DESAIN EMBUNG PADA DAERAH CEKUNGAN AIR TANAH (CAT) DAN NON ALUVIAL DI KECAMATAN MIJEN – KOTA SEMARANG

evendi evendi, elia sangapta, robert j.kodoatie, Sutarto Edhisono

Abstract


ABSTRAK

Ngadirgo adalah salah satu desa di Kecamatan Mijen Kota Semarang yang memiliki karakteristik hidrogeologis berupa Cekungan Air Tanah (CAT) Semarang – Demak daerah imbuhan. Kedalaman muka air tanah pada akuifer tidak tertekan adalah ±30 m dibawah permukaan. Pada daerah CAT air mengalir didalam tanah baik pada tanah dangkal hingga ke lapisan dibawahnya. Tanah dasar pada daerah tersebut adalah non aluvial, yaitu keras dan kedap air karena terbentuk dari desintegrasi formasi batuan. Ketersediaan air sungai yang terdapat pada daerah cekungan air tanah lebih banyak dari pada daerah bukan cekungan air tanah karena air hujan akan meresap kedalam tanah menjadi aliran dasar. Untuk memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi maka diperlukan embung, sehingga bisa menampung air pada musim hujan untuk digunakan pada musim kemarau. Ketersediaan air dihitung menggunakan metode F. J Mock yang telah dimodifikasi. Embung diperlukan di sungai Blorong dengan Luas DAS 5,014 km2 untuk mengairi daerah irigasi seluas 109 Ha. Embung ini merupakan urugan tanah yang didesain dengan debit banjir rencana periode ulang 25 tahun menggunakan metode HSS Gama 1 dengan kapasitas sebesar 29,48 m3/detik. Volume tampungan sebesar 5.498.487,961 m3 diharapkan bisa memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi. Material timbunan embung menggunakan tanah dari daerah sekitar lokasi. Pembangunan embung ini sangat bermanfaat bagi kelestarian dan keberlangsungan sumber daya air. Embung direncanakan akan dibangun setinggi 15 m dengan lebar puncak 6 m dengan estimasi biaya Rp 8.335.336.463,00 (Delapan Miliar Tiga Ratus Tiga Puluh Lima Juta Tiga Ratus Tiga Puluh Enam Ribu Empat Ratus Enam Puluh Tiga Rupiah).


Keywords


Embung; Mijen; Cekungan Air tanah; non aluvial

Refbacks

  • There are currently no refbacks.