Komunikasi Antarpribadi Guru Dalam Membangun Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus (Studi Kasus Pada Siswa Tunarungu di SLB Negeri Semarang)

Received: 2 Oct 2013; Published: 31 Oct 2013.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Statistics: 611 173
Abstract

1
Komunikasi Antarpribadi Guru Dalam Membangun Kemandirian Anak
Berkebutuhan Khusus
(Studi Kasus Pada Siswa Tunarungu di SLB Negeri Semarang)
Summary Penelitian
Disusun untuk memenuhi persayaratan menyelesaikan
Pendidikan Strata 1
Penyusun
Nama : Anindya Ratna Pratiwi
NIM : D2C309008
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2013
ABSTRAK
2
JUDUL : KOMUNIKASI ANTARPRIBADI GURU DALAM
MEMBANGUN KEMANDIRIAN ANAK BERKEBUTUHAN
KHUSUS (STUDI KASUS PADA SISWA TUNARUNGU DI SLB
NEGERI SEMARANG)
NAMA : ANINDYA RATNA PRATIWI
Tunarungu merupakan bagian dari kelompok anak berkebutuhan khusus,
dimana mereka memiliki hambatan dalam hal pendengarannya. Ketidakmampuan
tunarungu dalam mendengar mengakibatkan terhambatnya perkembangan berbagai
aspek dalam kehidupannya, seperti bahasa dan bicara, intelegensi, emosi, maupun
sosialnya. Keterbatasan yang mereka miliki menimbulkan rasa kekhawatiran
tersendiri baik pada diri anak tunarungu, orangtua dan lingkungan terdekatnya dalam
hal kemandiriannya, baik dalam hal bina diri hingga kemandirian dalam hal
pemenuhan kebutuhannya di masa depan.
Fokus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran fenomena
komunikasi antarpribadi guru dengan siswa tunarungu di SLB Negeri Semarang.
Selain itu juga untuk mengetahui kegiatan komunikasi antarpribadi guru dengan
siswa tunarungu dalam membangun kemandirian mereka.
Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma post-positivistik dengan tipe
penelitian deskriptif. Metode penelitiannya memakai Studi Kasus yang mengacu pada
Yin (2006) dengan analisis perjodohan pola. Data diperoleh dari hasil wawancara
secara mendalam pada enam informan, yakni satu orang Kepala sekolah, satu orang
guru tunarungu, dua dari orangtua siswa tunarungu, serta dua orang informan anak
tunarungu, kemudian data dilengkapi dengan hasil observasi yang dilakukan oleh
peneliti. Teori utama dalam penelitian ini yakni Social Penetration Theory (SPT) atau
Teori Penetrasi Sosial.
Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa komunikasi antarpribadi yang
efektif dirasa penting untuk diterapkan dalam aktifitas mengajar guru pada siswa
berkebutuhan khusus. Komunikasi antarpribadi yang mampu berjalan efektif, dapat
mewujudkan perasaan akrab (intimated) antara kedua belah pihak. Selain itu,
komunikasi antarpribadi juga mampu menunjukkan perasaan kasih sayang dan
perhatian guru kepada siswanya, yang mampu menyentuh sisi emosional sehingga
siswa dengan kebutuhan khusus ini tidak merasa dikesampingkan. Perasaan positif ini
dapat memacu semangat belajar siswa dan dapat mempermudah penyerapan materi
dari guru, dalam hal ini terkait pembelajaran kemandirian.
Kata Kunci : tunarungu, komunikasi antarpribadi, penetrasi sosial.
3
ABSTRACT
Teacher’s Interpersonal Communication in A Special Needs Students to Build
Self Reliance
(Case Study on Deaf Students in SLB N Semarang)
Deaf is part of a group of children with special needs, where they have a bottleneck in
terms of hearing. Inability of the deaf hear, resulting in inhibition of the development
of various aspects of their lives, such as speech and language development,
intelligence, emotional, and social. Limitations they have cause a sense of its own
concerns both in children with hearing impairment, the parent and its immediate
environment in terms of independence, both in terms of building themselves up to
independence in fulfilling their needs in the future.
The focus of this study was to describe the picture of the phenomenon of
interpersonal communication between teacher with the deaf students in SLB Negeri
Semarang. In addition, to determine teacher’s interpersonal communication activities
with the deaf students to build self reliance of them.
This qualitative study using post-positivistic paradigm with descriptive type. Case
study research methods used referring to Yin (2006) the analysis of mating patterns.
Data obtained from in-depth interviews with six informants, are one principal, one
teacher deaf, two of deaf parents, and two informants deaf children, then the data
furnished by the observations made by the researcher. The main theory in this study
namely, Social Penetration Theory (SPT) or Social Penetration Theory.
Results of this study illustrate that effective interpersonal communication is
considered important to apply in teaching activities of teachers on students with
special needs. Interpersonal communication that is able to run effectively, can realize
a familiar feeling (intimated) between the two sides. In addition, interpersonal
communication is also able to show feelings of affection and attention from the
teacher to the students, who are able to touch the emotional side so that students with
special needs do not feel excluded. These positive feelings can spur students'
enthusiasm for learning and to facilitate the absorption of material from the teacher,
in this case related to learning independence.
Keywords: deaf, interpersonal communication, social penetration.
4
1. Pendahuluan
Banyak orang yang beranggapan bahwa berkomunikasi itu merupakan hal yang
mudah. Namun, seseorang akan tersadar ketika komunikasi yang dihadapi
mengalami hambatan. Situasi tersebut menjadi rumit karena seseorang tidak
berhasil menyampaikan maksudnya kepada lawan bicaranya (komunikan)
sehingga proses komunikasi berjalan tidak efektif. Proses komunikasi yang
terhambat seperti demikian seringkali terjadi pada interaksi komunikasi yang
melibatkan anak berkebutuhan khusus.
Anak berkebutuhan khusus sama halnya dengan anak normal lainnya yang
akan memasuki masa remaja kemudian menuju kedewasaan penuh. Perubahan
anak menuju dewasa ini menuntut peran orangtua dan orang terdekatnya untuk
membentuk anak menjadi pribadi mandiri.
Perkembangan kemandirian mereka, khususnya pada tunarungu inilah yang
menjadi kekhawatiran orangtua. Hal ini mengingat kemandirian menjadi aspek
yang teramat penting sebagai bekal masa depannya sehingga individu mampu
melaksanakan tugas hidup dengan tanggungjawab, berdasarkan norma yang
berlaku. Kemandirian (self relliance) sendiri merupakan kemampuan untuk
mengelola semua milik kita, tahu bagaimana mengelola waktu, dapat berjalan
dan berpikir secara mandiri, disertai dengan kemampuan untuk mengambil resiko
dan memecahkan masalah (Deborah,2005:226).
Pendidikan khusus diperlukan anak-anak berkebutuhan khusus untuk
mengontrol perkembangan emosional dan melatih kemandirian anak secara lebih
intensif disertai materi pembelajaran yang lebih terarah. Pendidikan khusus yang
bermutu baik sangat diharapkan ketersediannya mengingat angka anak
berkebutuhan khusus di Indonesia terus meningkat. Untuk tunarungu jumlahnya
sudah mencapai angka 2.547.626 jiwa.
Salah satu sekolah pendidikan khusus yang patut dijadikan contoh yakni
SLB Negeri Semarang, yang dikenal unggul mencetak siswa-siwa berkebutuhan
khusus yang berprestasi. SLB negeri Semarang kini juga menjadi rintisan sekolah
5
bertaraf internasinal. Prestasi SLB Negeri Semarang sudah dikenal hingga
tingkat Nasional. Bahkan, beberapa kali masuk dalam pemberitaan media
nasional.
Dalam lingkungan sekolah, aktifitas komunikasi antarpribadi terutama
antara guru dengan siswa sangat berperan penting. Johnson (1981) menunjukkan
beberapa peranan yang disumbangkan oleh komunikasi antarpribadi dalam
rangka menciptakan kebahagiaan hidup manusia. Identitas atau jati diri seseorang
juga terbentuk lewat komunikasi dengan orang lain dan ternyata kesehatan
mental seseorang ditentukan oleh kualitas komunikasi atau hubungannya dengan
orang lain (Supraktiknya,1995:9). Meskipun, dalam perkembangan anak
tunarungu sendiri, keluarga yang mendukung kemajuan perkembangan siswa
juga berpengaruh dalam pembentukan kemandiriannya
Melihat pentingnya kualitas komunikasi antarpribadi, maka peran guru
tunarungu bukan sekedar mengajar dan menuntaskan kurikulum, melainkan juga
bagaimana menjalin kualitas komunikasi yang baik dengan siswa tunarugu dan
membantunya untuk berkomunikasi secara lebih baik sehingga proses
pembentukan kemandirian pada diri siswa dapat lebih mudah tercapai.
Dari uraian tersebut, kemudian menjadi hal yang menarik untuk diteliti
bagaimana komunikasi antarpribadi guru tunarungu dalam membangun
kemandirian siswa tunarungu di SLB Negeri Semarang.
2. Batang Tubuh
2.1. Penetrasi sosial dalam komunikasi antarpribadi
Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah
komunikasi antara individu-individu). Sedangkan pendapat Deddy Mulyana
(2008 : 81) bahwa komunikasi antarpribadi memungkinkan setiap pesertanya
menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun
nonverbal (Suranto, 2011 : 3).
6
Teori penetrasi sosial kemudian digunakan peneliti untuk menjelaskan
hubungan dalam konteks komunikasi antarpribadi yang terjadi antara guru
dengan siswa berkebutuhan khusus tunarungu di SLB Negeri Semarang. Teori ini
merupakan bagian dari teori pengembangan hubungan atau relationship
development theory. Teori ini dikembangkan oleh Irwin Altman and Dalmas
Taylor. Menurut Irwin dan Dalmas, komunikasi adalah penting dalam
mengembangkan dan memelihara hubungan-hubungan antarpribadi.
Altman dan Taylor (1973) dalam teori penetrasi sosial menjelaskan secara
terperinci peran dari pengungkapan diri, keakraban, dan komunikasi dalam
pengembangan hubungan antarpribadi. Selanjutnya teori mereka menjelaskan
peran variabel-variabel ini dalam terputusnya hubungan - tidak adanya penetrasi.
(Budyatna dan Leila, 2011: 225-226).
Terdapat beberapa asumsi yang dianut Social Penetration Theory (SPT).
Asumsi –asumsinya yakni, 1) perkembangan hubungan dari tidak intim menuju
ke hubungan yang intim. Asumsi berikutnya, 2) perkembangan hubungan
umumnya sistematis dan dapat diramalkan. Asumsi yang terakhir adalah 4)
pengungkapan diri (self disclosure) adalah inti dari sebuah perkembangan
hubungan. Dalam proses penetrasi sosial hubungan antara guru dengan siswa
tunarungu, mengenai proses perkembangan hubungan dan pengungkapan diri
(self disclosure) merupakan dua bagian penting yang perlu dipahami dengan
lebih mendalam (West dan Turner, 2007:187).
2.2. Subyek penelitian
Dalam penelitian ini yang akan menjadi subyek penelitian adalah pihak-pihak
yang berhubungan dengan penelitian ini termasuk yang berperan dalam
7
pembentukan kemandirian pada siswa tunarungu. Subjek penelitian ini
mencakup informan-informan penelitian yang terdiri dari 1) Kepala sekolah
sejumlah satu orang. 2) Guru sejumlah satu orang, yakni satu dari guru pengajar
setingkat SMP pada kelas B (tunarungu). 3) Orangtua murid (ayah/ibu) dengan
jumlah dua orang informan, yakni satu dari orangtua tunarungu yang tinggal di
asrama SLB N Semarang dan satu lagi dari orangtua tunarungu yang tidak
tinggal di asrama (tinggal dirumah orangtua). 4) siswa/siswi sejumlah dua orang
yang terdiri dari siswa SMP tunarungu yang tinggal di asrama dan siswa
tunarungu yang tinggalnya bersama orangtuanya dirumah. Keduanya termasuk
tunarungu golongan berat hingga sangat berat.
2.3. Metodologi Penelitian
Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus dan
pendekatan penelitiannya menggunakan post-positivistik. Sedangkan untuk jenis
penelitiannya adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini menggunakan metode
penelitian dengan tipe studi kasus (case study), dimana studi kasus merupakan
strategi yang lebih cocok bila pokok pernyataan suatu penelitian berkenaan
dengan how atau why (K.Yin, 2006 : 1).
2.4. Temuan
Dalam penelitian ini, diketahui bahwa siswa tunarungu umumnya belum bisa
bersikap terbuka terhadap gurunya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
keterbukaan pada diri anak tunarungu, yakni : 1) minimnya jumlah
perbendaharaan kosakata yang dimiliki. Semakin minim jumlah kosakata yang
dimiliki, semakin sulit mengungkapkan perasaannya terutama komunikasinya
secara verbal, sedangkan siswa tunarungu yang kosakatanya cukup banyak akan
lebih aktif berkomunikasi dan mudah menceritakan isi hati atau permasalahan
yang dialami. 2) Tipe karakter kepribadian anak tunarungu. Siswa tunarungu
yang karakternya introvert akan cenderung menyimpan masalah yang dimiliki
8
dibandingkan dengan dengan tipe kepribadiannya ekstrovert. Namun dalam
penelitian ini, informan dengan tipe ekstrovert ternyata enggan juga untuk
bercerita dengan gurunya, 3) Penilaian siswa tunarungu terhadap guru. Guru
yang dinilai kurang sabar dan mudah marah pada siswa mampu mempengaruhi
sikap keterbukaannya, karena timbul rasa ketidaknyamanan, 4) Kedekatan guru
dengan siswanya. Semakin baik dan harmonis hubungan guru dengan siswanya,
maka siswa akan mudah bercerita apa saja tentang dirinya tanpa harus diminta
atau ditanya.
Komunikasi antarpribadi yang berlangsung efektif antara guru dengan
siswa tunarungu dapat mendukung terwujudnya kemandirian siswa. Tunarungu
dikatakan mandiri apabila mampu berkomunikasi dengan baik, dapat hidup
berdampingan dengan orang lain, dan kelak mampu memenuhi kebutuhannya
sendiri.
Faktor yang mendukung terbentuknya kemandirian siswa yakni kemauan
anak untuk belajar, dukungan positif dari orangtua serta guru, fasilitas sekolah
yang mendukung, serta komunikasi yang baik antara orangtua dengan pihak
sekolah. Sedangkan faktor penghambat kemandirian siswa tunarungu yakni anak
yang tidak semangat belajar atau malas belajar, orangtua yang tidak peduli
dengan perkembangan anak, fasilitas sekolah yang tidak mendukung, serta guru
yang tidak mendukung perkembangan kemandirian siswa dan tidak mampu
mengontrol kesabarannya.
3. Penutup
3.1 Implikasi Teoretis
Dalam SPT (Social Penetration Theory), hubungan dapat mengalami
perkembangan dari tidak intim menjadi intim. Seiring berjalannya waktu, suatu
hubungan antarpribadi berpeluang menjadi intim. Meskipun tidak semua
9
hubungan secara ektrim bergerak dari tidak intim menjadi intim. Namun,
seringkali sebuah hubungan berada diantara kedua kutub keintiman tersebut,
dalam artian hubungannya dekat tapi tidak terlalu dekat (sedang).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara guru dengan
informan siswa tunarungu belum berada pada tahap intim atau belum akrab. Hal
ini dinilai berdasarkan sikap keterbukaan diri (self disclosure) siswa tunarungu
kepada gurunya. Menurut West dan Turner (2007:187), pengungkapan diri (self
disclosure) adalah inti dari perkembangan hubungan.
Keengganan dalam mengungkapkan diri dapat dikarenakan faktor
kepribadian dari masing-masing individu. Individu yang introvert biasanya
jarang berinteraksi dengan orang lain, cenderung diam dan lebih senang
menyendiri. Seorang yang introvert biasanya hanya berbicara seperlunya dan
hanya ingin berbicara mengenai apa yang memang ingin mereka bicarakan.
Sedangkan individu dengan tipe kepribadian ekstrovert cenderung lebih
menyukai interaksi dengan banyak orang, dan tidak nyaman dengan suasana sepi
serta lebih aktif berbicara (Suranto,2011 :158-159).
Namun perlu dipahami bahwa berkomunikasi dengan tunarungu tidak
semudah dengan anak normal. Ketidakterbukaan pada anak tunarungu ini dapat
pula disebabkkan karena kemampuan komunikasi yang rendah karena minimnya
perbendaharaan kosakata yang dimiliki sehingga timbul kecemasan dalam diri
tunarungu untuk berkomunikasi, terutama dengan orang lain yang normal karena
biasanya seorang tunarungu kesulitan berkomunikasi secara verbal. Kecemasan
berkomunikasi (communication apprehension) ini dapat menyebabkan sikap
keengganan untuk mengungkapkan atau membuka diri. Orang yang apprehensif
dalam komunikasi, akan menarik diri dari pergaulan, berusaha sekecil mungkin
berkomunikasi, dan hanya akan berbicara apabila terdesak saja (Jalaluddin,2007 :
109).
Jika dilihat dari komunikasi nonverbal, yang paling sering dipakai
informan I dalam aktifitas pembelajaran di sekolah antara lain dengan bahasa
10
isyarat tangan, gerakan mulut, ekspresi wajah, kontak mata, serta gerakan tubuh
lainnya berbarengan dengan komunikasi verbalnya. Gerakan tubuh ini
dinamakan kinesics. Kinesics merupakan suatu nama teknis bagi studi mengenai
gerakan tubuh yang digunakan dalam komunikasi. Gerakan tubuh (kinesics)
antara lain kontak mata, ekspresi wajah, gerak-isyarat, postur atau perawakan,
dan sentuhan (Budyatna dan Ganiem, 2011 :125).
3.2 Implikasi Praktis
Kajian komunikasi terutama pada komunikasi antarpribadi memiliki
berbagai manfaat dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus. Dalam aktifitas
pembelajaran yang melibatkan aspek komunikasi antarpribadi, mampu lebih
menyentuh sisi emosional mereka, sehingga siswa tidak merasa dikesampingkan,
serta dapat merasakan kasih sayang orang-orang disekitarnya. Komunikasi
antarpribadi oleh diharapkan juga dapat membantu mempengaruhi sikap dan
perilaku anak berkebutuhan khusus, agar lebih mandiri sebagai bekal hidupnya
di masa depan.
Penelitian ini selain diharapkan berguna untuk media kajian komunikasi
bagi SLB, juga diharapkan mampu bermanfaat sebagai media kajian komunikasi
bagi orangtua yang membutuhkan informasi berkaitan dengan model komunikasi
pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus, secara lebih khususnya pada
anak tunarungu.
3.3 Implikasi Sosial
Secara sosial, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran
pada masyarakat yang masih memandang rendah anak berkebutuhan khusus agar
tidak lagi meremehkan mereka, karena setiap orang yang terlahir di dunia pasti
memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Selain itu, diharapkan bagi
masyarakat, keluarga serta lingkungan disekitar anak berkebutuhan khusus ini,
11
untuk tidak melakukan tindakan diskriminasi terhadap mereka dalam pemenuhan
haknya, mengingat, setiap manusia memiliki derajat yang sama di mata Tuhan.
12
Daftar Pustaka
Aw, Suranto. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta : Graha Ilmu
Budyatna, Muhammad dan Leila Mona Ganiem.(2011). Teori Komunikasi
Antarpribadi. Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Mulyana, Deddy.(2005). Ilmu komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya
Parker, Deborah.(2005). Menumbuhkan Kemandirian Dan Harga Diri Anak.
Jakarta: Prestasi Pustakaraya
Richard West, dan Lynn H. Turner. (2007). Introducing Communication Theory :
analysis and application Third Edition. New York: The McGraw-Hill
companies, Inc
Supratiknya. (1995). Komunikasi Antarpribadi Tinjauan Psikologis. Yogyakarta:
Kanisius
Yin, Robert K.(2006). Studi Kasus: desain dan metode. PT. RajaGrafindo
Persada : Jakarta
Rakhmat, Jalaluddin. (2007).Psikologi Komunikasi: Edisi Revisi. Bandung:
PT.Remaja Rosdakarya
Yin, Robert K.(2006). Studi Kasus: desain dan metode. PT. RajaGrafindo
Persada : Jakarta

Article Metrics: