ANALISIS PENGELUARAN PANGAN, KETAHANAN PANGAN DAN ASUPAN ZAT GIZI ANAK BAWAH DUA TAHUN (BADUTA) SEBAGAI FAKTOR RISIKO STUNTING

Eta Aprita Aritonang  -  Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Indonesia
Ani Margawati  -  Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Indonesia
*Fillah Fithra Dieny scopus  -  Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 1 Feb 2020; Published: 25 Apr 2020.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Abstract

Latar Belakang : Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting anak usia 6-24 bulan antara lain kurangnya asupan zat gizi, penyakit infeksi, lingkungan, sosial ekonomi keluarga dan riwayat kehamilan ibu. Penelitian ini bertujuan menganalisis proporsi pengeluaran pangan rumah tangga, ketahanan pangan, dan asupan zat gizi sebagai faktor risiko terjadinya stunting usia 6-24 bulan.

Metode : Penelitian ini menggunakan desain case-control dengan masing-masing kelompok kasus (stunting) dan kontrol (tidak stunting) berjumlah 24 sampel yang diambil menggunakan purposive sampling pada anak usia 6-24 bulan yang berada di Semarang Utara. Stunting diukur berdasarkan z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) dianalisis dengan software World Health Organization (WHO) Anthro. Data yang diambil yaitu berat badan lahir, panjang badan lahir, tingkat pendidikan ibu, pendapatan keluarga dan pengeluaran rumah tangga. Data riwayat asupan energi, protein, vitamin A dan seng selama 1 tahun diperoleh dengan menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Data ketahanan pangan diperoleh dengan menggunakan kuisioner Household Food Security Scale Module (HFSSM). Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi Square dan analisis regresi logistik.

Hasil : Baduta stunting lebih banyak mengalami kerawanan pangan rumah tangga (79,2%), riwayat kekurangan asupan protein (70,8%), vitamin A (75%) dan seng (66,7%) dibandingkan dengan anak yang tidak stunting. Ketahanan pangan rumah tangga (OR=6,9), riwayat asupan protein (OR=8,6), vitamin A (OR=20,6) dan seng (OR=8,7) merupakan faktor yang paling berisiko terhadap kejadian stunting pada baduta usia 6-24 bulan (p<0,05).

Simpulan: Kerawanan pangan rumah tangga, kurangnya asupan protein, vitamin A dan seng merupakan faktor yang berisiko meningkatkan kejadian stunting pada baduta usia 6-24 bulan.

Keywords: Stunting; pengeluaran pangan; ketahanan pangan; asupan zat gizi; baduta
  1. WHO. Country Profile Indicator : Interpretation Guide. Nutrition Landscape Information System (NLIS); 2010.
  2. Balitbangkes. Riset Kesehatan Dasar. In Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2012.
  3. Milman A, Frongillo E, Onis M, Jy H. Differential Improvement among Countries in Child Stunting Is Associated with Long-Term Development and Specific Interventions. Journal of Nutrition [Internet]. 2005; Available from: http://www.jn.org
  4. Bening S, Margawati A, Rosidi A. Asupan Gizi Makro dan Mikro Sebagai Faktor Risiko Stunting Usia 2-5 Tahun di Semarang. Medica Hospitalia. 2016;4(1):45–50.
  5. Gropper S, Smith J, Groff J. Advanced Nutrition And Human Metabolism. 5th ed. USA: Wadsworth; 2009. 488-497 p.
  6. Whitney E, Rolfes S. Understanding Nutrition. 12th ed. Kanada: Wadsworth; 2007.
  7. Hadiat. Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (Peraturan Presiden RI 2013). 2013.
  8. Anderson VP, Mbchb SJ, Mb DM, Hem N, Hok P, Bailey KB, et al. Co- existing micronutrient deficiencies among stunted Cambodian infants and toddlers. Asia Pac J Clin Nutr. 2008;17(July 2007):72–9.
  9. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Pemantauan Status Gizi Tahun 2017. 2017;73–5.
  10. U.S. Household Food Security Survey Module. 2012;1. Available from: /http//swww.ers.usda.govmedia8271hh2012.pdf
  11. Arlius A. Hubungan Ketahanan Pangan Keluarga Dengan Status Gizi Balita (Studi Di Desa Palasari Dan Puskesmas Kecamatan Legok , Kabupaten Tangerang). Jurnal Ketahanan Nasional. 2017;23(3):359–75.
  12. Susilo MT, Widyastuti N. Hubungan Asupan Protein, Seng, Zat Besi, dan Riwayat Penyakit Infeksi dengan z-score TB/U pada Balita Usia 12-24 Bulan. Journal of Nutrition College. 2016;5(Jilid 5):520–9.
  13. Irwanti W. Riwayat asupan energi dan protein yang kurang bukan faktor risiko stunting pada anak usia 6-23 bulan. Jurnal Gizi dan Diet Indonesia. 2014;(1):150–8.
  14. Dewi C, Adhi T. Pengaruh Konsumsi Protein dan Seng serta Riwayat Penyakit Infeksi Terhadap Kejadian Stunting pada Anak Balita Umur 24- 58 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Nusa Penida III. ArcComHealth. 2016;3(1):36–46.
  15. Semba R., Pee S, Sun K, Bloem M., Raju V. Low intake of vitamin A-rich foods among children, aged 12-35 months, in India: Association with malnutrition, anemia, and missed child survival interventions. Nutrition Journal. 2010;26(10):958–62.
  16. Jayarni DE, Sumarmi S. Hubungan Ketahanan Pangan dan Karakteristik Keluarga dengan Status Gizi balita Usia 2-5 tahun. Amerta Nutr. 2018;44-51.
  17. Wunderlich GS, Norwood JL. Food Insecurity and Hunger in United States : An Assessment of the Measure. Washington, D.C: The National Academies Press; 2006. 41-44 p.
  18. Betebo B, Ejajo T, Alemseged F, Massa D. Household Food Insecurity and Its Association with Nutritional Status of Children 6 – 59 Months of Age in East Badawacho District , South Ethiopia. Journal Environment and Public Health. 2017;2017.
  19. Psaki S, Bhutta ZA, Ahmed T, Ahmed S, Bessong P, Islam M, et al. Household food access and child malnutrition : results from the eight- country MAL-ED study. Popul Health Metr [Internet]. 2012;10(1):1–11. Available from: Population Health Metrics
  20. Ni’mah K, Nadhiroh SR. Faktor yang Behubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita. Media Gizi Indonesia. 2015;10(1):13–9.
  21. Aridiyah FO, Rohmawati N, Ririanty M. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Anak Balita di Wilayah Perdesaan dan Perkotaan. e-Jurnal Pustaka Kesehatan. 2015;3(1):168.
  22. Amalia IN, Mahmudiono T. Hubungan Pendapatan , Total Pengeluaran , Proporsi Pengeluaran Pangan dengan Status Ketahanan Rumah Tangga Petani Gurem (Studi di Desa Nogosari Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember). Amerta Nutr. 2017;143–52.
  23. UNICEF. Tracking progress child and maternal nutrition a survival and development priority. New York; 2009.
  24. Masrin, Paratmanitya Y, Arilia V. Ketahanan pangan rumah tangga berhubungan dengan stunting pada anak usia 6-23 bulan. Jurnal Gizi dan Diet Indonesia. 2014;2(3):103–15.
  25. Sari EM, Juffrie M, Nurani N, Sitaresmi MN. Asupan protein , kalsium dan fosfor pada anak stunting dan tidak stunting usia 24-59 bulan. Jurnal Gizi Klinik Indonesia. 2016;12(4):152–9.
  26. Semba R, Pee S, Sun K, Champbell A, Bloem M, Raju V. Low intake of vitamin A-rich foods among children, aged 12-35 months, in India: Association with malnutrition, anemia, and missed child survival interventions. Nutrition Journal. 2010;26(10):958–62.
  27. Mikhail W, Sobhy H, El-Sayed H. Effect of nutritional status on growth pattern of stunted preschool children in Egypt. Academic Journal of Nutrition. 2013;2(1):1–9.
  28. Dewi EK, Nindya TS. Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Besi Dan Seng Dengan Kejadian Stunting Pada Balita 6-23 Bulan. Amerta Nutr. 2017;361–8.