Analisa Kekuatan Lentur dan Kekuatan Tarik Pada Balok Laminasi Bambu Petung dan Kayu Kelapa (Glugu) Untuk Komponen Kapal

*Rizka Cholif Arrahman  -  Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Parlindungan Manik  -  Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Sarjito Jokosisworo  -  Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Published: 1 Jan 2017.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Seiring dengan bertambahnya kebutuhan kayu sebagai bahan baku pembuat kapal, menyebabkan persediaan kayu menjadi semakin berkurang. Teknik laminasi menjadi solusi untuk mengembangkan sebuah produk kayu yang memiliki struktur dan sifat mekanik lebih kuat dan awet. Prosedur pembuatan dan pengujian spesimen kayu laminasi bambu petung dan glugu mengacu pada SNI-03-3959-1995 dan SNI-03-3399-1994. Pembuatan balok laminasi melewati beberapa tahap, pertama: persiapan serta pemotongan bambu petung dan glugu menjadi bilah-bilah lamina, kedua: pengeringan bilah lamina, ketiga: perekatan bilah lamina menjadi balok laminasi atau glulam (glue - laminated timber) dan terakhir finishing. Balok laminasi yang telah siap, kemudian diuji sesuai dengan standar SNI. Pada penelitian yang telah dilakukan terhadap spesimen kayu laminasi bambu petung dan kayu kelapa (glugu) berupa pengujian lentur dan tarik di laboratorium, didapatkan data bahwa laminasi kayu dengan komposisi 50% bambu petung dan 50% kayu kelapa (glugu) memiliki kekuatan paling tinggi, yakni kuat lentur sebesar 95,98 MPa dengan nilai lendutan (∆l) 10 mm dan MOE sebesar 11568,68 MPa serta kuat tarik sebesar 157,21 MPa dengan nilai regangan 0,0222 dan modulus young (E) sebesar 7090,38 MPa. Balok laminasi tersebut memiliki berat jenis sebesar 0,6458 dengan kadar air 13,08%. Nilai tersebut memenuhi persyaratan kayu lapis sebagai bahan material kapal kayu menurut BKI dan termasuk dalam kelas kuat II sehingga dapat digunakan sebagai material konstruksi galar balok, papan geladak kapal dan balok geladak kapal pada kapal kayu.

Keywords: kayu laminasi; kapal kayu; kekuatan lentur; kekuatan tarik

Article Metrics:

  1. Suroyo, Djuliati, M. A., Dkk, 2007. SEJARAH MARITIM INDONESIA I: Menelusuri Jiwa Bahari Bangsa Indonesia Hingga Abad ke-17. Penerbit Jeda. Semarang
  2. Morisco, 1999. Rekayasa Bambu. Nafiri Offset. Yogyakarta
  3. Widodo, A.B., 2006. Analisa Sifat Fisis Dan Sifat Mekanis Komposit Sebagai Material Alternatif Pembangunan Kapal Kayu. Jurnal Teknologi Kelautan. Institut Teknologi Sepuluh November (ITS)
  4. Indrosaptono, Djoko, Dkk, 2014. Kayu Kelapa (Glugu) Sebagai Alternatif Bahan Konstruksi Bangunan. ISBN: 0853-2877, Modul Vol. 14 No. 1 Januari-Juni 2014. Fakultas Tekinik, Universitas Diponegoro, Semarang
  5. Irawati, I. S. Dab Saputra, A. 2012. Analisis Statistik Sifat Mekanika Bambu Petung, Prosiding Simposium Nasional Rekayasa Dan Budidaya Bambu I 2012, Rekayasa Bambu Sebagai Solusi Pelestarian Lingkungan. ISBN: 978-602-95687-6-9, 30 Januari 2012, JTSL FT UGM, Yogyakarta
  6. Purnama, Edi. Studi Pengaruh Penambahan PVAc (Polyvinyl Acetate) dan Ukuran Butir Terhadap Kuat Tekan Bahan Target Karbon untuk Deposisi Lapisan Tipis Diamond Like Carbon (DLC). FMIPA, Universitas Brawijaya, Malang
  7. Herawati, Evalina, 2008. Balok Laminasi Sebagai Bahan Struktural. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara
  8. Biro Klasifikasi Indonesia, 1996. Buku Peraturan Klasifikasi dan Konstruksi Kapal Laut, Peraturan Kapal Kayu, Bina Hati. Jakarta
  9. Standar Nasional Indonesia (SNI), 1995. Metode Pengujian Kuat Lentur Kayu di Laboratorium, SNI 03-3959-1995, Indonesia
  10. Standar Nasional Indonesia (SNI), 1994. Metode Pengujian Kuat Tarik Kayu di Laboratorium, SNI 03-3399-1994, Indonesia
  11. Widodo, A. B., 2004. Pengembangan Komposit Kayu dan Bambu Sebagai Material Alternatif Untuk Pembangunan Kapal Kayu. Prosiding Pertemuan Ilmiah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bahan. Serpong