Konstruksi Relasi Komunikasi Keluarga dalam Film I Not Stupid Too

Published: 30 Sep 2014.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Keluarga adalah sebuah lembaga yang masih memiliki nilai sakral di dalam masyarakat.
Penggambaran keluarga dalam perfilman Timur sering menjadikan konflik keluarga menjadi
fokus utama dalam cerita. Hal ini dapat dilihat dari salah satu film yang berjudul I Not Stupid
Too, sebagai contoh film produksi Singapura yang menceritakan mengenai hubungan
komunikasi keluarga yaitu antara orang tua dan anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengungkap gagasan mengenai normalitas keluarga melalui pesan teks yang ditampilkan
dalam film I Not Stupid Too, serta penjabaran bagaimana konstruksi relasi komunikasi
keluarga dikonstruksi dan dikomunikasikan kepada publik. Ahli studi keluarga seperti Brock
dan Barnard (1999) dan Walsh (1982) melihat keberfungsian keluarga sebagai sistem
keluarga yang sehat yang bisa dilihat dari struktur dan proses interaksi dalam keluarga.
Keluarga memainkan peranan penting dalam membangun kesejahteraan, pengasuhan, dan
pendidikan dasar kepada anggota-anggota keluarga.
Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa film I Not Stupid Too yang
menggambarkan sebuah disfungsi keluarga sebagai fokus utamanya dan telah menjadi salah
satu contoh yang jelas tentang pergeseran media dalam menggambarkan sebuah relasi
komunikasi keluarga.Menggambarkan sebuah keluarga dalam film I Not Stupid Too berarti
memproduksi tanda-tanda yang ada dalam film I Not Stupid Too yang berhubungan dengan
keluarga, di mana tanda-tanda tersebut meliputi story yang menjelaskan mengenai peristiwa
dalam film I Not Stupid Too. Peristiwa dalam sebuah cerita merupakan suatu kesatuan yang
membentuk plot sebagai pengaturan kejadian-kejadian yang terjadi. Hingga tanda yang
berhubungan dengan ekspresi wacana atau discourse dalam film I Not Stupid Too.
Film I Not Stupid Too memperlihatkan keluarga yang memiliki disfungsi di dalamnya
yang mencakup ketidak harmonisan, acuh tak acuh antar anggota keluarga hingga tidak ada
rasa saling memiliki satu sama lain. Pada intinya film I Not Stupid Too menggambarkan
keluarga yang masih terbelenggu dengan normalitas keluarga yang ada, terbukti dalam film
tersebut menggambarkan yang menjadi panutan dalam masyarakat adalah orang tua.
Disfungsi keluarga dalam film ini ditafsirkan sebagai pecahnya suatu unit keluarga,
terputusnya atau retaknya struktur peran sosial jika satu atau beberapa anggota keluarga gagal
menjalankan kewajiban dan peran mereka. Unsur-unsur seperti sudut pandang, narator, dan
karakter yang terdapat dalam film I Not Stupid Too memperlihatkan bahwa pola asuh yang
diterapkan oleh kedua keluarga berakibat pada buruknya perkembangan anak.
Kata Kunci: Film, Konstruksi, Analisis Naratif

Article Metrics: