skip to main content

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PERKEBUNAN KOPI DI KABUPATEN SEMARANG

Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia


Citation Format:
Abstract

ABSTRAK

 

Kabupaten Semarang berada di dataran tinggi dan memiliki suhu relatif rendah, sehingga banyak komoditas perkebunan dihasilkan. Salah satu komoditas perkebunan unggulan di Kabupaten Semarang adalah kopi. Berdasarkan pada data statistik Kabupaten Semarang dalam Angka Tahun 2009, luas lahan perkebunan kopi meningkat 60% dari luas sebelumnya. Penggunaan lahan sebagai kebun kopi tidak selalu sesuai dengan kondisi dan kemampuan lahan yang sebenarnya. Potensi suatu lahan biasanya ditentukan oleh keadaan biofisik dan lingkungan lahan sehingga dengan menerapkan prinsip tersebut dapat mengoptimalkan produktivitas tanaman dan membuat kualitas lahan terjaga.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian lahan perkebunan kopi di Kabupaten Semarang sehingga lahan dapat digunakan sesuai dengan kemampuannya. Dengan berdasarkan pada metode yang ditetapkan FAO, penentuan kelas kesesuaian lahan dilakukan menggunakan metode pencocokkan (matching) dan metode skoring (AHP).

Dari penelitian ini didapat hasil bahwa dengan metode matching kesesuaian lahan kopi arabika adalah seluas 46.938,81 Ha sesuai marginal (S3) dan 5.387,25 Ha tidak sesuai (N). Kesesuaian untuk kopi robusta adalah seluas 238,11 Ha sangat sesuai (S1), 33.372,84 Ha cukup sesuai (S2), 17.920,25 Ha sesuai marginal (S3) dan 790,81 Ha tidak sesuai (N). Hasil kesesuaian lahan kopi arabika  dengan metode AHP yaitu 14.089,93 Ha sangat sesuai (S1), 34.167,95 Ha cukup sesuai (S2), 4.062,13 Ha sesuai marginal (S3), dan 6,35 Ha tidak sesuai (N). Kesesuaian lahan kopi robusta seluas 37.211,36 Ha sangat sesuai (S1), 14.994,20 Ha cukup sesuai (S2) dan 8,28 Ha sesuai marginal (S3).

 

Kata Kunci : AHP, FAO, Kesesuaian lahan, Matching.

 

 

ABSTRACT

 

Semarang Regency is located on the high ground and has relatively low temperature, so many commodities of plantation produced. One of the plantation commodities in Semarang Regency is coffee. Based on statistical data Semarang Regency in Figures 2009, the area of coffee plantation increased 60% from before. Land use for coffee plantations are not always in accordance with the conditions and actual capability of the land. Potential of the land  is usually determined by the state of the biophysical and environment of the land,  so by applying that  principle, the  plant productivity can be optimized and keep the quality of the land.

                This study was conducted to determine the suitability of coffee plantation in Semarang Regency. So, based on that suitability of coffee plantation, the land can be used in accordance with its capabilities. On the basis of the method by FAO, the determination of land suitability classes conducted using the method of matching and scoring method (AHP).

The result from this study are the land suitability of arabica coffee based on matching method are 46.938,81 Ha marginal suitable (S3) and 5.387,25 Ha not suitable (N). The land suitability of robusta coffee are 238,11 Ha very suitable (S1), 33.372,84 suitable (S2), 17.920, 25 Ha marginal suitable (S3)  and 790,81 Ha not suitable (N). The results of the land suitability of arabica coffee based on AHP are 14.089,93 Ha very suitable (S1), 34.167,95 Ha  suitable (S2), 4.062,13 Ha marginal suitable (S3) and 6,35 Ha not suitable (N). The land suitability of  robusta coffee are 37.211,36 Ha very suitable (S1), 14.994,20 Ha suitable (S2), and 8,28 Ha not suitable (N).

 

Keywords : AHP, FAO, Land suitability, Matching

*) Penulis, Penanggungjawab
Fulltext View|Download

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.