skip to main content

IDENTIFIKASI KESESUAIAN DAN INTENSITAS PEMANFAATAN LAHAN DI KELURAHAN LAMPER LOR MENGGUNAKAN FOTO UDARA TAHUN 2018

Departemen Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Indonesia


Citation Format:
Abstract

ABSTRAK

Jumlah penduduk yang tinggi di wilayah perkotaan menyebabkan kebutuhan lahan semakin meningkat. Terbatasnya lahan mengakibatkan terjadinya pelanggaran pembangunan dan penyimpangan pemanfaatan lahan terhadap peraturan tata ruang kota. Penelitian yang pernah dilakukan oleh (Pratomo, 2016) menyatakan bahwa pelanggaran Koefisien Dasar Bangunan (KDB) di perumahan BSB Kecamatan Mijen, Kota Semarang mencapai 67%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyimpangan pemanfaatan lahan dan kesesuaian KDB di Kelurahan Lamper Lor, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang terhadap Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Kota Semarang Tahun 2000-2010. Data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah foto udara tahun 2018 yang digunakan sebagai data dasar untuk digitasi pemanfaatan lahan eksisting dan digitasi bangunan. Data jaringan jalan untuk menentukan nilai maksimal KDB dan data bidang tanah PBB untuk menghitung KDB eksisting. Metode pengolahan data yang digunakan adalah teknik digitasi on screen pada foto udara yang memiliki resolusi spasial sebesar 10 cm. Analisis data dilakukan dengan metode overlay (tumpang susun) menggunakan perangkat lunak berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yaitu ArcGIS 10.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70% dari seluruh pemanfaatan lahan di Kelurahan Lamper Lor sesuai dengan peta rencana pemanfaatan lahan. Pemanfaatan lahan tersebut meliputi permukiman sebesar 19,492 ha dan konservasi sungai sebesar 1,308 ha. Pemanfaatan lahan yang tidak sesuai disebabkan adanya penambahan pemanfaatan lahan oleh masyarakat, dari rencana  6 kelas pemanfaatan lahan, namun kenyataannya di lapangan menjadi 12 kelas pemanfaatan lahan. Penambahan pemanfaatan lahan tersebut meliputi kesehatan, perkantoran, pergudangan, olahraga dan rekreasi serta pendidikan. Bangunan yang memiliki KDB sesuai dari 936 bangunan rumah di Kelurahan Lamper Lor hanya 13,6%, artinya bahwa KDB tidak sesuai mencapai 86,4%. Berdasarkan hasil analisis terhadap luas persil dan harga tanah/m2, KDB yang tidak sesuai didominasi oleh tanah yang memiliki luas 201-500m2 dan tanah yang memiliki harga jual Rp 2.013.000/m2.

Kata Kunci : Pemanfaatan Lahan, KDB, Foto Udara, Digitasi On Screen

ABSTRACT

High population in urban areas causes land needs to increase. Limited land causes violations of development and deviations of land use against city spatial regulations. Research conducted by (Pratomo, 2016) stated that Building Coverage Ratio (BCR) violations in BSB housing in Mijen District, Semarang City  reached 67%. This study aims to identify irregularities in land use and suitability of the Building Coverage Ratio (BCR) in Lamper Lor Sub District, South Semarang District, Semarang City with the City Spatial Detail Plan of Semarang City in 2000-2010. The data used in this study include aerial photos of 2018 which are used as basic data for digitation existing land uses and buildings digitation. Road network data to determine the maximum BCR value and land field data PBB to calculate the existing BCR. The data processing method used is an digitized on screen technique on aerial photos that has a spatial resolution of 10 cm. Data analysis was performed using the overlay method using Geographic Information System (GIS) based software, ArcGIS 10.3. The results showed that 70% of all land uses in the Lamper Lor Sub District were in suitable with the land use plan map. The use of the land includes settlements of 19,492 ha and river conservation of 1,308 ha. Unsuitable land use is caused by the addition of land use by the community, from the plan of 6 land use classes, but in reality on the field there are 12 land use classes. The additional land uses include health, offices, warehousing, sports and recreation and education. Buildings that have BCR suitable of 936 houses in the Lamper Lor Sub District  are only 13,6%, it means that BCR is not suitable to reach 86,4%. Based on the analysis results of land area and land prices/m2, unsuitable BCR in Lamper Lor Sub District is dominated by land that has an area of 201- 500m2 and land that has a selling price of Rp 2.013.000/m2.

Fulltext View|Download
Keywords: Land Use, BCR, Aerial Photos, Digitized On Screen

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.