skip to main content

ANALISIS FOOD HABIT TERIPANG HITAM (Holothuria atra) DI PERAIRAN PANTAI ALANG-ALANG TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA Analysis Food Habit of Black Sea Cucumber (Holothuria atra) in The Coastal Waters of Alang-Alang Karimunjawa National Park

1Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik,, Indonesia

2Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia

3Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Indonesia

Received: 16 Jan 2020; Published: 20 Jan 2020.
Open Access Copyright (c) 2020 Management of Aquatic Resources Journal under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract
Teripang merupakan salah satu sumberdaya pesisir yang melimpah di perairan Indonesia. Teripang merupakan komponen penting di perairan pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic level) dalam rantai makanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui food habit teripang hitam (Holothuria atra) dan bahan organik sedimen pada ekosistem lamun di Perairan Pantai Alang-Alang Taman Nasional Karimunjawa. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif. Pengambilan data menggunakan metode systematic random sampling. Penelitian ini dilakukan pada tiga titik pengamatan pada ekosistem lamun. Hasil pengamatan kelimpahan teripang sebanyak 25 ekor teripang hitam (Holothuria atra) ditemukan dengan nilai kelimpahan relatif (KR) di titik sampling 1 sebesar 32%, titik sampling 2 sebesar 48% dan di titik sampling 3 sebesar 20%. Nilai IP (Index of Preponderance) tertinggi sebesar 40,08% pada jenis makanan Rhizosolenia spp dan nilai IP terendah sebesar 0,21% pada jenis makanan Iasis spp dan Triceratium spp. Kandungan bahan organik sedimen di titik sampling 1 sebesar 5,426%, titik sampling 2 sebesar 19,917% dan di titik sampling 3 sebesar 14,584%. Hubungan kelimpahan teripang hitam (Holothuria atra) dengan bahan organik sedimen menunjukkan hubungan yang positif dengan persamaan regresi y = 0,2104x + 5,5327. Nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,439 dengan kategori cukup atau sedang dan nilai koefisien determinasi (R2) 0,1929 dengan kategori buruk.

 

ABSTRACT

 

 Sea cucumber is one of the abundant coastal resources in Indonesian waters. Sea cucumber is an important component in the water at various trophic levels in the food chain. The purpose of this research is to find out the black sea cucumber (Holothuria atra) food habit and sedimentary organic material in seagrass ecosystem in the coastal waters of Alang-Alang Karimunjawa National Park. The method used in the research is descriptive method. The sampling method used is systematic random sampling technique. This research is conduct at three observation locations in seagrass ecosystem. The result of observations of the abundance of sea cucumber were found 25 sea cucumbers with a relative abundace value at the first observation location of 32%, second observation location of 48% and third observation location of 20 The highest IP value (Index of Preponderance) at 40,08% is Rhizosolenia spp and the lowest IP value at 0,21% is Iasis spp and Triceratium spp.Sedimentary organic material content at the first observation location of 5,426%, second observation location of 19,917% and third observation location of 14,584%. The relation between abundance of black sea cucumber (Holothuria atra) with sedimentary organic material shows positive relation which is regression equation y = 0,2104x + 5,5327. The correlation of coefficient value is 0,439 in moderate category and determination of coefficient value (R²) is 0,1929 in bad category.

Fulltext View|Download
Keywords: Teripang; Food Habit; Pantai Alang-Alang; Karimunjawa

Article Metrics:

Article Info
Section: Articles
Language : ID
Statistics:
Share:
  1. Agusta, O.R., Bambang S. dan Siti R. 2012. Kebiasaan Makan Teripang (Echinidermata : Holothuridae) di Perairan Pantai Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Journal of Maquares. 3 (2) : 66–73
  2. Al Rashdi, K.M., Eeckhaut, I., Claereboudt, M.R. 2013. A Manual on Hatchery of Sea Cucumber Holothuria scabra in The Sultanate of Oman. Ministry of Agriculture and Fisheries Wealth Directorate General of Fisheries Research Aquaculture Center
  3. Ardiananto, R., B. Sulardiono dan P.W. Purnomo. 2014. Studi Kelimpahan Teripang (Holothuriidae) pada Ekosistem Lamun dan Ekosistem Karang Pulau Panjang Jepara. Diponegoro Journal of Maquares. 3 (2) : 66-73
  4. Asari, A., B.H. Toloh dan J.R.R. Sangari. 2018. Pengembangan Ekowisata Bahari Berbasis Masyarakat di Desa Bahoi Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal Ilmiah Platax. 6 (1) : 29-41
  5. Assyakur, A.R. dan D.B. Wiyanto. 2016. Studi Kondisi Hidrologis sebagai Lokasi Penempatan Terumbu Buatan di Perairan Tanjung Benoa Balo. Jurnal Kelautan. 9 (1) : 85-92
  6. Aziz, A. 1997. Status Penelitian Teripang Komersial di Indonesia. Oseana. 22 (1) : 9-19
  7. Bakus, G.J. 1973. The Biology and Ecology of Tropical Holothurian. In O.A. Jones and R. Endean (Eds) Geology and Biology of Coral Reefs. 1 : 325-367
  8. BPAP. 1994. Pedoman Analisis Kualitas Air dan Tanah Sedimen Perairan Payau. Direktorat Jendral Perikanan. Jepara
  9. Buchanan. J.B. 1971. Sediments, in Methods for The Study of Marine Benthos. Oxford University, Oxford. 54 hlm
  10. Dissanayake, D.C.T. dan G. Stefansson. 2010. Abbudance and Distribution of Comercial Sea Cucumber Species in The Coastal Waters of Srilanka. Journal of Aquat. Living Resor. 23 : 303-313
  11. Effendi, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta. 163 hlm
  12. _______. 2003. Telaah Kualitas Air : Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta. 258 hlm
  13. Elfidasari, D., N. Noriko, N. Wulandari dan A.T. Perdana. 2012. Identifikasi Jenis Teripang Genus Holothuria Asal Perairan Sekitar Kepulauan Seribu Berdasarkan Perbedaan Morfologi. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI. 1 (1) : 140-146
  14. Handayani, T., V. Sabariah dan R.R. Hambuako. 2017. Komposisi Spesies Teripang (Holothuroidea) di Perairan Kampung Kapisawar Distrik Meos Manswar Kabupaten Raja Ampat. Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada. 19. 1 : 45-51
  15. Hasan, M.I. 2003. Pokok-Pokok Materi Statistik 1 (Deskripsi Deskriptif). Edisi 2. Bumi Aksara, Jakarta
  16. Herfin, A. Hamid dan Haslianti. 2019. Studi Kebiasaan Makan Teripang Pasir (Holothuria scabra) di Perairan Desa Alosi Kecamatan Kolono Kabupaten Konawe Selatan. Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan. 4 (1) : 15-22
  17. Irmawan, R.N. 2010. Struktur Komunitas Makrozoobenthos di Estuaria Kuala Sugihan Provinsi Sumatera Selatan. Program Studi Kelautan FMIPA, Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan
  18. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut Untuk Biota Laut
  19. Kordi, K.M.G.H. dan A.B. Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perairan. Rineka Cipta. Jakarta 38 hlm
  20. Krebs, J.K. 1989. Ecological Methodology. Haeper Collins Publishers. New York
  21. Lawrence, J. 1987. Functional Biology of Echinoderm. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology. 34 : 56-57
  22. Martoyo, J., A. Nugroho dan T. Winanto. 2007. Seri Agribisnis : Budidaya Teripang. Penebar Swadaya. Jakarta
  23. Nirwana, E., B. Sadarun dan L.O.A. Afu. 2016. Studi Struktur Komunitas Teripang Berdasarkan Kondisi Substrat di Perairan Desa Sawapudo Kabupaten Konawe. Sapa Laut. 1 (1) : 17-23
  24. Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta. 208 hlm
  25. Oktamalia, D. Purnama dan D. Hartono. 2016. Studi Jenis dan Kelimpahan Teripang (Holothuroidea) di Ekosistem Padang Lamun Perairan Desa Kahyapu Pulau Enggano. Jurnal Enggano. 1 (1) : 9-17
  26. Purwandatama, R.W., C. A’in dam Suryanti. 2014. Kelimpahan Bulu Babi (Sea Urchin) pada Karang Masive dan Branching di Daerah Rataan dan Tubir di Legon Boyo Pulau Karimunjawa Taman Nasional Karimunjawa. Diponegoro Journal of Maquares. 3 (1) : 17-26
  27. Salahuddin, C. Fandeli dan E. Sugiharto. 2012. Kajian Pencemaran Lingkungan di Tambak Udang Delta Mahakam. Jurnal TEKNOSAINS. 2 (1) : 32-47
  28. Setyorini, M.M. Minarsih dan A.T. Haryono. 2016. Pengaruh Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE) dan Earning Per Share (EPS) terhadap Harga Saham Perusahaan Real Estate di Bursa Efek Indonesia (Studi Kasus pada 20 Perusahaan Periode 2011-2015). Journal of Management. 2 (2) : 1-23
  29. Sutaman. 1992. Petunjuk Praktis Budidaya Teripang. Penerbit Kanisisus. Yogyakarta. 45 hlm
  30. Titrawani, R. Elvyra dan R.U. Sawalia. 2013. Analisis Isi Lambung Ikan Senangin (Eleutheronema tetradactylum Shaw) di Perairan Dumai. Jurnal Biologi. 6 (2) : 85-90
  31. Uthicke, S. 2001. Influence of Asexual Reproduction on The Structure and Dynamics of Holothuria atra and Stichopus chloronotus Populations of The Great Barrie Reef. Marine and Freshwater Research. 52 : 205- 215
  32. Wirasti, A. 1990. Beberapa Aspek Ekologi Teripang Keling Holothuria (Halodeine) atra jaeger di Rataan Terumbu Karang Pulau Pari, Pulau Seribu. [Skripsi]. Universitas Padjajaran. Bandung
  33. Yamanouchi, T. 1956. The Daily Activity Rhythms of The Holothurians in The Coral Reef of Palao Islands. Publ. Seto Mar. Biol. Lab. 5 : 347-362
  34. Yogaswara, G.M., E. Indrayanti dan H. Setiyono. 2016. Pola Arus Permukaan di Perairan Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta pada Musim Peralihan. Jurnal Oseanografi. 5 (2) : 227-233
  35. Yusron, E. dan S.D. Sjafei. 1997. Studi Analisis Makanan dari Beberapa Jenis Teripang (Holothuroidea) di Perairan Pulau Ambon. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.