Analisa Stabilitas (Intact, Damage Stability) Dan Olah Gerak Landing Craft Tank (LCT) Di Konversi Menjadi Tipe Ro-Ro

Received: 25 Sep 2018; Published: 19 Oct 2018.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Statistics: 105
Abstract

Kapal penumpang merupakan sarana transportasi yang cukup efisien dan efektif untuk menjangkau daerah-daerah terpencil yang tidak bisa di jangkau oleh pesawat maupun mobil sebagai alat transportasi penumpang. Larangan penggunaan kapal Lending Craft Tank (LCT) mengharuskan galangan kapal untuk konversi kapal menjadi tipe RoRo. Tujuan dari penelitian ini ialah  melakukan analisis stabilitas (Intact, Damage Stability dan olah gerak) pada kapal sebelum dan sesudah konversi. Metode yang digunakan ialah metode kuantitatif. Dari hasil analisis stabilitas didapatkan kapal sebelum dan sesudah konversi memenuhi kriteria IS CODE 2008 Perbedaan nilai GZ maksimum pada kedua model kapal yaitu 26,53 %. Hasil perhitungan Damage stability ketiga kapal yaitu, kapal LCT SMS SWAKARYA 757 GT dengan indek A = 0,9875 dan indek R= 0,2315, kapal RORO SMS SWAKARYA 757 GT dengan indek A = 0,8526 indek R= 0,68415. Kapal RORO TRISNA DWITYA 876 GT dengan indek A = 0,9627 indek R= 0,6844 memenuhi standar safety of life at sea (SOLAS) 2009  Chapter II-1. Analisis olah gerak kapal sebelum dan sesudah konversi memenuhi standar kriteria Nordforsk ‘87 dengan nilai rolling, 2,010 x 10 -1deg dan  2,060 x 10-1 deg Vertical acceleration at FP dengan nilai 1,837 x 10-3 g dan 1,735 x 10 -3g. Analisa factor kenyaman penumpang sesuai refrensi O’Hanlon and McCauley 1974 Kapal aman dan nyaman bagi penumpang pada following seas dan beam seas.

 

Article Metrics:

  1. Peraturan Mentri Perhubungan No. 39 Penyelenggaraan Angkutan Penyebrangan. 2015.
  2. “Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Laporan Investigasi Kecalakaan Pelayaran, Tenggelamnya KMP. Refalia 2,” 2016.
  3. F. Rohmadhana and H. A. Kurniawati, “Analisis Teknis dan Ekonomis Konversi Landing Craft Tank ( LCT ) Menjadi Kapal Motor Penyebrangan (KMP) Tipe RO-ro Untuk Rute Ketapang-Gilimanuk,” vol. 5 No.2, pp. 1–6, 2016.
  4. S Anggoro, “Analysis of the Intact Stabilitay of Indonesia Small Open-deck Roll-on/Roll-off Passenger Ferries.,” The University of New South Wales, 2008.
  5. M. Zaky, “Improvisasi Desain Untuk Meningkatkan Karakteristik Damage Stability Kapal Penumpang Feri RoRo,” Tek. BKI, pp. 27–35, 2017.
  6. International Maritime Organization( IMO), Code on intact stability for all type of ship covered by IMO instruments’’ Resolution MSC.267(85), no. December. 2008.
  7. International Maritime Organization ( IMO), SOLAS Chapter II-1 Resolution MSC.281(85), Subdivision and damage stability regulation’’. 2009.
  8. Nordforrsk 1987, General Operability Limiting Criteria for Ship. 1987.
  9. International Maritime Organization( IMO), SOLAS Consolidated Edition 2014, 6th ed. London International Maritime Organization, 2014.
  10. B. Setyawan, “Analisa Pengaruh Hullform Terhadap Motion Sikness Incidence (MSI) Pada Kapal R0-Ro 500 GT,” J. Tek. perkapalan, vol. 5, no. no 4, pp. 1–10, 2017.
  11. M. Iqbal, G. Rindo, J. T. Perkapalan, F. Teknik, and U. Diponegoro, “Pengaruh Anti-Slamming Bulbous Bow Terhadap Gerakan Slamming Pada Kapal Perintis 200 DWT,” kapal, vol. vol 13, no. no 1, pp. 45–54, 2016.
  12. D. P. Putra, “Analisa Seakeeping Dan Prediksi Motion Sickness Incidence ( MSI ) Pada Kapal Perintis 500 DWT Dalam Tahap Desain Awal ( Initial Design ),” J. Tek. Perkapalan, vol. 4, no. 3, pp. 1–14, 2016.
  13. J. O’Hanlon and M. . McCauley, “Motion sikcness incidence as a function of the frequency and acceleration of vertical sinusoidal motion,” Aerosp. Med., vol. 45, no. 4, pp. 366–369, 1974.