skip to main content

MENITI TAKDIR POLIGAMI (Interpretative Phenomenological Analysis pada Pengalaman Kepuasan Pernikahan Suami yang Berpoligami)

Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Indonesia


Citation Format:
Abstract

Pernikahan poligami yang menuai pro dan kontra di masyarakat Indonesia menjadikan kontroversi yang tidak kunjung usai. Pernikahan poligami merupakan pernikahan seorang suami dengan dua istri atau lebih. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan mendeskripsikan pengalaman suami yang berpoligami. Penelitian ini melibatkan dua orang partisipan yang dipilih menggunakan teknik pusposive dengan kriteria pelaku pernikahan poligami, usia pernikahan poligami tiga sampai sepuluh tahun, dan status ekonomi kelas menengah ke atas. Pengumpulan data menggunakan teknik in-depth interview dan dianalisis dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis. Penelitian ini memperoleh empat tema induk, yaitu (1) pengambilan keputusan berpoligami meliputi: keadaan pernikahan monogami, persepsi terhadap poligami, pergolakan dalam diri, dan motivasi berpoligami, (2) gambaran kepuasan pernikahan meliputi: penyesuaian partisipan pasca berpoligami dan kehidupan pernikahan poligami (3) proses menemukan makna kepuasan pernikahan poligami meliputi: relasi sosial dan penilaian terhadap  pernikahan, dan (4) harapan kepada keluarga meliputi: harapan terhadap pernikahan, harapan terhadap anak, dan harapan kepada sanak saudara. Partisipan A berpoligami karena ingin mendapatkan kebahagiaan pernikahan, karena pernikahan monogaminya tidak bahagia. Sedangkan partisipan B berpoligami atas dorongan dari istri pertama untuk menolong seorang janda. Kedua partisipan tidak menyarankan anggota keluarganya berpoligami, karena tidak ingin keluarganya merasakan kerumitan pernikahan poligami. Partisipan A memaknai kepuasan pernikahan poligami sebagai kehidupan yang ia cari, sedangkan partisipan B memaknai kepuasan pernikahan poligami sebagai ujian hidup.

 

Fulltext View|Download
Keywords: pernikahan, poligami, kepuasan pernikahan, interpretative phenomenological analysis

Article Metrics:

  1. Abbas, R. R. (2014). Institusi keluarga dan poligami: Studi kasus keluarga poligami yang berpoligini di kota makassar. Jurnal Socius, 10 (5), 67-90. Diakses dari http://id.portalgaruda.org/index.php?ref=browse&mod=viewarticle&article=480595
  2. Al-Krenawi, A., Graham, J., & Izzeldin, A. (2008). The psychosocial impact of polygamous marriage on palestian women. Women and Helath Journal, 34 (1), 1-16. DOI: 10.1300/J013v34n01_01
  3. Angelis, B. D. (1997). Ask barbara: The 100 most asked questions about love, sex, and relationships. E-Books. Diakses dari http://www.randomhouse.com/highschool/catalog/display.pperl?isbn=9780440224280&view=printexcerpt
  4. Andjariah, S. (2005). Kebahagiaan perkawinan ditinjau dari faktor komunikasi pada pasangan suami istri. Jurnal psikologi, 1 (1). ISSN: 1858-3970. Diunduh dari https://ejournal.up45.ac.id/index.php/psikologi/article/view/42/41
  5. Ardhian, R. F., Anugrah, S., & Bima, S. (2015). Poligami dalam hukum islam dan hukum positif indonesia serta urgensi pemberian izin poligami di pengadilan agama. Privat Law. 3 (2), 100-107. Diunduh dari http://download.portalgaruda.org/article.php?article=452846&val=9569&title=POLIGAMI%20DALAM%20HUKUM%20ISLAM%20DAN%20HUKUM%20POSITIF%20INDONESIA%20SERTA%20URGENSI%20PEMBERIAN%20IZIN%20POLIGAM%20DI%20PENGADILAN%20AGAMA
  6. Azwafajri. (2011). Keadilan berpoligami dalam perspektif pikologi. Jurnal Substantina, 13 (2), 161-171. Diakses dari https://www.researchgate.net/publication/334362170_Keadilan_Berpoligami_dalamPerspektif_Psikologi
  7. Compton, W. C. (2005). An introduction to positive psychology. USA: Thomson Learning Inc
  8. DeGenova, M. K., & Rice, P. F. (2005). Intimate relationships, marriages, and families. New Jersey: McGraw Hill
  9. Duvall, E., & Miller. (1985). Marriage and family development (6th ed). New York: Harper & Row Publisher
  10. Fahmi, I. (2014). Proses pengambilan keputusan menjadi istri kedua dalam perkawinan poligami pada wanita berpendidikan tinggi. Jurnal Ilmiah Psikologi. 1 (2), 231-243. Diunduh dari http://download.portalgaruda.org/article.php?article=396725&val=8071&title=PROSES%20PENGAMBILAN%20KEPUTUSAN%20MENJADI%20ISTERI%20KEDUA%20DALAM%20PERKAWINAN%20POLIGAMI%20PADA%20WANITA%20BERPENDIDIKAN%20TINGGI
  11. Faturrochman. (2002). Keadilan perspektif psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  12. Fitriyyah, Z., & Masykur, M. (2019). Suka duka menjadi yang kedua: Studi kualitatif fenomenologi kepuasan pernikahan pada perempuan yang menjadi istri kedua dalam pernikahan poligami. Jurnal Empati, 1-9. Diunduh dari http://eprints.undip.ac.id/73130/1/Repsitory_zainul_fitriyyah_suka_duka_menjadi_yang_kedua.pdf Fowers, B. J., & Olson, D. H. (1989). ENRICH marital inventory: A discriminant validity amd cross-validity assessment. Journal of Marital and Family Therapy, 15 (1), 65-79. DOI: http://dx.doi.org/10.1111/j.1752-0606.1989.tb00777.x
  13. Hanoum, M. (2014). Strategi coping dan kebahagiaan istri dalam perkawinan poligami. Jurnal Soul, 7 (2), 1-13. Diunduh dari http://download.portalgaruda.org/article.php?article=324850&val=1228&title=STRATEGI%20COPING%20DAN%20KEBAHAGIAAN%20ISTRI%20%20DALAM%20PERKAWINAN%20POLIGAMI
  14. Harris, C. R. (2011). Feelings of dread and intertemporal choice. Journal of Behavioral Decision Making, 25 (1). DOI: https://doi.org/10.1002/bdm.709
  15. Hasyim, W. (2017). Arifin ilham, poligami, dan paradoks popularitas. Detiknews. Diunduh dari https://news.detik.com/kolom/d-3681312/arifin-ilham-poligami-dan-paradoks-popularitas
  16. Hikmah, S. (2012). Fakta poligami sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Sawwa, 7 (2), 1-20. Diunduh dari journal.walisongo.ac.id/…a/article/download/646/584
  17. Hilayati, E. S. (2009). Poligami menurut perspektif pelaku: Studi pada masyarakat kec pabuaran kab subang. Skripsi (tidak diterbitkan). Diunduh dari https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwikwoLfuOzkAhUXeysKHeesB2gQFjAAegQIARAC&url=http%3A%2F%2Frepository.uinjkt.ac.id%2Fdspace%2Fbitstream%2F123456789%2F7572%2F1%2FEKA%2520SRI%2520HILAYATI-FSH.pdf&usg=AOvVaw306hoinL4nJ9nETxJw12dv
  18. Kahija, Y. F. L. (2018). Penelitian fenomenologis: Jalan memahami pengalaman hidup. Yogyakarta: PT. Kanisius
  19. Kertamuda, F. E. (2009). Konseling pernikahan untuk keluarga indonesia. Jakarta: Salemba Humanika
  20. Kurniawati, A. (2013). Dampak psikologis kehidupan keluarga pada pernikahan poligami. Skripsi (Tidak Dterbitkan). Universitas Negeri Yogyakarta
  21. Lestari, S. (2016). Psikologi keluarga: Penanaman nilai dan penanganan konflik dalam keluarga (4th ed). Jakarta: Prenadamedia Group
  22. Liputan6. (2003). Poligami award 2003 ditentang aktivis perempuan. Liputan6.com. Diakses dari https://m.liputan6.com/news/read/59131/poligami-award-2003-ditentang-aktivis-perempuan
  23. Lopez, S. J. (2009). The encyclopedia of positive psychology. Wes Sussex: Blackwell Publishing
  24. Mahendra, B. (2016). Pengambilan keputusan seorang suami untuk melakukan poligami. Skripsi (tidak diterbitkan). Universitas Sanata Dharma
  25. Nilam, S. (2018). Poligami, kunci panjang umur pria. Liputan6.com. Diunduh dari https://www.liputan6.com/health/read/3558429/poligami-kunci-panjang-umur-pria#
  26. Nur, M. (2011). Survey LSI: Pemuda muslim tolak poligami, guy, dan lesbian. Kompasiana. Diunduh dari https://www.kompasiana.com/muhammadnur_se/5500e4cda33311a1145106c7/survei-lsi-pemuda-muslim-tolak-poligami-guy-dan-lesbian pada 28 Oktober 2018
  27. Olson, D. H., & DeFrain, J. (2006). Marriages and families: Intimacy, diversity, and strength (5th ed). Boston: McGraw-Hill
  28. Parlina, R. Z. (2008). Interaksi keluarga yang berpoligami: Studi kasus pada sepuluh keluarga poligami di kota medan. Skripsi (tidak diterbitkan). Diakses dari https://docplayer.info/42908976-Interaksi-sosial-dalam-keluargayang-berpoligami-studi-kasus-pada-sepuluh-keluarga-poligami-di-kota-medan-oleh-rizki-zulaikha-parlina.html
  29. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1990. Diunduh dari http://hukum.unsrat.ac.id/pp/pp_45_1990.htm
  30. Poerwandari, E. K. (2003). Ilusi poligami. Jurnal Perempuan, 31, 19-29Rahmawati, F. U. (2017). Penerimaan diri pada remaja dengan orang tua poligami. Skripsi (tidak diterbitkan). Diunduh dari http://eprints.ums.ac.id/48911/
  31. Rohman, A. (2013). Reinterpret polygamy in Islam: A case study in indonesia. International Journal of Humanities and Social Science Invention, 2 (10), 68-74. DOI: 10.2139/ssrn.2258284
  32. Romli, D. (2016). Persepsi perempuan tentang poligami: Studi pada badan musyawarah organisasi islam wanita indonesia provinsi lampung. Jurnal Al-Adalah, 13 (1), 177-126. Diunduh dari https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjljJafuuzkAhVMWH0KHUyrBDEQFjABegQIARAC&url=https%3A%2F%2Fmedia.neliti.com%2Fmedia%2Fpublications%2F57459-ID-persepsi-perempuan-tentang-poligami-stud.pdf&usg=AOvVaw02WK370d0KyVsqIt1idgF2
  33. Setiati, S. (2006). Ibuku ajar ilmu penyakit dalam jilid 1. Jakarta: Interna Publising
  34. Smith, J. A. (2009). Psikologi kualitatif: Panduan praktis metode riset. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  35. Stevenson, M.K. (1993). Decision making with long tern consequences: Temporal discounting for simple and multiple outcomes in the future. Journal of Experimental Psychology, 122, 3-22
  36. Walgito, B. (2004). Bimbingan dan konseling perkawinan. Yogyakarta: Andi

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.