Hubungan Intensitas Menonton Film Animasi dan Peran Orangtua Sebagai Gatekeeper terhadap Tingkat Agresivitas Anak

Received: 24 Dec 2013; Published: 31 Jan 2014.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Statistics: 114 139
Abstract

Hubungan Intensitas Menonton Film Animasi dan Peran Orangtua Sebagai
Gatekeeper terhadap Tingkat Agresivitas Anak
ABSTRAK
Saat ini banyak film animasi yang ditayangkan untuk anak-anak dan pada jam
menonton anak. Film animasi tersebut tidak hanya ditayangkan di televisi nasional saja,
bahkan televisi berlangganan pun mempunyai beberapa channel yang khusus
menayangkan film animasi. Akan tetapi, tidak semua film animasi mengandung muatan
positif. Film animasi yang mengandung muatan-muatan negatif, dikhawatirkan dapat
memicu perilaku agresif pada anak. Faktor yang mempengaruhi tingkat agresivitas anak
antara lain intensitas menonton film animasi dan peran orangtua sebagai gatekeeper.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara intensitas
menonton film animasi terhadap tingkat agresivitas anak yang disertai dengan peran
orangtua sebagai gatekeeper. Teori yang digunakan adalah teori belajar sosial (social
learning theory) dan parental mediation theory. Tipe penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tipe eksplanatori dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif.
Populasi penelitian ini adalah anak sekolah dasar kelas 4, 5, dan 6 di kota Semarang.
Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling dengan sampel
sebanyak 73 responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara
intensitas menonton film animasi terhadap tingkat agresivitas anak dengan signifikansi
0,04 dan terdapat hubungan yang negatif antara peran orangtua sebagai gatekeeper
terhadap tingkat agresivitas anak dengan signifikansi 0,521. Akan tetapi terdapat
hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi dan peran orangtua
sebagai gatekeeper terhadap tingkat agresivitas anak dengan signifikansi 0,021.
Persentase sumbangan variabel intensitas menonton film animasi dan variabel peran
orangtua sebagai gatekeeper terhadap variabel tingkat agresivitas anak sebesar 10,4%.
Saran bagi Komisi Penyiaran Indonesia, hendaknya bisa membatasi penayangan
film animasi yang mengandung muatan negatif. Bagi penelitian selanjutnya disarankan
untuk melakukan penelitian dengan variabel yang berbeda, misalnya intensitas
komunikasi interpersonal, pola asuh orangtua, atau faktor demografis, karena
variabel-variabel tersebut dimungkinkan bisa mempengaruhi tingkat agresivitas anak.
Kata kunci : intensitas menonton film animasi; peran orangtua sebagai gatekeeper;
tingkat agresivitas anak
ABSTRACT
Today there’s a lot of animated films are aired for the children and in the
children’s spare time. The animated film is not only aired on national television,
but also in subscription television that have channels that broadcast animated
films. However, not all animated films contains positive values. Animated films
that contained negative values, it is feared could trigger aggressive behavior in
children. Factors that affected the level of children’s aggressivity include the
intensity of watching animated films and the parent’s role as gatekeeper.
The purpose of this study was to recognize the relationship between the
intensity of watching the animated films and the parent’s role as gatekeeper and
the level of children’s aggressivity. The theory that is used is the social learning
theory and parental mediation theory. This type of research used in this study is
the explanatory type with quantitative research method approach. The population
of this research were primary school childrens grades 4, 5, and 6 in Semarang.
The sampling technique was multistage random sampling with the sample of 73
respondents.
The results showed that there was a realtionship between the intensity of
watching the animated movie and the level of children’s aggresivity with a
significance level of 0,04, and also a relationship between the parent’s role as
gatekeeper and the level of children’s aggressivity with a significance level of
0,521. However, there’s a relationship between the intensity of watching animated
movie and the parent’s role as gatekeeper and the level of children’s aggresivity
with a significance level of 0.021. The contribution from independence variable
and intervening variable toward dependence variable are 10,4%
The suggestion for Komisi Penyiaran Indonesia is to limit the animated
films with negative values. To the next research, it is suggested to do a research
with different variables, such as interpersonal communication intensity, parent’s
parenting method, or children’s demographic factors, because these variables can
also influence the level of children’s aggressiveness.
Keywords: the intensity of watching the animated films;parent’s role as
gatekeeper; levels of children’s aggressivity
1. PENDAHULUAN
Film animasi merupakan tayangan TV bergenre program anak yang mempunyai
persentase paling besar dibandingkan tayangan anak lainnya. Ironisnya, tidak
sedikit film animasi yang ditayangkan mengandung lebih banyak muatan negatif,
seperti kekerasan, mistik, dan seks.
Menurut Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) terdapat tiga
kategori tayangan televisi untuk anak, yaitu : a). Aman: kategori tayangan yang
tidak hanya menghibur bagi anak, tapi juga memberikan manfaat lebih, seperti
pendidikan, motivasi, mengembangkan sikap percaya diri dan penanaman
nilai-nilai positif dalam kehidupan (persahabatan, penghargaan terhadap diri
sendiri dan orang lain, kejujuran). b). Hati-hati : tayangan yang relatif seimbang
antara muatan positif dan negatif. c). Bahaya : tayangan yang mengandung jauh
lebih banyak muatan negatif daripada muatan positif.
Di Indonesia pada tahun 2010, menurut YPMA tayangan anak berlabel
merah masih 30%, idealnya 70% adalah aman, padahal angka 30% tersebut belum
termasuk tayangan berkategori hati-hati. Menurut Wayne Danielson dalam
National Television Violence Study 1995-1997, disimpulkan bahwa anak-anak
lebih rawan daripada orang dewasa ketika menonton kekerasan. Anak-anak yang
memiliki kecenderungan untuk meniru apa yang dilihat, mempunyai
kemungkinan untuk meniru adegan kekerasan di televisi (Vivian, 2008 : 487).
Salah satu penyebab anak melakukan kekerasan, menurut Ketua Komnas
Perlindungan anak adalah adegan kekerasan yang dipertontonkan pada anak.
Adegan kekerasan tersebut menjadi role model bagi anak yang kemudian
diaplikasikan anak dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan anak senang
meniru apa yang dilihatnya
(http://m.merdeka.com/jakarta/tawuran-pelajar-dampak-adegan-kekerasan-yang-d
ilihat-remaja.html. diakses pada tanggal 12 April 2013).
Orangtua sebagai pembimbing anak saat menonton televisi sangatlah
penting. Orangtua perlu menyeleksi program-program, menghidupkan hanya pada
acara tertentu, melakukan diet televisi, juga mengajari anak untuk mengkritisi
acara yang ada di televisi. Selain itu, orangtua pun harus tahu banyak mengenai
acara apa saja yang berkaitan dengan anak (Hidayati, 1998 : 90). Peran orangtua
sebagai gatekeeper dilihat sebagai penyaring dan pengontrol tayangan televisi
yang ditonton anak. Gatekeeper dapat berupa seseorang atau sekelompok yang
dilalui suatu pesan dalam perjalanannya dari pengirim ke penerima. Fungsi utama
gatekeeper adalah menyaring pesan yang diterima seseorang (DeVito, 1997:530).
Hal ini dapat dilakukan orangtua dengan memberi batasan mana yang ditonton
oleh anak dan mana yang tidak, serta mendampingi dan memberi penjelasan
mengenai adegan atau peristiwa yang ada dalam film kepada anak.
Perumusan masalah
Apakah terdapat hubungan antara intensitas menonton film animasi dan peran
orang tua sebagai gatekeeper dengan tingkat angresivitas anak-anak?
Tujuan penelitian
Untuk mengetahui hubungan intensitas menonton film animasi dan peran
orangtua sebagai gatekeeper dengan tingkat agresivitas anak.
Kerangka teori
Teori belajar sosial oleh Bandura mengatakan bahwa kita belajar dengan
mengamati apa yang dilakukan oleh orang lain. Melalui belajar observasi
(modeling atau imitasi), kita secara kognitif mempresentasikan tingkah laku orang
lain dan kemudian mungkin meniru tingkah laku tersebut (Santrock, 2003 : 53).
J. L. Singer menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara parental
mediation, tingkat agresivitas anak, dan seringnya anak menonton televisi. Anak
prasekolah yang jarang menonton televisi menunjukkan tingkat agresivitas dan
parental mediation yang rendah. Anak yang sering menonton televisi dengan
orangtua yang melakukan parental mediation menunjukkan tingkat agresivitas
yang lebih rendah daripada anak yang sering menonton televisi dengan orangtua
yang jarang melakukan parental mediation (Moeller, 2001 : 144).
Parental mediation merupakan mediasi yang dilakukan orangtua pada anak
mengenai televisi. Parental mediation diuraikan sebagai salah satu cara yang
paling efektif dalam mengatur pengaruh televisi pada anak. Terdapat tiga bentuk
parental mediation menurut Nathanson (Mendoza, 2009 : 30), antara lain:
Coviewing mediation (orangtua menonton televisi dengan anak tanpa adanya
diskusi), Restrictive mediation (orangtua menetapkan aturan dan batasan pada
konsumsi televisi anak, termasuk jenis program dan isi dari televisi), Active
mediation (orangtua mendiskusikan dengan anak mengenai apa yang dilihat di
televisi).
Geometri Hubungan Antar Variabel
Hipotesis
· Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi
(X1) terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Semakin tinggi intensitas
menonton film animasi akan menyebabkan semakin tingginya tingkat
agresivitas anak.
· Terdapat hubungan yang positif antara peran orangtua sebagai gatekeeper
(X2) terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Semakin tinggi peran orangtua
sebagai gatekeeper akan menyebabkan semakin rendahnya tingkat
agresivitas anak.
· Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi
(X1) dan peran orangtua sebagai gatekeeper (X2) terhadap tingkat
agresivitas anak (Y).
Metodologi
Tipe / jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplanatori.
Populasi dalam penelitian ini adalah anak sekolah dasar kelas 4, 5 dan 6 di kota
Semarang yang tersebar di 16 subrayon. Untuk penelitian ini menggunakan
multistage random sampling dengan teknik pengambilan sampel menggunakan
simple random sampling, jumlah sampel yang diperoleh adalah 73 siswa.
INTENSITAS
MENONTON FILM
ANIMASI (X1)
PERAN ORANGTUA
SEBAGAI
GATEKEEPER (X2)
TINGKAT
AGRESIVITAS
ANAK
(Y)
2. HASIL PENELITIAN
Frekuensi Menonton Film Animasi Durasi Menonton Film Animasi
Indikator Peran Orangtua Sebagai Gatekeeper
Peran Orangtua Sebagai Gatekeeper Tingkat Agresivitas Responden
3. PEMBAHASAN
Hubungan X1 dengan Y
Pengujian adanya hubungan intensitas menonton film animasi (X1) terhadap
tingkat agresivitas anak (Y) didasarkan pada nilai korelasi yang diperoleh yaitu
0,311, nilai korelasi mendekati angka 1 dengan signifikansi yang diperoleh, yaitu
sebesar 0,04, yang artinya lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak. Sehingga
hipotesis yang menyatakan bahwa intensitas menonton film animasi berpengaruh
terhadap tingkat agresivitas anak diterima.
Hubungan X2 dengan Y
Pengujian adanya hubungan intensitas menonton film animasi (X1) terhadap
tingkat agresivitas anak (Y) didasarkan pada nilai korelasi yang diperoleh yaitu -
0,073, nilai korelasi mendekati angka 0, menunjukkan hubungan yang lemah.
Signifikansi yang diperoleh, yaitu sebesar 0,521, yang artinya lebih besar dari
0,05, maka Ho diterima. Sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa peran
orangtua sebagai gatekeeper berpengaruh terhadap tingkat agresivitas anak
ditolak.
Hubungan X1 dan X2 dengan Y
Pengujian adanya pengaruh intensitas menonton film animasi dan peran orangtua
sebagai gatekeeper terhadap tingkat agresivitas anak didasarkan pada signifikansi
yang diperoleh, yaitu sebesar 0,021. Karena signifikansi < 0,05, maka Ho ditolak.
Sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa intensitas menonton film animasi dan
peran orangtua sebagai gatekeeper berpengaruh terhadap tingkat agresivitas anak
diterima. persentase sumbangan pengaruh variabel intensitas menonton film
animasi dan peran orangtua sebagai gatekeeper terhadap variabel tingkat
agresivitas anak sebesar 10,4%. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain
yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.
4. PENUTUP
Simpulan
1. Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi (X1)
terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Semakin tinggi intensitas menonton
film animasi, menyebabkan semakin tingginya tingkat agresivitas anak.
2. Terdapat hubungan yang negatif antara peran orangtua sebagai gatekeeper
(X2) terhadap tingkat agresivitas anak (Y). Tingkat agresivitas anak rendah
walaupun parental mediation yang dilakukan orangtua rendah.
3. Terdapat hubungan yang positif antara intensitas menonton film animasi (X1)
dan peran orangtua sebagai gatekeeper (X2) terhadap tingkat agresivitas anak
(Y). Semakin tinggi intensitas menonton film animasi, semakin tinggi tingkat
agresivitas anak, apabila peran orangtua sebagai gatekeeper rendah.
Saran
Secara teoriris, disarankan tidak hanya meneliti mengenai hubungan, tetapi juga
pengaruh intensitas menonton film animasi. Peneliti selanjutnya juga bisa
menambahkan variabel yang berbeda, misalnya intensitas komunikasi
interpersonal, pola asuh orangtua, atau faktor demografis, karena variabel-variabel
tersebut dimungkinkan bisa mempengaruhi tingkat agresivitas anak.
Secara praktis, untuk Komisi Penyiaran Indonesia adalah supaya bisa membatasi
penayangan film animasi yang mengandung muatan negatif, dan memberikan
klasifikasi tayangan pada film animasi yang ditayangkan.
Secara sosial, untuk masyarakat khususnya orang tua agar lebih waspada terhadap
tontonan anak, khususnya film animasi. Orangtua harus bisa memperhatikan
informasi yang dikonsumsi melalui program televisi beserta dampak negatifnya
pada anak dengan memberikan bimbingan pada anaknya (parental mediation).
Bagi orang tua yang memiliki kesibukan karena bekerja, sehingga tidak memiliki
waktu untuk selalu bisa menemani anak menonton televisi, sebaiknya bimbingan
kepada anak tetap dilakukan dengan melakukan restrictive mediation yaitu
memberi aturan-aturan pada anak mengenai tayangan televisi. Selain itu, orangtua
dapat melakukan coviewing mediation dan active mediation pada hari libur,
seperti sabtu dan minggu.
5. DAFTAR PUSTAKA
DeVito, Joseph. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta : Profesional Books
Hidayati, Arini. 1998. Televisi dan Perkembangan Sosial Anak. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar
Mendoza, Kelly. 2009. Journal of Media Literacy Education : Surveying Parental
Mediation: Connections, Challenges and Questions for Media
Literacy
Moeller, Thomas G. 2001. Youth Aggresion and Violence: A Psychological
Approach
Santrock, John W. 2003. Adolescence : Perkembangan Remaja, Edisi 6. Jakarta :
Erlangga
Silalahi, Laurel Benny Saron. 2012. Tawuran Pelajar, Dampak Adegan Kekerasan
yang Dilihat Remaja dalam
http://m.merdeka.com/jakarta/tawuran-pelajar-dampak-adegan-kekera
san-yang-dilihat-remaja.html . Diakses pada tanggal 12 April 2013
Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Prenada Media
Group

Article Metrics: