CLICKTIVISM SEBAGAI DRAMATURGI DI MEDIA SOSIAL

Kuni Zakiyyah, Hedi Pudjo Santosa, Much Yulianto, Triyono Lukmantoro

Abstract


Media sosial adalah salah satu medium online yang paling banyak
digunakan saat ini dengan angka pengguna yang terus meningkat dari tahun ke
tahun. Media sosial dipercaya telah membawa bentuk baru dalam dunia
komunikasi, termasuk sosiologi komunikasi. Di Indonesia dan beberapa negara
lainnya, penggunaan media sosial dalam sebuah aktivisme telah menjadi hal yang
lumrah. Aktivisme suatu gerakan sosial menggunakan fitur-fitur yang terdapat
dalam media sosial untuk mencari anggota/relawan dan mendukung penyebaran
awareness dari gerakan agar menyebar luas (viral). Dengan tujuan tersebut,
aktivisme dalam suatu gerakan sosial rentan berubah menjadi clicktivism, yaitu
kemauan untuk menunjukkan kepedulian dari suatu gerakan sosial melalui
aktivitas di dunia maya (click), tetapi tidak diimbangi dengan pengorbanan yang
berarti (action) dalam membuat suatu perubahan sosial di dunia nyata. Banyaknya
clicktivism yang terjadi di media sosial seakan memberi peluang bagi pelaku
(clicktivist) untuk memanfaatkan aktivitas tersebut sebagai upaya unjuk diri,
seperti yang dijelaskan dalam konsep dramaturgi oleh Erving Goffman (1959).
Penelitian bertujuan untuk mengetahui makna dan gagasan-gagasan clicktivist
yang menjadikan clicktivism sebagai dramaturgi di media sosial.
Penelitian ini menggunakan model penelitian deskriptif kualitatif dengan
menggunakan metode analisis semiotika oleh Roland Barthes (1957). Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, yaitu dengan
mengumpulkan beberapa post di media sosial tentang gerakan Ice Bucket
Challenge pada Agustus 2014. Data kemudian diinterpretasi menggunakan konsep
analisis mitos dalam studi semiotika Barthes.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa clicktivist menggunakan aksi dalam
gerakan Ice Bucket Challenge sebagai upaya untuk menampilkan diri, seperti
yang dijelaskan Goffman dalam konsep dramaturgi. Clicktivist menggunakan
front stage untuk mempercantik tampilan dirinya melalui aksi yang dilakukan,
atau pakaian dan atribut yang dikenakan. Clicktivist juga menggunakan
impression management agar dipersepsikan secara positif oleh penonton sesuai
dengan gambaran/image ideal dirinya. Impression management ditunjukkan
melalui pakaian/atribut yang dikenakan, juga dari dialog dan gesture yang
ditampilkan clicktivist. Sedangkan back stage merupakan fakta-fakta yang
terdapat dalam aksi Ice Bucket Challenge yang dilakukan clicktivist. Fakta ini
seringkali tidak sesuai dengan apa yang diungkapkan clicktivist pada front stage-nya
Kata kunci: media sosial, clicktivism, Ice Bucket Challenge, dramaturgi


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.



Interaksi Online, is published by Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jln. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Jawa Tengah 50275; Telp. (024)7460056, Fax: (024)7460055


Creative Commons License
Interaksi Online by http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/interaksi-online is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.



Lihat Statistik Pengunjung