PENGEMBANGAN MAKANAN TAMBAHAN BERBASIS F100 DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG LABU KUNING DAN TEPUNG PISANG

*Ria Ambarwati  -  Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang, Indonesia
Received: 17 Mar 2020; Published: 4 Jun 2020.
DOI: https://doi.org/10.14710/jnc.v9i2.27033 View
Surat Pernyataan Keaslian Penelitian
Subject
Type Research Instrument
  Download (171KB)    Indexing metadata
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Abstract

Latar Belakang: Perlu pengembangan modifikasi makanan tambahan dengan komposisi bahan berbasis F100.

Tujuan: Mengetahui perbedaan kadar energi, protein dan lemak serta uji daya terima cookies berbasis F100 dengan substitusi tepung labu kuning dan tepung pisang.

Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen rancangan acak lengkap 1 faktorial. Konsentrasi substitusi tepung labu kuning dan tepung pisang 10%, 20%, 30% dan 0% sebagai kontrol dengan 3 kali ulangan. Kadar energi dengan menggunakan DKBM, kadar protein diuji dengan metode micro Kjeldahl dan kadar lemak dengan metode soxlet. Uji daya terima pada 25 panelis agak terlatih dan 20 balita usia 2-5 tahun. Perbedaan kadar protein dan lemak diuji dengan ANOVA dan uji lanjut LSD, Tukey HSD. Uji daya terima panelis agak terlatih diuji dengan Friedman. Perbedaan kadar energi dan uji daya terima pada balita dianalisis secara deskriptif..

Hasil: Kadar energi paling tinggi pada cookies dengan subtitusi tepung labu kuning konsentrasi 10% (100,73 kkal/100 gram) dan tepung pisang konsentrasi 10% (101,23/100 gram). Ada perbedaan kadar protein dan lemak cookies dengan substitusi tepung labu kuning (p=0,000) dan substitusi tepung pisang (p=0,000). Ada perbedaan daya terima panelis terhadap rasa (p=0,046), warna (p=0,000), tekstur (p=0,007) dan tidak ada perbedaan aroma (p=0,126) cookies substitusi tepung labu kuning. Tidak perbedaan terhadap rasa (p=0,984), warna (p=0,352), tekstur (p=0,758), aroma (p=0,680) cookies substitusi tepung pisang. Lebih dari 50% balita menghabiskan cookies substitusi tepung labu kuning konsentrasi 10%, 20% dan tepung pisang konsentrasi 30%.

Kesimpulan: Konsentrasi substitusi tepung labu kuning 10%, 20% dan substitusi tepung pisang 30% dapat direkomendasikan sebagai alternatif makanan tambahan.

1.    Nency Y, Arifin MT. Gizi Buruk, ancaman generasi yang hilang. Inovasi, 2005;5(XVII):1-4.

2.    Kemenkes RI.Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Kemenkes RI; 2013.

3.    Dinas Kesehatan Kota Semarang. Laporan Program Penanganan Komprehensif Gizi Buruk di Kota Semarang Tahun 2015. Semarang: Dinas Kesehatan Kota Semarang ;2015.

4.    Departemen Kesehatan RI. Pedoman pelayanan gizi buruk. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2011.

5.    Departemen Kesehatan RI. Pedoman penatalaksanaan gizi buruk secara rawat jalan untuk Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan RI: 2003.

6.    Dinas Kesehatan Kota Semarang. Laporan Program Penanganan Komprehensif Gizi Buruk di Kota Semarang. Semarang: Dinas Kesehatan Kota Semarang; 2016.

7.    Jannah EW, Sulaeman A, Fitria M, Gumilar M, Salsabila ST. Cookies tepung ubi jalar oranye, tepung kedelai, dan puree pisang sebagai pmt balita gizi kurang. Jurnal Riset Kesehatan, 2019;11(1):105–12.

 

8.    Faridah A, Pada KS, Yulastri A, Yusuf L. PatiseriJilid 1. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan; 2008.p 496–515.

9.    Sutomo BD. Sukses Wirausaha Kue Kering. Cetakan V. Jakarta: Kriya Pustaka; 2012. p.18.

10. Hendrasty, Krissetiana H. Tepung Labu Kuning Pembuatan dan Pemanfaatannya. Yogyakarta: Kanisius; 2003. p. 9.

11. Azhariati R. Pengaruh metode pengeringan terhadap kerusakan betakaroten mi ubi kayu yang diperkaya tepung labu kuning. Agritech. 2008;22(4):153–7.

12. Masli R. Studi pembuatan tepung pisang kepok (musa paradisiaca forma typical) sebagai bahan substitusi pembuatan roti tawar (kajian tingkat kematangan pisang kepok dan suhu pengeringan). Departemen Agroindustri Universitas Muhammadiyah Malang. Skripsi. 2010;

13. Karlin R, Rahayuni A. Potensi Yogurt Tanpa Lemak Dengan Penambahan Tepung Pisang Dan Tepung Gembili Sebagai Alternatif Menurunkan Kolesterol. Journal of Nutrition College. 2014;3(2):293–302.

14. Soekarto ST. Penelitian Organoleptik untuk Industri Pangan dan Hasil Pertanian. Jakarta: Bhatara Karya Aksara; 1985. p. 1–121.

15. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Jakarta. Persatuan Ahli GiziIndonesia; 2005.

16. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Jakarta: Elex Media Komputindo; 2009.

17. Riganakos KA, Kontominas MG. Effect of heat treatment on moisture sorption behavior of wheat flours using a hygrometric tehnique. Developments in Food Science. 1995;37:995–1005.

18. See EF, Wan Nadiah WA, Noor Aziah AA. Physico-chemical and sensory evaluation of breads supplemented with pumpkin flour. ASEAN Food Journal. 2007;14(2):123–30.

19. Asmaraningtyas D. Kekerasan, warna dan daya terima biskuit yang disubstitusi tepung labu kuning. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Skripsi. 2014.

20. Winarno F. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2004. p 41–43.

21. Utomo LIVA, Nurali E, Ludong M. Pengaruh Penambahan maizena pada Pembuatan Biskuit Gluten Free casein Berbahan Baku Tepung Pisang Goroho (Musa Acuminate). Cocos, 2017;1(2).

22. Subandoro RH, Basito, Atmaka W. Pemanfaatan tepung millet kuning dan tepung ubi jalar kuning sebagai subtitusitepung terigu dalam pembuatan cookies terhadap karakteristik organoleptik dan fisikokimia. Jurnal Teknosains Pangan. 2013;2(4):68–74.

23. Yasinta UNA, Dwiloka B. Nurwantoro N. Pengaruh subtitusi tepung terigu dengan tepung pisang terhadap sifat fisikokima dan organoleptik cookies. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan. 2017;6(3):119–21.

24. Sitohang KAK, Lubis Z, Lubis LM. Pengaruh perbandingan jumlah tepung terigu dan tepung sukun dengan jenis penstabil terhadap mutu cookies sukun. Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian. 2015;3(3):308–15.

25. Lolodatu ES. Purwijatingngsih LME, Pranata F. Kualitas non flaky crackers coklat dengan variasi substitusi tepung pisang kepok kuning (musa paradisiaca forma typica). Jurnal Teknobiologi. Jurnal Teknobiologi. 2015;1–14.

26. Setyadi DA, Cahyadi W, Surahman DN. Pengaruh jenis Tepung pisang (Musa paradisiaca) dan waktu pemanggangan terhadap karakteristik banana flakes. Universitas Pasundan. Skripsi. 2017.

27. Mennella JA, Bobowski NK. The sweetness and bitterness of childhood: Insights from basic research on taste preferences. Physiol Behav. 2015;152:502–7.

28.  Widya FC, Anjani G. Syauqy A. Analisis kadar protein, asam amino, dan daya terima pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan berbasis labu kuning (cucurbita moshata) untuk batita gizi kurang. Journal of Nutrition College, 2019;8(4):207–18.

29. Boulanger AM, Vernet M. Introduction of new food textures during complementary feeding: observations in France. Arch Pediatr. 2018;25(1):6–12.

 

 

Note: This article has supplementary file(s).

Keywords: cookies; F100; tepung labu kuning; tepung pisang
  1. Nency Y, Arifin MT. Gizi Buruk, ancaman generasi yang hilang. Inovasi, 2005;5(XVII):1-4.
  2. Kemenkes RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Kemenkes RI; 2013.
  3. Dinas Kesehatan Kota Semarang. Laporan Program Penanganan Komprehensif Gizi Buruk di Kota Semarang Tahun 2015. Semarang: Dinas Kesehatan Kota Semarang ;2015.
  4. Departemen Kesehatan RI. Pedoman pelayanan gizi buruk. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2011.
  5. Departemen Kesehatan RI. Pedoman penatalaksanaan gizi buruk secara rawat jalan untuk Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan RI: 2003.
  6. Dinas Kesehatan Kota Semarang. Laporan Program Penanganan Komprehensif Gizi Buruk di Kota Semarang. Semarang: Dinas Kesehatan Kota Semarang; 2016.
  7. Jannah EW, Sulaeman A, Fitria M, Gumilar M, Salsabila ST. Cookies tepung ubi jalar oranye, tepung kedelai, dan puree pisang sebagai pmt balita gizi kurang. Jurnal Riset Kesehatan, 2019;11(1):105–12.
  8. Faridah A, Pada KS, Yulastri A, Yusuf L. Patiseri Jilid 1. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan; 2008. p 496–515.
  9. Sutomo BD. Sukses Wirausaha Kue Kering. Cetakan V. Jakarta: Kriya Pustaka; 2012. p.18.
  10. Hendrasty, Krissetiana H. Tepung Labu Kuning Pembuatan dan Pemanfaatannya. Yogyakarta: Kanisius; 2003. p. 9.
  11. Azhariati R. Pengaruh metode pengeringan terhadap kerusakan betakaroten mi ubi kayu yang diperkaya tepung labu kuning. Agritech. 2008;22(4):153–7.
  12. Masli R. Studi pembuatan tepung pisang kepok (musa paradisiaca forma typical) sebagai bahan substitusi pembuatan roti tawar (kajian tingkat kematangan pisang kepok dan suhu pengeringan). Departemen Agroindustri Universitas Muhammadiyah Malang. Skripsi. 2010;
  13. Karlin R, Rahayuni A. Potensi Yogurt Tanpa Lemak Dengan Penambahan Tepung Pisang Dan Tepung Gembili Sebagai Alternatif Menurunkan Kolesterol. Journal of Nutrition College. 2014;3(2):293–302.
  14. Soekarto ST. Penelitian Organoleptik untuk Industri Pangan dan Hasil Pertanian. Jakarta: Bhatara Karya Aksara; 1985. p. 1–121.
  15. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Jakarta. Persatuan Ahli Gizi Indonesia; 2005.
  16. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Jakarta: Elex Media Komputindo; 2009.
  17. Riganakos KA, Kontominas MG. Effect of heat treatment on moisture sorption behavior of wheat flours using a hygrometric tehnique. Developments in Food Science. 1995;37:995–1005.
  18. See EF, Wan Nadiah WA, Noor Aziah AA. Physico-chemical and sensory evaluation of breads supplemented with pumpkin flour. ASEAN Food Journal. 2007;14(2):123–30.
  19. Asmaraningtyas D. Kekerasan, warna dan daya terima biskuit yang disubstitusi tepung labu kuning. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Skripsi. 2014.
  20. Winarno F. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2004. p 41–43.
  21. Utomo LIVA, Nurali E, Ludong M. Pengaruh Penambahan maizena pada Pembuatan Biskuit Gluten Free casein Berbahan Baku Tepung Pisang Goroho (Musa Acuminate). Cocos, 2017;1(2).
  22. Subandoro RH, Basito, Atmaka W. Pemanfaatan tepung millet kuning dan tepung ubi jalar kuning sebagai subtitusi tepung terigu dalam pembuatan cookies terhadap karakteristik organoleptik dan fisikokimia. Jurnal Teknosains Pangan. 2013;2(4):68–74.
  23. Yasinta UNA, Dwiloka B. Nurwantoro N. Pengaruh subtitusi tepung terigu dengan tepung pisang terhadap sifat fisikokima dan organoleptik cookies. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan. 2017;6(3):119–21.
  24. Sitohang KAK, Lubis Z, Lubis LM. Pengaruh perbandingan jumlah tepung terigu dan tepung sukun dengan jenis penstabil terhadap mutu cookies sukun. Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian. 2015;3(3):308–15.
  25. Lolodatu ES. Purwijatingngsih LME, Pranata F. Kualitas non flaky crackers coklat dengan variasi substitusi tepung pisang kepok kuning (musa paradisiaca forma typica). Jurnal Teknobiologi. Jurnal Teknobiologi. 2015;1–14.
  26. Setyadi DA, Cahyadi W, Surahman DN. Pengaruh jenis Tepung pisang (Musa paradisiaca) dan waktu pemanggangan terhadap karakteristik banana flakes. Universitas Pasundan. Skripsi. 2017.
  27. Mennella JA, Bobowski NK. The sweetness and bitterness of childhood: Insights from basic research on taste preferences. Physiol Behav. 2015;152:502–7.
  28. Widya FC, Anjani G. Syauqy A. Analisis kadar protein, asam amino, dan daya terima pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan berbasis labu kuning (cucurbita moshata) untuk batita gizi kurang. Journal of Nutrition College, 2019;8(4):207–18.
  29. Boulanger AM, Vernet M. Introduction of new food textures during complementary feeding: observations in France. Arch Pediatr. 2018;25(1):6–12.