Peranan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Karangmlati dalam Pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) Batik Demak 2009–2017

*Miftahul Arifah  -  Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Indonesia
Siti Maziyah  -  Departemen Sejarah, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 31 Dec 2020; Published: 31 Dec 2020.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Batik Demak telah eksis sejak lama. Namun demikian, keeksisan batik Demak sempat menurun karena kurang mendapat perhatian dari berbagai pihak. Oleh karena itu, artikel ini menjelaskan tentang peranan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Karangmlati dalam pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) batik Demak pada tahun 2009–2017. Peranan ini diterapkan melalui program pelatihan keterampilan membatik dalam upaya memperkenalkan dan mengembangkan motif-motif batik Demak yang merepresentasikan potensi lokal di Kabupaten Demak. Penelitian ini menggunakan metode sejarah kritis, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Selain itu, juga digunakan pendekatan sosiologi dan dijelaskan tentang konteks sejarah lembaga untuk memberikan gambaran terciptanya IKM batik Demak. PKBM Karangmlati merupakan salah satu pendidikan nonformal di Kabupaten Demak dan menjadi satu-satunya PKBM yang memiliki program pelatihan keterampilan membatik. Pada 2009–2017, PKBM Karangmlati berkesempatan menjadi narasumber dalam pelatihan batik di tiga desa wisata di Kabupaten Demak, yaitu Desa Kadilangu, Desa Mlatiharjo, dan Desa Tlogoweru. Ketiga desa tersebut berupaya memberdayakan masyarakat setempat dan menciptakan industri kerajinan batik dengan mengambil potensi lokal dari masing-masing desa wisata sebagai motif khas kain batik yang diproduksinya. Namun demikian, dalam perkembangannya hanya beberapa IKM batik Demak yang bisa bertahan, salah satunya adalah UPPKS “Kembang Mlati” di Desa Mlatiharjo.

Article Metrics:

  1. Adisukma, Wisnu (2013). “Simbolisme Ragam Hias Sisik Batik Demak.” Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Brikolase, Vol. 5(2)
  2. BPS Kabupaten Kudus (2014). Demak dalam Angka 2014
  3. Gottschalk, L. (1986). Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia
  4. “Dwi Marfiana Ciptakan Batik Khas Demak.” http://infobatik.id/dwi-marfiana-cipta kan-batik-khas-demak/, dikunjungi pada 20 November 2018
  5. Kasri, M. K. & Pujo S. (2008). Sejarah Demak Matahari Terbit di Glagahwangi. Demak: Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Demak
  6. Komariah, Satiul (2018). “Pengaruh Islam pada Motif Batik di Desa Karangmlati Kecamatan Demak Jawa Tengah.” Skripsi pada Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Agama Islam Universitas Sultan Agung
  7. “Tlogoweru Jadi Lokasi Wisata Edukasi Burung Hantu.” https://www.suaramerdeka.com/baca/135250/tlogoweru-jadi-lokasi-wisata-edukasi-burung-hantu, dikunjungi pada 27 Agustus 2019
  8. Octavianto, A. E. B. (2014). “Perkembangan Pola Usaha Tani di Desa Mlatiharjo Kecamatan Gajah Kabupaten Demak pada Tahun 1980–2003.” Skripsi pada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang
  9. Paguyuban Klaster Batik Kabupaten Demak (2012). Berita Acara Persamaan Persepsi Motif Batik Demak. Demak: Paguyuban Klaster Batik Demak
  10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Pasal 1 Ayat (33)
  11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Pasal 105 Ayat (1)
  12. Pianto, H. A. (2017). Keraton Demak Bintoro Membangun Tradisi Islam Maritim di Nusantara. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Sosiohumaniora, Vol. 3 (1)
  13. Zoetmulder, P. J. & S. O. Robson (1995). Kamus Jawa Kuna – Indonesia, terjemahan Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
  14. Zulfa, Assita Zulafin (2018). “Upaya Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Barongan di Kabupaten Demak Tahun 1995-2014.” Skripsi pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
  15. Arif Purwanto
  16. Asih Lestiyandari
  17. Dwi Marfiana
  18. Hardono Budi Prasetyo
  19. Kadarwati
  20. Kusmidarminik
  21. Slamet Supriyadi
  22. Soetedjo