Representasi Aturan Adat Pemilihan Pasangan (Romantic Relationship) Masyarakat Batak dalam Film Mursala

Published: 3 Jul 2015.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 53 56
Abstract

Masyarakat Batak memiliki aturan pemilihan pasangan (romantic relationship).
Aturan yang mengatur siapa saja yang boleh dinikahi dan siapa yang tidak boleh untuk
dinikahi berdasarkan janji yang ditetapkan, tidak boleh saling menikah bagi sepasang
kekasih yang memliki marga yang sama. Di sisi lain ideal bagi masyarakat Batak
menikahi anak perempuan dari tulang (paman). Mursala adalah film drama cinta
berbalut kebudayaan Batak yang bercerita tentang Anggiat Simbolon, seorang
pengacara yang mencoba mempertahankan hubungan cintanya dengan Clarissa Saragih
di tengah larangan adat. Film ini menekankan aturan pernikahan adat Batak yang harus
dijalankan dan dipertahankan sampai sekarang dan perasaan cinta yang berbenturan
dengan nilai adat sehingga menimbulkan konflik dalam keluarga dan masyarakat adat.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui representasi aturan pemilihan pasangan
(romantic relationship) masyarakat Batak dalam film Mursala. Tipe penelitian ini
adalah deskriptif kualitatif, menggunakan pendekatan signifikasi dua tahap dari teori
semiotika Roland Barthes dan analisis semiotika dengan teknik analisis data dari konsep
kode-kode televisi John Fiske. Analisis dilakukan dengan tiga level, yakni level realitas,
level representasi, dan level ideologi. Level realitas dan level representasi dianalisis
secara sintagmatik, sedangkan analisis secara paradigmatik untuk level ideologi.
Hasil penelitian menemukan bahwa adat sebagai nilai yang memiliki kekuatan
untuk mengatur perilaku harus tetap dijalankan dan dipertahankan. Melalui analisis
sintagmatik pada level realitas dan representasi peneliti menemukan makna peneguhan
adat sebagai proses penerapan dan penjagaan nilai-nilai adat dari tindakan pelanggaran.
Selain itu peneliti juga menemukan konflik yang terjadi dalam penerapan nilai adat
yang ditampilkan sebagai dampak benturan kepentingan individu dengan nilai adat.
Sedangkan melalui analisis paradigmatik pada level ideologi peneliti menemukan
penegasan kolektivisme keluarga sebagai agen kebudayaan serta kekakuan dan superior
nilai adat. Konstruksi ideologi kolektivisme keluarga sebagai agen kebudayaan
menampilkan fungsi dan pembagian peran anggota keluarga dalam penanaman nilai
serta sistem pengawasan terlaksananya nilai adat. Konstruksi kekakuan dan sifat
superior adat direpresentasikan lewat ketidakberdayaan Anggiat sebagai pengacara
untuk mempertahankan hubungan cintanya di hadapan hukum adat. Selain itu didapati
bahwa keyakinan terhadap keabsolutan nilai adat sebagai faktor dipertahankan adat
sebagai pedoman perilaku.

Keywords: Batak, representasi, adat, keluarga, superior

Article Metrics: