BibTex Citation Data :
@article{JTM46224, author = {Krisna Setiawan and Paryanto Paryanto and Susilo Widyanto}, title = {ANALISIS BEBAN PENDINGINAN MENGGUNAKAN METODE CLTD (COLLING LOAD TEMPERATURE DIFFERENCE) PADA KORIDOR RUANG PRODUKSI PT. NUFARINDO SEMARANG}, journal = {JURNAL TEKNIK MESIN}, volume = {12}, number = {3}, year = {2024}, keywords = {beban pendinginan; cltd; hvac; sistem tata udara}, abstract = { PT. Nufarindo Semarang merupakan salah satu perusahan yang bergerak di bidang produksi farmasi. Pada perusahaan farmasi, sistem pengkondisian udara atau sistem tata udara menjadi hal yang sangat penting. Sistem Tata Udara adalah suatu sistem yang mengondisikan lingkungan melalui pengendalian suhu, kelembaban nisbi, arah pergerakan udara dan mutu udara termasuk pengendalian partikel dan pembuangan kontaminan yang ada di udara. Untuk mendapatkan pengkondisian udara yang tepat diperlukan analisis atau perhitungan beban pendinginan. Pada penelitian ini membahas mengenai analisis beban pendinginan pada koridor ruang produksi PT. Nufarindo Semarang. Analisis beban pendinginan dilakukan menggunakan metode CLTD (Cooling Load Temperature Difference). Metode CLTD dikembangkan oleh ASHRAE ( American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers ). Metode ini dipilih karena kemampuannya dalam memperkirakan beban pendinginan secara akurat dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti suhu luar, suhu dalam, kelembaban, dan radiasi matahari. Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan kurang lebih selama satu bulan untuk memastikan variasi yang cukup dalam kondisi cuaca. Setelah dilakukan pengumpulan dan analisis data, didapatkan nilai beban pendinginan pada koridor ruang produksi sebesar 223.104,2 Btu/hr, dengan 10% safety factor yaitu sebesar 22.310,42 Btu/hr maka untuk total beban pendinginan adalah 245.414,7 Btu/hr. Dimana sistem HVAC yang digunakan untuk menyuplai koridor memiliki kapasitas pendinginan sebesar 250.000 Btu/hr. Maka dapat disimipulkan bahwa kapsitas pendinginan dari sistem HVAC yang digunakan untuk menyuplai koridor telah memenuhi kebutuhan dari beban pendinginan. }, issn = {2303-1972}, pages = {210--219} url = {https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jtm/article/view/46224} }
Refworks Citation Data :
PT. Nufarindo Semarang merupakan salah satu perusahan yang bergerak di bidang produksi farmasi. Pada perusahaan farmasi, sistem pengkondisian udara atau sistem tata udara menjadi hal yang sangat penting. Sistem Tata Udara adalah suatu sistem yang mengondisikan lingkungan melalui pengendalian suhu, kelembaban nisbi, arah pergerakan udara dan mutu udara termasuk pengendalian partikel dan pembuangan kontaminan yang ada di udara. Untuk mendapatkan pengkondisian udara yang tepat diperlukan analisis atau perhitungan beban pendinginan. Pada penelitian ini membahas mengenai analisis beban pendinginan pada koridor ruang produksi PT. Nufarindo Semarang. Analisis beban pendinginan dilakukan menggunakan metode CLTD (Cooling Load Temperature Difference). Metode CLTD dikembangkan oleh ASHRAE (American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers). Metode ini dipilih karena kemampuannya dalam memperkirakan beban pendinginan secara akurat dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti suhu luar, suhu dalam, kelembaban, dan radiasi matahari. Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan kurang lebih selama satu bulan untuk memastikan variasi yang cukup dalam kondisi cuaca. Setelah dilakukan pengumpulan dan analisis data, didapatkan nilai beban pendinginan pada koridor ruang produksi sebesar 223.104,2 Btu/hr, dengan 10% safety factor yaitu sebesar 22.310,42 Btu/hr maka untuk total beban pendinginan adalah 245.414,7 Btu/hr. Dimana sistem HVAC yang digunakan untuk menyuplai koridor memiliki kapasitas pendinginan sebesar 250.000 Btu/hr. Maka dapat disimipulkan bahwa kapsitas pendinginan dari sistem HVAC yang digunakan untuk menyuplai koridor telah memenuhi kebutuhan dari beban pendinginan.
Last update: