Pers Mahasiswa Hayamwuruk: Media Gerakan Perlawanan Ideologis Mahasiswa 1985-1998

*Albertus Arga Yuda Prasetya  -  Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Indonesia
Dewi Yuliati  -  Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 21 Dec 2020; Published: 31 Dec 2020.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Pers mahasiswa (Persma) sudah sejak lama menjadi bagian dari gerakan mahasiswa. Dari Persma, tercerminkan gagasan-gagasan mahasiswa dalam lokus dan periode tertentu. Dengan demikian, dapat diketahui zeitgeist (jiwa zaman) para mahasiswa secara umum, serta pandangan-pandangannya yang lain terhadap beragam permasalahan yang lebih spesifik. Tulisan ini membahas Persma yang terbit di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (UNDIP) pada tahun 1985 yaitu Hayamwuruk. Pada masa itu, rezim yang berkuasa di Indonesia adalah rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. Rezim yang berkuasa sejak 1967 (de jure) hingga 1998 ini memiliki watak otoriter, sehingga sepanjang perjalanannya selalu mendapatkan perlawanan dari berbagai kalangan, salah satunya dari kelompok mahasiswa. Selain itu, Hayamwuruk berdiri pada masa pemberlakuan kebijakan  Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang mengekang kegiatan politik mahasiswa. Kegiatan mahasiswa hanya diperbolehkan di bidang-bidang keilmuan. Kebijakan tersebut berlaku pada 1978-1990. Tulisan ini terdiri dari beberapa pokok pembahasan. Pertama, mengetahui proses pendirian majalah Hayamwuruk. Kedua, mengungkapkan cara-cara yang dilakukan para pengelola Hayamwuruk dalam menanggapi isu-isu yang sedang berkembang. Ketiga, menelisik apakah Hayamwuruk menjalankan fungsinya sebagai Persma. Berdasar pada pembahasan dapat disimpulkan bahwa meskipun tumbuh dan berkembang pada era Orde Baru, Hayamwuruk tetap berani memuat kritik-kritik tajam terhadap pemerintah. Namun demikian, majalah ini tidak pernah mengalami pemberedelan, karena secara tidak langsung dilindungi oleh pejabat kampus. Hayamwuruk menjadi pelengkap bacaan umum tentang aspirasi dan suara kritis mahasiswa terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang sedang berkembang pada zamannya.

Article Metrics:

  1. Hayamwuruk edisi No.1 Th.IV/1988
  2. Hayamwuruk edisi No.2 Th.V/1990
  3. Hayamwuruk edisi No.1 Th.VI/1991
  4. Hayamwuruk edisi No. 2 Th.VII/1992
  5. Hayamwuruk edisi No.2 Th.VIII/1993
  6. Hayamwuruk edisi No.3 Th.VIII/1993
  7. Hayamwuruk edisi No.2 Th.X/1996
  8. Hayamwuruk edisi No.01 Th.XI/1997
  9. Hayamwuruk edisi No.1 Th.XI/1997
  10. Arifin, Luqman Hakim, “Cerita Panjang dari Lombok”, Balairung edisi 32/Tahun XV/2000. Dikutip dalam Hasan Bachtiar, “Pers Mahasiswa Pasca-21 Mei 1998: Menuntaskan Romantisme Sejarah”, makalah disampaikan dalam Sarasehan Nasional Pers Mahasiswa yang diadakan Direktorat Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, 18-19 September 2000
  11. Dhakidae, Daniel, “Penerbitan Kampus: Cagar Alam Kebebasan Pers”, Prisma, No.10 Oktober 1977
  12. Fathoni, Moh., dkk., (2012). Menapak Jejak Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia. Depok: Komodo Books
  13. Siregar, Ashadi (2000). “Media Pers dan Negara: Keluar dari Hegemoni”, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 4(2)
  14. Gottschalk, Louis (1985). Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press
  15. Kuntowijoyo (2013). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana
  16. Lembaga Pers Mahasiswa Hayamwuruk (2020). “Buku Putih Hayamwuruk”. Tidak diterbitkan
  17. Prambadi, Didi, dkk. (1994). Buku Putih TEMPO: Pembredelan Itu. Jakarta: Alumni Majalah TEMPO
  18. Shiraishi, Takashi (1997). Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  19. Sukarno (1986). Pers Bebas Bertanggung Jawab: Himpunan Pidato / Ceramah Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika. Jakarta: Departemen Penerangan RI
  20. Supriyanto, Didik (1998). Perlawanan Pers Mahasiswa: Protes Sepanjang NKK/BKK. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
  21. Aan Rusdiyanto
  22. Arwani
  23. Basfin Siregar
  24. Gunawan Budi Susanto
  25. Petrus Hariyanto
  26. Syamsul Hidayat