Analisa Pengaruh Perubahan Hullform Terhadap Motion Sickness Incidence (MSI) Pada Kapal Ro – Ro 500 GT

*Budi Setyawan  -  Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Deddy Chrismianto  -  Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Sarjito Jokosiworo  -  Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Published: .
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Gerakan kapal terombang – ambing atau naik turun yang diakibatkan oleh ombak yang besar dan terus menerus dapat mengakibatkan gejala sakit berupa kepala pusing, mual bahkan muntah yang seringkali diistilahkan sebagai mabuk laut (motion sickness). Pada kapal penumpang (ferry) kondisi ini menjadi suatu persyaratan penting yang harus dipertimbangkan dalam proses desain. Dalam penelitian ini dilakukan kajian terhadap hasil perhitungan respon gerakan kapal Ro - Ro 500 GT sehingga bisa dilihat respon kapal terhadap kenyamanan penumpang. Pada penelitian ini difokus pada optimasi bentuk lambung kapal untuk meningkatkan kualitias seakeeping sesuai dengan standar seakeeping pada Nortforks 1987 serta menurunkan nilai Motion Sickness Incidence sesuai dengan standard ISO-2631/1997. Perubahan bentuk lambung dilakukan dengan merubah parameter nilai koefisien blok (Cb) sebesar ±5% dan ±10% dengan Metode Lackenby serta merubah posisi letak LCB sebesar ±3% dan ±5% dengan bantuan software Maxsurf Modeler Advance. Kapal Ro – Ro memenuhi kriteria seakeeping sampai sea state 4 dengan tinggi gelombang 2,012 m dalam periode gelombang 6,084s, serta memenuhi kriteria MSI kurang dari 10% setelah 2 jam pada following seas dan head seas, nilai OMSI menurun ketika Cb diperkecil dan Lcb digeser kearah depan kapal. Pengaruh paling signifikan terhadap kapal terjadi pada sea state 4 yaitu penurunan nilai OMSI sebesar 0,709.

Article Metrics:

  1. Gerakan kapal terombang – ambing atau naik turun yang diakibatkan oleh ombak yang besar dan terus menerus dapat mengakibatkan gejala sakit berupa kepala pusing, mual bahkan muntah yang seringkali diistilahkan sebagai mabuk laut (motion sickness). Pada kapal penumpang (ferry) kondisi ini menjadi suatu persyaratan penting yang harus dipertimbangkan dalam proses desain. Dalam penelitian ini dilakukan kajian terhadap hasil perhitungan respon gerakan kapal Ro - Ro 500 GT sehingga bisa dilihat respon kapal terhadap kenyamanan penumpang. Pada penelitian ini difokus pada optimasi bentuk lambung kapal untuk meningkatkan kualitias seakeeping sesuai dengan standar seakeeping pada Nortforks 1987 serta menurunkan nilai Motion Sickness Incidence sesuai dengan standard ISO-2631/1997. Perubahan bentuk lambung dilakukan dengan merubah parameter nilai koefisien blok (Cb) sebesar ±5% dan ±10% dengan Metode Lackenby serta merubah posisi letak LCB sebesar ±3% dan ±5% dengan bantuan software Maxsurf Modeler Advance. Kapal Ro – Ro memenuhi kriteria seakeeping sampai sea state 4 dengan tinggi gelombang 2,012 m dalam periode gelombang 6,084s, serta memenuhi kriteria MSI kurang dari 10% setelah 2 jam pada following seas dan head seas, nilai OMSI menurun ketika Cb diperkecil dan Lcb digeser kearah depan kapal. Pengaruh paling signifikan terhadap kapal terjadi pada sea state 4 yaitu penurunan nilai OMSI sebesar 0,709.