skip to main content

PEMETAAN SEBARAN TERUMBU KARANG MENGGUNAKAN CITRA SATELIT SPOT-6 DI PERAIRAN PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU JAKARTA

Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia

Received: 20 Dec 2018; Published: 20 Dec 2018.
Open Access Copyright (c) 2018 Management of Aquatic Resources Journal under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract

Pulau Pari merupakan salah satu pulau dari gugusan  Kepulauan Seribu, Jakarta yang memiliki ekosistem terumbu karang. Pencemaran minyak yang terjadi di Teluk Jakarta serta meningkatnya jumlah wisatawan di Pulau Pari memberikan dampak terhadap ekosistem terumbu karang di wilayah tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan kajian mengenai kondisi terumbu karang di Pulau Pari, Kepulauan Seribu dan penyebab utama terjadinya degradasi pada terumbu karang tersebut. Penelitian ini menggunakan purposive sampling technique dan metode survei, materi yang digunakan pada penelitian ini adalah Citra Satelit SPOT-6 dan data hasil pengukuran terumbu karang di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu di tiap stasiun berkisar antara 27 - 290C, salinitas 31-32 0/00, kekeruhan air masih dibawah ambang batas baku mutu kekeruhan air untuk biota laut yaitu <0.1 NTU. Persentase karang hidup di Pulau Pari ditinjau dari penutupan karang memiliki nilai yang beragam, nilai terendah 24.20 % atau dapat dikatakan karang dalam kondisi rusak dan nilai tertinggi sebesar 41,64 %. Uji akurasi digunakan sebagai fiksasi hasil interpretasi citra dengan data di lapangan, dari 50 titik sampling di lapangan terdapat 35 titik sampling yang sesuai dengan analisis  penginderaan jauh pada citra SPOT-6. Titik sampling yang keliru menginterpretasikan penutupan lahan yaitu 15 titik sampling. Hal ini menunjukkan nilai akurasi dari penggunaan citra SPOT-6yaitu sebesar 70.00%. Hasil yang didapat hasil klasifikasi citra maupun sampel training area menunjukan kemampuan yang baik dan dapat digunakan dalam proses pemetaan.

 

 

 

Pari Island is one of the thousand islands knows has a luxury coral reef's ecosystem. Oil pollution in Jakarta bay and the increasing number of tourists on the Pari Island had an impact on coral reef ecosystems these activities may effect on degradation coral reefs in Pari Island. This theory used survey method and purposive sampling technique, the material used in this research is satellite SPOT-6 image and coral reef measurement data on Pari Island, Thousand Islands, Jakarta. The results of this study indicate that the temperature at each station ranged from 27 - 290C, salinity 31 - 320/00, turbidity of water is still below the standard threshold of water turbidity for marine biota, is <0.1 NTU. Live coral percentage on Pari Island viewed from coral cover has diverse value, the lowest value 24,20% or can be said coral in damaged condition and highest value 41,46%. The accuracy test is used as a fixation of the results of the interpretation of the image with the field data, from the 50 sampling points in the field there are 35 sampling points corresponding to the remote sensing analysis on the SPOT - 6. Sampling point mistakenly interpreting the land closure of 15 sampling points. It shows the accuracy value of the use of SPOT - 6 that is 70%. The results obtained from the classification of image and sample training area shows a good ability and can be used in the mapping process.

 

Fulltext View|Download
Keywords: Pulau Pari; Terumbu karang; Citra SPOT-6

Article Metrics:

  1. Arief, M. 2012. Aplikasi Data Satelit SPOT-4 untuk Mendeteksi Terumbu Karang: Studi Kasus di Pulau Pari. LAPAN, Jakarta. 14(1): 1-6
  2. Burke, L. Reytar, K. Spalding, M. dan Perry, A. 2012. Menengok Kembali Terumbu Karang yang Terancam di Segitiga Terumbu Karang. World Resources Institute. 1(1): 24-32
  3. Damayanti, Reina. 2012. Pemetaan Terumbu Karang di Perairan Pulau Tabuhan Kab. Banyuwangi Menggunakan Citra Satelit Quickbird. Program Studi Ilmu Kelautan Trunojoyo. Madura
  4. Edrus, I. N., S. W. Wijaya dan I. E. Setyawan. 2013. Struktur Komunitas Ikan Karang di Perairan Pulau Raya, Pulau Rusa, Pulau Rondo dan Taman Laut Rinoi Dan Rubiah, Nanggroe Aceh Darussalam, J. Lit. Perikan. Ind. 4: 175 – 186
  5. Edward dan Tarigan, Z. 2003. Pemantauan Kondisi Hidrologi di Perairan Raha P. Muna Sulawesi Tenggara dalam Kai-tannya dengan Kondisi Terumbu Karang. Jurnal Makara Sains. 7(2): 73-82
  6. Hapsari, R.A. Wijaya, N.I. dan Winarso, G. 2017. Luasan dan Sebaran Kondisi Terumbu Karang di Perairan Kepulauan Seribu. Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan Universitas Hang Tuah, B: 66-73
  7. Hariyanto, T dan A. Lingga. 2016. Analisa Perubahan Luasan Terumbu Karang Dengan Metode Penginderaan Jauh (studi kasus: Pulau Menjangan, Bali). GEOID, 1(2): 171-175
  8. Helmi,M, A. Hartoko, S. Herkiki, Munasik dan S. Wouthuyze. 2011, „Analisis respon spektral dan ekstraksi nilai spektral terumbu karang pada citra digital multispektral satelit ALOS-AVNIR di perairan gugus Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta‟ Buletin Oseanografi Marina. 1:120-136
  9. Januardi, R. Hartoko, A. dan Purnomo P.W. 2016. Analisis Habitat dan Perubahan Luasan Terumbu Karang di Pulau Menjangan Besar Kepulauan KarimunJawa Mengunakan Citra Satelit. Journal Of Maquares Managemen Of Aquatic Resources. 5(4): 302-312
  10. KEPMENLH. 2001. Lampiran Keputusan MENLH No. 04 tahun 2001 tentang : Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang, Jakarta
  11. KEPMENLH. 2004. Lampiran Surat Keputusan Mentri Negara Lingkungan No. 51 tahun 2004 tentang : Baku Mutu Air Laut Unttuk Biota Laut, Jakarta
  12. Kordi, K.M.G.H. 2010. Ekosistem terumbu karang. Rineka Cipta. Jakarta. 212 hlm
  13. Lyzenga David R., 1981. Remote Sensing of Bottom Reflectance and Water Attenuation Parameters in Shallow Water Using Aircraft and Landsat Data. International Journal of Remote Sensing (IJRS). 2(1): 71-82
  14. Manullang, J. C. Hartoni dan H, Surbaki. 2014. Analisis Perubahan Luasan Terumbu Karang denagan Menggunakan Data Pengindaraan Jauh di Perairan Pulau Pramuka Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Maspari journal. 6(2): 124-132
  15. Mataburu, I. B. 2015. Identifikasi Kondisi Terumbu Karang Perairan Bagian Selatan Pulau Sepanjang, Kabupaten Banten Sumenep Dengan Mengunakan Citra Landsat 8. SPATIAL wahana Komunikasi dan Informasi Geografi. 13(1) : 14-21
  16. Mulyana, Y. 2006. Pedoman Pelaksanaan Transplantasi Karang. Direktorak Jenderal Kelautan, pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta
  17. Nugraha, A. H, A. A. Mustika, G. S. J. Wijaya dan D. Adrian. 2010. Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Pulau Pari Kepulauan Seribu
  18. Rauf KP, Supriharyono, Purnomo PW. 2015. Kelimpahan Zooxanthellae pada Acropora sp. Berdasarkan kedalaman perairan dan naungan yang berada di Pulau Pari Kepulauan Seribu Jakarta. Diponegoro J Maquares Management of Aquatic Resources. (4)1: 46-54
  19. Renfro, B. dan Chadwick, N.E. 2017. Benthic Community Structure On Coral Reefs Exposed To Intensive Recreational Snorkeling. Research Ariticel
  20. Riska. Sadarun, B.dan Yasir Haya, L.O.M. Kelimpahan Drupella pada Perairan Terumbu Karang di Pulau Belan-Belan Besar Selat Tiworo Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Jurnal Mina Laut Indonesia. 02(6): 69-80
  21. Romimohtarto, K dan S. Juwana. 2009. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Djambatan. Jakarta
  22. Rustam, A., Yulius, M. Ramdhan, H.L. Sa-lim, D. Purbani, dan T. Arifin. 2014. Analisis kualitas perairan kaitannya dengan keberlanjutan ekosistem un-tuk kawasan budidaya perikanan di kawasan pulau Wangi-wangi, Kabu-paten Wakatobi, Dalam: Prosiding PIT ISOI-X, Ikatan sarjana oseanolo-gi Indonesia. Jakarta. Hlm.:91-104
  23. Suryanti, Supriharyono, Roslinawati Y. 2011. Pengaruh kedalaman terhadap morfologi karang di Pulau Cemara Kecil Taman Nasional Karimun Jawa. J Saintek Perikanan. 7(1):63-69
  24. Sulisyati, R. Poedjirahajoe, E. WF. Rahayu, L. dan Fandeli. 2014. Karakteristik Terumbu Karang di Zona Pemanfaatan Wisata Taman Nasional Karimun Jawa. Ilmu Kelautan.19(3): 139-148
  25. Tedesco, E.C, Segal, B. Calderon, E.N.dan Schiavetti, A. 2017. Consevation Of Brazilian Coral Reef In The Southwest Atlantic Ocean: A Change Of Approach. Latin American Journal Of Aquatic Research. Res 45(2): 228-245
  26. Thovyan, A.I. Sabariah, V.dan Paranden, D. 2017. Persentase Tutupan Terumbu Karang di Perairan Pasir Putih Kabupaten Manokwari. Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik.1(1):67-80
  27. United Nation Environment Protection, 1993. Penagamatan Terumbu karang dalam perubahan. Ilmu Kelautan. Australia
  28. Wahidin N, Siregar VP, Nababan B, Jaya I, Wouthuyzen S. 2014. Deteksi Perubahan Habitat Terumbu Karang Menggunakan Citra Landsat di Pulau Morotai Provinsi Maluku Utara. Jurnal Ilmu dan Teknologi KelautanTropis, Vol. 6, No. 2, Hlm. 507-524, Desember 2014. @Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia dan Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB 507
  29. Wahyudiono. 2009. Kerentanan Terumbu Karang Akibat Aktivitas Manusia Mengunakan “Cell-Based Modelling” di Pulau Karimun Jawa dan Pulau Kemujan, Jepara, Jawa tengah
  30. Yulius. Novianti, N. Arifin, T. Salim, H.L. Ramadhan, M. dan Purbani, D. 2015. Distribusi Spasial Terumbu Karang di Periran Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 7(1): 59-69
  31. Zamani NP. 2015. Kelimpahan Acanthaster planci sebagai indicator kesehatan karang di perairan Pulau Tunda, Kabupaten Serang, Banten. J Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 7(1):273-286
  32. Coral triangle initiative on coral reef fisheries security http://nccctiindonesia.kkp.go.id/?page_id=138 (diakses pada 09/03/2018)

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.