Analisa Kekuatan Tarik Dan Kekuatan Lentur Balok Laminasi Bambu Petung Dan Kayu Sengon Untuk Komponen Kapal Kayu

*Edwin Wijaya  -  Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Parlindungan Manik  -  Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Sarjito Jokosisworo  -  Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Published: .
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Kapal kayu merupakan sarana transportasi tradisional yang hingga saat ini masih banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk sarana transportasi, niaga maupun sarana rekreasi.Disisi lain pemanfaatan bambu selama ini belum optimal walapun hasil beberapa penelitian menunjukan bahwa bambu memiliki kekuatan dan keunggulan dibandingkan dengan material bangunan lainya. Maka dilakukan penelitian tentang laminasi bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kadar air, kerapatan, kuat Tarik, MOR, modulus elastisitas dari laminasi bambu petung kombinasi kayu sengon akibat perbedaan persentase variasi bahan (70% petung - 30% sengon, 60% petung - 40% sengon, 50% petung - 50% sengon, 40% petung – 60% sengon, 30% petung - 70% sengon). Dalam penelitian ini dibuat balok laminasi bambu petung kombinasi kayu sengon untuk uji kuat Tarik mengacu pada standar  SNI 03-3399-1994  dan uji kuat lentur mengacu pada standar SNI 03- 3960- 1995. Hasil penelitian untuk untuk pengujian Tarik memiliki kadar air kering udara rata-rata 13.21 %, berat jenis terbesar 0.7060 gr/cm³ untuk spesimen tarik, kekuatan Tarik rata-rata sebesar 163,45 Mpa untuk kode T.7.3 (varian paling optimal). Untuk laminasi bambu pengujian lentur memiliki nilai kadar air kering udara rata – rata sebesar 13.88%, berat jenis sebesar 0.6751 gr/cm³ untuk kode L.7.3 (varian paling optimal), modulus of repture sebesar 92,76 Mpa, modulus elastisitas 7928,3 Mpa.

Keywords: Laminasi Bambu; Modulus elastisitas; Kuat Tarik; Kuat Lentur

Article Metrics:

  1. Abdurachman, Hadjib N. 2005. Kekuatan dan kekakuan balok lamina dari dua jenis kayu kurang dikenal. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 2 (1) : 16-24. Bogor
  2. Biro Klasifikasi Indonesia, 1996.Buku Peraturan Klasifikasi dan Konstruksi Kapal Laut, Peraturan Kapal Kayu, Bina Hati. Jakarta
  3. Berlian, N. dan Rahayu, E. 1995. Jenis Dan Prospek Bisnis Bambu. Penebar Swadaya. Jakarta
  4. Bodig, J and BA. Jayne. 1982. Mechanics of Wood and Wood Composites Van Nostrand Reinhold Company. New York
  5. [CWC] Canadian Wood Council. 2000. Wood reference handbook. a guide to the architectural use of wood in bilding construction. ed ke-4. ottwa: Canadian Wood Council
  6. International Organization for Standardization (ISO), 1975. Bambu-Determination of physical and mechanical properties, ISO 22157-1. ISO Central Secretariat, Geneva, Switzerland
  7. Janssen, J.J.A, 1981, Bamboo in Building Structures, Ph.D. Thesis, University of Technology og Eindhoven, Netherland
  8. Moody RC, Hernandez R, Liu JY (1999) Glued structural members. In: Wood Handbook, Wood as an Engineering Material. WI: USDA Forest Service, Forest Products Laboratory. Madison
  9. Morisco, 1999, Rekayasa Bambu, Nafiri Offset, Yogyakarta
  10. Prayitno, T.A., 1996. Perekatan Kayu, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
  11. Serrano, E. 2003. Mechanical performance and modelling of glulam. didalam: thelandersson S, Larsen hj, editor. timber engineering. west Sussex: Jhon Wiley dan Sons, ltd. hlm 67-79
  12. Standar Nasional Indonesia (SNI), 1995. Metode Pengujian Kuat Tekan Kayu di Laboratorium, SNI 03-3958-1995, Indonesia
  13. Standar Nasional Indonesia (SNI), 1994. Metode Pengujian Kuat Tekan Kayu di Laboratorium, SNI 03-3399-1994, Indonesia
  14. Suryana, Jajang. 2011. Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol. 9
  15. Widjaja, E. A., 1995. Plant resources of South-east Asia, no. 7: Bambus. Prosea, Bogor, Indonesia