PERBEDAAN PERUBAHAN STATUS GIZI ANTARA ANAK USIA 7-24 BULAN YANG DIBERI MAKANAN PENDAMPING ASI LOKAL BUATAN PEDAKANG KAKI LIMA DAN BUATAN RUMAH DI KOTA SEMARANG

*Asti Hayuningtyas  -  Mahasiswa Peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Laksmi Widajanti  -  Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Suyatno Suyatno  -  Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Received: 6 Apr 2020; Published: 30 Jun 2020.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Pada tahun 2017-2018 terjadi peningkatan kasus gizi buruk dan gizi kurang pada balita di Kota Semarang. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya pemenuhan asupan gizi dari Makanan Pendamping ASI (MP ASI). Di Kota Semarang muncul MP-ASI lokal buatan Pedagang Kaki Lima (PKL). Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan perubahan status gizi pada anak usia 7-24 bulan antara yang diberi MP-ASI buatan PKL dan buatan rumah. Penelitian analitik ini dilakukan dengan disain kohort selama 1 bulan. Total sampling diterapkan pada anak yang diberi MP-ASI buatan PKL (17 anak) dan sebagai pembanding dipilih 17 anak yang diberi MP-ASI buatan rumah. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, recall konsumsi 2x24, penimbangan berat badan menggunakan timbangan digital. Analisis data dengan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Setelah drop out, data dari 13 anak dari tiap kelompok dianalisis. Tidak ada perbedaan Skor Z BB/U awal (p=0,555), akhir (p=0,521) dan perubahan skor Z BB/U (p=0,396) antara kedua kelompok. Rerata asupan energi/ hari dari MP ASI PKL adalah 53 kkal (usia 7-11 bulan) dan 63 kkal (usia 12-24 bulan), sedangkan dari MP ASI buatan rumah 277 kkal (usia 7-11 bulan) dan 385 kkal (usia 12-24 bulan). Hasil uji beda antara status gizi awal dan akhir menunjukkan bahwa pada kelompok MP-ASI buatan PKL terjadi penurunan (p=0,023) skor Z BB/U dari -0,5724±0.5539 menjadi -0,6814±0,5840, sedangkan pada kelompok MP-ASI buatan rumah tidak berubah (p=0,507) dari -0,5933±1,5499  menjadi -0,6936±1,7876. Disimpulkan bahwa MP-ASI buatan rumah memberikan sumbangan energi dan berdampak pada skor Z BB/U lebih baik daripada MP ASI buatan PKL setelah 1 bulan pengamatan.

Keywords: MP-ASI; buatan rumah; buatan PKL; anak usia 7-24 bulan; status gizi

Article Metrics:

  1. Riset Kesehatan Dasar 2018
  2. Kemenkes RI No. 12 Tahun 2010 Tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak
  3. Supariasa. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2001
  4. Humaira H, Jurnalis YD, Edison. Hubungan Status Gizi dengan Perkembangan Psikomotorik Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Lapai Padang Tahun 2014. J Kesehat Andalas. 2016;5(2):402-408
  5. Hadiana SYM. Hubungan Status Gizi terhadap Terjadinya Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Puskesmas Pajang Surakarta. 2013
  6. Soekirman. Ilmu Gizi Dan Aplikasinya Untuk Keluarga Dan Masyarakat. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional; 2000
  7. Lutviana E, Budiono I. Prevalensi dan Determinan Kejadian Gizi Kurang pada Balita. J Kesehat Masy. 2010;5(2):138-144
  8. WHO, Unicef. Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. 2003
  9. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013 Tentang Aangka Kecukupan Gizi
  10. Istiany A, Rusilanti. Gizi Terapan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya; 2014
  11. Izwardy D. Praktik Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA). Presented at the: 2018
  12. Meipita T. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Ibu, Pola Pemberian MP-ASI dengan Status Gizi pada Bayi Usia 6-12 Bulan. 2009
  13. Hermina, Prihartini S. Pengembangan Media Poster dan Strategi Edukasi Gizi untuk Pengguna Posyandu dan Calon Pengantin. Bul Penelit Kesehat. 2015;43(3):195-206
  14. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Pedoman Gizi Seimbang
  15. Arumningtyas RM. Hubungan Jenis Asupan Makanan Pendamping ASI Dominan dengan Perkembangan Anak Usia 6-24 Bulan. 2010
  16. Profil Kesehatan Kota Semarang 2017
  17. Profil Kesehatan Kota Semarang 2018
  18. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 2 Tahun 2020 Tentang Standar Antropometri Anak
  19. Hartiningrum I, Fitriyah N. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Provinsi Jawa Timur Tahun 2012-2016. J Biometrika dan Kependud. 2018;7(2):97-104
  20. Fitriana N, Astuti AW. Hubungan Lama Pemberian ASI dengan Status Gizi Anak Usia 6-24 Bulan di Posyandu Biduri Tempel Sidomulyo Bambanglipuro Bantul Yogyakarta Tahun 2010. 2010
  21. Chandra I. Hubungan Jenis Asupan MP-ASI Dominan dengan Status Gizi Anak Usia 6-24 Bulan. 2010
  22. Black R, Allen L, Bhutta Z, Cauilfield L, Onis M. Maternal and child undernutrition: global and regional exposures and health consequences. Lancet. 2008;7:14
  23. Berutu I. Hubungan Kebiasaan Konsumsi Buah dan Sayur, Aktivitas Fisik, dan Sosial Ekonomi dengan Status Gizi pada Remaja. 2018
  24. Diniyyah SR. Asupan Energi , Protein dan Lemak dengan Kejadian Gizi Kurang pada Balita Usia 24-59 Bulan di Desa Suci , Gresik. Amerta Nutr. 2017;1(4):341-350. doi: 10.20473/amnt.v1.i4.2017.341-350
  25. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 28 Tahun 2019 Tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan
  26. Ritasari N. Hubungan Antara Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dengan Status Gizi pada Balita Umur 0-12 Bulan di Desa Ngimboh Kecamatan Ujung Pangkah, Gresik. 2009
  27. Tumbuh G, Anak K. Permenkes RI No. 66 Tahun 2014 tentang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak. 2014
  28. Wibowo A. Metodologi Penelitian Praktis. Jakarta: Rajawali Press; 2014
  29. Wawan, Dewi. Teori Dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika; 2010
  30. Hasibuan M. Organisasi Dan Motivasi Dasar Peningkatan Produktivitas. Jakarta: Bumi Aksara; 2003