Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dan Motif Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dengan Perilaku Berpakaian Remaja

Received: 15 May 2013; Published: 31 Aug 2013.
Open Access
Citation Format:
Abstract

Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea di
Televisi dan Motif Menonton Tayangan Drama Seri Korea di
Televisi dengan Perilaku Berpakaian Remaja
PENDAHULUAN
Persaingan media televisi saat ini semakin gencar dan jumlah stasiun televisi semakin
bertambah seiring dengan perkembangan jaman. Stasiun televisi di tanah air bermunculan
mulai dari hanya satu stasiun televisi, yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI) sampai
muncul stasiun televisi baru yang mengudara secara nasional dan berkantor di Ibukota
Jakarta. Stasiun televisi tersebut antara lain Rajawali Citra Televisi (RCTI), Surya Citra
Televisi (SCTV), Media Nusantara Citra (MNC TV), Andalas Televisi (ANTV), Indosiar,
Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV), TRANS 7, METRO TV, TV ONE, dan
GLOBAL TV.
Belakangan ini, musik, drama, serta budaya Korea sedang merebak di beberapa
negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, musik maupun drama
seri Korea menjadi sesuatu yang sangat digemari di Indonesia saat ini. Bahkan saking
antusiasnya banyak yang mencari dan mempelajari hal-hal yang berbau Korea. Fenomena
menyebarluasnya drama, musik, serta budaya Korea secara global ini disebut Korean
wave atau dalam bahasa Korea disebut Hallyu.
Fenomena Hallyu melalui drama seri Korea sedang menjadi tren di stasiun televisi
swasta Indonesia. Beberapa stasiun televisi swasta tanah air kini tengah gencar bahkan
bersaing menayangkan drama seri Korea. Drama seri Korea datang membawa tontonan
ringan dengan berbagai konflik di dalamnya, yang dibungkus sedemikian rupa sehingga
menarik untuk ditonton. Tentu drama Korea ini segera digandrungi masyarakat yang
memang menginginkan sesuatu yang baru. Dan memang kenyataannya, masyarakat
sangat antusias menonton drama seri Korea. Selain itu episode-nya juga tidak sepanjang
sinetron Indonesia, hanya sekitar 16 hingga 25 episode saja. Masyarakat yang tengah
jenuh dengan tayangan sinetron-sinetron Indonesia langsung menyambut baik masuknya
drama seri Korea di Indonesia. Keberhasilan drama seri Korea mengambil hati
masyarakat Indonesia terbukti dengan tingginya minat penonton terhadap drama seri
Korea yang pertama kali ditayangkan saat itu, yaitu Endless love. Berdasarkan survey AC
Nielsen Indonesia, serial Endless Love ratingnya mencapai 10 (ditonton sekitar 2,8 juta
pemirsa di lima kota besar), mendekati Meteor Garden dengan rating 11 (sekitar 3,08 juta
pemirsa). (http://www.slideshare.net/AHD/fenomena-ratingshare-televisi).
Dalam menggunakan media massa, manusia didorong oleh beraneka ragam motif.
Motif merupakan suatu tenaga yang terdapat dalam diri manusia yang menimbulkan,
mengarahkan, dan mengorganisasi tingkah laku (perilaku). Motif yang mendorong
konsumsi media pada setiap orang berbeda. Dorongan kebutuhan yang berbeda akan
membuat orang memiliki motif yang berbeda pula dalam menggunakan televisi.
(Rakhmat, 2006:216). Motif yang berbeda tersebut akan menimbulkan efek yang
berlainan pada setiap orang.
Drama seri Korea yang masuk ke Indonesia tidak hanya sekedar tontonan di waktu
istirahat, namun drama Korea juga telah memberikan pengaruh di Indonesia. Begitu
booming-nya drama seri Korea di tanah air, tidak heran jika pada saat ini banyak remaja
yang mulai terpengaruh dengan budaya-budaya Korea, terutama dari segi mode atau
fashion. Dalam drama seri Korea sering menonjolkan mode-mode yang sedang populer di
Korea. Penampilan para artis dalam drama seri Korea selalu didukung dengan gaya
berbusana yang “Korea banget”, mulai dari model rambut, warna rambut, cara
berpakaian, tas, sepatu, aksesoris yang dikenakan, dan masih banyak lagi. Mode ala
Korea kerap disebut dengan Korean Style.
Pada akhirnya masalah mode merupakan hal yang menarik untuk dibicarakan
khususnya di kalangan remaja yang memiliki kedinamisan dalam mengikuti
perkembangan berbagai mode yang sedang menjadi trend karena ingin tampil menarik,
menambah percaya diri, dapat diterima dilingkungannya, dan supaya tidak dikatakan
ketinggalan jaman. Intensitas menonton drama seri Korea tersebut akan tetap berlangsung
selama ada motif yang mendorongnya dan remaja mempunyai harapan akan memperoleh
suatu keuntungan dari kegiatan menonton acara tersebut. Motif remaja menonton
tayangan drama seri Korea bisa dilihat dari motif untuk mendapatkan informasi, identitas
pribadi, integrasi dan interaksi sosial, serta hiburan.
Melalui televisi, remaja terinspirasi oleh perilaku idola mereka. Tahapan ini dimulai
dari melihat gaya berpakaian atau tingkah laku yang diperbuat oleh seorang tokoh di
televisi, kemudian para remaja berusaha mengadaptasi gaya berpakaian para artis
idolanya dengan harapan penampilannya menjadi seperti penampilan para artis dalam
tayangan drama seri Korea di televisi. Berdasarkan hal tersebut, lantas apakah ada
hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan motif
menonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja ?
ISI
Munculnya media televisi dalam kehidupan manusia memang menghadirkan suatu
peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan informasi yang bersifat massa.
Proses komunikasi massa tersebut dikatakan efektif apabila menghasilkan pengaruh
kepada khalayaknya. Pengertian pengaruh itu sendiri adalah perbedaan antara apa yang
dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sesudah menerima pesan. Bersamaan
dengan jalannya proses penyampaian isi pesan media massa kepada pemirsa, maka isi
pesan akan diinterpretasikan secara berbeda–beda oleh pemirsa, serta efek yang
ditimbulkan juga beraneka ragam. (Bungin, 2008:72).
Menurut Powerfull Effect Theory, dimana didasarkan pada asumsi Walter Lippman
(dalam Vivian, 2008:465), bahwa gambaran realita dibentuk dengan sangat kuat oleh
media massa. Powerfull Effect Theory juga menjelaskan tentang media massa
mempunyai pengaruh langsung dan mendalam terhadap seseorang. Pada konsep Harold
Lasswell yang terkenal “who says what in which channel to whom with what effect,”
pada titik yang ekstrem teori ini mengasumsikan bahwa media dapat menyuntikkan
informasi, ide, dan bahkan propaganda kepada publik. Water Lippman mengatakan
bahwa “gambaran” tentang dunia di benak kita yang tidak kita alami secara personal
dibentuk oleh media massa, sehingga khalayak pun akan menerima pemuasan yang
beragam dari media. Kepuasan yang berbeda-beda, juga akan menghasilkan efek yang
berbeda pula.
Dengan demikian, kegiatan menonton televisi dapat memberikan pengaruh tetapi hal
tersebut tergantung dengan tingkat intensitasnya. Diungkapkan oleh Burhan Bungin
(2001:125-126), bahwa intensitas atau frekuensi remaja dalam menonton televisi dapat
mempengaruhi besarnya pengaruh televisi terhadap perilaku remaja. Semakin tinggi
intensitas menonton televisi maka semakin cepat dan besar pula pengaruhnya terhadap
perilaku remaja. Begitu pula dengan keadaan sebaliknya, semakin rendah intensitas
menonton televisi maka semakin rendah pula pengaruhnya terhadap perilaku remaja
tersebut.
Dalam kaitannya dengan menonton televisi, para remaja memiliki motif yang
beragam. Motif-motif tersebut adalah motif untuk mendapatkan informasi, identitas
pribadi, integritas dan interaksi sosial, serta hiburan. Motif merupakan salah satu
indikator yang dapat mempengaruhi perilaku individu dalam menonton televisi.
Woodhworth (dalam Petri, 135:1981) mengungkapkan bahwa perilaku terjadi karena
adanya motif atau dorongan yang mengarahkan individu untuk bertindak sesuai dengan
kepentingan atau tujuan yang ingin dicapai. Karena tanpa dorongan tersebut tidak akan
ada suatu kekuatan yang mengarahkan individu pada suatu mekanisme timbulnya
perilaku.
Pandangan lain dikemukakan oleh Hull (dalam As’ad, 140:1995) yang menegaskan
bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh motif atau dorongan oleh kepentingan
mengadakan pemenuhan atau pemuasan terhadap kebutuhan yang ada pada diri individu.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa perilaku muncul tidak semata-mata karena dorongan yang
bermula dari kebutuhan individu saja, tetapi juga adanya faktor belajar.
Hal ini dapat diperkuat dengan penjelasan dari Teori Pembelajaran Sosial.
Berdasarkan hasil penelitian Albert Bandura, teori ini menjelaskan bahwa mereka meniru
apa yang mereka lihat di televisi, melalui suatu proses observational learning
(pembelajaran hasil pengamatan) atas tingkah laku yang ditampilkan oleh individuindividu
lain yang menjadi model. Titik mula dari proses belajar sosial adalah peristiwa
yang bisa diamati, baik langsung maupun tidak langsung oleh seseorang. Peristiwa
tersebut mungkin terjadi pada kegiatan orang sehari–hari, dapat pula disajikan secara
langsung oleh televisi, buku, film dan media massa lain. (Liliweri, 1991:174).
Adapun yang penting dari teori Bandura, bahwa proses belajar mengikuti sesuatu
dimulai dari tahap; (1) proses memperhatikan; (2) proses mengingatkan kembali; (3)
proses gerakan untuk menciptakan kembali; dan (4) proses mengarahkan gerakan sesuai
dengan dorongan. (Liliweri, 1991:179). Jelasnya bahwa remaja masih suka mencari
tokoh atau model untuk dijadikan panutan dalam berperilaku maupun berpenampilan,
maka seringkali remaja akan memperhatikan dan mengingat perilaku model yang
dilihatnya di televisi. Sering adegan-adegan dalam drama yang dilihat, atau perilaku
yang digambarkan dapat menarik perhatian, sehingga dari ucapan, gerakan, bahkan juga
pakaian yang dikenakan oleh sang tokoh akan diamatinya dan kemudian dapat saja
mereka gunakan pada penampilan diri mereka.
Monks (1969:109) menyatakan bahwa suatu tindakan atau tingkah laku dapat
dipelajari melalui melihat saja. Melalui televisi remaja dapat melihat peristiwa, perilaku,
dan segala sesuatu yang baru yang pada akhirnya diikuti oleh khalayak dan menjadi tren
di kalangan masyarakat. Berkaitan dengan penelitian ini maka perilaku yang muncul
adalah gaya berpakaian yang dilakukan oleh remaja. Remaja berpenampilan mengikuti
trend yang ada, mulai dari model rambut, pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris lainnya.
Jelasnya, bahwa remaja akan terinspirasi dengan apa yang dilihat dan ditawarkan oleh
media, dalam hal ini termasuk bagaimana perilaku berpakaian remaja.
Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan intensitas menonton tayangan drama seri
Korea di televisi (X1) dengan perilaku berpakaian remaja (Y), maka dilakukan pengujian
statistik melalui analisis korelasi Rank Kendall. Berdasarkan hasil pengujian maka
hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara intensitas
menonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja
dapat diterima. Hal ini menjelaskan tingginya intensitas menonton tayangan drama seri
Korea di televisi diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.
Dengan menggabungkan unsur hiburan dan informasi drama seri Korea yang
ditayangkan di televisi secara tidak langsung telah menyajikan berbagai referensi
mengenai mode ala Korea yang sedang menjadi kecenderungan atau trend. Responden
yang menonton tayangan drama seri Korea dengan intensitas menonton yang tinggi
termasuk dalam kelompok heavy viewers dimana mereka melihat gagasan mengenai
mode tersebut sebagai realitas, sehingga akan lebih mudah terpengaruh dan berperilaku
seperti apa yang ditampilkan dalam drama seri tersebut.
Sementara responden yang menonton drama seri Korea dengan intensitas menonton
yang rendah termasuk dalam kelompok light viewers, dimana mereka hanya memandang
drama seri Korea sebagai sebuah tayangan, tanpa melihatnya sebagai realitas, sehingga
pengaruh yang diterima pada kelompok ini tidak sebesar kelompok heavy viewers.
Perbedaan diantara keduanya terdapat dalam konsep mainstreaming (mengikuti arus)
pada kelompok heavy viewers.
Hubungan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi (X2) dengan
perilaku berpakaian remaja (Y) dapat diketahui dengan melakukan pengujian statistik
dengan menggunakan uji formula Chi Square Test. Berdasarkan hasil pengujian maka
hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara motif
menonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja dapat
diterima. Hal ini menjelaskan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di
televisi diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.
Responden yang tertarik dengan mode ala Korea dapat mengikuti perkembangan
mode tersebut melalui tayangan drama seri Korea di televisi. Para remaja memiliki
kecenderungan ingin mengikuti terus perkembangan mode yang sedang menjadi trend
agar dapat tampil stylish dan modis. Motif identitas pribadi dalam menonton tayangan
drama seri Korea di televisi dapat mengarahkan remaja untuk berperilaku modis,
sehingga ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi akan
mempengaruhi perilaku berpakaian modis pada remaja.
Hubungan intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi (X1) dan motif
menonton tayangan drama seri Korea (X2) di televisi dengan perilaku berpakaian remaja
(Y) dapat diketahui dengan melakukan pengujian statistik melalui analisis korelasi
konkordansi Rank Kendall.
Setelah dilakukan perhitungan diperoleh hasil koefisien korelasi konkordansi sebesar
0,194 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,01 maka hubungan dinyatakan
sangat signifikan. Serta hasil uji dengan Chi Square Test didapatkan nilai X2 hitung
sebesar 19,387 (dengan df = 2), dan nilai signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,01.
Dengan demikian dapat dinyatakan Ha diterima dan Ho ditolak. Maka hasil pengujian
tersebut menunjukkan bahwa variabel bebas (intensitas menonton tayangan drama seri
Korea dan motif menonton tayangan drama seri Korea) secara bersama-sama memiliki
hubungan yang sangat signifikan dengan variabel terikat (perilaku berpakaian remaja).
Hal ini berarti bahwa baik berdiri sendiri maupun bersama-sama, kedua variabel
bebas (intensitas menonton tayangan drama seri Korea dan motif menonton tayangan
drama seri Korea) mempunyai hubungan dengan variabel terikat (perilaku berpakaian
remaja), sehingga tingginya intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi
dan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi akan mempengaruhi
perilaku berpakaian modis pada remaja.
PENUTUP
Penelitian tentang hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seri
Korea di televisi dan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi DENGAN
perilaku berpakaian pada remaja, dilakukan terhadap para remaja putri di Semarang
yang berusia 17-20 tahun yang pernah menonton tayangan drama seri Korea di
televisi selama tiga bulan terakhir ini.
Metode penarikan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara non
random sampling, dengan pertimbangan jumlah populasi dalam penelitian ini tidak
dapat diketahui secara pasti. Penelitian ini menggunakan alat pengumpul data berupa
kuesioner. Teknik pengumpulan data berupa penyebaran Angket dan dengan bantuan
panduan observasi berupa checklist (daftar cocok) yang digunakan untuk mengamati
variabel perilaku berpakaian pada remaja.
Alat yang digunakan untuk menganalisa data kuantitatif yang telah didapat
adalah dengan statistika, untuk kemudian dideskripsikan menggunakan corelasi untuk
menguji hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi
dan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian
pada remaja. Adapun kesimpulan dan saran yang dapat penulis berikan adalah sebagai
berikut:
5.1. Kesimpulan
1. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel intensitas menonton
tayangan drama seri Korea dengan variabel perilaku berpakaian remaja. Hal
ini berdasarkan nilai koefisiensi korelasi sebesar 0,540 dan nilai signifikansi
sebesar 0,000. Dengan demikian, tingginya intensitas menonton tayangan
drama seri Korea di televisi mendorong remaja melihat gagasan yang disajikan
dalam tayangan tersebut sebagai realitas dan berperilaku seperti apa yang
ditampilkan dalam tayangan tersebut. Semakin tinggi intensitas menonton
tayangan drama seri Korea di televisi maka akan semakin modis pula perilaku
berpakaian pada remaja.
2. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel motif menonton
tayangan drama seri Korea di televisi dengan variabel perilaku berpakaian
remaja. Hal ini didapatkan dari hasil X2 hitung sebesar 31,222 dengan df = 6,
dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Serta hasil uji korelasi Contingency
Coefficient (C) sebesar 0,620 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal tersebut
menjelaskan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi
akan diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.
3. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel intensitas menonton
tayangan drama seri Korea di televisi dan variabel motif menonton tayangan
drama seri Korea di televisi dengan variabel perilaku berpakaian remaja.
Berdasarkan hasil uji korelasi diperoleh informasi nilai koefisiensi sebesar
0,194 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Serta didapatkan nilai X2 hitung
sebesar 19,387 (dengan df = 2), dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal ini
berarti bahwa baik berdiri sendiri maupun bersama-sama, kedua variabel
bebas (intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan motif
menonton tayangan drama seri Korea di televisi) mempunyai hubungan
dengan variabel terikat (perilaku berpakaian remaja), sehingga tingginya
intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan ragam motif
menonton tayangan drama seri Korea di televisi akan mempengaruhi perilaku
berpakaian modis pada remaja.
4. Pada penelitian ini penonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan
persentase terbanyak adalah remaja putri yang berada pada kisaran usia 20
tahun sebanyak 36%, sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan persentase
terbanyak adalah para remaja putri yang duduk di bangku perkuliahan atau
perguruan tinggi sebanyak 80%.
5.2. Saran
1. Berdasarkan kesimpulan di atas maka tayangan drama seri Korea di televisi
sebetulnya mampu membantu remaja untuk memberikan inspirasi dalam
pencarian model bagi remaja, yang berkaitan dengan gaya berpakaian atau
penampilan melalui “sosok” artis yang menjadi pemeran dalam tayangan
drama seri Korea di televisi. Namun audiens juga diharapkan mampu
memfilter dengan bijak informasi yang terkandung dalam tayangan tersebut
dan bersikap selektif terhadap tayangan – tayangan yang mereka konsumsi,
agar dapat membedakan antara realitas media dengan realitas sosial, sehingga
tidak serta merta mengikuti segala sesuatu yang ada dalam tayangan tersebut.
2. Pada penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan perilaku berpakaian remaja
hendaknya dapat dilakukan dengan melihat faktor – faktor lain yang bisa
menjadi penyebab terjadinya perilaku tersebut, di luar intensitas menonton dan
motif menonton, misalnya tingkat pendidikan, status sosial, atau interaksi peer
group. Disamping itu, penelitian juga dapat dilakukan dengan menggunakan
teknik pengambilan sampel yang berbeda pula.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Ardianto, Elvinaro dan Erdinaya, Liluati Komala. 2004. Komunikasi Massa Suatu
Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
As’ad, M. 1989. Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: Dep.Dik.Bud Direktoral Jendral
Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Dan Lembaga Tenaga.
Bungin, Burhan. 2006. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
Bungin, Burhan. 2001. Erotika Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Barnard, Malcomm. 2007. Fashion dan Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.
Cangara, Hafied. 1998. Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta. Raja grafindo persada.
Effendi, Onong. U. 1993. TV Siaran Teori dan Praktek. Bandung: Mandar Maju.
Effendy, Onong. U. 2003. Ilmu komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT.Remaja
Rosdakarya.
Gerungan ,W.A. 1991. Psikologi Sosial. Bandung: Eresco.
Kaunang, Claudia. 2010. Keliling Korea dalam 9 Hari. Yogyakarta: B – Fierst.
Khadijah, Nyanyu. 2006. Psikologi Pendidikan. Palembang: Grafika Telindo Press.
Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa Sebuah Analisis Media Televisi.
Jakarta: Rhineka Cipta.
Liliweri, Alo. 1997. Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam Masyarakat.
Bandung: Citra Aditya Bakti.
McQuail, Dennis. 1996. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jakarta:
Erlangga.
Monks, F. J, dkk. 1982. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Morissan. 2008. Manajemen Media Penyiaran. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Nuruddin. 2000. Sistem Komunikasi Indonesia. Malang: BIGRAFF publishing.
Petri, H.L. 1981. Motivation Theory and Research. Belmont, California: Wadsworth
Publishing Company.
Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Rakhmat, Jalaluddin. 2006. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rakhmawati, Dede. 2011. Jago Berbahasa Korea dalam 1 Hari. Jakarta: Gudang
Ilmu.
Sugiyono. 2002. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Singarimbun Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian dan Survey. Jakarta:
LP3ES.
Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Prenada Media:Jakarta.
Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: PT Grasindo.
Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Grasindo.
INTERNET
http://www.slideshare.net/AHD/fenomena-ratingshare-televisi.
www.geocities.com/dramakorean.
http://www.facebook.com/pages/PENYUKA-DRAMA-KOREA/.
http://tvguide.co.id/mobile-new//home.
http://www.facebook.com/koreanbutik.shopiing/,http://www.facebook.com/ballegirls.
shop.
http://www.facebook.com/tomoya.koreanbutik.
http://id.wikipedia.org/wiki/Drama_Korea.
id.wikipedia.org/wiki/Hallyu.
www.koreanstylefashion.com/.
http://www.saranghaeyo.biz.
www.saranghaeyo.biz › fashion › lifestyle.
ABSTRAK
Judul : Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dan
Motif Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dengan Perilaku
Berpakaian Remaja
Mode ala Korea yang masuk dan berkembang di Indonesia melalui tayangan
drama seri Korea pada tahun 2002, banyak digemari dan diterapkan oleh remaja. Para
remaja cenderung ingin selalu mengikuti perkembangan mode yang sedang populer
agar tampil modis. Hal ini dilakukan karena para remaja ingin seperti apa yang
ditampilkan oleh tokoh yang dilihatnya, yaitu berupa pakaian yang dikenakan oleh
seorang model, serta aksesoris-aksesoris lainnya yang dapat memperbaiki penampilan
dirinya. Perilaku berpakaian modis pada remaja tersebut disinyalir merupakan akibat
dari beberapa faktor, antara lain intensitas menonton tayangan drama seri Korea di
televisi dan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menonton
tayangan drama seri Korea di televisi dan motif menonton tayangan drama seri Korea
di televisi dengan perilaku berpakaian remaja. Peneliti menggunakan Teori Powerfull
Effect dan didukung oleh Teori Pembelajaran Sosial dari Bandura. Responden pada
penelitian ini berasal dari kalangan remaja putri di Kota Semarang yang berumur 17
hingga 20 tahun. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 50 orang dimana
pengambilan sampel dilakukan dengan metoden non random, serta accidental sampel
untuk teknik pengambilan sampel.
Untuk menguji hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seri
Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja dan hubungan antara motif
menonton tayangan drama seri Korea dengan perilaku berpakaian remaja, maka
digunakan uji analisis Koefisiensi Korelasi Rank Kendall, dan uji formula dengan
Chi-Square, sedangkan untuk menguji korelasi antara dua variabel bebas dengan satu
variabel terikat, digunakan uji analisis Korelasi Konkordasi Rank Kendall (Kendall’s
W Test).
Berdasarkan hasil penelitian, maka tingginya intensitas menonton tayangan
drama seri Korea di televisi akan diikuti pula dengan perilaku berpakaian yang modis
pada remaja. Hal ini dikarenakan responden dengan intensitas menonton yang tinggi
akan lebih mudah terpengaruh dan berperilaku seperti apa yang ditampilkan dalam
tayangan tersebut. Selain itu, ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di
televisi akan diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.
Motif tersebut dapat mengarahkan remaja untuk mengetahui penampilan atau mode
ala Korea yang sedang menjadi kecenderungan (trend), mendapat kepuasan dengan
melihat penampilan bintang idolanya, serta menemukan sosok model yang bisa
dijadikan inspirasi dan pedoman dalam bergaya seperti penampilan para artis dalam
tayangan drama seri Korea di televisi.
Kata kunci: Drama Seri Korea, Perilaku berpakaian, Korelasi.
ABSTRACT
Title: The Relationship of The Intensity of Watching Korean Drama Series on
Television and Motives Watching Korean Drama Series on Television with
Teens Dressed Behavior.
Korean fashion style in and growing in Indonesia through Korean drama
series in 2002, much-loved and adopted by teenagers. The teens tend to want to
always continue to follow the development of fashion that is popular in order to look
fashionable and stylish. This is done because the teen wanted to like what is shown by
the figures he saw, in the form of clothing worn by a model, as well as other
accessories that can improve the appearance of her day-to-day. Fashionable dress on
teen behavior is alleged to be the result of several factors, including the intensity of
watching a Korean drama series on television and motives watching Korean drama
series on television.
This study aims to determine the relationship of the intensity of watching a
Korean drama series on television and motives watching Korean drama series on
television with the behavior of teenagers dressed. Researchers used a Powerful Effect
Theory and supported by Bandura's Social Learning Theory. Respondents in this
study come from the young women in the city of Semarang ever watch a Korean
drama series over the past three months and aged 17 to 20 years. The study sample
size of 50 people where the sampling is done with non-random methode, with
consideration has’t complete information on population size, as well as samples for
accidental sampling technique.
To examine the relationship between the variable of intensity of watching a
Korean drama series on television with a teenager dressed behavioral variables and
relationships between variables of motives watching Korean drama series with the
variable of behavior of teenagers dressed, then used the test Kendall Rank
Correlation Coefficient analysis, and testing with Chi-Square formula, while for the
test and explain the correlation between the two independent variables with the
dependent variable, used test correlation analysis Konkordasi Rank Kendall
(Kendall's W Test).
Based on the results of the study, the high intensity of watching a Korean
drama series on television will be followed by a fashionable dressing behavior in
adolescents. This is because respondents with a high intensity watch will be easily
distracted and behave like what is shown in the display. In addition, the variety of
motives watching Korean drama series on television will be followed by a fashionable
dressed behavior among adolescents. The motive may lead adolescents to determine
the appearance or Korean-style fashion is a trend, the satisfaction and pleasure to see
his idol star appearance, as well as to discover the figure of a model that could be
used as inspiration and guidance in the style of artists like appearance in the drama
show Korea in the television series.
Keywords: Korean Drama Series, Behavior of dressed, Correlation.

Article Metrics: