PRAKTIK PENGGUNAAN INSEKTISIDA RUMAH TANGGA DI AREA BUFFER PELABUHAN TANJUNG EMAS WILAYAH KERJA KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS II SEMARANG

*Ramadani Sukaningtyas  -  Mahasiswa Peminatan Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Ari Udijono scopus  -  Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Martini Martini scopus  -  Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 3 Jul 2020; Published: 2 Nov 2020.
View
PRAKTIK PENGGUNAAN INSEKTISIDA RUMAH TANGGA DI AREA BUFFER PELABUHAN TANJUNG EMAS WILAYAH KERJA KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS II SEMARANG
Subject
Type Research Instrument
  Download (156KB)    Indexing metadata
Open Access
Citation Format:
Abstract
Chemical control in the Semarang Tanjung Emas Port buffer area using insecticides from year to year is still an alternative in the Dengue Hemorrhagic Fever (DBD) disease control program by the Semarang Class II Port Health Office. In addition to the use of insecticides by program managers, there are also uses of insecticides which are often used by many households. The behavior of using household insecticides with inappropriate dosages and methods for a long time has the potential to cause Aedes aegypti vector resistance, thereby reducing the effectiveness of insecticides. This type of research is a descriptive observational study to identify the description of the behavior of the use of household insecticides in the buffer zone of the Port of Tanjung Emas Semarang. Interviews were conducted to find out the history of the use of insecticides. Respondents in this study were heads of households within a 400 meter radius of the Harbor fence. The results showed that most people use household insecticides at 93,85%. The most widely used type of insecticide is 83,08% topical application with DEET (diethyltoluamide) active ingredient. Most people have been using household insecticide for a long time, which is less than 15 years with the highest application time at night, 86,89%.

Note: This article has supplementary file(s).

Keywords: Dengue hemorrhagic fever; Aedes aegypti; household insecticide

Article Metrics:

  1. Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Data Informasi, Profil Kementerian Kesehatan 2018. Jakarta : Kemenkes RI. 2019
  2. Dinas Kesehatan Kota Semarang. DKK Semarang Dashboard. 2019. Diakses pada tanggal 02 Januari 2020 di http://119.2.50.170:9090/dashboard/
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 374/Menkes/Per/III/2010 tentang Pengendalian Vektor. Jakarta : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2010
  4. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Pedoman Penggunaan Insektisida (Pestisida) dalam Pengendalian Vektor. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.2012. 135 p
  5. Iswidaty T, Martini, Widiastuti D. Status Resistensi Nyamuk Aedes aegypti terhadap Malathion 0,8% di Area Perimeter dan Buffer Pelabuhan Tanjung Emas Semarang (Pengujian Berdasarkan Teknik Bioassay dan Biokimia). Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2016;4(1):211
  6. Sudiharto M, Udiyono A, Kusariana N. Status Resistensi Aedes aegypti terhadap Malathion 0,8% dan Sipermetrin 0,05% di Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2020;8(2): 243-249
  7. Widiastuti D, Sunaryo, Pramestuti N, Martini. Aktivitas Enzim Monooksigenase pada Populasi Nyamuk Ae. aegypti di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Jurnal Aspirator. 2015; 7(1):1-6
  8. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 431/MENKES/SK/IV/2007 tentang Pedoman Teknis Pengendalian Risiko Lingkungan di Pelabuhan/ Bandara/ Pos Lintas Batas dalam Rangka Karantina Kesehatan. Jakarta: Kemenkes. 2007
  9. Georghio GP, Melon R. dalam Georghio G.P., and Sito, T., (editors) Pest Resistance to Pesticides. Plenum Press. New York. 1998. p.769
  10. Chitra GA, Kaur P, Bhatnagar T, Manickam P, Murhekar M V. High prevalence of household pesticides and their unsafe use in rural South India. Int J Occup Med Environ Health. 2013; 26(2): 275–282. doi: 10.2478/s13382-013-0102-6
  11. Loroño-Pino MA, Chan-Dzul YN, Zapata-Gil R, et al. Household use of insecticide consumer products in a dengue-endemic area in México. Trop Med Int Health. 2014; 19(10): 1267-1275. doi: 10.1111/tmi.12364
  12. Susanti Lulus, Wigati R.A. Hubungan Karakteristik Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat dalam Menggunakan Antinyamuk di Kelurahan Kutowinangun. Buletin Penelitian Kesehatan. 2012; 40(3):130-141
  13. Kusumastuti NH. Penggunaan Insektisida Rumah Tangga Anti Nyamuk di Desa Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Widyariset. 2014;17(3): 417-424
  14. Raini M. Toksikologi Insektisida Rumah Tangga dan Pencegah Keracunan. Jurnal Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2009;19(2):S27-S33
  15. Sigit Singgih H, dkk. Hama Pemukiman Indonesia. Bogor: Unit Kajian Pengendali Hama Pemukiman Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. 2006
  16. Joharina Arum S, Alfiah Siti. Analisa Deskriptif Insektisida yang Beredar di Masyarakat. Jurnal Vektora. 2013; 4(1):23-32
  17. WHO. Test Procedures for Insecticide Resistance Monitoring In Malaria Vector Mosquotoes. 2013
  18. Maksud M, Mustafa H, Risti, Nelfita, Murni, Jastal. Aktifitas Penggunaan Insektisida Komersil oleh Masyarakat di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue di Provinsi Sulawesi Barat. Jurnal Vektor Penyakit. 2019;13(1):59-66
  19. Sunaryo, Astuti P, Widiastuti D. Gambaran Pemakaian Insektisida Rumah Tangga di Daerah Endemis DBD Kabupaten Grobogan Tahun 2013. Balaba. 2015; 11(01): 9-14
  20. Departemen Kesehatan RI. Survai Entomologi Demam Berdarah Dengue. Direktorat Jenderal Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta: Badan Litbang dan Pengembangan Kesehatan. 2007
  21. Hadi UK, Soviana S, Gunandini DD. Aktivitas Nokturnal Vektor Demam Berdarah Dengue di Beberapa Daerah di Indonesia. Entomologi Indonesia. 2012;9(1):1-6