Pengaruh Terpaan Pemberitaan Teror di Surakarta dan Faktor Demografi (Usia, Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan) Terhadap Citra Polisi

Received: 16 May 2013; Published: 30 Aug 2013.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Statistics: 196 96
Abstract

Pengaruh Terpaan Pemberitaan Teror di Surakarta dan Faktor Demografi (Usia, Jenis
Kelamin, Tingkat Pendidikan) Terhadap Citra Polisi
Abstrak
Pemberitaan mengenai teror terhadap anggota kepolisian yang terjadi di kota Surakarta
pada Agustus 2012 lalu menjadi topik utama di media massa. Hal ini dapat memengaruhi
persepsi masyarakat mengenai citra polisi itu sendiri karena instansi kepolisian langsung menjadi
sorotan utama berkaitan dengan aksi teror yang menyerang anggotanya. Akan tetapi, tidak semua
orang memiliki persepsi yang sama, hal ini dikarenakan masyarakat terdiri dari berbagai macam
komposisi demografi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh terpaan media tentang pemberitaan teror solo dan faktor demografi
(usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan) terhadap citra polisi di mata masyarakat. Peneliti
menggunakan teori efek komunikasi kognitif yang dapat menjelaskan bagaimana pembentukan
citra dapat terjadi karena terpaan media massa yang diterima oleh khalayak (Ardianto, 2004),
teori kategori sosial dan teori perbedaan individual dari Melvin DeFleur dan Ball Rokeach
mampu menjelaskan bagaimana faktor demografi penduduk dapat berpengaruh terhadap
pembentukan citra (Rakhmat, 2011). Populasi dari penelitian ini adalah warga kota Surakarta
yang berusia 15-64 tahun. Penarikan sampel dilakukan secara aksidental sebanyak 70 orang.
Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis Structural Equation Model (SEM)
untuk melihat besarnya pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel terpaan
pemberitaan (X) terhadap variabel citra polisi (Y) melalui variabel usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikan (intervening variable). Hasil pengujian hipotesis adalah terpaan pemberitaan teror
Solo berpengaruh terhadap citra tidak melalui usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan,
dengan nilai pengaruh langsung terpaan terhadap citra (standardized direct effect) sebesar 0,278
lebih besar dari nilai pengaruh tidak langsung terpaan terhadap citra melalui usia, jenis kelamin,
tingkat pendidikan (standardized indirect effect) sebesar – 0,048. Jadi, hipotesis yang diajukan
dalam penelitian ini ditolak. Dari pengujian Regression Weights diperoleh hasil parameter
estimasi pengaruh antara terpaan terhadap citra sebesar 0,778, pengujian hubungan kedua
variabel tersebut menunjukkan nilai C.R (critical ratio) sebesar 2,637 lebih besar dari 1,96 dan
probabilitas = 0,008 (p < 0,05), ini berarti terpaan berpengaruh positif terhadap citra. Pengujian
Squared Multiple Correlation untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam
menerangkan variasi variabel dependen, hasilnya adalah citra dipengaruhi oleh terpaan,
pendidikan, usia, dan jenis kelamin sebesar 24,8%, sedangkan sisanya sebesar 75,2% (100%-
24,8%) dijelaskan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Keywords: terpaan, citra polisi, faktor demografi, SEM
The Effect Of Exposure To News Coverage Of Terror In Surakarta and Demographic
Factors (Age, Gender, Level of Education) To The Image Of The Police
Abstract
News coverage of terror against members of the police force in the Surakarta on August 2012
and became the main topic in the mass media. It can affect people's perception about the image
of the police because the police agency directly became highlights related to the terror action
against its members. However, not everyone has the same perception, this is because the
community is made up of a wide variety of demographic composition, such as age, gender, and
level of education. This study aims to determine the effect of exposure to the news media about
the terror solo and demographic factors (age, gender, education level) on the image of the police
in the eyes of society. Researchers using cognitive communication effects theory that can explain
how the image formation can occur because of mass media exposure received by audiences
(Ardianto, 2004), social categories theory and the theory of individual differences and Ball
Rokeach Melvin DeFleur able to explain how demographic factors can affect the image
formation (Rakhmat, 2011). The population of this research are the citizen of Surakarta aged 15-
64 years. Accidental sampling conducted as many as 70 people.
Hypothesis testing is done using analysis of Structural Equation Modelling (SEM) to see
the magnitude of the direct and indirect effect between news exposure variable (X) to the police
image variable (Y) through the variables of age, gender, level of education (intervening
variable). Results of hypothesis testing is preaching terror Solo exposure influence the image not
through age, gender, and education level, with the direct effect value of exposure to the image
(standardized direct effect) of 0.278, is greater than the indirect effect value of exposure to the
image through the ages, gender, level of education (standardized indirect effect) of - 0.048. Thus,
the hypothesis presented in this research was rejected. Regression Weights of test results
obtained parameter estimates the effect of exposure to images of 0,778, the relationship test
between the two variables indicate the value of C.R (critical ratio) of 2,637 greater than 1.96
and probability = 0.008 (p < 0,05), it means the exposure has a positive effect to the image.
Squared Multiple Correlation test to measure how far the model’s ability in explaining variation
of the dependent variable, the result image is affected by exposure, education, age, and sex of
24,8%, while the remaining 75.2% is explained by other factors not examined in this study.
Keywords: exposure, image of the police, demographic factors, SEM
PENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN TEROR DI KOTA SURAKARTA DAN FAKTOR
DEMOGRAFI (USIA, JENIS KELAMIN, TINGKAT PENDIDIKAN) TERHADAP CITRA
POLISI DI MATA MASYARAKAT
PENDAHULUAN: Media memang mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap
masyarakat, disadari atau tidak, media massa mampu membuat masyarakat mempunyai penilaian
tersendiri terhadap suatu informasi, terutama dalam hal mengubah persepsi atau sikap
masyarakat atas suatu realita. Dampak ini diperkuat dengan keseragaman para wartawan dalam
menyajikan berita yang cenderung sama. Khalayak akhirnya tidak mempunyai alternatif yang
lain sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya dari
media massa (Rakhmat, 2011:199). Meskipun media memiliki kekuatan untuk membentuk atau
mengubah persepsi, namun hal tersebut tetap tidak bisa memaksa semua masyarakat untuk
memiliki respon yang sama dalam menerima setiap terpaan informasi yang diberikan oleh media.
Hal ini dikarenakan, masyarakat terdiri dari berbagai macam komposisi demografi seperti usia,
jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Komposisi demografi itulah yang akan mempengaruhi
cara dan pola pikir masyarakat dalam memberikan stimulus terhadap setiap informasi yang
diterimanya. Pemberitaan tentang aksi teror Solo yang terjadi di Kota Surakarta beberapa waktu
lalu, menyedot perhatian media massa karena modus baru yang dilakukan oleh para teroris.
Selama bulan Agustus, tercatat terdapat empat aksi teror yang dilakukan oleh teroris bersenjata
yang melakukan penyerangan terhadap anggota kepolisian yang sedang bertugas jaga di pos- pos
polisi, mulai dari melempar granat sampai penembakan yang menewaskan satu anggota polisi.
Oleh sebab itu, seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya masyarakat Solo saja, serta para
pejabat pemerintahan terus mengawasi dan memonitor kinerja instansi Kepolisian Republik
Indonesia dalam menyelesaikan dan mengusut kasus ini sampai tuntas, karena pemberitaan yang
negatif di media massa tersebut dapat membuat citra masyarakat terhadap polisi menjadi negatif.
Sementara itu, menurut Psikolog Forensik, Reza Indragiri Amriel, seperti yang dikutip dari salah
satu situs online, isu terorisme yang belakangan marak muncul di media massa dinilai semakin
memperburuk citra Polri. Kondisi tersebut dinilai kian menguatkan anggapan bahwa Polri
semakin lemah, dan masyarakat terguncang akibat berita- berita terorisme di media massa. Ia
mengatakan,”akibatnya, masyarakat semakin bersikap negatif terhadap Korps Tribata. Publik
menafsirkan, sudah korup, gagal pula menangkal beranak pinaknya teroris” (sumber:
http://berita.plasa.msn.com/nasional/republika/isu-terorisme-dinilai-justru-perburuk-citra-polisi).
Dalam hal ini, media telah menunjukkan kekuatannya sebagai pembentuk persepsi masyarakat,
karena melalui pemberitaan- pemberitaan yang terus menerus mengenai aksi teror ini dapat
membentuk atau mengubah persepsi masyarakat tentang bagaimana citra kepolisian Indonesia di
mata mereka. Berdasarkan hal tersebut, lantas sejauh mana pengaruh terpaan pemberitaan teror
di Kota Surakarta dan faktor demografi (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan) terhadap citra
polisi di mata masyarakat?
PEMBAHASAN: Terpaan (exposure) merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca
pesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan
tersebut yang terjadi pada individu dan kelompok (Kriyantono, 2006 : 205). Masyarakat yang
mengkonsumsi media massa dan mendapatkan informasi mengenai aksi teror Solo, baik itu
dengan melihat, mendengar, dan membaca, serta mempunyai perhatian dan pengalaman pribadi
secara langsung terhadap aksi teror Solo dapat dikatakan sudah mendapatkan terpaan
pemberitaan aksi teror Solo dari media massa. Proses bagaimana masyarakat mendapatkan
terpaan pemberitaan aksi teror Solo tidak lepas dari faktor- faktor yang juga menjadi kekuatan
bagi media massa dalam mempengaruhi masyarakat. Noelle- Neumann mencetuskan faktorfaktor
yang saling bekerjasama dalam membentuk perspektif yang selektif (Rakhmat, 2011:198):
ubiquity (serba ada), keseragaman wartawan, dan kumulasi pesan. Dalam pemberitaan aksi teror
Solo hampir semua media massa, baik itu elektronik, media cetak, bahkan media online,
memberitakan hal yang sama tentang kasus teror setiap harinya (keseragaman wartawan). Entah
itu melaporkan langsung dari tempat kejadian perkara, wawancara dengan anggota instansi
kepolisian, hingga mengundang narasumber yang berbeda- beda dalam acara talk show dan
membahas aksi teror. Hal yang dibahas pun semakin lama semakin merembet kemana- mana,
dari aksi teror yang dilakukan, menyudutkan instansi kepolisian karena kelalaian kerjanya, motif
dan tersangka aksi teror, hingga kontroversi seputar penangkapan teoris. Semua pesan- pesan
mengenai aksi teror itu berakumulasi dan dapat mempengaruhi masyarakat. Namun menurut
DeFleur dan Ball Rokeach tidak semua orang mempunyai respon yang sama terhadap terpaan
pemberitaan di media massa. Hal tersebut dicetuskan dalam teori kategori sosial (social category
theory) dan teori perbedaan individual (individual differences theory) (Rakhmat, 2011: 201-202).
Menurut teori kategori sosial, respon setiap orang dalam menerima terpaan media tergantung
dari faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Secara garis besar usia
adalah lamanya hidup individu yang terhitung sejak dia dilahirkan sampai berulang tahun. Usia
dikelompokkan menjadi 3 yaitu usia belum produktif (0-14 tahun), usia produktif (15-64 tahun),
dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas). Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat
yang didasarkan pada perbedaan ciri fisik (organ reproduksi, bentuk tubuh) dan perbedaan sosial
(perbedaan peranan), dan dikelompokkan menjadi laki- laki dan perempuan. Sedangkan tingkat
pendidikan merupakan proses pembelajaran yang berstruktur yang mempunyai jenjang atau
tingkatan pada periode waktu tertentu, berlangsung dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi
dan tercakup di dalamnya studi akademis umum. Asumsi dari teori kategori sosial adalah orang
dengan usia dan jenis kelamin yang sama cenderung sama pula dalam merespon pesan yang
disampaikan oleh media massa. Orang dengan usia dewasa cenderung akan memiliki perhatian
yang sama terhadap berita aksi teror Solo yang didapat melalui berbagai macam media,
sedangkan orang dengan usia remaja yang lebih sering mengakses informasi melalui media
televisi dan online, cenderung merespon dengan biasa saja karena kejadian tersebut sedang
menjadi headline, tidak sampai terlalu mengikuti, karena orang dengan usia remaja cenderung
lebih menyukai hal- hal yang bersifat hiburan. Tingkat pendidikan seseorang jika dilihat dari
perspektif perbedaan individual (teori perbedaan individu), mempengaruhi respon atau stimulus
yang diterima oleh setiap individu terhadap pesan yang disampaikan media massa. Perbedaan
pengalaman belajar, yang ditentukan dari sekolah baik formal maupun informal yang berjenjang
dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, mampu mempengaruhi pola pikir dan prasangka
seseorang yang lebih baik, serta lebih mampu menerima informasi. Orang dengan pendidikan
yang rendah cenderung lebih mudah terkena terpaan karena pengetahuannya yang terbatas.
Sedangkan orang dengan pendidikan yang lebih tinggi, seperti eksekutif atau mahasiswa,
cenderung lebih sulit terkena terpaan karena pengetahuannya lebih luas, lebih bisa berfikir, lebih
mencari berbagai referensi sebelum membuat keputusan. Dominick (2000) menyebutkan tentang
dampak komunikasi massa pada pengetahuan, persepsi dan sikap seseorang. Media massa
terutama televisi yang menjadi agen sosialisasi memainkan peran penting dalam transmisi sikap
persepsi dan kepercayaan (Ardianto, 2004 : 58). Efek kognitif sangat memengaruhi pembentukan
citra oleh khalayak terhadap sesuatu karena efek kognitif terjadi apabila ada perubahan pada apa
yang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi
pengetahuan, ketrampilan, kepercayaan, dan keyakinan. Media massa bekerja untuk
menyampaikan informasi, sedangkan untuk khalayak, informasi tersebut dapat membentuk,
mempertahankan, atau mendefinisikan citra berdasarkan persepsi seseorang. Jadi, citra terbentuk
berdasarkan informasi yang kita terima. Tipe penelitian ini adalah eksplanatif yaitu untuk
menemukan penjelasan tentang mengapa suatu kejadian atau gejala terjadi. Populasi dari
penelitian adalah warga kota Surakarta yang berusia 15-64 tahun, tetapi karena peneliti tidak
memiliki kerangka sampel yang cukup, maka pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non
probability sampling dan ditetapkan besarnya sampel adalah 70 orang. Teknik penarikan sampel
dilakukan dengan teknik accidental sampling, di mana sampel dapat terpilih karena berada pada
waktu, situasi, dan tempat yang tepat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah dengan
menggunakan kuesioner yang berupa daftar pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti untuk
disampaikan kepada responden yang jawabannya diisi oleh responden sendiri. Sedangkan teknik
pengumpul data adalah dengan teknik wawancara, di mana selain memberikan kuesioner,
peneliti juga memberikan kesempatan kepada responden untuk menanyakan yang tidak
dimengerti responden dalam menjawab kuesioner sehingga mendapatkan jawaban yang lebih
memuaskan dan mendalam. Selain itu, teknik wawancara digunakan untuk memastikan bahwa
responden menjawab semua pertanyaan dalam kuesioner secara lengkap, tidak sembarangan, dan
tidak diisikan orang lain. Karena dalam penelitian ini terdapat variabel antara (intervening),
maka jenis analisis ini adalah analisis multivariat. Analisis multivariate yang digunakan adalah
dengan menggunakan pendekatan Model Persamaan Struktural (Structural Equation Model/
SEM). Model ini digunakan karena penelitian ini ingin menguji pengaruh terpaan (X) terhadap
citra polisi (Y) melalui usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan (intervening variabel). Sebelum
melakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan evaluasi atas asumsi- asumsi SEM
yang dapat menentukan criteria layak uji SEM. Dalam penelitian ini, semua asumsi- asumsi
SEM diterima sehingga variabel- variabel tersebut layak diuji menggunakan SEM. Uji hipotesis
dilakukan dengan melihat pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel eksogen
terhadap variabel endogen. Analisis ini diperlukan untuk membuktikan variabel intervening.
Variabel intervening dalam penelitian adalah pendidikan, usia, dan jenis kelamin. Variabel
pendidikan, usia, dan jenis kelamin terbukti sebagai variabel intervening yang dapat dilalui
terpaan terhadap citra apabila koefisien pengaruh tidak langsungnya lebih besar daripada
pengaruh langsung. Dari pengujian Regression Weights diperoleh hasil parameter estimasi
pengaruh antara terpaan terhadap citra sebesar 0,778, pengujian hubungan kedua variabel
tersebut menunjukkan nilai C.R (critical ratio) sebesar 2,637 lebih besar dari 1,96 dan
probabilitas = 0,008 (p < 0,05), ini berarti terpaan berpengaruh positif terhadap citra. Pengujian
Squared Multiple Correlation untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam
menerangkan variasi variabel dependen, hasilnya adalah citra dipengaruhi oleh terpaan,
pendidikan, usia, dan jenis kelamin sebesar 24,8%, sedangkan sisanya sebesar 75,2% (100%-
24,8%) dijelaskan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil uji hipotesis
menyatakan bahwa pengaruh langsung terpaan terhadap citra sebesar 0,278 lebih besar daripada
pengaruh tidak langsungnya sebesar - 0,048. Jadi dapat disimpulkan bahwa terpaan berpengaruh
terhadap citra tidak melalui pendidikan, usia, dan jenis kelamin, sehingga hipotesis yang
diajukan ditolak. Hasil hipotesis ini juga menunjukkan keperkasaan media (Noelle-Neumman,
dalam Rakhmat, 2011:198). yang dapat memengaruhi hampir setiap orang dengan cara yang
sama tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.
PENUTUP: Polisi merupakan satu institusi pemerintahan yang mempunyai tugas berhubungan
langsung dengan masyarakat sebagai pelayan, pengayom, dan pelindung masyarakat. Oleh sebab
itu, citra polisi di mata masyarakat pun harus dijaga agar hubungan antara masyarakat dan
instansi kepolisian berlangsung dengan baik. Salah satu cara yang digunakan oleh kepolisian
untuk memperbaiki atau mempertahankan citranya di mata masyarakat adalah melalui media
massa. Berkembangnya media massa sekarang ini, membuat media massa mempunyai peranan
penting dalam membentuk persepsi dan keyakinan masyarakat tentang sesuatu. Kesimpulan dari
penelitian ini adalah: 1. Hasil pengujian hipotesis adalah terpaan pemberitaan teror Solo
berpengaruh terhadap citra tidak melalui usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan (hipotesis
yang diajukan ditolak). Hasil ini diperoleh melalui berdasarkan pengolahan uji hipotesis yang
dilakukan dengan menggunakan metode analisis Structural Equation Model (SEM), didapat hasil
pengaruh langsung terpaan terhadap citra (standardized direct effect) sebesar 0,278 lebih besar
dari pengaruh tidak langsung terpaan terhadap citra melalui usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikan (standardized indirect effect) sebesar – 0,048; 2. Landasan teori yang diajukan untuk
mendukung hipotesis awal, yaitu teori kategori sosial dan teori perbedaan individual tidak
signifikan karena hasil uji hipotesis menyatakan bahwa terpaan berpengaruh terhadap citra
secara langsung tanpa melalui faktor- faktor demografi, seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat
pendidikan. Namun teori efek komunikasi dapat mendukung hasil uji hipotesis bahwa terpaan
mempunyai pengaruh dalam pembentukan citra; 3. Berdasarkan temuan penelitian di lapangan
yang didapatkan dengan membagikan kuesioner kepada 70 orang responden, sebanyak 44.3%
menilai citra polisi cukup baik, disusul kemudian 27.1% menilai citra polisi kurang baik, 15.7%
menilai citra polisi buruk, dan hanya 12. 9% yang menilai citra polisi baik. Berdasarkan
kesimpulan tersebut, maka sebaiknya media harus lebih berhati- hati dalam memberikan
informasi mengenai instansi kepolisian, misalnya dengan menyaring informasi mengenai instansi
kepolisian yang akan ditampilkan di media massa, tidak sembarangan mencari dan
mewawancarai narasumber, karena media memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi
persepsi masyarakat tentang citra kepolisian. Instansi kepolisian sebaiknya juga mempunyai juru
bicara atau Humas yang bertugas memberikan informasi kepada masyarakat melalui media
secara resmi melalui konferensi pers, tidak hanya di kantor pusat saja tetapi juga di daerahdaerah.
Hal ini diperlukan agar informasi yang muncul di media massa dapat terkendali dan
terkontrol.
DAFTAR PUSTAKA: Ardianto, Elvaro. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Simbiosa
Rekatama Media: Bandung ; Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi.
Kencana: Jakarta ; Rakhmat, Djalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya:
Bandung ; Ferdinand, Augusty. 2006. Structural Equation Modeling dalam Penelitian
Manajemen, Edisi Keempat. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang ; Firdaus, M dan
Farid. 2008. Aplikasi Metode Kuantitatif Terpilih Untuk Manajemen dan Bisnis, Seri metode
kuantitatif. IPB Press: Bogor ; Ghozali, Imam. 2008. Model Persamaan Structural: Konsep dan
Aplikasi dengan Program Amos 16.0. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang ;
Koentjaraningrat. 1977. Metode- metode Penelitian Masyarakat. PT Gramedia: Jakarta ;
Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Kencana: Jakarta ; Muhidin,
Sambas Ali dan Maman Abdurahman. 2007. Analisis Korelasi, Regresi, Dan Jalur Dalam
Penelitian (Dilengkapi Aplikasi Program SPSS). CV Pustaka Setia: Bandung ; Prasetyo,
Bambang dan Lina Miftahul Jannah. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi.
Rajawali Pers: Jakarta ; Rakhmat, Djalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. PT Remaja
Rosdakarya: Bandung ; Rakhmat, Djalaluddin. 1984. Psikologi Komunikasi. PT Remaja
Rosdakarya: Bandung ; Santoso, Singgih. 2007. Structural Equation Modelling, Konsep dan
Aplikasi dengan Amos, Membuat dan Menganalisis Model SEM Menggunakan Program SPSS.
PT Elex Media Komputindo: Jakarta ; Syah Putra, Dedi Kurnia. 2012. Media dan Politik:
Menemukan Relasi Antara Dimensi Simbiosis- Mutualisme Media dan Politik. Graha Ilmu:
Yogyakarta ; Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Kencana: Jakarta ;
http://berita.plasa.msn.com/nasional/republika/isu-terorisme-dinilai-justru-perburuk-citra-polisi
diakses pada 20 Desember pukul 10.00 ;
www.m.okezone.com/read/2012/09/01/337/683777/kapolri-aksi-di-solo-tidak-terkait-pilkada-
DKI diakses pada 19 September pukul 13.00 ; http://suarapembaruan.com/home/teror-beruntundi-
solo-polisi-ditembak-mati/24062 diakses pada 5 Maret 2013 pukul 18.00 ;
http://m.tempo.co/read/news/2012/09/03/063427135/mabes-polri-motif-teror-solo-balas-dendam
diakses pada 5 Maret 2013 pukul 19.00 ; Laporan Harian Monitoring Isu Publik Depkominfo
dalam www.depkominfo.go.id di akses dan didownload pada 19 September 2012 pukul
12.00.

Article Metrics: