BibTex Citation Data :
@article{JIAB49863, author = {Rosafina Irena and Sudharto Prawata Hadi}, title = {Pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) dan Kemudahan Transaksi pada Pengguna E-Commerce Shopee di Kota Semarang}, journal = {Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis}, volume = {15}, number = {2}, year = {2026}, keywords = {Fear of Missing Out (FoMO); Kemudahan Transaksi; Impulse Buying; Perdagangan Elektronik}, abstract = { Abstract: The growth of technology in the digital era has increased unplanned purchase. Quick and easy access to information triggers Fear of Missing Out (FoMO). However, after rapid growth in 2020–2021, e-commerce transactions slowed and dropped by 4.83% in 2023 to Rp 453 trillion. Consumers are now more cautious with spending, making it harder for e-commerce to maintain sales. This trend aligns with Shopee’s revenue growth, which is primarily driven by increased service fees rather than transaction value growth. This study examines the impact of FoMO and Transaction Ease on Impulse Buying using a quantitative approach. Data was collected from 100 respondents in Semarang City through purposive sampling and analyzed using validity tests, reliability tests, correlation tests, regression analysis, and t-tests and F-tests with SPSS 26. The findings show that consumers are more influenced by FoMO when seeking the best deals rather than social trends. Transaction Ease also increases impulsive buying. To remain competitive, companies must not only create trends but also build urgency. E-commerce platforms should offer a more transparent and interactive shopping experience. The limitation of the study is most respondents from Tembalang and Banyumanik. Abstraksi: Kemajuan teknologi di era digital mendorong peningkatan pembelian tidak terencana. Akses informasi yang cepat dan mudah memicu Fear of Missing Out (FoMO). Namun, setelah pertumbuhan pesat pada 2020–2021, nilai transaksi e-commerce mulai melambat, bahkan turun 4,83% pada 2023 menjadi Rp 453 triliun. Konsumen kini lebih selektif dalam berbelanja, menciptakan tantangan bagi e-commerce dalam mempertahankan penjualan. Tren ini sejalan dengan peningkatan revenue Shopee yang lebih banyak berasal dari kenaikan biaya layanan dibandingkan dengan pertumbuhan nilai transaksi. Penelitian ini menganalisis pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) dan Kemudahan Transaksi terhadap Impulse Buying . Dengan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan melalui kuesioner dari 100 responden di Kota Semarang menggunakan teknik purposive sampling . Analisis data mencakup uji validitas, reliabilitas, korelasi, regresi linier, serta uji t dan F menggunakan SPSS 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FoMO lebih berpengaruh dalam pencarian harga terbaik dibandingkan faktor sosial atau tren. Kemudahan transaksi juga meningkatkan kecenderungan belanja impulsif. Oleh karena itu, e-commerce perlu mengembangkan strategi pemasaran yang membangun urgensi relevan serta menciptakan pengalaman belanja yang lebih transparan dan interaktif. Penelitian ini terbatas pada Kota Semarang dengan mayoritas responden dari Tembalang dan Banyumanik. }, issn = {2746-1297}, pages = {941--951} doi = {10.14710/jiab.2026.49863}, url = {https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jiab/article/view/49863} }
Refworks Citation Data :
Abstract: The growth of technology in the digital era has increased unplanned purchase. Quick and easy access to information triggers Fear of Missing Out (FoMO). However, after rapid growth in 2020–2021, e-commerce transactions slowed and dropped by 4.83% in 2023 to Rp 453 trillion. Consumers are now more cautious with spending, making it harder for e-commerce to maintain sales. This trend aligns with Shopee’s revenue growth, which is primarily driven by increased service fees rather than transaction value growth. This study examines the impact of FoMO and Transaction Ease on Impulse Buying using a quantitative approach. Data was collected from 100 respondents in Semarang City through purposive sampling and analyzed using validity tests, reliability tests, correlation tests, regression analysis, and t-tests and F-tests with SPSS 26. The findings show that consumers are more influenced by FoMO when seeking the best deals rather than social trends. Transaction Ease also increases impulsive buying. To remain competitive, companies must not only create trends but also build urgency. E-commerce platforms should offer a more transparent and interactive shopping experience. The limitation of the study is most respondents from Tembalang and Banyumanik.
Abstraksi: Kemajuan teknologi di era digital mendorong peningkatan pembelian tidak terencana. Akses informasi yang cepat dan mudah memicu Fear of Missing Out (FoMO). Namun, setelah pertumbuhan pesat pada 2020–2021, nilai transaksi e-commerce mulai melambat, bahkan turun 4,83% pada 2023 menjadi Rp 453 triliun. Konsumen kini lebih selektif dalam berbelanja, menciptakan tantangan bagi e-commerce dalam mempertahankan penjualan. Tren ini sejalan dengan peningkatan revenue Shopee yang lebih banyak berasal dari kenaikan biaya layanan dibandingkan dengan pertumbuhan nilai transaksi. Penelitian ini menganalisis pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) dan Kemudahan Transaksi terhadap Impulse Buying. Dengan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan melalui kuesioner dari 100 responden di Kota Semarang menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data mencakup uji validitas, reliabilitas, korelasi, regresi linier, serta uji t dan F menggunakan SPSS 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FoMO lebih berpengaruh dalam pencarian harga terbaik dibandingkan faktor sosial atau tren. Kemudahan transaksi juga meningkatkan kecenderungan belanja impulsif. Oleh karena itu, e-commerce perlu mengembangkan strategi pemasaran yang membangun urgensi relevan serta menciptakan pengalaman belanja yang lebih transparan dan interaktif. Penelitian ini terbatas pada Kota Semarang dengan mayoritas responden dari Tembalang dan Banyumanik.
Article Metrics:
Last update: