Video Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa”

Rizka Putra Dinanti, Djoko Setiabudi, I Nyoman Winata

Abstract


i
Video Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa”
Karya Bidang
Disusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan strata 1
Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Penyusun
Rizka Putra Dinanti D2C607042
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013
i
ABSTRAK
Video dokumenter merupakan salah satu produk jurnalistik dalam bentuk audio visual.
Terdapat tim yang bekerja dari pra hingga pasca produksi untuk pembuatannya, dokumentaris
dalam hal ini menjabat posisi sebagai produser. Pemilihan posisi tersebut merupakan kemauan
dan kemampuan jurnalis dalam menjalankan proyek dokumenter ini. Dokumentaris berkerja
sesuai dengan naskah sekenario yang di buat oleh sutradara. Dokumenter Komunitas Komplotan
Bocah Wayang (Koboy) yang berjudul “Koboy Melukis Pusaka Jawa” menampilkan
sekumpulan anak muda yang gemar mengikuti kegiatan pewayangan di Sobokartti. Anak-anak
muda ini bersepakat untuk menggelorakan semangat cinta wayang pada masyarakat Semarang
dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan. Namun sayangnya tidak
banyak generasi muda yang tertarik kepada wayang kulit. Wayang kulit selama ini identik
dengan generasi lama atau orang tua, kuno, serta kolot untuk anak muda saat ini, karena bahasa
pengantarnya bahasa Jawa yang tidak populer lagi di kalangan generasi muda. Untuk menarik
minat generasi muda pada wayang sebagai kesenian tradisional, akhirnya mereka berdua
berusaha memberikan inovasi terhadap pewayangan dengan sentuhan kreatif yaitu dengan
membuat sebuah wayang kreasi baru, yaitu dengan menggunakan fiber, tekson, kardus, serta ewayang
yang bisa diaplikasikan menjadi komik, poster, video animasi, dan yang bersentuhan
dengan bidang digital teknologi agar bisa lebih mendekatkan dan menarik minat anak muda
sekarang.
Mereka sangat totalitas dalam menggelorakan semangat cinta wayang pada
masyarakat semarang dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan,
tergambar pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Koboy. Dari sekolah ke sekolah mereka
bawa tongkat estafet budaya wayang yang diwariskan oleh nenek moyang untuk mengenalkan
kembali ke anak-anak muda saat ini, Koboy menjembatani dengan ketulusan mereka, ketekunan
serta semangat dan upaya-upaya agar anak muda semakin mengenal dan bangga serta dapat ikut
menjaga kelestarian seni tradisional wayang dalam wadah komunitas Komplotan Bocah Wayang
atau Koboy. Melalui Koboy, diharapkan wayang bisa lebih dekat dengan masyarakat khususnya
anak muda
Kata kunci: jurnalis, produser, Wayang, Koboy
i
ABSTRACT
Video documentary is one of audio-visual journalism product . There is a team working
from pre to post-production to production, documentary in this case serves as a cameraperson
and a concurrent position as editor . The selection of these positions is the willingness and ability
of journalists to carry out this documentary project . Documentary work in accordance with the
scenario script made by the director . Komunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy) entitled
“Koboy Draws Java’s Heritage” featuring a bunch of young people who love to take part in
Sobokartti puppet . They are agreed to foster a spirit of love puppets in Semarang and gather
people who are interested in the puppet world . But unfortunately not many young people are
attracted to the shadow play . Wayang kulit is synonymous with the old generation or the old ,
ancient , and old-fashioned for today's youth , because language introduction to the Java
language is no longer popular among the younger generation . To attract young people to the
puppet as traditional art , finally they both tried to deliver innovation to the puppet with a
creative touch to create a new puppet creations , using fiber , tekson , cardboard , as well as e -
puppets that can be applied into comics , posters , video animation , and is in contact with the
field of digital technology in order to get closer and attract young people today .
They are very total in spreading spirit of love puppets in Semarang and raise public who
are interested in the puppet world , reflected in the activities undertaken by Koboy . From school
to school they carry the baton puppet culture inherited by the ancestors to introduce back to
young kids today, Koboy bridge with their sincerity , passion and perseverance as well as efforts
to bring more young people to know and be proud of and care for preservation of traditional art
puppets Komplotan Bocah Wayang or Koboy gang. Through Koboy , puppet is expected to be
closer to the public, especially young people .
Keywords : Journalist , producer, wayang and Koboy .
i
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kegiatan Jurnalistik sangat berkaitan erat dengan media massa cetak maupun
elektronik, karena publikasi di media massa adalah salah satu syarat utama agar sebuah
produk tersebut dapat dikatakan sebagai produk jurnalistik. Media massa elektronik salah
satunya televisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasi
secara cepat dan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalam waktu
bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditampilkan telah mampu menarik minat
pemirsanya , dan mampu membius pemirsanya untuk selalu menyaksikan berbagai
tayangan yang disiarkan televisi. Terlebih lagi TV merupakan media yang menyuguhkan
tampilan melalui bentuk audio visual (suara dan gambar) sehingga tentunya membuat
masyarakat lebih tertarik kepada televisi daripada media massa lainnya. Banyaknya
audien televisi mejadikannya sebagai medium dengan efek yang besar terhadap orang,
kultur dan juga terhadap media lain. Sekarang televisi adalah media massa dominan
(Vivian, 2008:225).
Beberapa jenis dan bentuk pengembangan documenter televisi meliputi expository
documenter (penutur tunggal narrator), documenter drama, news feature, reality show
dan investigasi. Kami sebagai jurnalis ingin mebuat sebuah produk jurnalistik dalam
bentuk news feature dengan format documenter yang nantinya akan di publikasikan
melalui media televise. Alasan menggunakan format documenter karena konten
i
didalamnya lebih lengkap, yaitu seperti unsur informasi, ilmu pengetahuan, dan yang
dominan unsure hiburan yang kreatif (fachrudin,2012:314).Kami ingin mengangkat salah
satu kesenian tradisional yang mulai terpinggirkan bahkan mulai ditinggalkan oleh anak
muda khususnya adalah kesenian wayang.Wayang selama ini kita kenal sebagai
kekayaan budaya jawa.Wayang telah menjadi etos dan pandangan hidup masyarakat
jawa.Bahkan wayang menjadi esensi budaya jawa.Bagi masyarakat Jawa, wayang
tidaklah hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan.Wayang bukan hanya sekedar
sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi, media penyuluhan dan
media pendidikan.Wayang telah menjadi asset kebudayaan nasional, maka kewajiban itu
berarti terletak di pundak masyarakat Indonesia seluruhnya.Tetapi tentulah masyarakat
Jawa khususnya yang harus merasa lebih terpanggil untuk nguri-uri kekayaan budayanya
yang indah dan sarat nilai-nilai budaya yang adiluhung ini.
Berbicara mengenai upaya pelestarian wayang masih terhitung sedikit terutama
generasi muda. Salah satunya komunitas koboy (komplotan bocah wayang) yang
berpusat di Sobokartti yang melakukan kegiatan pelestarian dan pengenalan wayang
dengan pelatihan dalang bagi anak maupun remaja dan proses pembuatan wayang dengan
berbagai medium. Meskipun mereka bukan pelaku seni atau orang yang terlibat dalam
kegiatan pewayangan namun kegiatan yang mereka lakukan dengan mengenalkan
wayang melalui workshop ke sekolah-sekolah atau tempat-tempat umum, sudah menjadi
salah satu cara pelestarian terhadap wayang. Meski hanya workshop, setidaknya kegiatan
itu mampu memberi pesan untuk mengenalkan tentang wayang terlebih dahulu kepada
anak-anak dan orang tua, apabila kedepannya wayang tetap tidak diminatipun itu bukan
merupakan kegagalan para koboy, yang terpenting adalah masyarakat yang terutama
i
anak-anak mengetahui bahwa kita mempunyai peninggalan kebudayaan yang sangat
bernilai yaitu wayang. Koboy sangat berperan dalam melestarikan wayang meski tidak
mampu meneruskan kebudayaan sebagai pelaku, setidaknya koboy dapat meneruskan
tongkat estafet kepada generasi muda, yang seharusnya tongkat estafet tersebut dibawa
oleh orangtua untuk anak-anaknya namun terbentur orang tua jaman sekarang banyak
yang tidak peduli atau malah tidak mengenal tentang pewayangan, maka para orang tua
sendiri tidak mampu berperan untuk mengenalkan wayang kepada anak-anaknya didalam
sistem pelestarian kebudayaan wayang saat ini.
1.2 Kerangka Pemikiran
1. Jurnalistik dalam Dokumenter
Jurnalistik didefinisikan sebagai seni dan ketrampilan mencari, mengumpulkan,
mengolah, menyusun dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari
secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya,
sehingga terjadi perubahan sikap, sifat pendapat, dan perilaku khalayak sesuai dengan
kehendak para jurnalisnya. (Suhandang, 2004:21).
Video dokumenter merupakan sebuah produk jurnalistik berbentuk soft news yang
bertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan secara menarik (Morrison,
2008:211). Sehingga dokumenter pun menjadi salah satu dari sekian media yang dapat
digunakan untuk menyampaikan informasi, pendidikan, pengaruh dan sekaligus hiburan
untuk kahalayak atau cakupan massa. Video dokumenter dapat diputar dan dipertunjukan
kepada khalayak dan target audience melalui ruang-ruang komunitas maupun secara
i
massive yaitu televisi. Televisi sendiri telah menjadi media komunikasi massa yang tidak
terpisahkan dengan masyarakat. Masyarakat dari segala usia termasuk di dalamnya
adalah remaja yang sangat akrab dengan televisi. Menurut Vivian (2008:16) televisi
merupakan salah satu media yang tidak menuntut audiensnya untuk terlalu aktif , bahkan
cukup pasif saja (cool media). Media seperti televisi, radio dan film yang diputar pada
televisi merupakan jenis-jenis media yang masuk kedalam kategori itu.
2. Gaya Bertutur dan Strukur Dokumenter
Dalam pembuatan dokumenter ini, kami para jurnalis memilih menggunakan gaya
rekonstruksi pada umunya bentuk ini dapat ditemui pada documenter investigasi dan
sejarah, termasuk pula pada film etnografi dan antropologi visual. Dalam tipe ini,
pecahan-pecahan atau bagian –bagian peristiwa masalampau maupun masa kini disusun
atau direkonstruksi berdasarkan fakta sejarah.Pada saat merekonstruksi suatu peristiwa,
latarbelakang sejarah, periode, serta lingkungan alam dan masyarakatnya menjadi bagian
dari konstruksi peristiwa tersebut.Konsep penuturan rekonstruksi terkadang tidak
mementingkan unsur dramatic tetapi lebih terkonsentrasi pada pemaparan isi sesuai
kronologi peristiwa (Ayawaila, 2008: 40-43). Diharapkan pembuatan documenter dengan
gaya rekonstruksi dapat membangunkan kembali pemahaman tentang wayang sebagai
seni tradsisi yang menjadi pusat tatanan nilai dengan nilai-nilai luhur yang terkandung di
dalamnya.Seperti halnya video documenter koboy ini yang membandingkan kondisi
kesenian wayang jaman dahulu yang banyak diminati, sertamerupakan sebagai pusat
referensi tatanan nilai dan tatanan hidup, namunberbeda pada saat sekarang ini, padahal
wayang dahulu lebih rumit dibanding dengan wayang jaman sekarang yang sudah
i
berinovasi dari segi cerita dan bahasa agar dapat diterima. Perkembangan jaman dengan
munculnya media-media baru, peran wayang sebagaipusat tatanan nilai tergeser oleh
media-media baru tersebut.
1.3. Konstribusi Karya
News feature ini dibuat sebagai tugas akhir untuk persyaratan kelulusan dalam Program
Studi S-1 jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk :
1. Media dalam mengenalkan kesenian wayang kepada generasi muda sehingga tumbuh
rasa cinta dan bangga generasi muda terhadap kesenian wayang.
2. Sarana untuk menumbuhkan kesadaran banyak pihak untuk terlibat dalam upaya menjaga
eksistensi kesenian wayang.
1.4 Konsep film
Bentuk Dokumenter Tematis
`Struktur penuturan ini biasanya digunakan apabila fokus cerita adalah sebuah objek
lokasi yang merupakan tempat sejumlah orang melakukan aktivitasnya. Seperti halnya
Perkumpulan Koboy dimana merupakan sebagai tempat berkumpulnya para para pencinta
atau penggiat kesenian wayang dikalangan anak muda dalam melakukan kegiatankegiatannya,
yang berpusat di Sobokartti.
Dalam “Koboy Melukis Pusaka Jawa” penceritaan diawali dengan pernyataan-pernyataan
dari ketiga narasumber mengenai permasalahan semakin terasingnya dan antusiasme yang
kurang generasi muda terhadap kesenian wayang, kemudian upaya yang dilakukan oleh
koboy untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga di generasi muda terhadap kesenian
wayang dan diakhiri dengan pernyataan-pernyataan narasumber mengenai eksistensi
i
kesenian wayang dan upaya-upaya yang dilakukan untuk menarik minat generasi muda
terhadap kesenian wayang.
1.7. Personel dan Job Description
Karya bidang ini dibuat oleh tim yang terdiri dari 3 mahasiswa dalam sebuah sistem kerja
yang dirancang sedemikian rupa untuk penilaian yang independen dalam laporan yang
disusun. Personil dan Job description tersebut sebagai berikut :
1. Rizka Putra Dinanti (D2C607042)
 Producer : Penanggung jawab dalam suatu produksi acara
 Lobi dengan pihak stasiun televisi untuk penayangan
 Lobi Narasumber
 Penanggung jawab anggaran untuk produksi
2. Wisnuadi Trianggoro (D2C009129)
 Juru Kamera (cameraman) : melakukan riset lokasi riset narasumber, riset stockshoot
kota semarang, melakukan pengambilan gambar wawancara, melakukan
pengambilan gambar saat kegiatan objek dokumenter, memindahkan file untuk
editor.
 Editor : bertugas memilih dan menyambung gambar atau siaran audio.
3. Yuniawan Eko (D2C009136)
 Program Director/Sutradara : Orang yang bertanggung jawab dalam mengarahkan
suatu proses produksi acara radio atau televisi.
i
 Penulis Naskah/Reporter : Orang yang berprofesi sebagai peliput atau pencari berita,
menulis naskah atau melaporkan (to report) suatu event atau peristiwa atau kejadian
pada media radio tau televisi.
 Pra Produksi
- Produser melakukan pengurusan izin dan lobi dengan televisi.
- Produser melakukan pembuatan janji dengan narasumber dan pemilihan lokasi
pengambilan gambar.
- Produser membuat anggaran biaya produksi.
- Produser melakukan pengadaan peralatan produksi.
 Produksi
- Produser mendampingi sutradara dan camera person dalam pengambilan gambar saat
melakukan produksi
- Produser memastikan seluruh peralatan produksi sudah lengkap dan memastikan
kembali seluruh narasumber dapat diwawancarai sekaligus pengambilan gambarnya.
 Paska Produksi
- Produser mempersiapkan seluruh kebutuhan proses editing.
- Produser mendampingi sutadara,camera person dan editor selama proses editing
berlangsung.
i
PENUTUP
Membuat sebuah film baik itu fiksi ataupun non fiksi diperlukan riset yang matang.
Dengan cara mengumpulkan data atau informasi melalui observasi mendalam mengenai subjek,
peristiwa, dan lokasi sesuai tema yang akan diangkat. Riset secara mendalam sangat dibutuhkan
karena news faeture tidak disajikan dalam sisi estetika saja tetapi juga kelengkapan informasi
seusai dengan peristiwa nyata. Secara umum dalam sebuah news features terdapat fakta-fakta
yang ingin disampaikan dalam bentuk informasi kepada masyarakat. Dalam pembuatan video
news faeture ini mengalami tiga tahap, pra produksi, produksi, dan paska produksi. Berikut
beberapa kesimpulan yang dokumentaris dapatkan selama proses pembuatan news faeture
“Koboy Melukis Pusaka Jawa”
Kesimpulan
1) Pemilihan KOBOY ( Komplotan Bocah Wayang) sebagai subjek utama dalam
video ini disesuaikan dengan tema yang diangkat yaitu pengenalan wayang sebagai
kesenian yang mulai jauh di kalangan generasi muda. KOBOY yang beranggotakan
anak- anak muda yang memiliki minat dan kepedulian besar terhadap eksistensi wayang
di tengah-tengah generasi muda .Mereka mempunyai komitmen kuat untuk
menumbuhkan rasa cinta dan bangga pada generasi muda terhadap kesenian wayang.
Pemilihan KOBOY didasarkan pada kesamaan visi yang sama dengan tujuan dibuatnya
i
video News Features ini yaitu berupaya mengenalkan wayang kepada generasi muda
sehingga tumbuh rasa cinta dan bangga terhadap wayang.
2) Pemilihan Cakra Semarang TV sebagai media yang akan mempublikasikan
video News Features kami dikarenakan salah satu program di Cakra Semarang TV yaitu
Program Sluman-Slumun yang mempunyai kesamaan dengan konten yang kami angkat
yaitu upaya pengenalan keberagaman budaya salah satunya wayang. Program Sluman-
Slumun sendiri merupakan tayangan yang bercerita mengenai tempat-tempat yang
memiliki history atau sejarah di Semarang dan menceritakan keberagaman budaya yang
ada di Semarang. Seperti Koboy yang merupakan salah satu komunitas wayang yang
berpusat di Sobokartti.
3) Pemilihan narasumber dan tokoh utama dalam video News Features
mempunyai peranan penting. Pihak-pihak yang menjadi narasumber dalam News
Features ini merupakan sosok-sosok yang mempunyai kepedulian yang besar terhadap
perkembangan kesenian wayang dan memiliki pemahaman yang baik berkaitan dengan
upaya-upaya untuk menjaga eksistensi kesenian wayang. Dalam penentuan narasumber
diperlukan riset pendahuluan terlebih dahulu untuk mengetahui kapasitas dan kompetensi
para narasumber dalam menjawab permasalahan yang kami angkat.
4) Dalam pembuatan News Features ini bahasa yang digunakan bersifat formal
dan informatif yang disesuaikan dengan karakteristik audience. Pemilihan bahasa
i
tersebut diharapkan audience bisa memahami makna yang disampaikan dalam News
Features ini


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Interaksi Online, is published by Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jln. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Jawa Tengah 50275; Telp. (024)7460056, Fax: (024)7460055


Creative Commons License
Interaksi Online by http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/interaksi-online is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.



Lihat Statistik Pengunjung