ANALISA TINGKAT KEBISINGAN KAMAR MESIN PADA KAPAL KMP. MURIA

*Rindianti Wibowo  -  Program Studi S1 Teknik Perkapalan, Indonesia
Samuel Samuel  -  Program Studi S1 Teknik Perkapalan, Indonesia
Untung Budiarto  -  Program Studi S1 Teknik Perkapalan, Indonesia
Published: .
View
Open Access
Citation Format:
Abstract
Kebisingan adalah suara yang tidak diharapkan yang dapat mengganggu kesehatan, kenyamanan dan dapat menyebabkan ketulian. Kebisingan dengan intensitas tinggi tanpa sadar dapat menyebabkan dampak yang serius bagi ABK KMP. Muria serta ketidaknyamanan bagi penumpang. Sehingga, pengukuran tingkat kebisingan harus dilakukan untuk mengetahui tingkat kebisingan yang terjadi di kapal, terutama di kamar mesin dan ruang akomodasi, sehingga dapat direncanakan alternative system yang tepat apabila tingkat kebisingan yang terjadi melebihi batas yang ditetapkan oleh IMO, ABS dan LR. Dari hasil pengukuran dengan menggunakan Environment meter tingkat kebisingan di kamar mesin melebihi batas yang ditetapkan oleh IMO dan ABS sebesar 102,9 dB. Setelah melakukan proses perhitungan Transmission Loss yang dihasilkan oleh sebuah Barrier, untuk frekuensi kritis barrier dengan material plywood dapat mengurangi suara sebesar 34,39 dB, Glasswool 31,22 dB, Rockwool 39,58 dB, Poliuretan 37,01 dB. Untuk frekuensi kritis sebuah barrier dengan kombinasi dua material penyusun yaitu kombinasi Rockwool dengan plywood menghasilkan transmission loss sebesar 38,36 dB, Rockwool dengan glasswool sebesar 39,10 dB, dan kombinasi Rockwool dengan Poliuretan dapat mengurangi tingkat kebisingan hingga 42,39 dB.   Proses simulasi terhadap perencanaan penggunaan modifikasi Muffler yang telah terpasang pada exhaust gas outlet dengan  menggunakan Actran Student Edition  dapat disimpulkan bahwa semakin besar dimensi muffler, transmission loss yang dihasilkan juga akan semakin besar.
Keywords: Noise; Environment meter; Plywood; Rockwool; Glasswool; Poliuretann; Actran Student Edition

Article Metrics: