Representasi Black Campaign Dalam Spanduk Kampanye Pilkada Jakarta 2012

Received: 1 Aug 2013; Published: 30 Aug 2013.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Representasi Black Campaign Dalam Spanduk Kampanye Pilkada Jakarta
2012
Skripsi
Disusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan
Pendidikan Strata 1
Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Diponegoro
Penyusun
Nama : Sony Kusuma Anugerah
Nim : D2C008103
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013
Nama : Sony Kusuma Anugerah
NIM : D2C008103
Judul : Representasi Black Campaign Dalam Spanduk Kampanye Pilkada Jakarta 2012
Abstrak
Kampanye merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilakukan, saat menjelang suatu
pemilihan umum. Berbagai cara dilakukan dalam kampanye untuk menarik simpati masyarakat.
Banyak cara berkampaye yang dilakukan tim sukses dari partai atau calon untuk bisa
memperoleh dukungan dari masyrakat, bahkan kampanye hitam. Kampanye hitam dianggap
mampu membentuk opini publik untuk menciptakan citra buruk pihak lawan politik. Seperti
yang terjadi pada Pilkada Jakarta 2012 kemarin, banyaknya temuan pelanggaran terutama dalam
kaitan kampanye hitam. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bentuk kampanye hitam
yang terjadi pada Pilkada Jakarta 2012 melalui konstruksi makna pada salah satu media
berkampanye, yaitu spanduk.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan analisis
semiotika untuk menganalisis objek penelitian. Teknik analisis yang dilakukan dengan
menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Teks atau kata dalam spanduk diuraikan dalam
dua tahap untuk mencari makna-makna yang terkandung didalamnya. Tahap pertama
pembahasan kata melalui makna denotasi, dan tahap kedua pembahasan kata melalui makna
konotasi yang selanjutnya akan didapat mitos yang berkembang dimasyarakat.
Kata-kata pada teks dalam spanduk penelitian ini, merupakan sesuatu yang ambigu.
Dibutuhkan kedalaman makna yang dilanjutkan dengan mengkonstruksikan makna, sehingga
akan didapat suatu cerita atau fenomena yang terjadi didalamnya. Black campaign merupakan
salah satu bentuk kegiatan propaganda politik, yang berkonotasi negatif dalam penilaian publik.
Black campaign bertujuan untuk membentuk opini publik untuk citra yang buruk terhadap lawan
politiknya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam spanduk kampanye Pilkada Jakarta ini,
Black campaign digunakan sebagai kampanye yang menyerang sisi pribadi, kebijakan-kebijakan
politik, dan dilakukan oleh pelaku yang anonim.
Kata kunci: Representasi, Black Campaign, Kampanye.
Name : Sony Kusuma Anugerah
NIM : D2C008103
Title : Black Campaign Representation Inside The Banner Campaign From Elections of
Regional Heads Jakarta 2012
Abstract
The campaign is one of the routine activities performed, the eve of a general election.
Various methods are used in a campaign to draw public sympathy. Many ways to conducted a
successful team of the party or candidate to earn the support of the community, even black
campaign. Black campaign is considered capable of forming public opinion to create a bad
image of the political opposition. As happened in Jakarta 2012 elections yesterday, the number
of findings of violations, especially in relation to black campaign. This research aims to describe
the shape of a black campaign that occurred in Jakarta Election 2012 through the construction of
meaning in one of the media campaign, the banner.
This research used a qualitative approach using semiotic analysis to analyze the research
object. Engineering analysis performed using Roland Barthes' semiotic theory. Text or words in
the banner outlined in two stages to find the meanings contained therein. The first stage of the
discussion of the meaning of words through denotation, and the second stage through the
discussion of connotations which would then be obtained myths that developed in the
community.
The words on the banner text in this research, is something that is ambiguous. It takes a
depth of meaning that continue to construct meaning, to get up a story or phenomena that occur
therein. Black campaign is one form of political propaganda activities, which is a negative
connotation in the public assessment. Black campaign aims to shape public opinion to a bad
image against his political opponents.
Results of this research indicate that in the Jakarta election campaign banners, Black
campaign is used as a campaign attacking the personal, political policies, and conducted by the
anonymous perpetrator.
Key Word: Representation, Black Campaign, Campaign.
PENDAHULUAN
Indonesia telah menjadi salah satu negara yang menganut demokrasi sebagai sistem
pemerintahannya. Salah satu instrumen terbesar dari sistem demokrasi di Indonesia adalah
adanya proses pemilu. Pada tahun 2005, Indonesia mengalami kemajuan proses demokrasi
karena rakyat Indonesia mendapatkan haknya untuk memilih langsung calon pemimpin wilayah
atau daerahnya melalui PILKADA, yang pada awalnya Kepala Daerah dicalonkan oleh DPRD
dan dipilih atau diputuskan oleh Presiden.
Kegiatan Pilkada tentu saja tidak lepas dari kegiatan berkampanye. Charles U Larson
(dalam Ruslan, 2008:25-26) membagi jenis kampanye menjadi tiga jenis, yaitu kegiatan menjual
produk, gagasan perubahan sosial, dan kandidat. Kampanye kandidat merupakan kampanye yang
berorientasi bagi calon untuk kepentingan kampanye politik. Hal ini tentu saja berkaitan untuk
mendapatkan dukungan dari pemilih atau pemegang hak suara. Namun pada kenyataannya
sekarang ini banyak kegiatan kampanye yang dilakukan untuk menyerang lawan politiknya
(attacking campaign).
Kampanye menyerang terdapat dua jenis kampanye, yaitu black campain dan negative
campaign. Black Campaign merupakan model kampanye dengan cara membuat suatu isu atau
gosip yang ditujukan kepada pihak lawan, tanpa didukung fakta atau bukti yang jelas (fitnah).
Sedangkan Negative Campaign merupakan model kampanye yang lebih menonjolkan dari segi
kekurangan lawan politik, dan dari apa yang telah disampaikan mempunyai bukti atau fakta yang
jelas.
Black campaign terlihat seperti dibawah ini yang terdapat pada spanduk kampanye
Pilkada untuk menjatuhkan salah satu pasangan Cagub dan Cawagub Jokowi-Ahok.
Gambar 1.1 Spanduk Pilkada 2012
Gambar 1.2 Spanduk Pilkada 2012
Pada dasarnya, black campaign merupakan kampanye yang terselubung. Pelaku black
campaign biasanya juga tidak memperlihatkan identitas seseorang ataupun kelompok politik. Isi
dari black campaign pun tidak irasional dan tidak dapat dibahas secara terbuka, sehingga
kebanyakan khalayak akan menerima isi kampanye ini secara “bulat”, tanpa memproses dari isi
kampanye hitam ini. Berdasarkan hal tersebut diatas peneliti tertarik untuk meneliti Bagaimana
bentuk black campaign melalui konstruksi makna dalam spanduk kampanye Pilkada Jakarta
2012?.
ISI
Penelitian ini menggunakan perspektif interpretif yaitu untuk mencari sebuah
pemahaman bagaimana kita membentuk dunia pemaknaan melalui interaksi dan bagaimana kita
berperilaku terhadap dunia yang kita bentuk itu. (Ardianto & Q-Anees,2007:124-150
Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai makna suatu tanda dengan menggunakan
analisis semiotika yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis semiotika Roland Barthes.
Barthes menggunakan istilah konotasi (makna ganda) dan denotasi (makna tunggal) yang
menunjukan tingkatan-tingkatan makna. Maka denotasi adalah tingkat pertama yang bersifat
objektif yang dapat diberikan.
Jadi dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan,
namun juga mengandung makna kedua bagi tanda denotatif yang melandasi kebenarannya.
Barthes menyebut denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang
digunakan barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Tanda konotatif menggambarkan
interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai
nilai dari kebudayaannya (Sobur, 2009:128). Signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan
isi tanda bekerja melalui mitos (myth). Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau
memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam.
Secara denotatif kalimat “Endonesa Tercina” (spanduk 1) merupakan kalimat penegasan,
untuk cinta Indonesia namun dengan cara penyampaian yang sedikit kasar atau dengan cara
menyindir. Endonesa Tercina berarti bangsa yang tecinta. Spanduk ini sebenarnya bermaksud
untuk membangkitkan kecintaan terhadap bangsa Indonesia namun dengan penyampaian yang
berupa sindirian
Sedangkan spanduk 2 Secara denotatif kalimat “Haram...!!! Orang Kafir Menjadi
Pemimpin Orang Islam” mempunyai arti berupa himbauan ataupun penegasan larangan bagi
yang membacanya. Kata-kata yang dipakai dalam teks ini merupakan kata-kata yang tegas,
karena pada akhir kata pertama yaitu “haram” diakhiri dengan tanda seru “!”.
Kalimat pada teks spanduk 2 ini merupakan kalimat dengan pesan persuasif. Pesan
persuasif adalah pesan yang berisikan bujukan, yakni mengingatkan kepada khalayak bahwa
telah terdapat hukum yang mengatur orang (agama Islam) untuk memilih pemimpinnya.
Sedangkan untuk makna konotasi representasi black campaign dalam spanduk Endonesa
Tercina! (spanduk 1) ini ditujukan kepada calon wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau
yang lebih dikenal dengan panggilan Ahok. Spanduk ini bertujuan untuk mempersuasi
pembacanya agar tidak memilih pasangan Jokowi – Ahok. Ahok yang merupakan orang
keturunan Cina, pada dasarnya akan berpihak, menguntungkan, dan lebih mendahulukan
kaumnya. Latar belakang Ahok yang sebagai pengusaha, juga akan memuluskan pengusahapengusaha
non-pribumi untuk mencari keuntungan di kota Jakarta.
Sedangkan spanduk 2 ini bertujuan untuk mempersuasi pembacanya agar tidak memilih
Jokowi sebagai pemimpin (Gubernur) pada Pilkada Jakarta 2012. Spanduk ini mengatakan
bahwa Jokowi merupaka sosok orang kafir, hal ini dikarenakan Jokowi merupakan anak dari
perkawinan yang berbeda agama yaitu bapak dari Jokowi beragama Islam dan Ibu dari Jokowi
beragama Nasrani. Perkawinan berbeda agama terutama bagi seorang muslim sangat terlarang
diajaran agama Islam.
PENUTUP
Black campaign menjadi suatu cerminan politik di Indonesia pada saat ini, dimana
kampanye dilakukan tidak didasari sesuai dengan undang-undang dan etika yang berlaku.
Kampanye merupakan suatu kegiatan dari calon, tim sukses partai atau kelompok-kelompok
yang mendukung untuk meyakinkan masyarakat agar mau memilihnya untuk menjabat, dengan
menawarkan atau menjanjikan apa yang akan dilakukan dalam program kerjanya. Kampanye
yang positif tidak boleh dilakukan dengan cara menghina seseorang, ras, suku, agama, golongan
calon atau peserta pemilu serta menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupun
masyarakat.
Kenyataan pada saat ini, black campaign bisa menjadi bumerang bagi pihak pengirim isu
karena masyarakat akan bersimpati terhadap korban kampanye ini. Gambaran ini tercermin
dengan terpilihnya pasangan Jokowi-Ahok untuk menjabat sebagai Gubernur dan Wakil
Gubernur dengan banyaknya terpaan black campaign pada diri mereka.
KESIMPULAN
Black campaign pada spanduk ini, digambarkan sebagai kampanye yang menyerang sisi
pribadi, dan cenderung tidak ada hubungannya dengan kampanye serta mengesampingkan etika
undang-undang dalam berkampanye, seperti pada pasal 78 ayat 2 dan 3.
Black campaign dianggap sebagai salah satu strategi yang jitu untuk menjatuhkan pihak
lawan, serta tidak membutuhkan dana yang besar sehingga black campaign sangat mudah untuk
dilakukan. Orientasi semata-mata hanya untuk kekuasaan, sehingga berbagai cara dilakukan agar
tujuannya yaitu terpilih dalam pemilu tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, Elvinaro, dan Bambang Q-Anees. 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung:
Simbiosa Rekatama Media
Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Budiman, Kris. 2011. Semiotika Visual – Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta :
Jalasutra
Emzir. 2010. Analisis Data : Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT. RajaGrafindo
Persada
Fiske, John. 1992. Introduction to Communiation Studies. Bandung : Citra Aditya Bakti
Fiske, John. 2011. Cultural and Communication Studies. Yogyakarta : Jalasutra
Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja
Rosadakarya
Nasution, S. 2003. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung : Tarsito
Ruslan, Rosady. 2008. Kiat dan Strategi Public Relations. Jakarta : PT. RajaGrafindo
Persada
Sobur, Alex. 2003. Analisis Teks Media : Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotik dan Analisis Framing. Bandung : PT. Remaja Rosadakarya
Sobur, Alex. 2006. Semiotika Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Sunardi, St. 2004. Semiotika Negativa. Yogyakarta : Penerbit Buku Baik Yogyakarta
Van Zoest, Aart. 1991. Fiksi dan Nonfiksi Dalam Kajian Semiotik. Jakarta : Intermasa
Wibowo, Indiwan Seto Wahyu. 2011. Semiotika Komunikasi-Aplikasi Praktis Bagi
Penelitian dan Skripsi Komunikasi. Jakarta : Mitra Wacana Media
Lain-lain :
Laely Wulandari, S.H., M.Hum. Makalah “Black campaign sebagai tindak pidana politik”
Internet :
http://megapolitan.kompas.com/read/2012/05/09/12403053/Ini.Jenis.Kampanye.yang.Menye
rang.Lawan. (diakses 13 oktober 2012, 16:00)
http://id.wikipedia.org/
http://abisyakir.wordpress.com/2012/09/17/prediksi-jokowi-menang-di-pilkada-dki-putaran-
2/ (diakses 12 februari 2013, 22:08)
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=2319 (diakses 19 februari 2013, 00:51)
http://www.merdeka.com/jakarta/tata-pkl-ahok-lirik-pengusaha-pribumi.html (diakses 1 mei
2013, 01:00)
http://finance.detik.com/read/2013/02/27/144925/2181170/4/ahok-tak-ada-lagi-pengusahadapat-
proyek-cuma-karena-kedekatan (diakses 1 mei 2013, 01:10)
http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/13/03/19/mjwfr1-ahokkeberatan-
dengan-ump-perusahaan-silakan-minggir (diakses 1 mei 2013, 01:13)
http://www.wartamerdeka.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2472:wak
tu-ahok-bupati-belitung-timur-banyak-hajikan-guru-ngaji&catid=77:dki-jakarta&Itemid=420
(diakses 1 mei 2013, 01:23)
http://www.republika.co.id/berita/menuju-jakarta-1/news/12/08/08/m8g2ta-fitnah-ibujokowi-
rhoma-terancam-dipidanakan (diakses 23 april 2013, 18:35)
http://ahok.org/berita/news/ini-komentar-ibunda-jokowi-soal-isu-sara/ (diakses 27 april 2013,
00.25)

Article Metrics: