skip to main content

HUBUNGAN PENGELOLAAN KUALITAS AIR DENGAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK, NO2 DAN NH3 PADA BUDIDAYA UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) DI DESA KEBURUHAN PURWOREJO

Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia

Published: 29 Aug 2015.

Citation Format:
Abstract

Kegiatan budidaya udang Vannamei di desa Keburuhan, Purworejo dilakukan di kawasan gumuk pasir. Air yang digunakan untuk media budidaya berasal dari sumur pengeboran. Semakin meningkatnya masa pemeliharaan udang diikuti oleh meningkatnya bahan organik yang berpotensi terdekomposisi menjadi senyawa toksik yaitu nitrit (NO2) dan amonia (NH3). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan kadar bahan organik, NO2, NH3 dan untuk mengetahui hubungan pengelolaan kualitas air dengan kandungan bahan organik, NO2 dan NH3 pada budidaya udang Vannamei di Desa Keburuhan, Purworejo. Metode penelitian yang digunakan adalah survei lapangan. Lokasi pengambilan sampel air dilakukan pada tiga taraf umur pemeliharaan yaitu Tambak dengan periode umur pemeliharaan 0-20 hari, Tambak dengan periode umur 21-50 hari dan Tambak dengan periode umur 51-70 hari. Analisis data yang digunakan adalah uji regresi dengan taraf nyata (α) 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan umur berhubungan dengan peningkatan bahan organik, NO2 dan NH3. Hasil penghitungan persamaan regresi menunjukkan apabila kadar bahan organik 17,73 mg/l dapat menghasilkan amonia 0,1 mg/l (batas maksimum), sedangkan apabila bahan organik sebesar 88,4 mg/l dapat menghasilkan nitrit 0,06 mg/l (batas maksimum). Amonia dan nitrit mencapai batas maksimum sebelum masa panen yaitu umur 20 hari dan umur 55 hari. Kandungan bahan organik, nitrit (NO2) dan amonia (NH3) mengalami peningkatan seiring bertambahnya umur udang. Adanya hubungan antara pengelolaan kualitas air dengan kandungan bahan organik, NO2 dan NH3 menunjukkan pengelolaan kualitas air pada budidaya udang Vannamei di Desa Keburuhan Purworejo kurang efektif dilakukan.

 

Vannamei shrimp aquaculture activities in Keburuhan Village, Purworejo are done in sand dunes areas. Besides, well water utilized as aquaculture media. Increasingly, the keeping periods of shrimp followed by the increase of organic matter in which potentially decompose into toxic compounds, namely nitrite (NO2) and ammonia (NH3).  The aim of this study is to determine the level changes in organic matter, NO2, and NH3 as well as correlation of the water quality management with the contents of organic matter, NO2, and NH3 in Vannamei shrimp aquaculture in Keburuhan Village, Purworejo. The research method used in this study is field survey. The locations of water sampling conducted at the age of three of the level maintenance, among others the Pond at the age of 0-20 days, the Pond  at the age of 21-50 days and the Pond at the age of 51-70 days. Regression test used for the data analysis with significance level (α) 0,05. The research result shows that the age significantly effects the enhancement of organic matter, NO2 and NH3. The calculation results of regression equation indicate if the organic matter level is 17,73 mg/l may produce 0,1 mg/l ammonia (maximum limit),whereas 88,4 mg/l organic matter may produce 0,06 mg/l nitrite (maximum limit). Ammonia and nitrite reach the maximum limit before their harvest periods which are at the age of 20 days and 55 days. The contents of organic matter, nitrite (NO2) and ammonia (NH3) have increased as the shrimp grows older. The correlations between water quality management with organic matter, NO2 and NH3 indicate that water quality management of Vannamei shrimp aquaculture in Keburuhan village Purworejo is carried out less effectively.

Fulltext View|Download
Keywords: Kualitas Air; Udang Vannamei; Desa Keburuhan Purworejo; Bahan Organik; NO2 dan NH3

Article Metrics:

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.