skip to main content

MEMBACA CABLAKA (Sebuah Studi Fenomenologis pada Budaya Penginyongan

Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Indonesia


Citation Format:
Abstract

Indonesia terdiri dari berbagai macam budaya, salah satunya adalah kebudaya Jawa. Setiap kebudayaan memiliki sub-kebudayaannya masing-masing. Salah satu sub-kebudayaan Jawa adalah kebudayaan Penginyongan di daerah Jawa Tengah bagian barat, yang mengembangkan ciri kebudayaan yang unik dan berbeda dari kebudayaan Jawa secara umum. Keunikan ini terletak pada konsep cablaka, konsep ini menjadi landasan kehidupan masyarakat Penginyongan. Tujuan penelitian ini adalah berusaha mendefinisikan makna cablaka serta pewarisan cablaka sebagai pondasi kehidupan masyarakat Penginyongan. Karakteristik subjek penelitian ini adalah budayawan Penginyongan. Pencarian subjek menggunakan teknik purposive yang didasari pada ciri yang dimiliki oleh subjek berdasarkan karakteristik yang sesuai dengan tujuan penelitian. Analisis data menggunakan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) yang berfokus pada pengalaman subjek melalui kehidupan pribadinya dengan menggunakan metode pengumpulan data wawancara semi terstruktur. Penelitian ini menemukan makna cablaka, bahwasannya cablaka didasari oleh perasaan mawas diri masyarakat Penginyongan yang merasa bahwa mereka merupakan kaum rakyat jelata. Cablaka muncul dalam cara hidup, hasil-hasil kebudayaan Penginyongan, dan khususnya bahasa dan dialeknya. Budayawan Penginyongan merasa ada pengaruh budaya Jawa keraton yang menyebabkan timbulnya stigma pada masyarakat Penginyongan. Dampaknya masyarakat Penginyongan merasa rendah diri ketika berinteraksi dengan orang lain diluar masyarakat Penginyongan.

Fulltext View|Download
Keywords: penginyongan; cablaka; Budayawan

Article Metrics:

  1. Alwisol. (2014). Psikologi kepribadian. Malang: UMM Press
  2. Aziz, M. N. (2016). Mengenal budaya suku Jawa yang mengagumkan. Diambil kembali dari www.satujam.com: http://www.satujam.com/budaya-orang-jawa/
  3. Badan Pusat Statistik. (2016). Mengulik data suku di Indonesia. Diambil kembali dari www.bps.go.id: https://www.bps.go.id/KegiatanLain/view/id/127
  4. Chaplin, J. P. (2011). Kamus lengkap psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
  5. Chen, Y., & Nakazawa, M. (2009). Influences of culture on self-disclosure as relationally situated in intercultural . Journal of Intercultural Communication , 77-98
  6. Dariyo, A. (2004). Psikologi perkembangan remaja. Bogor: Ghalia Indonesia
  7. Devito, J. A. (2011). Komunikasi antarmanusia. Tanggerang: Karisma Publishing
  8. Feist, J., & Feist, G. J. (2012). Teori kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika
  9. Hadiati, C. (2014). Redefining cablaka "Banyumasan way of speaking": Is it totally explicature? Theory and Practice in Language Studies, Vol. 4, No. 10, 2082-2089
  10. Hall, C. S., & Lindzey, G. (1993). Teori-teori psikodinamik (klinis) . Yogyakarta: Kanisius
  11. Hidayat, D. (2012). Komunikasi antarpribadi dan medianya. Yogyakarta: Graha Ilmu
  12. Jatman, D. (2011). Psikologi Jawa. Yogyakarta: Yayasan Kayoman
  13. Jurnal Psikologika. (2002). Memaknai perbedaan budaya dari sisi psikologi . Sekapur Sirih
  14. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2008). Kamus besar bahasa Indonesia edisi ke IV. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
  15. Kuntowijoyo. (2004). Budaya elit dan budaya massa dalam lifestyle extacy. Yogyakarta: Jalasutra
  16. Lestari, S. S. (2016). Hubungan antara keterbukaan diri dengan penyesuaian diri mahasiswa Riau di Yogyakarta. E-Journal Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Yogyakarta
  17. Mallica. (2005). Poor children in rich schools. Working Paper Series , 1-41
  18. Matsumoto, D. (2008). Pengantar psikologi lintas budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  19. Mulyana, D., & Rakhmat, J. (2000). Komunikasi antar budaya. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
  20. Nasution, M. A., Dulay, M. H., Susanti, N., & Syam, S. (2015). Ilmu sosial budaya dasar. Jakarta: Rajawali Pers
  21. Prihantono. (2015). Pemerintahan dan revitalisasi bahasa daerah dalam penerjemah teatrikal. International Seminar “Language Maintenance and Shift” (hal. 304-307). Semarang: Master Program In Linguistic Diponegoro University
  22. Priyadi, S. (2007). Cablaka sebagai inti model karakter manusia Banyumas. Diksi, 11-18
  23. Rasjid, A. A., Hidayat, A., & Trianton, T. (2013). Banyumas : Fiksi dan fakta sebuah kota. Solo: Beranda Budaya
  24. Rubin, Coplan, & Bowker. (2008). Social withdrawal in childhood. Annual Review of Psychology, 141-171
  25. Sapril, S. (2016). Aktualisasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam membentuk pola hidup sederhana di Madin Al-Isnaini Montong Wasi . Jurnal Palapa, 118-132
  26. Scheid, T. L., & Brown, T. N. (2010). A handbook for the study of mentak health social context, theories, and system second edition. New York: Cambridge University Press
  27. Schneiders, A. A. (1999). Personal adjustment and mental health. New York: Holt Reinhart and Winston Inc
  28. Smith, J. A., Flowers, P., & Larkin , M. (2009). Interpretative phenomenological analysis. London: Sage
  29. Soeroso, A., & Susilo, Y. S. (2008). Strategi konservasi kebudayaan lokal Yogyakarta. Jurnal Manajemen Teori dan Terapan , 144-161
  30. Suryabrata, S. (2011). Psikologi kepribadian. Jakarta: Raja grafindo
  31. Suseno, F. M. (2003). Etika Jawa sebuah analisa falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
  32. Taylor, S. E., Peplau, L. A., & Sears, D. O. (2009). Psikologi sosial. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
  33. Utama, S. J. (2003). Psikologi budaya. Jurnal Suksma, 43-51
  34. Yoeti. (1986). Pengantar ilmu pariwisata. Bandung: Angkasa
  35. Zuckerman, G., & Walsh, M. (2011). Stop, revive, survive: lessons from the hebrew revival applicable to the reclamation, maintenance and empowerment of Aboriginal languages and cultures. Australian Journal of Linguistics , 111-127

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.