. Pengaruh Substitusi Tepung Ikan Tongkol terhadap Kadar Protein, Kekerasan dan Daya Terima Biskuit. J UMS. 2016;2:1–13.
  44. Intan Pratama R, Rostini I, Liviawaty E. Karakteristik Biskuit dengan Penambahan Tepung Tulang Ikan Jangilus (Istiophorus Sp). J Akuatika. 2014;5(1):30–39.
  45. Catharine Rose A, Abrams S, Alola JF. Dietary Reference Intakes for Calcium and Vitamin D. Inst Med Natl Acad. 2010;3(1):1–8.
  46. Christenson JA. Calcium Supplement Guidelines. Univ Arizona. 2012;5(6):1–7.