Dari Realitet Nasi ke Realisme Sosialis: Tema Kerakyatan dalam Seni Rupa Modern Indonesia Masa Persatuan Ahli Gambar Indonesia dan Lembaga Seni Rupa Lembaga Kebudayaan Rakyat

*Sri Ayu Winda Novitasari  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Mahendra P. Utama  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 18 Jun 2020; Published: 18 Jun 2020.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: IND
Statistics: 13 12
Abstract

Pada artikel ini dibahas mengenai tema kerakyatan yang digunakan dalam seni rupa modern Indonesia, khususnya masa Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) dan Lembaga Seni Rupa (Lesrupa) Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Kesenian yang mengusung tema kerakyatan selepas Orde Baru (Orba) hampir selalu disalahpahami sebagai bagian dari ajaran komunis semata. Padahal, apabila menilik dua periode penting dalam seni rupa modern Indonesia, dapat dikenali bahwa tema kerakyatan yang digunakan perupa merupakan manifestasi sentimen nasionalisme. Dengan menerapkan empat metode dalam penulisan sejarah, artikel ini membuktikan bahwa tema kerakyatan dalam seni rupa modern Indonesia semestinya dipahami sebaai bagian dari kritik solidaritas sosial, daripada dipahami sebagai ajaran komunis semata.

Article Metrics:

  1. “Karena Revolusi Belum Selesai”, dalam Tim Buku Tempo (2014). Lekra dan Geger 1965. Jakarta: Kepustakaan Gramedia.
  2. “Para Maestro di Kiri Jalan”, Melawan Lupa, Metro TV. https://www.youtube.com/watch?v=eW0Avjr0UbA, dikunjungi pada 1 Maret 2020.
  3. “Satu Ayah Lain Rumah”, dalam Tim Buku Tempo (2014). Seri Tempo: Lekra dan Geger 1965. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  4. “Tugas Partai di Panggung Ketoprak” dalam Tim Buku Tempo (2014). Seri Tempo: Lekra dan Geger 1965. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  5. Rosidi, Ajib (1982). Pelukis S.Sudjojono. Jakarta Pusat: Pustaka Jaya.
  6. Suparnoto, Alexander (2000). “Lekra vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965.” Skripsi pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
  7. Antariksa, A. (2005). Tuan Tanah Kawin Muda. Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti.
  8. Zulkifli, Arif, Purwanto Setiadi, dkk. (2014). Lekra dan Geger 1965 (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  9. Sedyawati, Edy, dkk. (2009). Sejarah Kebudayaan Indonesia Seni Rupa dan Desain. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
  10. Harsono, F. X. (2009). "Tema kerakyatan dalam seni lukis Indonesia: Perbandingan Masa Persagi dan Orde Baru (The theme of the people in Indonesian painting: a comparison between the Persagi time and the New Order)." Jurnal Kebudayaan Kalam. Edisi 5: 96-114.
  11. Holt, Claire (2000). Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia, hlm 279. Holt, Claire, and Soedarsono (Raden Mas). Melacak jejak perkembangan seni di Indonesia. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2000.
  12. Burhan, M. Agus (2013). Seni Lukis Indonesia Masa Jepang Sampai Lekra (Surakarta: UNS Press, 2013), hlm. 41.
  13. Yuwono, Markus. “Pemuda Pancasila Bubarkan Pameran Seni soal Wiji Thukul di Yogyakarta.” https://regional.kompas.com/read/2017/05/08/18545011/pemuda.pancasila.bubarkan.pameran.seni.soal.wiji.thukul.di.yogyakarta?page=all, diakses pada 30 Desember 2019.
  14. Bustam, Mia (2006). Sudjojono dan Aku. Jakarta: Pustaka Utan Kayu.
  15. Yulianti, Rhoma Dwi Aria, Muhidin M Dahlan (2008). Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakyat 1950-1965. Yogyakarta: Merakesumba.
  16. Novitasari, Sri Ayu Winda (2019). “Sanggar Bumi Tarung: Ekspresi Realisme Sosialis di Yogyakarta, 1961-1965.” Skripsi pada Program Studi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro.
  17. Herlambang, Wijaya (2014). Kekerasan Budaya Pasca 1965. Tangerang: Marjin Kiri.
  18. “Organisasi Anti Manipol Dilarang”, Kedaulatan Rakyat, 1 Maret 1961.