Hubungan antara Minat Memasak dan Kebiasaan Memasak terhadap Intensitas Menonton Tayangan Junior MasterChef Indonesia

Published: 30 Sep 2014.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Intensitas menonton adalah tingkat keseringan seseorang menonton setiap penyampaian
pesan atau informasi tentang barang ataupun gagasan yang menggunakan media massa. Adanya
terpaan-terpaan pesan atau informasi yang mengenai diri khalayak akan membuat mereka cenderung
memberikan respon terhadap program yang disajikan dalam media massa. Memasak adalah
menghantarkan panas ke dalam makanan atau proses pemanasan bahan makanan. Dengan demikian
proses memasak hanya terjadi selama panas atau terapan pada suatu bahan makanan sedang
berlangsung.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara minat memasak dan kebiasaan
memasak terhadap intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia. Teori penggunaan dan
kepuasan (uses and gratification) digunakan untuk menguatkan penelitian ini. Minat memasak diukur
dengan indikator keinginan. Kebiasaan memasak diukur dengan indikator frekuensi. Sedangkan
intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia diukur dengan indikator frekuensi, durasi,
dan perhatian. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif.
Populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak usia 8-13 tahun. Teknik pengambilan sampel yang
dilakukan adalah non random accidental sampling yang berjumlah 50 orang. Adapun teknik analisis
data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis koefisien korelasi rank Kendall
menggunakan perhitungan program SPSS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara minat memasak dengan
intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia. Hal ini dibuktikan berdasarkan
perhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,01 dengan
koefisien korelasi sebesar 0,533. Oleh karena sig sebesar 0,00 < 0,01; maka kesimpulan yang dapat
diambil adalah bahwa menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho). sedangkan
untuk kebiasaan memasak dengan intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia terdapat
hubungan karena uji hipotesis menunjukkan bahwa diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar
0,241. Oleh karena sig sebesar 0,045 < 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa
menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho).
Key words : Minat Memasak, Kebiasaan Memasak, Intensitas Menonton Tayangan Junior
MasterChef Indonesia

Article Metrics: