Rancang Desain dan Konstruksi Kapal Ternak Tipe Katamaran untuk Pelayaran Nasional

*Akbar Ramadhan  -  Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Ahmad Fauzan Zakki  -  Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Untung Budiarto  -  Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 28 Jun 2018; Published: 23 Jul 2018.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID-ID
Statistics: 268
Abstract

Konsumsi daging sapi di pulau Jawa mencapai 2,2 kg per kapita. Hal ini berarti dibutuhkan 410 juta kg daging sapi per tahun atau sekitar 2,89 juta ekor sapi. Sementara populasi sapi di pulau Jawa hanya 8,6 juta ekor. Sementara di pulau NTT dan Bali yang populasinya 5,5% dari populasi seluruh warga Indonesia, memiliki 14,18% dari populasi sapi potong nasional. Untuk itu diperlukan angkutan yang dapat membawa sapi teresebut sopesi diperecara aman serta lauak untuk beroperasi di perairan Indonesia. Maka dirancang kapal ternak katamaran, dengan harapan akan mencukupi kebutuhan daging sapi nasional. Kapal ternak katamaran memiliki bobot mati 800 ton, dengan panjang 88 meter, lebar 26,75 meter, dan sarat 2,82 meter, beroperasi pada kecepatan 20 knot. Kapal ternak katamaran mampu mengangkut hingga 1200 ekor sapi dari Kupang, Waingapu, dan Bali, menuju Surabaya dan Jakarta. Pada tinjauan stabilitas dan olah gerak, kapal ternak katamaran telah sesuai dengan kriteria khusus untuk kapal ternak. Kapal ternak katamaran didesain khusus untuk perairan Indonesia, dengan rata-rata tinggi gelombangnya yang mencapai 4 meter. Berdasarkan analisa respon kapal terhadap gelombang didapat tegangan terbesar yang terjadi adalah sebesar 40,15 MPa, sangat jauh dari tegangan ijin sebesar 184,125 MPa. Hal ini berarti, kapal ternak katamaran yang dirancang aman untuk mengarungi perariran Indonesia.

Keywords: Livestock Carrier; Kapal Ternak; Katamaran; Respon Struktur;

Article Metrics:

  1. Harianto, “Mengatasi problematika pasokan daging sapi,” 2013. [Online]. Available: www.economy.okezone.com /read/2013/09/20/279/869240/mengatasi-problematika-pasokan-daging-sapi, 2013.
  2. Badan Pusat Statistik, “Populasi Sapi Potong menurut Provinsi,” Jakarta, 2016.
  3. E. S. Oliveros, “Effects of sea transport motion on sheep welfare,” Queensland, 2014.
  4. AMSA, Marine Order 43 ( Cargo and cargo handling — livestock ) 2006 in effect under the Navigation Act 2012 This is a compilation of Marine Order 43 ( Cargo and cargo handling — livestock ) 2006 prepared on 5 June 2013 , taking into account modifications made b, vol. 43, no. June. 2013.
  5. A. G. T. S. Altmann, “Engineering and design of vessels for sea transport of animals : the Australian design regulations for livestock carriers,” vol. 44, no. 1, pp. 247–258, 2008.
  6. LLoyd’s Register, “Rules and Regulations for the Classification of Special Service Craft,” London, 2014.
  7. F. Zouridakis, “A Preliminary Design Tool for Resistance and Powering Prediction of Catamaran Vessels,” Massachusetts, 2005.
  8. A. F. Molland and S. R. Turnock, Ship Resistance and Propulsion. Cambridge: Cambridge University Press, 2011.
  9. E. B. Djatmiko, Perilaku dan Operabilitas Bangunan Laut di Atas Gelombang Acak. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2012.
  10. P. Y. Arianto, “Analisa Keandalan Struktur Akibat Beban Gelombang Pada Kapal Perang Tipe Corvette,” Surabaya, 2016.
  11. R. B. Zubaly, Applied Naval Architecture. Maryland: Cornell Maritime Press, 1996.