skip to main content

KETIKA ANAKKU “TAK SAMA”: INTERPRETATIVE PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS TENTANG PENGALAMAN AYAH MENGASUH ANAK DOWN SYNDROME

Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Indonesia


Citation Format:
Abstract

Ayah bertugas mencari nafkah di dalam keluarga yang juga memiliki tugas penting sebagai pelindung dan pemberi kasih sayang (Lamb, 2010). Tugas ayah menjadi semakin kompleks dalam keluarga yang memiliki anak down syndrome karena anak down syndrome  merupakan anak berkebutuhan khusus yang memiliki kebutuhan berbeda dari anak pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara lebih mendalam mengenai pengalaman ayah dengan anak down syndrome. Subjek dalam penelitian berjumlah empat orang ayah yang diambil berdasarkan karakteristik khusus yang telah ditetapkan. Karakteristik subjek dalam penelitian yaitu laki-laki dengan rentang usia dewasa awal hingga dewasa madya yang telah menjadi ayah dan memiliki anak dengan down syndrome. Teknik yang digunakan dalam pencarian subjek adalah purposive karena merupakan teknik yang didasarkan pada ciri yang dimiliki oleh subjek dan telah dipilih berdasarkan ciri subjek yang sesuai dengan tujuan penelitian yang hendak dilakukan (Herdiansyah, 2012). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian yaitu interpretative phenomenological analysis (IPA) yang berfokus pada pengalaman subjek melalui kehidupan pribadinya dengan menggunakan wawancara semi terstruktur sebagai metode pengumpul data. Hasil yang didapatkan dari penelitian yaitu keempat subjek yang dapat melakukan penyesuaian diri melalui berbagai macam proses penyesuaian. Hal tersebut mendorong keempat subjek bisa melakukan peranan ayah dalam keluarga secara optimal dan melakukan persiapan untuk masa depan anak.

 

Fulltext View|Download
Keywords: Pengalaman Ayah; Penyesuaian Diri; Anak Down Syndrome

Article Metrics:

  1. Andayani, B. & Koentjoro. (2014). Psikologi keluarga: Peran ayah menuju coparenting. Yogyakarta Citra Media
  2. Dagun, S. M. (2013). Psikologi keluarga: Peranan ayah dalam keluarga. Jakarta: Rineka Cipta
  3. Davidson, G. C., Neale, J. M., & Kring, A. M. (2010). Psikologi abnormal. (edisi 9). Terjemahan Noermalasari Fajar. Jakarta: Rajawali Press
  4. Down Syndrome Ireland (DSI). (2013). National leadership local support student information booklet
  5. Faradina, N. (2016). Penerimaan diri pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. eJournal psikologi, 4(4), 386-396
  6. Gunarhadi. (2008). Penanganan anak sindroma down dalam lingkungan keluarga dan sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
  7. Herdiansyah, H. (2012). Metodologi penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu sosial. Jakarta: Salemba Humanika
  8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (KemenkesRI). (2014). Buletin jendela dan informasi kesehatan: Situasi penyandang disabilitas
  9. Kristiana, I. F. & Widiyanti, C. G. (2016). Buku ajar psikologi anak berkebutuhan khusus. Semarang: UNDIP Press
  10. Lamb, M. E. (2010). The role of the father in child development-5thedition. University of Cambridge: John Willey & Sons, Inc
  11. Lestari, S. (2014). Psikologi keluarga: penanaman nilai dan penanganan konflik dalam keluarga. Jakarta: Kencana
  12. Mangunsong, F. (2011). Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Kampus Baru UI
  13. Marni, A. & Yuniawati, R. (2015). Hubungan antara dukungan sosial dengan penerimaan diri pada lansia di Panti Wredha Budi Dharma Yogyakarta. EMPATHY, Jurnal Fakultas Psikologi, 3(1), 1-7
  14. Melisa, F. (2013, 17 Juli). Jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia tinggi. News republika.co.id
  15. Mukti, D. I. & Dewi, D. S. E. (2013). Hubungan antara religiusitas dengan penerimaan diri pada pasien stroke iskemik di RSUD Banjarnegara. Psycho idea, 11(2), 35-40
  16. National Information Center for Children and Youth with Disabilities (NICHCY). (2010). Down syndrome NICHCY disabilities fact sheet N
  17. Rosenberg, J. & Wilcox, W. B. (2006). The importance of fathers in the healthy development of children. New York: Departement of Health and Human Services
  18. Rizkiana, U. & Retnaningsih. (2009). Penerimaan diri pada remaja penderita leukemia. Jurnal Psikologi Gunadarma, 2(2), 1-18
  19. Safaria, T. (2005). Autisme: Pemahaman baru untuk hidup bermekna bagi orang tua. Yogyakarta: Graha Ilmu
  20. Smith, A. J. (2009). Psikologi kualitatif: Panduan praktis metode riset. Yogyakarta: Pustaka Belajar
  21. Taylor, S. E., Peplau, L. A., Sears, D. O. (2009). Psikologi sosial. (edisi 12). Jakarta: Kencana

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.