HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN SINETRON REMAJA DI TELEVISI DAN INTERAKSI PEER GROUP DENGAN PERILAKU HEDONIS PADA REMAJA

Received: 19 Sep 2013; Published: 31 Oct 2013.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang
1
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN SINETRON
REMAJA DI TELEVISI DAN INTERAKSI PEER GROUP DENGAN
PERILAKU HEDONIS PADA REMAJA
Asri (2013)
Mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro
ABSTRAKSI
Ditinjau dari sisi psikologis, perilaku hedonis sangat membahayakan remaja, remaja
akan mengambil simplifikasi kehidupannya menjadi parameter perkembangan kehidupannya di
masa mendatang, sehingga nafsu kemewahan dan kemegahan membudaya dalam dirinya,
akibatnya apabila semua bentuk kemewahan dan kemegahan tersebut tidak dapat dipenuhi
akan membuat remaja frustrasi dan kecewa yang berkepanjangan. Dari beberapa faktor yang
dianggap menyebabkan perilaku hedonis remaja, maka tujuan penelitian ini adalah mengetahui
hubungan antara intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang sarat dengan sajian
kemewahan dan kemegahan serta tingginya interaksi remaja bersama peer group dengan
perilaku hedonis.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan paradigma positistik dengan tradisi sosiopsikologis,
sehingga tipe penelitiannya kuantitatif. Teori yang digunakan ialah hirarki of effect
dan teori belajar sosial Bandura, diharapkan mampu menjawab tujuan penelitian. Obyek
penelitian adalah siswa SMA Negeri 1 Kota Semarang, yang kesehariannya sarat dengan
indikasi perilaku hedonis, yang kepadanya diberikan kuesioner. Sampel diambil menggunakan
proportional random sampling yaitu 77 siswa, dengan rumus statistik korelasi rank Kendall.
Hasil penelitian adalah: 1) Terdapat hubungan antara intensitas intensitas menonton
tayangan sinetron remaja di televisi dengan perilaku hedonis pada remaja. Semakin tinggi
intensitas menonton sinetron remaja di televisi, maka semakin rendah perilaku hedonis dari
remaja tersebut; 2) Terdapat hubungan antara interaksi sosial dengan peer group dengan
perilaku hedonis pada remaja. Semakin tinggi interaksi sosial peer group, maka akan semakin
rendah perilaku hedonis pada remaja tersebut.
LATAR BELAKANG
Kecenderungan masyarakat untuk hidup mewah, berfoya -foya, bersuka ria, dan bergaya
hidup secara berlebih-lebihan, begitu terlihat di lingkungan masyarakat kita sehari-hari.
Kecenderungan tersebut sering diistilahkan sebagai budaya hedonisme, yang mempunyai arti
suatu budaya yang mengutamakan aspek keseronokan diri, misalnya, freesex, minum-minuman
keras, berjudi, berhura-hura, berhibur di club-club malam, dan sebagainya. Berbagai bentuk
perwujudan dari budaya hedonisme tersebut begitu mempesonakan dan menggiurkan bagi
banyak orang, dan dapat dikatakan menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat yang merasa
dirinya sebagai masyarakat modern (Ayuningtias, 2013:2).
Perilaku hedonistik pada remaja tersebut seperti; membawa mobil saat ke sekolah,
menggunakan handphone bermerk dan mahal (Black Berry) dan secara proporsional kurang
layak buat remaja, dandanan yang terkesan kurang sopan dan seronok ala artis, main ke mallmall,
dinner di McDonald, dan perilaku hura-hura tanpa makna lainnya yang sudah seperti
membudaya pada remaja akhir-akhir ini.
Menurut Titi Said, sinteron yang diklaim sebagai sinteron remaja tersebut, banyak
menyajikan perilaku remaja yang mengajari anak-anak dan remaja untuk berpenampilan seksi,
berorientasi hedonistic dan berpola hidup senang, serba mudah dan serba mewah. Adegan
sinetron pun seringkali ditiru dalam perilaku mereka sehari-hari, atau jika tidak ditiru, minimal
akan mengkontaminasi pikiran polos anak-anak, karena sebenarnya orientasi yang relevan bagi
remaja adalah nilai-nilai budaya kerja keras dan menghargai karya. Apalagi, sekitar 60 juta anak
Indonesia menonton acara seperti itu di televisi selama berjam-jam hampir sepanjang hari.
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang
2
Sebagian besar masyarakat sudah tahu bahwa sinetron hanya fiksi belaka, tetapi yang
tidak disadari adalah efek imitasi/peniruan yang bisa ditimbulkannya. Memang karakter setiap
remaja berbeda, tapi pada kenyataannya reaksi yang ditimbulkan media cenderung seragam.
Misalnya sinetron yang mempertontonkan siswa SMA yang pergi ke sekolah dengan mobil
mewah, banyak ditiru para pelajar saat ini dengan membawa mobil ke sekolah. Begitu juga
dengan cara berpakaian para pelajar perempuan dalam sinetron, mulai ditiru para remaja saat
ini. Fenomena lain yang meniru sinetron adalah westernisasi (aksi kebarat-baratan) seperti
bahasa, kuliner dan pakaian yang saat ini jadi trend di kalangan remaja. Hal ini bisa disaksikan
di mall-mall, bagaimana anak-anak remaja berdandan bagaikan artis sinetron. Bahkan sebagai
akibat kegemaran remaja mengunjungi mall-mall di pusat perbelanjaan harus sampai membolos
sekolah, sehingga tidak jarang remaja yang masih siswa SMA/SMK terjaring razia disiplin yang
dilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Fenomena semacam ini dirasakan sangat getir bagi
semua pihak, khususnya; orangtua, pendidik, ulama, tokoh agama dan masyarakat dan pihak
pemerintah sendiri.
Ketatnya pergaulan remaja dalam ikatan teman sebaya yang cenderung represif, semakin
mengindikasikan bahwa tayangan sinetron hedonis tersebut memang merupakan parameter
pergaulan remaja pada umumnya, sehingga bilamana ada salah seorang remaja yang tidak
mampu mengadopsi nilai-nilai hedonis tersebut, sudah barang tentu akan diisolasi oleh
kelompok teman sebayanya (peer group). Menonton sinteron remaja yang hedonis, bagi siswa
diibaratkan sebagai tolok ukur tentang perkembangan sikap dan perilaku metropolis yang layak
untuk diadopsi sebagai salah satu bagian dari dirinya, sehingga agar tidak ketinggalan jaman,
maka perlu dan wajib untuk ditonton, dan akibatnya terpaan menonton tayangan sinetron
semacam itu menjadi tinggi dan sudah dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Tolok ukur yang
diperolehnya dari hasil melihat tayangan sinetron kemudian dijadikan bahan masukan dan
diskusi di lingkungan teman sebaya, sebagai sebuah wacana yang layak atau tidak untuk ditiru.
Dengan dominasi pergaulan teman sebaya yang cenderung homogen yang disertai dengan
intensitas menonton tayangan sinetron yang tinggi, diduga akan mewarnai perilaku hedonis
remaja.
Perilaku hedonisme dan konsumtif telah melekat pada kehidupan kita. Pola hidup seperti
ini sering dijumpai di kalangan remaja dan mahasiswa, di mana orientasinya diarahkan
kenikmatan, kesenangan, serta kepuasan dalam mengkonsumsi barang secara berlebihan.
Manusiawi memang ketika manusia hidup untuk mencari kesenangan dan kepuasan, karena itu
merupakan sifat dasar manusia. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapainya. Salah satunya
dengan mencari popularitas dan membelanjakan barang yang bukan merupakan kebutuhan
pokok. Pada kenyataannya pola kehidupan yang disajikan adalah hidup yang menyenangkan
secara individual. Inilah yang senantiasa didorong oleh hedonisme dan konsumenisme, sebuah
konsep yang memandang bahwa tingkah laku manusia adalah mencari kesenangan dalam hidup
dan mencapai kepuasan dalam membelanjakan kebutuhan yang berlebihan sesuai arus gaya
hidup. Penelitian ini akan mengkaji hubungan intensitas menonton tayangan sinteron remaja
dan interaksi dengan peer group dengan perilaku hedonis pada remaja.
PERUMUSAN MASALAH
Dari beberapa faktor yang dianggap menyebabkan perilaku hedonis remaja, maka faktor
tingginya intensitas menonton sinetron remaja yang sarat dengan sajian kemewahan dan
kemegahan serta tingginya interaksi remaja bersama peer group yang berkecenderungan untuk
melakukan soliditas dan homogenitas perilaku sebagai perwujudan solidaritas sosial, dianggap
sebagai prediktor. Dengan demikian permasalahan yang diajukan adalah “Apakah intensitas
menonton tayangan sinetron remaja di televisi dan interaksi dengan peer group berhubungan
dengan perilaku hedonis pada remaja?”.
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang
3
TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menonton tayangan
sinteron remaja di televisi dan interaksi dengan peer group dengan perilaku hedonis pada
remaja.
KERANGKA TEORI
Paradigma Penelitian
Paradigma penelitian yang dipakai adalah positivistik dengan ttradisi sosiopsikologis.
State of The Art (Penelitian Terdahulu)
No Nama Judul Variabel Hasil
1 Yuyun (2002) Pengaruh Intensitas
Komunikasi Keluarga dan
Konformitas peer group
terhadap Persepsi Remaja
mengenai Informasi
Erotika
Variabel bebas:
1. Intensitas Komunikasi
keluarga
2. konformitas peer group
Variabel terikat:
1. Persepsi remaja
mengenai informasi
erotika
1. Intensitas komunikasi keluarga
berpengaruh positif terhadap
persepsi remaja mengenai
informasi erotika
2. Konformitas peer group
berpengaruh positif terhadap
persepsi remaja mengenai
informasi erotika
3. Intensitas komunikasi keluarga
dan konformitas peer group
berpengaruh terhadap persepsi
remaja mengenai informasi erotika
2 Yudha (2009) Hubungan Intensitas
Menonton Tayangan
Pornografi di Internet dan
Interaksi dengan Peer
Group terhadap Perilaku
Imitasi Remaja dalam
Pacaran
Variabel bebas:
1. Intensitas Menonton
Tayangan Pornografi di
Internet (X1)
2. Interaksi dengan Peer
Group (X2)
Variabel terikat:
Perilaku Imitasi Remaja
dalam Pacaran (Y)
1. Terdapat hubungan antara
Intensitas Menonton Tayangan
Pornografi di Internet dengan
Perilaku Imitasi Remaja dalam
Pacaran
2. Terdapat hubungan antara
Interaksi dengan peer group
dengan Perilaku Imitasi Remaja
dalam Pacaran
3 Anggarizaldy,
(2007)
Hubungan Intensitas
Mendengarkan Program
Acara Skuldesak di Radio
TRAX FM dan
Penggunaan Bahasa Gaul
Oleh Penyiar Skuldesak
Radio TRAX FM dengan
Perilaku Imitasi Bahasa
Gaul Pada Remaja
Variabel bebas:
1. Intensitas
Mendengarkan
Program Skuldesak
(X1)
2. Penggunaan Bahasa
Gaul oleh Penyiar
Skuldesak (X2)
Variabel terikat:
Perilaku Imitasi Bahasa
Gaul pada Remaja (Y)
1. Terdapat hubungan positif antara
intensitas mendengarkan Program
Skuldesak dengan Perilaku Imitasi
Bahasa Gaul pada Remaja
2. Terdapat hubungan positif antara
penggunaan bahasa gaul oleh
penyiar Skuldesak dengan
Perilaku Imitasi Bahasa Gaul pada
Remaja
Hubungan antara Intensitas Menonton Sinetron Remaja dengan Perilaku Hedonis pada
Remaja
Intensitas menonton media televisi tidak hanya menyangkut apakah seseorang secara fisik
cukup dekat dengan kehadiran media massa, tetapi apakah seseorang itu benar-benar terbuka
terhadap pesan-pesan media tersebut. Intensitas menonton media televisi merupakan kegiatan
mendengarkan, melihat, dan membaca pesan media massa atapun mempunyai pengalaman dan
perhatian terhadap pesan tersebut, yang dapat terjadi pada tingkat individu ataupun kelompok
(Shore, 2005:26).
Menurut pendapat Rosengren, penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yang
digunakan dalam berbagai media, jenis isi media yang dikonsumsi, dan berbagai hubungan
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang
4
antara individu konsumen dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media secara
keseluruhan. Intensitas adalah banyaknya informasi yang diperoleh melalui media, yang
meliputi frekuensi, atensi dan durasi penggunaan pada setiap jenis media yang digunakan
(Rakhmat, 2004:66). Dengan demikian intensitas menonton sinetron remaja adalah banyaknya
informasi yang diperoleh dari aktivitas menonton sinetron remaja di televisi, yang meliputi;
frekuensi, atensi dan durasi penggunaan.
Rogers (1996:192) mengatakan bahwa dampak sosial dari teknologi komunikasi baru
adalah sesuatu yang diharapkan, tidak langsung dan memenuhi, sering bersamaan dengan
terjadinya dampak yang tidak diharapkan tidak langsung dan tidak memenuhi keinginan).
Televisi memiliki efek secara hirarkis terhadap pemirsanya yaitu:
1. Kognitif. Kemampuan pemirsa menyerap atau memahami acara yang ditayangkan televisi
yang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa. Remaja akan menyerap dan memahami
informasi serta pesan-pesan yang mengandung nilai-nilai hedonis dari televisi, misalnya
tentang bagaimana orang-orang berperilaku mewah, serba mudah dan serba instan, yang
mana hal-hal tersebut akan menjadi semacam pengetahuan bagi siswa remaja.
2. Afektif. Pemirsa dihadapkan pada trend aktual yang ditayangkan televisi. Dalam hal ini
remaja akan meniru simbol, properties, gaya rambut, cara bergaul dan sebagainya, dari
bintang idola mereka di televisi.
3. Overt behavior (perilaku). Proses tertanamnya nilai-nilai budaya hedonis dalam hal ini
yang berkaitan dengan nilai-nilai hedonistik dalam kehidupan sehari-hari (Rakhmat,
2004:57).
Hubungan antara Interaksi Sosial Peer Group dengan Perilaku Hedonis pada Remaja
Proses terjadinya imitasi dalam interaksi sosial, sebagaimana dikatakan oleh Bandura
dalam Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial) bahwa orang belajar dari yang lain,
melalui observasi, peniruan, dan pemodelan. Teori belajar sosial ini banyak berbicara mengenai
perhatian, identifikasi, dan imitasi. Teori belajar sosial menjelaskan perilaku manusia dalam hal
interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruh
lingkungan (Rakhmat, 2004:74)
Teori belajar sosial dari Bandura juga menyatakan bahwa individu akan meniru perilaku
orang lain jika situasinya sama dengan ketika peristiwa yang ditirunya diperkuat di masa lalu.
Sebagai contoh, ketika seorang anak muda meniru perilaku orangtuanya atau saudara tuanya,
imitasi ini sering diperkuat dengan senyuman, pujian, atau bentuk-bentuk persetujuan lain.
Demikian juga, ketika anak-anak menirukan perilaku teman-temannya, bintang olah raga, atau
selebritis, peniruan ini akan diperkuat dengan persetujuan teman sebayanya.
Dalam penelitian ini model yang dimaksudkan dalam teori belajar sosial adalah di mana
siswa akan belajar mengenai nilai-nilai sosial yang berkembang dari lingkungan teman
sebayanya, di mana jika lingkungan teman sebayanya menganut nilai hedonis, maka individu
lain yang terlibat dalam interaksi dalam peer group mencoba untuk melakukan perhatian,
identifikasi dan imitasi, sehingga bilamana nilai hedonis tersebut sesuai dengan keinginannya,
besar kemungkinan siswa akan belajar tentang nilai-nilai dan perilaku hedonis. Namun jika
interaksi dengan lingkungan teman sebayanya menganut nilai-nilai religius, maka besar
kemungkinan individu akan memiliki nilai dan perilaku yang religius pula. Dalam hal ini,
individu, khususnya siswa remaja yang masih berada dalam tahap transisi akan senantiasa
mencari jati dirinya sehingga menemukan apa yang dicarinya dari lingkungan sosial di mana
siswa atau remaja tersebut menaruh respek. Dalam tinjauan literatur, lingkungan sosial primer
yang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku remaja antara lain; orangtua, lingkungan sekolah
dan lingkungan teman sebaya (peer group). Semakin tinggi individu berinteraksi dengan peer
group, maka akan semakin tinggi pula tingkat kesesuaian perilakunya dengan nilai-nilai peer
group.
Dari teori belajar sosial Bandura di atas maka dapat dikatakan bahwa lingkungan sosial
yang primer dari individu akan mengajarkan pada para remaja untuk bersikap dan berperilaku
sebagaimana yang diyakini dan dipercayai oleh lingkungan sosial tersebut, di mana lingkungan
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang
5
sosial tersebut berasal dari teman sebaya dan media televisi. Dalam perspektif teori belajar
sosial, remaja yang berada dalam transisi mengalami suatu fase yang dinamakan pencarian jati
diri, sehingga lingkungan sosial di mana remaja bergaul akan banyak mewarnai nilai dan sikap
hidupnya, selain pengaruh dari orangtua dan sekolah. Perubahan ini apabila tidak mendapatkan
suatu respon yang bijak dari segenap pengajar, orangtua dan lingkungan sosial di mana siswa
bertempat tinggal dikhawatirkan akan mampu mempengaruhi mental siswa kepada norma dan
nilai sosial yang menyimpang.
Penyimpangan tersebut akan semakin kentara bilamana remaja bergaul dalam lingkungan
peer group yang menganut nilai dan paham hedonis, di mana secara perlahan-lahan proses jati
diri yang belum ditemukannya akan dicoba diaplikasikannya ke dalam peniruan sikap dan
perilaku yang dianut oleh kelompok peer groupnya. Nilai-nilai hedonis, seperti; cara
berpakaian, assesories, properties, sarana dan prasarana, gaya hidup dan hobby yang dibawa
oleh kelompok peer groupnya, secara perlahan akan diadopsi sebagai salah satu bagian dari
nilainya, dan di sini barangkali remaja berani mengatakan inilah proses pencarian jati dirinya,
yaitu sebagaimana yang dilakukan sikap dan perilaku anggota peer group lainnya.
Gambar 1
Kerangka Pemikiran Teoritis
HIPOTESIS
1. Terdapat hubungan antara intensitas intensitas menonton tayangan sinetron remaja di
televisi dengan perilaku hedonis pada remaja
2. Terdapat hubungan antara interaksi sosial dengan peer group dengan perilaku hedonis pada
remaja.
DEFINISI OPERASIONAL
1. Intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisi (X1), indikator:
a. Frekuensi menonton tayangan sinetron remaja di televisi
b. Atensi, tingkat perhatian individu dalam menonton sinetron remaja di televisi
c. Durasi, lama waktu yang dihabiskan individu untuk menonton sinetron remaja di
televisi.
2. Interaksi dengan peer group (X2), akan diukur dengan indikator:
a. Frekuensi, seberapa sering individu berinteraksi dengan peer group.
b. Durasi, yaitu lamanya waktu yang dihabiskan individu setiap kali berinteraksi dengan
peer group
c. Keteraturan, yaitu kontinuitas individu dalam berinteraksi dengan peer group-nya.
d. Keterbukaan, yaitu kesediaan untuk membuka diri tentang informasi yang tersembunyi
mengenai diri sendiri terhadap anggota lain dalam peer group
e. Empathy, yaitu kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi anggota lain di dalam
peer group.
f. Dukungan, yaitu sikap mendung yang terdiri dari sikap deskriptif, bersikap spontan
dan bersikap provisional dengan berpikiran terbuka serta bersedia mendengar
pandangan yang berlawanan dengan anggota lain dalam peer group
3. Perilaku hedonis pada remaja (Y), dengan indikator:
a. Sikap (afektif), diukur dengan:
1) Kecenderungan terhadap kemewahan
2) Kecenderungan untuk berfoya-foya
3) Kecenderungan terhadap kemudahan
b. Perilaku (overt behavior), diukur dengan:
Intensitas Menonton Tayangan
Sinetron (X1)
Perilaku Hedonis pada
Remaja (Y)
Interaksi dengan Peer Group
(X2)
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang
6
1) Tingkat menghindari kesukaran
2) Tingkat pemuasan hasrat
3) Tingkat pemenuhan keinginan
4) Tingkat pemuasan hawa nafsu
METODE PENELITIAN
Tipe Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian eksplanatori (pengujian hipotesis).
Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Semarang,
sebanyak 334 siswa
2. Sample size
Dengan rumus Yamane diketahui sample size sebesar 77 responden.
Alat dan Teknik Pengumpulan Data
Sebagai alat atau instrumen pengumpulan data dalam penelitian ialah kuesioner yang
dibagikan kepada responden untuk diisi jawabannya dengan bantuan teknik wawancara.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data akan berupa:
1. Analisis deskriptif
Dalam analisis kualitatif atau deskriptif adalah penyajian deskripsi temuan penelitian
secara naratif dengan bantuan tabel frekuensi (tabel univariat) dan tabel silang (tabel
multivariat).
2. Analisis inferensial
Analisis kuantitatif atau inferensial akan digunakan untuk pengujian hipotesis
penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi rank Kendall.
HASIL PENELITIAN
1. Temuan Deskriptif (kualitatif)
a. Sebagian besar responden tergolong memiliki intensitas menonton tayangan sinetron
remaja di televisi menengah ke bawah. Fenomena seperti ini memberikan arahan
bahwa secara umum tayangan sinetron remaja di televisi kurang diminati oleh
kalangan remaja. Hal ini dikarenakan sinetron dimaksud memiliki jam tayang yang
bersamaan dengan aktivitas responden yang lain, seperti; saat bersantai bersama
keluarga, bersama teman, jalan-jalan ke tempat hiburan, mall, juga belajar dan lain
sebagainya.
b. Tingkat interaksi sosial dalam peer group pada responden tergolong menengah ke atas.
Tingginya tingkat interaksi sosial tersebut disebabkan adanya perasaan kebersamaan,
baik dalam perkembangan psikologis, sosial, edukatif maupun ekonomi, sehingga
menjadi daya perekat sosial di antara mereka. Fenomena ini memberikan arahan bahwa
walaupun secara fisik, intensitas pertemuan dan komunikasi berlangsung tinggi, namun
dalam aspek afektif dan behavior, bentuk ikatan sosial antara anggota kelompok dalam
peer group tergolong masih kurang, yang dikarenakan adanya keterbatasan
sosiopsikologis pada masing-masing anggota akibat adanya kepentingan dan
kebutuhan yang bersifat individual dan sosial, seperti masih adanya kebutuhan untuk
berinteraksi dengan lingkungan keluarga dan lingkungan sosial di luar lingkungan peer
group.
c. Temuan memperlihatkan sebagian besar responden tergolong memiliki perilaku
hedonis tingkat menengah ke atas. Adanya kecenderungan semacam ini dikarenakan
pada responden ditemukan tentang tingginya sikap menghindari kesulitan, tingginya
kecenderungan untuk mencari kemudahan, adanya kecenderungan pada individu untuk
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang
7
menggunakan bantuan orang lain apabila mengalami kesulitan. Pilihan-pilihan sikap
responden tersebut merupakan karakteristik perilaku hedonis, di mana perilaku
individu yang memiliki kecenderungan untuk bermegah-megah, kehidupan mewah
dengan mengesampingkan kerja keras, tekun dan giat dalam meraihnya.
2. Temuan Inferensial (Kuantitatif)
a. Berdasarkan uji hipotesis penelitian di atas, menunjukkan bahwa hipotesis penelitian
diterima. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil penelitian yang diperoleh pada koefisien
korelasi Kendall antara intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisi (X1)
dengan perilaku hedonis remaja (Y) sebesar -0,1331 dan setelah ditransformasikan ke
dalam rumus Z menghasilkan nilai Z sebesar -1,713. Hasil konsultasi memperlihatkan
bahwa nilai Z-hitung -1,713 > nilai Z-tabel5% -1,64, sehingga Ho ditolak dan Ha
diterima pada taraf kepercayaan 95 persen. Dengan demikian, hipotesis yang
menyatakan terdapat hubungan antara intensitas menonton tayangan sinetron remaja
televisi dengan perilaku hedonis remaja dapat diterima. Hal ini dapat dikatakan bahwa
ketika individu mempunyai intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisi
tinggi, maka berpotensi menurunkan perilaku hedonis remaja yang bersangkutan.
Begitu juga sebaliknya, ketika intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisi
rendah, maka akan berpotensi menaikkan perilaku hedonis remaja yang bersangkutan.
b. Dari perhitungan manual ditemukan koefisien  sebesar -0,2608 yang menghasilkan
nilai Z sebesar -3,356. Sedangkan nilai Z-tabel (lihat lampiran-7) pada taraf
signifikansi 5% (Zt5%) sebesar |-1,64|, sehingga hasil konfirmasi antara kedua nilai Z
tersebut memperlihatkan nilai Z-hitung |-3,356| > Zt5% |-1,64|, sehingga hipotesis
penelitian (Ha) diterima pada taraf signifikansi 5%. Dengan demikian antara interaksi
peer group dengan perilaku hedonis remaja terdapat hubungan yang sangat signinikan.
Variabel intensitas sosial peer group secara statistik berhubungan negatif dengan
perilaku hedonis siswa SMA di Semarang. Semakin tinggi interaksi sosial peer group,
semakin rendah perilaku hedonis pada siswa. Hasil perhitungan statistik ini bersesuaian
dengan temuan berdasarkan analisis tabel silang. Fenomena semacam ini memiliki
makna bahwa interaksi sosial peer group dengan dengan segala dinamika sosial
ekonomi dan budaya, justru berpotensi menurunkan sikap dan perilaku hedonis siswa
remaja yang bersangkutan.
3. Diskusi
a. Implikasi Teoritik
Dari hasil hubungan variabel intensitas menonton sinetron remaja di televisi
berhubungan negatif dengan perilaku hedonis remaja, memberikan arahan ketika
remaja mempunyai intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang tinggi, secara
otomatis dapat dikatakan bahwa waktunya untuk merealisasikan (manifestasi) perilaku
hedonis menjadi berkurang, karena adanya aktivitas lain pada waktu yang bersamaan
dengan spasial yang berbeda. Hal ini sejalan dengan pendapat Rakhmat yang
mengatakan bahwa intensitas menonton adalah banyaknya informasi yang diperoleh
melalui media, yang meliputi frekuensi, atensi dan durasi penggunaan pada setiap jenis
media yang digunakan (Rakhmat, 2004:66). Intensitas menonton sinetron remaja
adalah banyaknya informasi yang diperoleh dari aktivitas menonton sinetron remaja di
televisi, yang meliputi; frekuensi, atensi dan durasi penggunaan.
Terbuktinya hipotesis penelitian ini, mengasumsikan ketika ada remaja
mengalami intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang tinggi, maka otomatis
remaja yang bersangkutan alam memiliki perilaku hedonis yang tinggi pula, namun
demikian hasil dari penelitian ini tidak menyatakan demikian, justru sebaliknya, di
mana semakin tinggi intensitas menonton sinetron remaja di televisi, maka akan
semakin rendah perilaku hedonis pada remaja. Peneliti melakukan kemungkinankemungkinan
yang terjadi ketika hasil penelitian ini menyatakan bahwa intensitas
menonton tayangan sinetron di televisi berhubungan negatif dengan perilaku hedonis
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang
8
remaja. Peneliti menarik kembali teori yang digunakan untuk menjelaskan hubungan
antara keduanya, yaitu hirarki efek media, di mana pertemuan media dengan khalayak
akan berlangsung dalam tiga tingkatan (level) intensitas, yaitu; kognitif, sikap dan over
behavior. Dalam ketiga level (tingkatan) ini terdapat salah satu faktor yang
mempengaruhi perilaku hedonis tersebut terjadi. Menurut hirarki efek dan teori belajar
sosial (yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara interaksi peer group
dengan perilaku hedonis remaja) bahwa kita belajar tidak hanya dari pengalaman
langsung tetapi dari peneladanan atau peniruan, dibuktikan dalam hubungan kedua
variabel ini. Televisi bukan salah satu faktor penentu lingkungan yang kuat dalam
munculnya perilaku hedonis. Remaja tidak hanya melakukan peniruan dari televisi
saja, walaupun dalam penelitian ini menyatakan bahwa televisi berkorelasi negatif
dengan perilaku hedonis remaja. Faktor lingkungan lain seperti keluarga juga menjadi
penentu dalam proses perilaku hedonis.
Berdasarkan kajian yang telah diuraikan di atas, maka dapat dimaknai bahwa
hubungan yang timbul akibat adanya tayangan sinetron di televisi dengan perilaku
hedonis remaja dapat berupa pengaruh positif dan negatif. Mereka dapat terpengaruh
ke arah yang positif atau ke arah yang negatif tergantung pada pribadi masing-masing
dari remaja tersebut. Sinetron di televisi berpengaruh terhadap remaja karena
kemampuan menciptakan kesan dan persepsi bahwa suatu muatan dalam layar kaca
menjadi lebih nyata dari realitasnya, sehingga mereka ingin mencoba apa yang mereka
lihat di televisi itu agar dapat disebut sebagai remaja gaul di lingkungannya.
Implikasi teoritik yang bisa diajukan adalah karena hubungan menonton sinetron
remaja di televisi dengan perilaku hedonis negatif, maka memunculkan pemikiran
bahwa pertemuan antara anak dengan media massa (khususnya saat menonton remaja
di televisi), diduga tidak lebih hanya dimanfaatkan untuk mengetahui trend dan gaya
hidup populer di kalangan remaja perkotaan, yang sekaligus dianggap sebagai aktivitas
katarsis atas rutinitas anak (siswa) terhadap tingkat kepadatan proses belajar belajar di
sekolah. Hal ini sejalan dengan ditandai semakin banyaknya aktivitas ekstra kurikuler
dan pelajaran tambahan yang seringkali membuat anak (remaja) menjadi bosan
(boring).
b. Implikasi praktis
Implikasi praktis dari hasil penelitian adalah terlepas dari besar kecilnya
pengaruh yang disebabkan oleh tayangan sinetron remaja di televisi yang sarat
mengumbar sikap dan perilaku hedonis, maka optimalisasi peranan keluarga dalam
membentengi anak remajanya mutlak semakin ditingkatkan. Hal ini bisa dilakukan
salah satunya adalah melalui pendampingan yang selalu disertai dengan diskusi antara
orangtua dengan anak remaja, terkait dampak perilaku hedonis bagi pencapaian masa
depan anak remaja yang bersangkutan. Dalam hal ini maka intensitas komunikasi
antara anak remaja dengan orangtua bukan saja optimal pada saat melakukan
pendampingan, akan tetapi bisa juga dilakukan melalui media-media lainnya, seperti;
saat makan bersama, saat berwisata, bersantai dan forum komunikasi interpersonal
lainnya, yang sudah barang tentu diikuti adanya peningkatan perhatian orangtua
terhadap kebutuhan dan kepentingan studi anaknya.
c. Implikasi Sosial
Dengan terbuktinya hipotesis penelitian, implikasi sosial yang bisa diambil
adalah tayangan sinetron remaja di televisi memang memiliki potensi destruktif
(merusak) bilamana khalayak mengalami terpaan yang sangat tinggi, dalam arti
pertemuan antara dengan tayangan dimaksud berlangsung dalam intensitas yang sangat
tinggi. Namun bilamana pertemuan tersebut hanya berlangsung dalam durasi yang
relatif singkat (pendek), apalagi selama menonton diselingi dengan seringnya
melakukan pergantian channel televisi, potensi merusak dari tayangan sinetron remaja
di televisi dinilai masih sangat lemah. Namun demikian, sinyalemen dari Titi Said,
tetap relevan untuk dicermati, khususnya bagi pendidik, orangtua, pemerhati sosial,
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang
9
tokoh masyarakat dan tokoh agama, untuk senantiasa mewaspadai bahaya dari isi
tayangan sinetron remaja di televisi tersebut, yang dalam hal ini lebih intensif dalam
memberikan pembinaan, pengertian dan pemahaman kepada putra-putrinya untuk tidak
terlalu mempercayai kebenaran tayangan sinetron dimaksud, berikut content-content
destruktif yang terkandung.
Bandura dalam Rakhmat (2004) juga menjelaskan bahwa perilaku, lingkungan
dan individu itu sendiri saling berinteraksi satu dengan yang lain. Hal ini berarti
perilaku individu dapat mempengaruhi individu itu sendiri, di samping itu perilaku
juga berpengaruh pada lingkungan, demikian pula lingkungan dapat mempengaruhi
individu, demikian sebaliknya (Walgito, 2003:15). Bilamana berbicara peer group itu
adalah panutan, maka ini menyangkut hubungan antara perilaku peer group dengan
anggotanya, peer group dijadikan model bagi anggotanya, apalagi anggota dalam
kelompok umumnya para remaja.
PENUTUP
1. Kesimpulan
a. Terdapat hubungan negatif antara intensitas intensitas menonton tayangan sinetron
remaja di televisi dengan perilaku hedonis pada remaja.
b. Terdapat hubungan negatif antara interaksi sosial dengan peer group dengan perilaku
hedonis pada remaja.
2. Saran
a. Saran Akademis
Dalam rangka mengurangi atau bahkan mengeliminasi perilaku hedonis pada remaja,
seharusnya intitusi televisi swasta tetap menyelenggarakan atau menayangkan acara
sinetron remaja di saat prime time, agar supaya perhatian remaja untuk menontonya
tetap rendah.
b. Saran Sosial
Lingkungan sosial primer siswa merupakan pengaruh utama, maka upaya
pembentukan sikap dan perilaku remaja dalam berbagai aspek
dan isu, sebaiknya disosialisasikan melalui kelompok peer group, karena akan
mendapatkan perhatian dan respon yang positif.
c. Saran Praktis
Lingkungan sosial di mana remaja itu bergaul akan banyak mewarnai nilai dan sikap
hidupnya, selain pengaruh dari orangtua dan sekolah. Perubahan ini apabila tidak
mendapatkan suatu respon yang bijak dari segenap pengajar, orangtua dan lingkungan
sosial di mana siswa bertempat tinggal dikhawatirkan akan mampu mempengaruhi
mental siswa kepada norma dan nilai sosial yang menyimpang. Penyimpangan
tersebut akan semakin terlihat bilamana remaja bergaul dalam lingkungan peer group
yang menganut nilai dan paham hedonis, di mana secara perlahan-lahan proses jati diri
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang
10
yang belum ditemukannya akan dicoba diaplikasikannya ke dalam peniruan sikap dan
perilaku yang dianut oleh kelompok peer groupnya.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, Lia. (2009). Mitos Cantik di Media. STAIN Press. Ponorogo.
Azwar, Saefuddin. (2008). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.
Haryatmoko. (2007). Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi. Kanisius.
Yogyakarta.
Hujbers, Theo. (1992). Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah. Kanisius. Yogyakarta.
Liliweri, Alo. (2001). Komunikasi Massa dalam Masyarakat. Citra Aditya Bakti. Bandung.
Littlejohn, Stephen W. (2004). Theories of Human Communication. Fairfield Graphics.
California.
Marwan. (2008). Dampak Siaran Televisi terhadap Kenakalan Remaja. Yayasan Kanisius.
Yogyakarta.
Mc Quail, Denis. (1997). Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta.
Mulyana, Deddy. (2007). Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Rakhmat, Jalaluddin. (2004). Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya. Bandung.
Shore, Larry. (2005). Mass Media For Development A Rexamination of Acces, Exposure and
Impact, Communication The Rural Third World. Preagur. New York.
Soekanto, Soerjono. (2002). Sosiologi suatu Pengantar. Rajawali Press. Jakarta.
Surbakti, EB. (2008). Sudah Siapkah Menikah?. Elek Media Komputindo. Jakarta.
Tubbs, Stewart L & Moss, Sylvia, (1996). Human Communication. Remaja Rosdakarya.
Bandung.
Walgito, Bimo. (2003). Psikologi Sosial. Andi Offset. Yogyakarta.
Walgito, Bimo. (2004). Pengantar Psikologi Umum. Andi Offset. Yogyakarta.
Muhyidi, Muhammad. (2004) Remaja Puber di Tengah Arus Hedonis. Mujahid Press. Bandung.
Jurnal dan Artikel Ilmiah
Ayuningtias, Prasdianingrum. (2013). Pesan Hedonisme dalam Film Layar Lebar “Realita Cinta
& Rock N’Roll” eJournal lmu Komunikasi, 2013, 1 (2): 14-27 ISSN 0000-0000,
ejournal.ilkom.fisip-unmul.org.
Liandra, Dwi Tasya. (2013). Pengaruh Televisi Publik dan Swasta terhadap Perilaku Remaja.
Skripsi. Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat-Fakultas
Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.
Oetomo, R. Koesmaryanto. (2013). Pengaruh Tayangan Sinetron Remaja di Televisi terhadap
Anak. Artikel Ilmiah. Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan
Masyarakat-Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.

Article Metrics: