skip to main content

HUBUNGAN ANTARA WORK-FAMILY CONFLICT DENGAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA PERAWAT RUMAH SAKIT PANTI WILASA “DR. CIPTO” SEMARANG

Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Indonesia

Published: 22 Apr 2014.

Citation Format:
Abstract

Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat beberapa tahun terakhir ini mendorong wanita untuk bepartisipasi dalam dunia kerja. Salah satu profesi yang sebagian besar digeluti oleh wanita, memiliki tanggung jawab yang berat, dan memiliki jam kerja yang padat antara lain adalah perawat. Subjective well-being merupakan penilaian subjektif individu terhadap kehidupan secara keseluruhan yang ditunjukkan dengan tingginya afek positif dan kepuasan dalam hidup. Work-family conflict adalah pertentangan antara tuntutan peran pekerjaan dan keluarga yang menimbulkan tekanan pada individu.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara work-family conflict dengan subjective well-being pada perawat Rumah Sakit Panti Wilasa “Dr. Cipto” Semarang. Jumlah perawat yang menjadi sampel penelitian ialah 70 orang, yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala psikologi berupa Skala Subjective Well-being (33 aitem valid,  α = 0.898) dan Skala Work-Family Conflict (20 aitem valid, α = 0.891).

Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi rxy = -0.407 dengan p=0,000 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti, yaitu terdapat hubungan negatif antara work-family conflict dengan subjective well-being. Semakin tinggi work-family conflict yang dialami maka semakin rendah subjective well-being, demikian pula sebaliknya. Work-family conflict memberikan sumbangan efektif sebesar 16,6% subjective well-being dan sebesar 83,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Fulltext View|Download
Keywords: Work-Family Conflict, Subjective Well-Being, Perawat.

Article Metrics:

  1. Ahmad, M.S., & Masood, M.T. (2011). Work-Family Conflict among Woman University Teachers: A Case from Pakistan. European Journal of Social Sciences, 23(1), 119-130
  2. Barling, J., Kelloway, E.K., & Frone, M.R. (2005). Handbook of Work Stress. California: Sage Publication
  3. Chang, K., & Lu, L. (2007). Characteristics of Organizational Culture, Stressors and Wellbeing. Journal of Managerial Psychology, 22(6), 549-568
  4. Cinnamon, R.G., & Rich, Y. (2002). Gender Differences in the Importance of Work and Family Roles: Implication for Work-Family Conflict. Sex Roles: A Journal Research, 47(1), 531-541
  5. Cooper, C.L., Dewe, P.J., & O’Driscoll, M.P. (2001). Organizational Stress: a Review and Critique of Theory, Research and Aplication. Thousand Oaks: Sage Publication Inc
  6. Diener, Ed. (2009). The Science of Well Being: The Collected Works of Ed Diener. New York: Springer
  7. Depkes. (2011). Deklarsi Pelayanan Keperawatan Prima. Diunduh pada tanggal 9 April 2013 dari http://buk.depkes.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=294:deklarasi-pelayanan-keperawatan-prima-&catid=113:keperawatan&Itemid=139/
  8. Eid, M., & Larsen, R.J. (2008). The Science of Subjective Well-Being. New York : Guilford Press
  9. Grant-Vallone, E. J., & Donaldson, S. I. (2001). Consequences of Work-Family Conflict on Employee Well-Being Over Time. Work & Stress, 15(3), 214- 226

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.