skip to main content

PENGGUNAAN PEWARNA ALAM SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF UNTUK MENINGKATKAN EKO-EFISIENSI PRODUK BATIK (Studi Kasus: IKM batik Larissa Pekalongan)

*Tri Setyo Wicaksono  -  Industrial Engineering Departement Diponegoro University, Indonesia

Citation Format:
Abstract

ABSTRAK

Ratusan IKM batik telah berkembang pesat di Kota Pekalongan, salah satunya adalah IKM Batik Larissa. Ratusan IKM batik tersebut diindikasikan menjadi penyebab pencemaran lingkungan yang terjadi di Kota Pekalongan. Pencemaran tersebut disebabkan oleh penggunaan bahan kimia dalam proses pewarnaan. Oleh sebab itu penggunaan pewarna kimia tersebut perlu dikurangi.  Penggunaan pewarna kimia dapat diganti dengan zat pewarna alternatif seperti penggunaan kayu mahoni yang dinilai lebih ramah lingkungan dan  dapat meningkatkan eko-efisiensi produk.

Tingkat eko-efisiensi dapat diukur dengan menggunakan metode LCA (Life Cycle Assessment) yang diolah dengan software SimaPro. Metode ini digunakan untuk mengevaluasi dampak lingkungan yang timbul dari penggunaan material penyusunnya. Metode LCA tersebut menghasilkan nilai eco-costs yang dapat menjadi input dalam perhitungan nilai eko-efisiensinya.

Penelitian ini bermaksud mengkaji penggunaan bahan pewarna kimia dan alam. Dari hasil pengolahan metode LCA, diperoleh nilai eco-costs untuk batik pewarna alam lebih besar dari kimia yaitu Rp 201.113,52 dan Rp 188.028,32. Namun, eko efisiensi batik cap pewarna alam lebih tinggi yaitu 96,55% sedangkan pewarna kimia 68,74%. Hal tersebut disebabkan karena penggunaan kayu mahoni yang merupakan kayu keras dan sangat berdampak pada kelestarian alam. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengkaji penggunaan pewarna alam yang berasal dari kulit buah atau daun dari tanaman.

 

ABSTRACT

Hundreds of IKM batik has grown rapidly in Pekalongan, one of them is Batik Larissa. They were indicated to be the cause of environmental pollution that occurred in Pekalongan and it caused by the use of chemicals in the dyeing process. Therefore, it should be reduced and have to replaced with some alternatives such as the use of mahogany that considered more environmentally friendly and can improve the eco-efficiency of products.

The level of eco-efficiency can be measured by using the method of LCA (Life Cycle Assessment)  in SimaPro software. This method is used to evaluate the environmental impacts from the use of the constituent materials. Besides that, it produces a value of eco-costs that can be input in the calculation of the value of eco-efficiency.

This research intends to study the use of chemical and natural dyes. From the results of LCA method, eco-costs value for batik that use natural dyes is greater than the chemical dyes, with Rp 201,113.52 for natural dyes and Rp 188,028.32 for chemical dyes. However, the value of eco-efficiency for batik with natural dyes higher at 96.55% than chemical dyes at 68.74%. It is cause due to the use of mahogany wood that have hard contour and it affects the preservation of nature. Therefore, further research needs to examine the use of natural dyes derived from the skin of the fruit or the leaves of plants.

 

Fulltext
Keywords: Batik; Life Cycle Assessment; eco costs; eko efisiensi; pewarna alam mahoni; software SimaPro

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.