SOLO CONVENTION HALL

*Ayudia Kanthi Lestari - 
Budi Sudarwanto - 
Erni Setyowati - 
Published: 31 Jul 2012.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Full Text:
Statistics: 76 380
Abstract

Jawa Tengah memiliki daya tarik tersendiri yang dapat dijadikan tujuan dari agenda MICE (meeting,
incentive, convention, exhibition) tetapi hal tersebut tidak didukung dengan fasilitas konvensi yang
berkapasitas ribuan orang. Kota Solo berpotensi dalam sektor bisnis, perdagangan, dan potensi seni budaya
lokal. Hal ini dapat mendukung potensi Kota Solo sebagai kota tujuan MICE. Akhir-akhir ini juga bisnis
perhotelan di Kota Solo mengalami penurunan, karena sedikitnya pertemuan-pertemuan akbar yang digelar di
Kota Solo. Hal ini yerjadi karena di Kota Solo belum terdapat fasilitas gedung konvensi yang berkapasitas
ribuan orang, sehingga saat pemilihan tuang rumah kegiatan konvensi, Kota Solo pasti dikesampingkan.
Sekarang sedang dilakukan pengembangan potensi Kota Solo, saat ini merupakan saat yang tepat untuk
merealisasikan dibangunnya sebuah bangunan konvensi yang berstandar internasional di Kota Solo.
Kajian diawali dengan mempelajari pengertiandan hal-hal mendasar tentang gedung konvensi,
standar-standar mengenai tata ruang di dalam gedung konensi, studi banding beberapa gedung konvensi di
Indonesia. Dilakukan juga tinjauan mengenai lokasi gedung Solo Convention Hall dan pembahasan konsep
perancangan dengan penekanan desain Arsitektur Neo-Vernakular. Selain itu juga dibahas mengenai tata
ruang bangunan, penampilan bangunan, struktur, serta utilitas yang dipakai dalam perancangan “Solo
Convention Hall”.
Konsep perancangan ditekankan Arsitektur Neo-Vernakular, yaitu konsep transformasi identitas Kota
Surakarta ke dalam konsep modern, karena bangunan konvensi merupakan bangunan umum yang digunakan
oleh berbagai kalangan dan unutk aktivitas modern. Konsep ini sesuai dengan spirit Kota Surakarta “Solo’s Past
as Solo’s Future”, yaitu spirit pembangunan Kota Surakarta yang tidak meninggalkan identitas masa lampau
dan menjadikan karakter budaya lokal sebagai dasar pengembangan modernitas Kota Surakarta. Pada
bangunan ini mengambil konsep dari pendapa yang fungsinya juga sebagai tempat pertemuan bagi orang
Jawa. Pendapa yang berbentuk joglo merupakan bangunan dengan dominasi atap, hal tersebut menyiratkan
bahwa orang Jawa mementingkan bagian kepala yaitu akal dan pikiran. Karena dengan akal dan pikiran,
manusia dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum bertemu Tuhan (mati).

Keywords
Gedung Konvensi, Solo, Convention Hall, Neo-Vernakular

Article Metrics: