skip to main content

Audit Media Relations Humas Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah untuk Peningkatan Publisitas


Citation Format:
Abstract

Nama : Lizzatul Farhatiningsih
NIM : D2C009011
Judul : Audit Media Relations Humas Sekretariat Daerah Provinsi
Jawa Tengah untuk Peningkatan Publisitas
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi karena kurang berperannya Biro Humas
Setda Jawa Tengah dalam melakukan fungsi kehumasan terhadap Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah. Humas telah melakukan banyak kegiatan namun efeknya
pada pemberitaan tentang Pemerintah Provinsi yang muncul belum terasa. Namun
kesesuaian melakukan banyak kegiatan tersebut belum diimbangi dengan
pemberitaan-pemberitaan positif yang muncul di media massa baik cetak maupun
elektronik. Hal tersebut menyebabkan terjadinya aksi di masyarakat yang
memperburuk citra Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Metode yang digunakan adalah metode audit komunikasi. Tipe penelitian
ini adalah tipe penelitian deskriptif, di mana tipe penelitian ini terbatas pada usaha
mengungkapkan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan bertujuan
untuk membuat deskripsi gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, dan
akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena atau
kegiatan yang dilakukan oleh Biro Humas Setda Provinsi Jawa Tengah yang
berkaitan dengan media relations. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah
teknik wawancara mendalam kepada delapan orang yang terdiri dari pimpinan dan
staf Biro Humas serta wartawan baik dari media massa cetak maupun elektronik
yang berkaitan dengan Humas.
Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa kinerja Humas Setda Jawa
Tengah belum efektif. Kegiatan media relations yang dilakukan masih terbatas
pada kegiatan yang biasa dari tahun ke tahun mereka lakukan. Padahal,
semestinya Humas mampu memahami, memiliki pengetahuan yang terus
berkembang dan maju, serta melakukan lebih dari itu. Hal ini dikarenakan
banyaknya ketimpangan yang terjadi di Humas. Pemahaman mengenai media
relations masih menitik beratkan pada fokus tujuan Humas saja yaitu untuk
mendapatkan publisitas, pemahaman mengenai tools media relations yang belum
berkembang, belum adanya SDM yang kompeten dalam melaksanakan tugas
pokok dan fungsi, minimnya anggaran, dan kewenangan yang terbatas membuat
kinerja Humas menjadi kurang efektif. Dengan hasil audit komunikasi ini, pihak
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terutama Sekretariat Daerah Jawa Tengah perlu
melakukan perbaikan terhadap fungsi maupun kewenangan Humas agar kinerja
Humas menjadi lebih efektif dan meningkatkan publisitas positif di media massa.
Kata kunci: Audit Komunikasi, Media Relations, Public Relations, Publisitas.
Nama : Lizzatul Farhatiningsih
NIM : D2C009011
Judul : Media Relations Audit of Public Relations in Region Secretariat
Central Java Province for Increasing The Publicity
ABSTRACT
This research is backgrounded of less contribution from Public Relations Region
Secretary Central Java Province when they do their function. Public Relations
have been doing many activities but the effect in news mass media about the
Government of Central Java Province is nothing yet. However, doing more
activity is not balance with appearing the good news in mass media, both print
and electronic media. It causes many actions in society that make the bad image
of Government of Central Java Province.
Communications audit methods is used in this research. Reseacher uses
descriptif research type that this research limited to the efforts to reveals a
problem or situation as it is and aims to create a picture or description of the
painting in a systematic, factual, and accurate information on the facts,
characteristics, and relations between phenomena or activities conducted by
Public Relations in Region Secretariat Central Java Province related to media
relations. In this research, used indepth interview technique to collect the
information to eight people that consist of head, leader, staf of Public Relation
either reporters from print and electronic media.
The outcomes from this research is the activity in Public Relations Region
Secretariat Central Java Province is not effective. Media relations activity that
conducted are limited to their annual activity. Besides, Public Relations should be
able to understand, develop the knowledge, and do more than it. It is caused much
unbalances in Public Relations. Understanding of media relations is still focused
on the goal of Public Relations is only to get publicity, undevelop of
understanding media relations tools, nothing humans resources that competence
with main duty and functions of Public Relations, minimum budgeting and
facilities, and limited authority that makes the performance of Public Relations is
not effective. The outcome of this communication audit, Central Java Province,
espescially Region Secretariat of Centra Java need an improvement in Public
Relations’function and competence. In order to make Public Relations’s task be
more effective and increasing positive publicity in mass media.
Keywords: Communication Audit, Media Relations, Public Relations, Publicity.
JURNAL
Audit Media Relations Humas Setda Jawa Tengah untuk
Peningkatan Publisitas
LIZZATUL FARHATININGSIH
D2C009011
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013
PENDAHULUAN
Keberadaan Public Relations atau Humas sangat dibutuhkan oleh
perusahaan-perusahaan maupun instansi pemerintah. Fungsi-fungsi dan tugastugas
Humas sangat menunjang kelangsungan hidup dan mempengaruhi citra dari
suatu instansi pemerintah. Humas merupakan suatu profesi dengan proses
komunikasi kepada publik atau dengan kata lain Humas menghubungkan antara
lembaga/instansi dengan publiknya baik eksternal maupun internal. Dalam
konteks lembaga publik seperti pemerintah, peran melayani dan mengembangkan
dukungan publik guna mencapai tujuan organisasi merupakan hal yang sangat
penting. Pemberitaan yang beredar mengenai instansi pemerintah merupakan
salah satu tanggung jawab besar bagi Humas.
Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah (Setda ProvJateng) merupakan
unsur pembantu pimpinan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dipimpin oleh
Sekretaris Daerah, berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur.
Sekretariat Daerah Provinsi bertugas membantu Gubernur dalam melaksanakan
tugas penyelenggaraan pemerintahan, administrasi, organisasi dan tata laksana
serta memberikan pelayanan administrasi kepada seluruh Perangkat Daerah
Provinsi. Divisi Humas Setda Jateng bertugas memberikan informasi dan
penjelasan mengenai kebijakan-kebijakan yang akan atau telah dilakukan oleh
pemerintah/instansi, menciptakan hubungan yang harmonis antara pemerintah
dengan publiknya. Untuk dapat melakukan tugas-tugas tersebut Humas harus
melakukan berbagai macam kegiatan komunikasi yang berbeda untuk masingmasing
publik, baik internal maupun eksternal.
Media massa memegang peran dalam tugas Humas tersebut karena media
massa dapat menimbulkan kesadaran terhadap sesuatu, mempersuasi atau
mengajak untuk melakukan hal tertentu, serta mengubah sikap, pendapat, atau
perilaku seseorang. Menurut Wasesa dalam Political Branding and Public
Relations (2011 : 18) agar suatu citra sebuah merek baik komersial maupun
politik dapat melekat di benak konsumen atau audiens, perlu dilakukan
rehabilitasi setiap 3 bulan sekali agar loyalitas konsumen pun tercipta. Hal
tersebut dapat diartikan menjadi institusi pemerintah, khususnya Humas Setda
Jateng perlu melakukan pembaharuan, pencerahan, analisis, atau evaluasi di setiap
3 bulan untuk dapat mempertahankan loyalitas dalam hal ini adalah loyalitas
pihak-pihak eksternal terhadap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, seperti pers dan
masyarakat.
Pemerintah Provinsi Jateng yang dipimpin oleh Gubernur Bibit Waluyo
banyak menuai prestasi selama melaksanakan tugas memimpin Jawa Tengah,
akan tetapi, pemberitaan mengenai prestasi yang diraih oleh Pemerintah Provinsi
Jawa Tengah tersebut rupanya tidak terlalu mendapat perhatian publik ketika
media menyiarkan pemberitaan tersebut, justru beberapa kasus yang dialami oleh
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah baik Gubernur Bibit Waluyo beserta
jajarannyalah yang belakangan ini lebih menjadi sorotan dan kemudian
berpengaruh terhadap sikap masyarakat dan opini masyarakat kepada pemerintah.
Seperti kasus yang terjadi ketika Gubernur Bibit Waluyo memberikan pernyataan
mengenai kesenian Jathilan atau jaran kepang dengan menyebut Jathilan sebagai
kesenian terjelek di dunia.
Kegiatan media relations yang selama ini telah dilakukan oleh Humas
Setda Pemprov Jateng antara lain konferensi pers, press release, press luncheon,
dan talk show. Selain itu ada pula anggaran APBD dengan jumlah yang cukup
besar yang diberikan kepada organisasi-organisasi wartawan Jawa Tengah, serta
pembuatan Forum Komunikasi Wartawan Jawa Tengah yang dipimpin oleh
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah. Beberapa kebijakan dan kegiatan
tersebut merupakan upaya menjalin hubungan yang baik sehingga kiranya dapat
meningkatkan publisitas dan meminimalisir pemberitaan negatif di media massa.
Tetapi, meskipun Humas Setda Jateng sudah melakukan berbagai kegiatan dan
upaya tersebut, pada kenyataannya pemberitaan mengenai Pemerintah Provinsi
Jawa Tengah masih didominasi oleh munculnya pemberitaan yang negatif baik di
media cetak maupun elektronik.
Oleh sebab itu, yang kemudian menjadi pokok permasalahan adalah
bagaimana kegiatan Media Relations Humas Sekretariat Daerah Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan publisitas?
Penelitian ini diharapkan dapat memperdalam kajian Teori Media
Relations yang berkaitan dengan audit media relations serta diharapkan
memberikan kontribusi bagi Humas Setda Provinsi Jawa Tengah pada khususnya
dan humas di seluruh instansi pemerintah daerah pada umumnya untuk
menentukan langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menjalin hubungan
yang baik dengan media massa agar dapat meningkatkan publisitas instansi
tersebut. Penelitian ini mengambil pemikiran-pemikiran tentang media relations
Iriantara, teori media relations Lesley suatu hubungan dengan media komunikasi
untuk melakukan publisitas atau merespon kepentingan media terhadap organisasi
dan berguna untuk memberikan informasi kepada masyarakat karena kaitannya
dengan media massa dan pers selain itu juga bermanfaat untuk memperoleh
dukungan dan kepercayaan masyarakat. Kegiatan-kegiatan media relations antara
lain, Press Conference, Press Tour, Press Reception, Press Briefing, Press
Statement, Press Interview, Press Gathering, Press Release, Media Advisory,
Press Kit, Press Room, Media List, Talkshow. Ada pula teori-teori tentang audit
komunikasi, Jane Gibson dan Richard Hodgetss (1991 : 453) dalam bukunya
Organizational Communication: A Manajerial Perspective dalam Hardjana (2000
: 10) yaitu suatu analisis yang lengkap atas sistem-sistem komunikasi internal dan
eksternal dari suatu organisasi.
Audit public relations merupakan komponen reguler dari banyak program
public relations. Mereka menyediakan data input bagi perencanaan program
public relations pada masa mendatang dan membantu mengevaluasi efektivitas
kerja sebelumnya. Agensi Joyece F.Jones dan Ruder Finn Rotmann yang dikutip
Bakin, Aronoff & Lattimore (1997 : 124) menjelaskan proses audit dalam empat
proses :
1. Mencari tahu apa yang “kita” pikirkan (finding out what “we” think)
2. Mencari tahu apa yang “mereka” pikirkan (finding out what “they” think)
3. Mengevaluasi kesenjangan sudut pandang di antara keduanya (Evaluating
the disparity)
4. Memberi Rekomendasi (Recomending)
ISI
Penelitian ini terbagai ke dalam dua bab pembahasan yang membahas mengenai
kesesuaian kinerja Humas atau kegiatan-kegiatan media relations yang dilakukan
dengan konsep dan mencari tahu mengenai kebutuhan Humas dalam rangka
peningkatan kerja dan jika diperlukan perbaikan di dalamnya. Pembahasan
tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Pemahaman media relations : Humas Setda Jawa Tengah sendiri memahami
media relations sebagai upaya menjalin hubungan baik dengan media massa
untuk mempublikasikan kegiatan pimpinan daerah seperti Gubernur, Wakil
Gubernur, Setda, dan lainnya kepada masyarakat sesuai dengan kedudukan
Humas sebagai Kominfo, Komunikasi dan Informasi. Humas perlu juga
memahami tools media relations dan bahwa media relations merupakan
upaya menjalin hubungan yang baik dengan wartawan serta bagaimana
menyampaikan informasi-informasi kepada masyarakat dengan tepat.
2. Tujuan kegiatan media relations : bertujuan untuk menjalin hubungan yang
baik dengan media, bekerja sama, memaksimalkan publisitas dari kegiatankegiatan
para pejabat pimpinan daerah seperti Gubernur, Wakil Gubernur,
Sekretaris Daerah dan Asisten Daerah. Humas seharusnya perlu memahami
tujuan-tujuan kegiatan media relations yang lain, yaitu perlunya memperoleh
umpan balik dari masyarakat mengenai upaya dan kegiatan
lembaga/organisasi yang telah dilakukan karena hal tersebut akan menjadi
salah satu dasar bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan-perbaikan
kinerja yang dilakukan.
3. Target audience kegiatan media relations : menyasar seluruh media massa
baik lokal maupun nasional dan baik cetak maupun elektronik yang memiliki
kredibilitas, dapat memberitakan suatu berita secara objektif, serta ikut
melakukan fungsi informatif dan edukatif kepada masyarakat. Humas
seharusnya menerapkan absensi bagi wartawan yang hadir dalam setiap
kegiatan yang dilaksanakan, karena hal tersebut merupakan salah satu cara
untuk melakukan kontrol terhadap ketepatan sasaran Humas.
4. Jenis kegiatan media relations : Hanya sedikit dari kegiatan media relations
yang diketahui dan dilakukan dengan baik oleh Humas. Humas kurang
memaksimalkan sebagian besar kegiatan media relations dan terlihat hanya
sekedar formalitas dalam melaksanakannya. Banyak persiapan yang tidak
dilakukan secara matang seperti persiapan tempat, waktu, yang lebih
mengandalkan keseluruhan kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secara
incidental. Perlu dipahami bahwa saat ini kegiatan media relations mulai
berkembang dan lebih beraneka ragam. Selain itu, Humas harus mengetahui
karakteristik dan perbedaan teknik pelaksanaan masing-masing kegiatan
media relations. Anggaran dana dan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah
juga bisa lebih dimanfaatkan untuk memaksimalkan kegiatan.
5. Analisis Masalah : Pendekatan research maping media dengan melakukan
monitoring belum dapat dilakukan dengan baik oleh Humas karena saat ini
yang dilakukan oleh Humas adalah sekedar melakukan kliping berita tanpa
menganalisis, sehingga hal tersebut akan berdampak pada kurang
maksimalnya pelaksanaan respon krisis pemberitaan. Biro Humas
membutuhkan staf-staf yang lebih mengerti mengenai pekerjaan kehumasan.
Bagaimanapun juga, Biro Humas harus melakukan maping media secara
periodik dengan melakukan analisis pada pemberitaan-pemberitaan yang di
kliping setiap harinya. Selain itu respon pada krisis pemberitaan juga harus
segera dilakukan jika diperlukan. Humas harus memahami bahwa maping
media bukan hanya sekedar kliping, tetapi mengumpulkan pemberitaan, serta
pembuatan analisis dari pemberitaan tersebut dan membuat kecenderungan isi
masing-masing media massa secara periodik
6. Indikator berita : Indikator berita yang diterapkan Humas yaitu visi misi dari
pemerintah rupanya belum dapat dimaksimalkan karena analisis berita sendiri
tidak dilakukan dengan baik. Humas harus memahami bahwa indikator
pemberitaan yang merupakan visi misi dari pemerintah menjadi salah satu
faktor penentu bagaimana hasil dari maping media yang dilakukan oleh
Humas. Baik pimpinan maupun staf perlu menangani secara serius
terhambatnya proses maping media tersebut. Selain merupakan visi dan misi,
harusnya Humas juga memiliki indikator-indikator tetap yang akan selalu
berlaku meski terjadi pergantian pemerintahan sebagai tolok ukur mendasar
penilaian terhadap suatu berita.
7. Budgeting kegiatan media relations : Perencanaan anggaran kegiatan media
relations di Humas telah dilakukan namun memang masih kurang maksimal.
Humas dalam melakukan budgeting perlu memperhatikan beberapa hal yaitu
perencanaan yang ditulis secara rinci dan lebih mendetail untuk anggaran
bagi setiap kebutuhan yang mungkin diperlukan. Selain itu, dalam melakukan
perencanaan anggaran seharusnya Humas juga mempertimbangkan dana
cadangan yang sekiranya dibutuhkan, terlebih jika terdapat wartawanwartawan
yang memang meminta upah kepada Humas setelah melakukan
peliputan
8. Time schedule : Humas tidak memiliki time schedule yang jelas dengan
alasan bahwa mereka bekerja incidental sesuai dengan kegiatan-kegiatan
yang dilakukan oleh Gubernur yang tidak bisa direncanakan pada jauh hari
sebelumnya. Humas seharusnya membuat time table perencanaan suatu
kegiatan atau event yang akan diselenggarakan. Selain itu, pembagian kerja
dalam setiap kegiatan juga harus diperjelas dengan membuat job description
yang lebih rinci bagi masing-masing orang karena selama ini terlihat ketidak
teraturan koordinasi yang memang berjalan berdasarkan kebiasaan. Pimpinan
juga harus mengecek kesiapan staf dalam menangani kegiatan tersebut dari
awal hingga evaluasi dilakukan.
9. Strategi dan taktik : Humas masih mengandalkan sistem menghafal dan
kebiasaan dalam melakukan setiap kegiatan media relations. Oleh sebab itu,
Humas perlu memiliki SOP secara tertulis yang menjadi pedoman pengerjaan
dari setiap kegiatan. Pembagian tugas kerja yang jelas juga harus diterapkan
dari awal perencanaan hingga evaluasi kegiatan. Sebagai pimpinan, Kepala
Biro dapat menjadi fasilitator untuk saling tukar menukar pikiran dan
pendapat mengenai kinerja Humas antara bagian satu dengan yang lain agar
tidak terjadi pemikiran atau pemahaman yang subyektif. Selain itu, Humas
juga harus memahami bahwa pelaksanaan kegiatan kehumasan menyangkut
hubungan antara instansi dengan pihak luar dalam hal ini adalah media.
Humas harus memiliki cara untuk dapat memaksimalkan publisitas yang
positif dengan melakukan pendekatan dengan media.
10. Pemilihan Tempat Pelaksanaan : Pemilihan tempat pelaksanaan yang
memang ikut menyesuaikan tempat kegiatan yang dilaksanakan pimpinan
daerah pada saat itu memang sudah biasa dilakukan. Dengan begitu faktor
kenyamanan wartawan memang cenderung dikesampingkan. Humas
seharusnya menyelenggarakan kegiatan media relations dalam hal ini Press
Conference di tempat yang nyaman.
11. Penanggungjawab Pelaksanaan : Kepala Biro Humas sebagai
penanggungjawab meskipun banyak menghabiskan waktu di luar ruangan
setidaknya harus dapat melakukan monitoring setiap kegiatan dari para
Kepala Bagian. Di sini peran pimpinan sangat dibutuhkan untuk memberikan
pengarahan di mana masih banyaknya staf yang merasakan kebingungan dan
cenderung asal kerja sesuai dengan pemahaman subyektif mereka.
12. Evaluasi : Evaluasi yang dilakukan oleh Humas yaitu check list kesesuaian
rencana dan pelaksanaan yang meliputi pencapaian tujuan, narasumber, isi
materi rencana anggaran, target yang datang serta rekomendasi. Humas sudah
memahami dan melakukan evaluasi pada keseluruhan hal-hal tersebut. Tetapi,
dalam laporan pertanggungjawaban tahunan, evaluasi dari kekurangan tidak
dicantumkan. Humas seharusnya merinci segala kekurangan dalam
pencapaian target dari setiap kegiatan media relations. Humas juga harus
terbuka dengan pimpinan atas pencapaian dan kegagalan yang terjadi. Selain
itu, Humas juga harus mengetahui bahwa evaluasi dilakukan setelah akhir
kegiatan dan secara berkala yaitu tiga bulan sekali untuk dapat membuat
rekomendasi bagi kegiatan yang akan dilaksanakan selanjutnya.
13. Proses Pendokumentasian : Selama ini memang Humas baru melakukan
dokumentasi pemberitaan di media cetak saja. Humas perlu memahami
bahwa saat ini media televisi dan internet merupakan media yang banyak
digunakan dan diakses oleh masyarakat. Dokumentasi media televisi pun saat
ini sebenarnya sudah cukup mudah, melalui youtube, rekaman pemberitaan
dapat diakses dan didokumentasikan. Selain itu, untuk media internet, situssitus
pemberitaan kini mulai banyak dan mudah diakses kapan dan di mana
saja oleh masyarakat, melihat bahwa saat ini pun banyak isu bermula dari
media internet. Humas harus mengikuti perkembangan isu di media massa
untuk menjadi suatu pertimbangan langkah-langkah yang akan dilakukan.
14. Model Respon Krisis Pemberitaan : Respon krisis pemberitaan yang
dilakukan oleh Humas selama ini dilakukan hanya jika pemberitaan negatif
sudah menyebabkan akibat tergeraknya massa dalam aksi-aksi demonstrasi.
Hal tersebut juga menunjuk ke arah maping dan monitoring media yang
memang belum dilaksanakan oleh Humas dengan baik. Penyatuan
pemahaman antara melakukan respon dengan release dan melakukan respon
dengan membuat pemberitaan tandingan juga perlu dilakukan, seharusnya
Humas memiliki kategori-kategori tertentu pemberitaan yang memang akan
direspon dengan release dan kriteria-kriteria pemberitaan yang akan direspon
dengan membuat pemberitaan lain di media massa. Humas juga seharusnya
lebih memahami bagaimana cara melakukan respon krisis yang efektif dan
efisien. Setidaknya dalam membuat release, setelah itu mereka harus
melakukan cross check dengan memantau dimuat atau tidaknya pemberitaan
tersebut di media massa. Humas seharusnya mendapatkan feedback dari
media atas kegiatan yang telah dilaksanakan bagaimana pun juga media
relations melibatkan komunikasi dua arah.
PENUTUP
Penelitian mengenai audit media relations Humas Setda Jawa Tengah untuk
peningkatan publisitas ini adalah penelitian yang berfokus pada kajian tentang
kegiatan media relations yang dilakukan oleh Humas Setda. Kegiatan-kegiatan
media relations yang diteliti adalah kegiatan-kegiatan media relations yang
memang dilakukan oleh Humas selama ini demi terjalinnya hubungan yang baik
dengan wartawan dan mendapatkan publisitas di media massa. Penelitian tersebut
dilakukan karena melihat banyaknya pemberitaan-pemberitaan negatif tentang
Pemprov Jateng akhir-akhir ini.
Pada penelitian ini, hal-hal yang dibahas adalah kegiatan-kegiatan media
relations dari proses awal perencanaan hingga tahap evaluasi beserta jenisjenisnya
serta cara melakukan respon pada krisis pemberitaan yang terjadi.
Mengacu pada pendapat dari Lesley bahwa media relations adalah suatu
hubungan dengan media komunikasi untuk melakukan publisitas atau merespon
kepentingan media terhadap organisasi.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Humas selama ini masih
memunculkan pemberitaan-pemberitaan negatif mengenai pemerintah provinsi.
Terlebih-lebih pada beberapa kasus yang terjadi seperti kasus pembangunan jalan
tol, kuda kepang, parcel lebaran, serta masih banyak lagi hal-hal yang kemudian
menjadikan munculnya pemberitaan negatif di media massa meski memiliki sisi
positif pada faktanya.
Penelitian mengambil kesimpulan bahwa Humas sudah dapat memahami
media relations. Hanya saja pemahaman tersebut masih berfokus pada
kepentingan yang ingin dicapai oleh Humas yaitu sekedar untuk mendapatkan
publisitas di media massa. Selain itu, Dalam fokus dan sasaran kegiatan media
relations, Humas belum menguasai keseluruhan maksud dan tujuan dilakukannya
media relations. Hal tersebut yang kemudian membuat Humas dalam
melaksanakan pekerjaannya kurang memperhatikan prosedur-prosedur
pelaksanaan kegiatan media relations secara teknis yang tepat.
Kesimpulan lain yang sekaligus merupakan kritik kepada Humas adalah
Humas belum memahami adanya perkembangan dari jenis-jenis kegiatan-kegiatan
media relations. Humas masih bertahan dengan kegiatan-kegiatan yang biasa
dilakukan dari tahun ke tahun dengan tata cara pelaksanaan yang juga kurang
dipahami oleh sebab itu tidak dipersiapkan dengan baik. Kinerja Humas yang
kurang efektif juga dikarenakan rendah dan lemahnya kemampuan di mana
Humas kurang memiliki sumber daya manusia yang kompeten dalam
melaksanakan tugas-tugas kehumasan seperti dalam Bagian Analisis Media dan
Informasi Humas, kegiatan menganalisis media belum dilakukan karena staf
merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas yang tidak mendapatkan pengetahuan
mengenai konsep-konsep kehumasan. Humas tidak melakukan perencanaan dan
pelaksanaan kegiatan dengan baik. Banyak kegiatan yang dilakukan tidak
menggunakan perencanaan komunikasi strategis yang benar, lebih kepada hanya
mengikuti perintah atasan, sehingga tidak terkoordinir dengan baik. Evaluasi yang
dilakukan oleh Humas cenderung formalitas dan kurang maksimal. Tidak ada
rekomendasi yang dicantumkan dalam setiap laporan pertanggungjawaban yang
dibuat.
Hubungan antara Humas dengan media sejauh ini baik, hanya saja masih
selalu terjadi perbedaan pendapat yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan
antara Humas dengan media massa. Seperti perbedaan pendapat ketika terjadi
kasus kuda kepang, dan pembangunan proyek tol Semarang-Solo. Selain itu,
media juga masih bertindak pasif dalam kegiatan-kegiatan komunikasi dengan
Humas.
Kepala Biro juga kurang memahami media relations, sehingga kurangnya
kontrol pimpinan membuat pelaksanaan kegiatan-kegiatan media relations tidak
berjalan dengan baik. Tidak ada pertemuan rutin untuk membahas mengenai
evaluasi kegiatan dan hasil dari pelaksanaan kegiatan media relations.
Humas belum dapat memanfaatkan fasilitas, sarana dan prasarana yang
dimiliki dan diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan baik.
Seperti dalam melakukan dokumentasi pemberitaan, Humas tidak
melaksanakannya pada media selain media cetak. Hal tersebut terjadi dikarenakan
tidak adanya pendidikan dan pelatihan mengenai kegiatan pendokumentasian
berita yang baik yang seharusnya diberikan kepada baik pimpinan maupun staf
Humas. Humas belum dapat melakukan respon terhadap krisis pemberitaan
dengan efektif dan efisien dikarenakan sistem kerja Humas yang belum
terkoordinir dengan baik. Banyak pemberitaan negatif yang kemudian hanya
lewat tanpa mendapat penanganan.
Biro Humas perlu mendapatkan penataran dan pelatihan berkala yang
diikuti oleh baik Kepala Bagian maupun staf, mengenai pemahaman serta tugastugas
penting yang harus dilaksanakan seperti bagaimana praktek analisis media
seharusnya dilakukan dan dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan media relations
dengan baik dan benar. Apabila pimpinan tidak dapat meminta bantuan penatar
dari kantor regional, maka pimpinan dapat menyewa tenaga ahli komunikasi
untuk memberikan pelatihan.
DAFTAR PUSTAKA
Anggoro, M. Linggar. 2002. Teori dan Profesi Kehumasan serta Aplikasi di
Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara
Ardianto, E.L. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa
Ardianto, Elvinaro & Soemirat, Soleh. (2008). Dasar-Dasar Public Relations.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Baskin Otis, Aronoff Craig, dan Lattimore. 1997. Public relations: The Profession
and the Practice 4 Edition. United state of America: McGraw Hill Companies
Bungin, Burhan H.M. 2007. Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi,
Kebijakan. Publik, dan Ilmu social. Jakarta : Kencana Prenama Media Group
Darmastuti, Rini. 2012. Media Relations : Konsep, Strategi Dan Aplikasi.
Yogyakarta : ANDI
Dennis L. Wilcox, Glen T. Cameron, Phillip H. Ault, and Warren K. Agee. Public
Relations: Strategies and Tactics. Seventh Edition, Pearson Education, Inc., USA,
2003
Effendy, Onong Uchjana. 2002. Hubungan Masyarakat suatu Study
Komunikologis. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
F, Rachmadi. 1994. PR dalam Teori dan Praktek : Aplikasi dalam Badan Swasta
dan Lembaga Pemerintah. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Iriantara, Yosal. 2005. Media Relations: Konsep, Pendekatan, dan Praktik.
Bandung: Simbiosa Rekatama Media
Iriantara, Yosal. 2007. Community Relations (Konsep dan Aplikasinya). Bandung
: Simbiosa Rekatama
Hamidi. 2010. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. 3rd. Malang : Hamidi
Hardjana, Andre. 2000. Audit Komunikasi Teori dan Praktek. Jakarta: Grasindo
Jefkins, Frank. 2004. Public Relations. Jakarta : Erlangga
Kriyantono, Rachmat.2008. Public Relations Writing. Cetakan ke-2. Jakarta :
Fajar Interpratama
Larkin, Judy, 2003, Risk Issues and Crisis Management: A Casebook of Best
Practice. London: Kogan Page
Moleong. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Rosdakarya
Nurudin.2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Nova, Firsan.2011. Crisis Public Relations. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Nova, Firsan. 2009. Crisis Public Relations. Jakarta : PT. Grasindo
Puspandani, Kartika Dewi. 2006. Pengukuran Publicity Effectiveness Level dan
Pemanfaatannya dalam Perencanaan Strategi dan Taktik Komunikasi.
Yogyakarta: Fisipol Universitas Gajah Mada.
Ruslan, Rosady. 1997. Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. Jakarta : PT
Raja Grafindo Persada
Ruslan, Rusady. 2006. Manajemen Humas dan Komunikasi, Konsepsi dan
Aplikasi. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada
Rusady, Ruslan. 2007. Manajemen Public Relations & Media Komunikasi
Konsepsi dan Aplikasi. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada
Ruslan, Rosady. 2010. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi.
Jakarta : PT Rajagrafindo Persada
Wardhani, Diah. 2008. Media Relations : Sarana Membangun Reputasi
Organisasi. Yogyakarta : Graha Ilmu
Wasesa, Silih Agung. 2011. Political Branding & Public Relations. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama
Widjaja. 1997. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta : Bumi Aksara
Sumber internet
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/04/11/115146/Pemp
rov-Jateng-Gagal-Entaskan-Kemiskinan diunduh pada tanggal 04 Februari 2013
pukul 19.11 WIB
http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=69893#.URMs-R1QFVY
diunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.15 WIB
http://regional.kompas.com/read/2012/09/12/13433283/Gubernur.Jateng.Menying
gung.Seniman.Jathilan diunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.16 WIB
http://www.solopos.com/2011/05/17/komisi-d-peringatkan-gubernur-soal-jalantol-
98292 diunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.17 WIB
http://www.tempo.co/read/news/2010/10/22/177286567/Pemberian-Dana-ke-
Wartawan-Tradisi-Lama diunduh pada tanggal 07 Februari 2013 pukul 15.00
WIB
http://news.detik.com/read/2012/11/22/174732/2098697/10/kpk-sebut-banyakpejabat-
korupsi-gubernur-jateng-sepertinya-tidak-ada diunduh pada tanggal 14
Februari 2013 pukul 22.00 WIB
http://eprints.undip.ac.id/29126/1/SUMMARY_PENELITIAN_Wiwid_Adiyanto.
pdf diunduh pada tanggal 21 Februari 2013 pukul 20.28 WIB
http://tvku.tv/v2010b/index.php?page=stream&id=6444 diunduh pada tanggal 19
Maret 2013 pukul 20.14 WIB
http://efkawejete.blogspot.com/ diunduh pada tanggal 05 Maret 2013 pukul 21.00
WIB
http://kabar17.com/2012/05/gubernur-jawa-tengah-dikecam-petani-tembakau/
diunduh pada tanggal 05 Maret 2013 pukul 21.28 WIB
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/04/27/61199/Pers-
Diminta-Tak-Hanya-Tulis-Berita-Negatif- diunduh pada tanggal 05 Maret 2013
pukul 21.59 WIB
http://news.detik.com/read/2012/11/29/123142/2104844/10/warga-menolakeksekusi-
tanah-lemah-ireng-semarang-ricuh diunduh pada tanggal 05 Februari
2013 pukul 01.00 WIB
http://repository.upnyk.ac.id/2306/1/Nunung_Prajarto.pdf
http://ahmadyusuf-fpsi08.web.unair.ac.id/artikel_detail-46452-Umum-
Metode%20Penelitian.html
(http://www.solopos.com/2012/11/28/gubernur-jateng-raih-planinum-gold-darisby-
351805 05 Maret 2013 pukul 23.00 WIB
(http://news.detik.com/read/2011/06/27/180047/1669850/10/sebut-walikota-solobodoh-
gubernur-jateng-akan-ditolak-masuk-solo diunduh pada tanggal 05
Februari 2013 pukul 01.00 WIB)
(http://www.youtube.com/watch?v=miDtNj_JIwg diunduh pada tanggal 08 Maret
2013 pada pukul 19.00 WIB)
(http://www.youtube.com/watch?v=3H0aQzl8M1w diunduh pada tanggal 08
Maret 2013 pada pukul 19.01 WIB
(http://birohumas.jatengprov.go.id/portal/view/struk2 diunduh pada tanggal 11
Maret 2013 pada pukul 00.04 WIB)
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/04/27/61199/Pers-
Diminta-Tak-Hanya-Tulis-Berita-Negatif- diunduh pada tanggal 11 Maret 2013
pada pukul 00.05 WIB)
http://web.undp.org/comtoolkit/reaching-the-outside-world/outside-world-coreconcepts-
working-media.shtml diunduh pada tanggal 13 Juli 2013 pukul 16:51 WIB
http://prinyourpajamas.com/how-to-build-your-own-media-list/ diunduh pada
tanggal 13 Juli 2013 pukul 16:51 WIB

Fulltext View|Download

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.