HUBUNGAN ASUPAN ZAT BESI HEME, ZAT BESI NON-HEME DAN FASE MENSTRUASI DENGAN SERUM FERITIN REMAJA PUTRI

*Lia Andriani Titik Arima -  Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Indonesia
Etisa Adi Murbawani -  Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Indonesia
Hartanti Sandi Wijayanti -  Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 14 May 2019; Published: 14 May 2019.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Full Text:
Statistics: 47 42
Abstract

Latar Belakang : Remaja putri di Indonesia memiliki asupan zat besi tergolong kurang dimana sumber zat besi didominasi asupan non heme. Biovailabilitas besi non heme dipengaruhi oleh zat yang menghambat penyerapan sehingga berisiko mengalami defisiensi besi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan zat besi heme, zat besi non-heme dan fase menstruasi dengan serum feritin remaja putri.

Metode : Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan 50 remaja putri berusia 12-16 tahun yang dipilih dengan metode random sampling. Data yang diambil yaitu asupan zat besi heme dan non heme, fase menstruasi dan serum feritin. Data asupan zat besi diperoleh dari kuesioner Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Data fase menstruasi adalah rata-rata fase menstruasi selama tiga bulan. Serum feritin dan Kadar C-Reactive Protein (CRP) diukur menggunakan metode Immunosorbent Enzyme-Linked). Analisis data menggunakan  uji korelasi rank spearman.

Hasil : Prevalensi defisiensi besi ditemukan sebanyak 28%. Rata-rata asupan besi total 16,43 ± 5,63 mg. Rata-rata asupan zat besi heme dan non heme sebesar 5,16 ± 2,23 mg dan 11,27 ± 4,1 mg. Terdapat hubungan yang signifikan antara asupan zat besi heme (p<0,001), zat besi non heme (p<0,001), zat besi total (p<0,001) dan fase menstruasi (p=0,012) dengan serum feritin remaja putri.

Simpulan : Terdapat hubungan signifikan antara asupan zat besi heme, zat besi non heme dan fase menstruasi dengan serum feritin remaja putri.

Keywords
asupan zat besi, fase mentruasi, serum feritin, remaja putri
  1. Andriani M, Wirjatmadi B., 2012. Peranan Gizi dam Siklus Kehidupan. Di dalam: Hardinsyah, Supariasa IDN. Ilmu Gizi : Teori dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2016. 160-161 p.
  2. Mariana W, Khafidhoh N. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri di SMK Swadaya Wilayah Kerja Semarang Tahun 2013. J Kebidanan. 2013;2(4):35–42.
  3. Aulia GY, Udiyono A, Saraswati LD, Adi MS. Gambaran Status Anemia Pada Remaja Putri Di Wilayah Pegunungan Dan Pesisir Pantai. J Kesehat Masy. 2017;5:193–200.
  4. Urrechaga E, Urrechaga E. Prevalence of Iron Deficiency in Healthy Adolescents. J Ann Nutr Disord Ther Open. 2017;3(2):1–6.
  5. Putri NMG, Probosary E. Perbedaan Kadar Serum Ferritin Remaja Putri Status Gizi Normal dan Status Gizi Lebih. J Nutr Coll. 2016;6:393–401.
  6. Charles C V. Iron Deficiency Anemia: A Public Health Problem of Global Proportions. J Public Health. 2012;109–30.
  7. World Health Organization. Serum Ferritin Concentrations for the Assessment of Iron Status and Iron Deficiency In Populations. Vitamin and Mineral Nutrition Information System. WHO. 2011;1–5.
  8. World Health Organization. Assessing the Iron Status of Populations Second Edition : Including Literature Reviews. Geneva; 2007. 80-87 p.
  9. Briawan D, Adrianto Y, Ernawati D, Syamsir E, Aries M. Konsumsi Pangan, Bioavailabilitas Zat Besi dan Status Anemia Siswi Di Kabupaten Bogor. IPB. 2012;12(1):61–9.
  10. World Health Organization. Haemoglobin Concentration for the Diagnosis of Anemia and Assesment of Severity. Geneva; 2011. 13-21 p.
  11. Young I, Parker HM, Rangan A, Prvan T, Cook RL, Donges CE, et al. Association Between Haem and Non-Haem Iron Intake and Serum Ferritin in Healthy Young Women. Nutrients. 2018;10(1):1–13.
  12. Gibney, Michael, Margetts B, Kearney J, Lenore A. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009. 102-105 p.
  13. Irsa L. Gangguan Kognitif pada Anemia Defisiensi Besi. Sari Pediatr. 2017;4(3):114–8.
  14. Herlina. Mengatasi Masalah Anak dan Remaja Melalui Buku. Bandung: Pustaka Cendikia Utama; 2013. 21-22 p.
  15. Kusmiran E. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta Selatan: Salemba Media; 2012. 56-57 p.
  16. Nizomy R. Mekanisme Fisiologis Pendarahan Haid. J Berk Kedokt. 2002;2(1):7–9.
  17. Kemenkes RI. Standar Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta: Direktoral Jendral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak; 2011. 4 p.
  18. Hardinsyah, Riyadi H, Napitupulu V. Kecukupan Energi, Protein, Lemak, Karbohidrat, Vitamin dan Mineral. J Gizi FK UI. 2013;1–26.
  19. Chandrashekara S. C - Reactive Protein: An Inflammatory Marker with Specific Role in Physiology, Pathology, and Diagnosis. J Rheumatol Clin Immunol. 2014;2(S1).
  20. Adhist Anindya Putri. Hubungan Status Antropometri dan Asupan Gizi dengan Kadar HB dan Ferritin Remaja Putri [Tesis]. Semarang: Universitas Diponegoro; 2011.
  21. Marfuah D, Kusudaryati DPD. Efektifitas Edukasi Gizi Terhadap Perbaikan Asupan Zat Besi Pada Remaja Putri. J Profesi. 2016;14(1):5–9.
  22. Sefaya KT, Nugraheni SA, Rahayuning D. Pengaruh Pendidikan Gizi Terhadap Pengetahuan Gizi dan Tingkat Kecukupan Gizi Terkait Pencegahan Anemia Remaja (Studi Pada Siswa Kelas XI SMA Teuku Umar Semarang). J Kesehat Masy. 2017;5(1):272–82.
  23. Gropper SS, Smith JL GJ. Advanced nutrition and human mebolism. Adams P, Lustig A, Feldman E, Downs E, editors. Amerika Serikat: Wadsworth, Cengage Learning; 2009. 470-472 p.
  24. Posen J. Iron and Vegetarian Diets. Med J Aust. 2013;199(4):S11–6.
  25. Nurhidayah Husnah, Rahayu Indriasari NJ. Hubungan Makanan Sumber Heme dan Non Heme Terhadap Kadar HB Remaja Putri SMA 10 Makassar Tahun 2014 [Tesis]. Sumatra: Universitas Hasanuddin. 2014.
  26. Jamshidi L, Karimi L, Seif A, Vazini H. The Relationship between Anthropometric Factors and Iron Deficiency Anemia Factors. Nov Biomed [Internet]. 2017;5(2):59–64. Available from: http://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=a9h&AN=122750100&site=ehost-live
  27. Hendra A, Rahmad A. Pengaruh Asupan Protein dan Zat Besi ( Fe ) terhadap Kadar Hemoglobin pada Wanita Bekerja. J Kesehat. 2017;viii(3):321–5.
  28. Husnah N, Indriasari R, Jafar N. Hubungan Makanan Sumber Heme dan Non Heme Terhadap Kadar Hb Remaja Putri SMA 10 Makassar Tahun 2014 [Tesis]. Sumatra: Universitas Hasanuddin; 2014.
  29. Diana FM. Fungsi dan Metabolisme Protein dalam Tubuh Manusia. J Kesehat Masy. 2010;4(1):47–52.
  30. Burke RM, Leon JS, Suchdev PS. Identification, prevention and treatment of iron deficiency during the first 1000 days. J Nutrients. 2014;6(10):4093–114.
  31. Arisman. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2002. 145-147 p.
  32. Wahyuni AS. Anemia Defisien Besi Pada Balita [Tesis]. Sumatra: Universitas Sumatra Utara; 2004.
  33. Sinaga E, Saribanon N, Suprihatin, Saadah N, Salamah U, Murti YA, et al. Manajemen Kesehatan Menstruasi. Jakarta: Global One; 2017. 77-80 p.
  34. Permatasari T. Pengaruh Program Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) Terhadap Perbaikan Status Besi Pada Remaja Putri Di Kota Bogor [Tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor; 2017.
  35. Sumarmi S, Puspitasari N, Handajani R, Wirjatmadi B. Underweight as a risk factor for Iron depletion and Iron- Deficient erythropoiesis among young women in Rural Areas of East Java, Indonesia. Malays J Nutr. 2016;22(2):219–32.
  36. Macdougall, Moodley, Eyberg, Quirk. Mechanism of Anemia in Protein-Energy Malnutrition in Johannesburg. Am J Clin Nutr. 1982;32:35.
  37. Hendarto A, Febriyanto R, Kaban RK. Defisiensi Besi dan Anemia Defisiensi Besi pada Anak Remaja Obesitas. J Sari Pediatr. 2018;20(1):1.
  38. Silverberg, Chernin, Schwart. Should a Search for Iron Deficiency be Part Of the Regular Screening in All Patient, whether Anemia or not ?. J Hemotology Tromboembolic Dis. 2014;2(5).
  39. Ridha NR, Daud D. Hubungan Kadar Hepcidin dengan Status Besi pada Inflamasi Akibat Obesitas. J Sari Pediatr. 2014;16(3):161–6.
  40. Gartner A, Berger J, Bour A, Ati J El, Traissac P, Landais E, et al. Assessment of iron deficiency in the context of the obesity epidemic: Importance of correcting serum ferritin concentrations for inflammation. Am J Clin Nutr. 2013;98(3):821–6.