Memahami Komunikasi Antarpribadi dalam Pengelolaan Hubungan Asmara Jarak Jauh Mahasiswa Kedinasan Akademi Kepolisian

Received: 1 Oct 2013; Published: 31 Oct 2013.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Memahami Komunikasi Antarpribadi dalam Pengelolaan Hubungan
Asmara Jarak Jauh Mahasiswa Kedinasan
Akademi Kepolisian
Skripsi
Disusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan
Pendidikan Strata 1
Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Imu Politik
Universitas Diponegoro
Penyusun
Nama : Yolan Enggiashakeh S.
NIM : D2C009026
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013
Nama : Yolan Enggiashakeh Soemantri
NIM : D2C009026
Judul : Memahami Komunikasi Antarpribadi dalam Pengelolaan Hubungan Asmara
Jarak Jauh Mahasiswa Kedinasan Akademi Kepolisian
ABSTRAK
Kehadiran teknologi seyogyanya dapat menjadi solusi dalam permasalahan komunikasi jarak
jauh. Namun hal tersebut tidak mampu dirasakan oleh mahasiswa kedinasan Akademi
Kepolisian yang tengah menjalin hubungan jarak jauh. Adanya peraturan akademi tetap saja
menjadi kendala bagi mereka untuk melakukan pengembangan hubungan dengan
pasangannya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan komunikasi antarpribadi
yang dilakukan mahasiswa kedinasan Akademi Kepolisian dengan pasangannya dalam
pengembangan hubungan asmara jarak jauh yang dijalani dan pengelolaan konflik dalam
hubungan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.
Analisis dan interpretasi data dilakukan dengan mengelompokkan dan menyusun data dalam
kategori kemudian mencari kaitan antar kategori tersebut.
Triangular theory of love dan prinsip dialektika pada hubungan menjadi pijakan dalam
penelitian ini. Sedangkan attribute theory dalam pengelolaan konflik digunakan untuk
analisis pengalaman subjek penelitian. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah
wawancara mendalam kepada subjek penelitian yaitu mahasiswa kedinasan Akademi
Kepolisian dan pasangannya.
Dalam mempertahankan hubungannya, setiap pasangan menanamkan pentingnya memahami
situasi komunikasi dan mengoptimalkan pengungkapan diri. Pengertian dan rasa saling
percaya juga ditanamkan dalam hubungan karena keterbatasan komunikasi sudah menjadi
bagian dalam hubungan asmara jarak jauh yang terkait peraturan kedinasan. Mahasiswa
kedinasan Akpol melakukan upaya pengelolaan komunikasi dengan melanggar peraturan
kedinasan dan mencuri kesempatan saat berada di dalam kampus atau asrama. Penggunaan
gambar sebagai bentuk ungkapan kepada pasangan merupakan komunikasi nonverbal yang
dilakukan ketika melakukan interaksi melalui media. Komitmen yang kuat membuat
hubungan tersebut tidak mengarah pada pemutusan hubungan walaupun sering terjadi
konflik. Sedangkan dalam pengelolaan konflik, perilaku avoidance terjadi pada awal
meningkatnya konflik serta sikap cooperative juga dilakukan oleh pasangan ketika
menghadapi permasalahan.
Keyword : long distance relationship, pengembangan hubungan, pengelolaan konflik,
instansi kedinasan
Name : Yolan Enggiashakeh Soemantri
NIM : D2C009026
Title : Understanding Interpersonal Communication in Long Distance Relationship
Maintenance of Police Academy’s Student
ABSTRACT
The presence of technology should be a solution to problems of long-distance
communication. But it is not able to be felt by the students of Police Academy that are in a
long distance relationship. Academy regulation remains an obstacle for them to undertake the
development of a relationship with their partner.
This study aims to determine how the management of interpersonal communication
conducted by students of the Police Academy in the development of long distance
relationship that endured and managing conflict in relationship. The method used in this
study is a qualitative descriptive with a phenomenological approach. Analysis and
representation of data is done by grouping into categories and looking for linkages between
them.
The triangular theory of love and four dialectical principles of friendships became the
foundation of this research. While the attribute theory of conflict management is used for the
analysis of research subjects experience. Technique of data collection was in-depth interview
to study subjects which students of the Police Academy and their partners.
In maintaining relationship, each partner instilling the importance of understanding the
situation of communication and optimizing self disclosure. Understanding and mutual trust
also invested in relationship because of the limitations of communication has become a part
of the long distance relationship relevant official regulations. Police Academy official student
communications management efforts is break the rules and steal opportunities while on
campus or in the dormitory. The use of images as an expression of nonverbal communication
which is done when couples do interaction through the media. Strong commitment make the
relationship does not lead to termination despite frequent conflicts. While in the management
of conflict, avoidance behavior occurred at the beginning of the conflict and cooperative
behaviour also performed by couples when dealing with problems.
Keyword : long distance relationship, relationship development, conflict management,
agency official
I. Pendahuluan
Hubungan jarak jauh akan terasa lebih sulit dibandingkan dengan hubungan pacaran
yang keduanya berada dalam satu lingkungan maupun satu wilayah yang berdekatan. Dimana
dalam hubungan tersebut biasanya dapat terjadi intensitas pertemuan yang cukup tinggi
dibandingkan dengan mereka yang menjalani LDR. Terpisah jarak yang jauh membuat
pasangan akan mengalami masalah yang lebih banyak. Masalah tersebut adalah masalah
seperti perasaan depresi, stress, kesalahpahaman, kecurigaan, kecemburuan, kecemasan, dan
berbagai ketidakpastian.
Akan tetapi dengan adanya perkembangan teknologi saat ini, telah diciptakan
berbagai alat komunikasi yang juga semakin canggih. Alat komunikasi tersebut mampu
menjadikan hubungan yang sebenarnya dipisahkan jarak ratusan bahkan hingga ribuan
kilometer menjadi lebih dekat. Kesulitan-kesulitan dalam berkomunikasi dengan seseorang
yang berbeda tempat dengan kita akan lebih mudah dan semakin terasa dekat. Komunikasi
merupakan hal yang paling krusial. Komunikasi yang memanfaatkan teknologi bisa menjadi
alternatif paling brilian yang akan menyelamatkan sebuah hubungan cinta yang terpisahkan
oleh jarak yang jauh.
Kunci utama keberhasilan sebuah hubungan adalah adanya komunikasi yang baik
serta rasa kepercayaan dan keterbukaan antara satu sama lain. Intensitas, durasi, frekuensi
dalam berkomunikasi merupakan pokok dalam memelihara kualitas hubungan asmara. Akan
tetapi, ada permasalahan tersendiri bagi pasangan yang salah satunya terikat suatu peraturan
kedinasan, dimana peraturan tersebut sangat membatasi komunikasi dengan dunia luar.
Peraturan demikianlah yang ditetapkan dalam Akademi Kepolisian untuk tarunanya,
sehingga diangkat sebagai kasus dalam penelitian ini. Mahasiswa kedinasan Akademi
Kepolisian tidak boleh menggunakan, membawa, atau menyimpan handphone atau
netbook/laptop ketika sedang di dalam kampus Akpol. Adanya peraturan tersebut membuat
komunikasi taruna dengan pasangan mereka pun menjadi sangat terbatas.
Kesulitan berkomunikasi menjadi suatu penghambat dalam penyelesaian masalahmasalah
yang terjadi pada hubungan keduanya. Terlebih lagi apabila hubungan yang dijalani
mereka adalah hubungan jarak jauh atau LDR yang intensitas pertemuan nyata hanya dapat
dilakukan jika taruna mendapatkan cuti semester. Padahal dalam hubungan asmara,
pertemuan nyata penting terjadi untuk meningkatkan keintiman diantara keduanya. Dalam
pertemuan nyata, komunikasi nonverbal dapat terjadi diantara pasangan dimana mereka dapat
melakukan kontak mata secara fokus. Selain komunikasi nonverbal berupa kontak mata,
bersentuhan juga menjadi hal yang natural yang terjadi untuk menunjukkan ketertarikannya
kepada pasangan dan menunjukkan kebersamaan mereka.
Pasangan kekasih umumnya dilandasi saling pengertian terhadap satu sama lain.
Tuntutan akan perhatian yang lebih, komunikasi yang intens, serta komitmen dalam
berhubungan merupakan beberapa hal yang mampu membuat keduanya menjadi lebih dekat
dan lebih mengenal satu sama lain. Namun dalam menciptakan kondisi seperti ini bukanlah
suatu hal yang mudah sehingga memungkinkan munculnya konflik yang pada akhirnya akan
berdampak hingga adanya pemutusan hubungan.
Penelitian ini akan mencoba mendeskripsikan komunikasi antarpribadi yang
dilakukan dalam pengelolaan hubungan asmara jarak jauh mahasiswa kedinasan Akademi
Kepolisian serta mengetahui cara pengelolaan konflik dalam hubungan asmara yang
dilakukan oleh mahasiswa kedinasan Akademi Kepolisian dengan pasangannya.
II. Kerangka Teori dan Metode Penelitian
Hubungan yang terbentuk oleh dua individu yang saling jatuh cinta ini merupakan
hubungan antarpribadi yang berkembang, dipelihara, dan terkadang juga bisa hancur melalui
komunikasi. Sementara Beebe (2005:278) menyatakan tentang the triangular theory of love
(teori segitiga cinta), dimana terdapat tiga dimensi yang dapat digunakan untuk
mendeskripsikan beberapa variasi dalam hubungan percintaan yaitu intimacy (kedekatan),
commitment (komitmen), dan passion (gairah).
Pengaruh media komunikasi seperti internet pada keintiman pasangan mampu
berperan baik. Computer-mediated communication (CMC) atau komunikasi melalui
komputer merupakan bentuk komunikasi diantara orang-orang melalui media komputer,
termasuk e-mail, chat room, bulletin boards, dan grup berita (Beebe, 2005:359).
Dalam long distance relationship, terdapat pertukaran informasi yang dilakukan oleh
pasangan untuk memelihara kualitas hubungan yang dijalaninya, baik itu dengan mencari
informasi mengenai pasangannya atau bagaimana individu mengungkapkan berbagai
informasi tentang dirinya. Interaksi dalam self disclosure yang dilakukan oleh pasangan
adalah dengan melihat keluasa serta kedalaman topik informasi. Hubungan asmara hampir
sama halnya dengan hubungan persahabatan, dimana hubungan ini memiliki pertukaran
informasi yang stabil. William Rawlins menyatakan mengenai empat prinsip dalam
dialektika persahabatan, untuk mengelola komunikasi diantara individu yang terlibat.
(Littlejohn, 1999:272-273)
Social exchange adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa orang-orang membuat
keputusan dalam hubungan dengan memperkirakan serta membandingkan antara imbalan dan
biaya. Pada Interpersonal Communication: Relating to Others dinyatakan bahwa dalam long
distance relationship, putusnya hubungan asmara dapat terjadi ketika biaya yang dikeluarkan
lebih besar dibandingkan dengan imbalan yang didapatkan dari komunikasi yang hanya
sebentar. Begitupun sebaliknya, hubungan dapat terus berlanjut dan konflik dapat
diminimalisisr. Sedangkan dalam pengelolaan konflik yang dilakukan adalah secara attribute,
dimana individu menentukan bagaimana perilaku atau sikap saat konflik di dalam hubungan
terjadi.
Penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif kualitatif, yang akan memahami
pengalaman individu dan pasangan ketika menjalani hubungan jarak jauh. Subjek penelitian
adalah mahasiswa kedinasan Akpol dan pasangannya.
III. Hasil Penelitian
Hasil temuan penelitian menunjukkan adanya upaya yang dilakukan oleh informan
dalam melakukan pengelolaan hubungan. Pengalaman dari individu yang didapatkan dari
hasil penelitian dikelompokkan dalam tematik sebagai berikut.
1) Frekuensi komunikasi yang berlangsung
Jumlah komunikasi yang dilakukan oleh pasangan yang lebih senior tentunya lebih
banyak dibandingkan dengan pasangan yang junior. Terlebih lagi pada saat awal menjalani
LDR, pasangan taruna paling junior bahkan harus menunggu enam bulan sama sekali tidak
berkomunikasi. Waktu pesiar yang tidak lama membuat mereka memerlukan media
komunikasi yang dapat menyampaikan informasi yang diinginkan dan segera mendapatkan
umpan balik secara langsung. Informan taruna senior mencoba setiap fasilitas yang mampu
digunakannya untuk dapat berkomunikasi dengan pasangannya. Pasangan jarak jauh juga
lebih memilih media komunikasi skype karena dapat sedikit menggantikan pertemuan nyata
mereka. Dalam pengelolaan komunikasinya, taruna-taruna junior memiliki cara-cara agar
dapat menggunakan alat komunikasi. Cara tersebut bahkan membuat mereka berani
melakukan pelanggaran peraturan Akpol.
2) Durasi komunikasi
Minimnya frekuensi komunikasi yang dapat dilakukan pasangan tingkat 1 dan 2
memiliki waktu yang singkat pula dalam berkomunikasi. Dalam waktu yang begitu singkat,
bahkan informan hanya mengatakan kabar dan salam tanpa mendapat umpan balik. Seluruh
informan baik, menggunakan waktu pesiar untuk menelepon pasangannya masing-masing.
Namun di tengah kesibukan pekerjaannya, pasangan juga masih memanfaatkan waktu
komunikasi yang ada untuk saling menghubungi.
Para informan sama-sama memiliki tema-tema yang lama dibicarakan. Selama waktu
pesiar, Seluruh informan menjadikan kegiatan sehari-hari mereka sebagai tema yang selalu
mengambil waktu paling banyak. Tema tersebut sebagai ganti dari komunikasi yang tidak
mampu mengcover seluruh komunikasi mereka selama satu minggu sebelumnya.
3) Intensitas pertemuan
Setelah pertemuan pun mereka juga masih harus bersembunyi agar tidak bertemu dengan
senior-senior. Adanya hierarki di dalam Akpol membuat informan taruna junior tidak mau
bertemu seniornya saat berada di luar kampus Akpol. Intensitas pertemuan yang sangat
minim juga menjadi suatu hal yang menarik. Dalam waktu hampir setahun menjadi pasangan,
informan taruna senior hanya mendapatkan kesempatan dua kali bertemu. Kesempatan
bertemu itu juga tidaklah lama, membuatnya sungkan ketika bertemu dengan pasangannya
pertama kali.
4) Komunikasi verbal dan nonverbal yang berlangsung
Rasa sayang dan cinta yang diungkapkan oleh bukan hanya ungkapan dalam bentuk
verbal. Perasaan tersebut ditunjukkan dengan berusaha untuk memberikan kejutan atau
hadiah kepada pasangannya. Selain itu, saat mendapat kesepmatan juga dimanfaatkan dengan
menghabiskan waktu berdua. Interaksi fisik yang sering dilakukan adalah hal sewajarnya
seperti menggandeng tangan pasangannya karena sebagai kekasih juga memiliki tugas untuk
menjaga wanitanya.
Informan menyatakan bahwa selama pertemuan saat pesiar ia tidak dapat melakukan halhal
seperti pasangan lain pada umumnya. Mereka tidak pernah jalan-jalan di Mall atau ke
tepat-tempat keramaian. Saat berdua pun mereka tidak bisa dengan bebas bermesraan seperti
orang pacaran pada umumnya. Kegiatan mereka seringkali dibatasi oleh aturan yang
mengikat.
5) Pengungkapan diri
Terbatasnya waktu komunikasi membuat kesempatan yang ada untuk saling
menghubungi juga sangat kurang. Mereka merasa komunikasi yang ada masih sangat kurang.
Jarangnya pertemuan juga mempengaruhi bagaimana mereka melakukan self disclosure satu
sama lain. Dalam hubungan jarak jauh yang dijalani, pasanga memiliki rasa percaya antara
satu sama lain. Akan tetapi, mereka merasa bahwa pasangannya mengetahui dengan pasti
kegiatan yang dilakukan karena mereka sering menceritakan apa-apa saja yang dilakukan
selama satu minggu. Tidak semua masalah diungkapkan oleh taruna kepada pasangannya.
Para informan taruna dari penelitian ini sepakat tidak pernah menceritakan mengenai
kehidupan di Akpol. Banyak yang mereka tutupi tentang kehidupan di asrama. Sebagian
besar yang diceritakan kepada pasangan masing-masing adalah hal-hal umum yang dapat
diketahui pihak luar.
6) Kecurigaan dan prasangka yang dialami selama LDR
Minimnya komunikasi dan jarangnya pertemuan secara langsung, menimbulkan rasa
curiga dan prasangka dari tiap-tiap pasangan. Pasangan selalu ingin tahu dan merasa harus
tahu tentang apa yang dialami oleh pasangannya. Biar bagaimanapun, pasangan yang berada
di dunia luar dan ia pula yang lebih sering bertemu dengan banyak orang. Akan tetapi
kecurigaan tersebut tidak sampai menumbuhkan sikap posesif.
Konflik yang terjadi dalam hubungan mereka selalu memiliki alasan yang sama yaitu
kecurigaan satu sama lain. Rasa curiga dan prasangka tersebut muncul ketika waktu Dwi
Kresna (Informan III) bisa menelepon pasangannya, pasangannya malah tidak menjawab.
Waktu berkomunikasi hanya saat pesiar, namun pasangannya malah tidak ada, membuat
kecurigaan tersebut muncul. Dwi Kresna (Informan III) menerka-nerka apa yang dilakukan
pasangannya yang tidak menjawab telepon, terlebih lagi pada malam Minggu dimana anak
muda biasanya pergi keluar rumah.
7) Rasa empati dan supportiveness
Setiap pasangan pasti memiliki setiap masalahnya sendiri. Dalam pemecahan tersebut,
seringkali seseorang melibatkan orang lain hanya untuk mencurahkan keluhan yang
dirasakan atau perasaan yang mengganjal dirinya. Akan tetapi, saat orang terdekat tidak bisa
selalu ada mendampingi, maka orang lain lah yang menjadi tujuan mencurahkan apa yang
terjadi. Ketiga informan taruna dalam penelitian ini adalah pribadi yang cenderung tertutup
mengenai masalah pribadi. Mereka tidak pernah menceritakan permasalahan kepada orang
lain, terlebih jika menyangkut masalah hubungan asmara. Berbeda dengan pasangannya yang
memiliki orang lain untuk mencurahkan cerita atas masalah yang dihadapi, baik itu kepada
teman dekat ataupun keluarga.
8) Imbalan dan biaya
Mengenai biaya yang dikeluarkan selama dalam hubungan jarak jauh, pasangan samasama
memiliki pengeluaran yang cukup besar. Masalah biaya juga menjadi hal yang
dipertimbangkan dalam hubungan mereka. Belum lagi kekecewaan yang harus dibayar juga
karena tidak jadi bertemu dengan pasangan. Selain biaya yang berupa material uang, bentuk
biaya lain yang dikeluarkan oleh pasangan adalah bentuk biaya secara psikologis. Biaya
tersebut seperti upaya serta pengorbanan yang dilakukan. Memberikan prioritas kepada
pasangan juga merupakan salah satu bentuk biaya dari hubungan asmara yang dijalani para
informan seperti menggunakan sebagian besar waktu cuti atau libur bersama pasangannya
dibanding dengan keluarganya di rumah. Saat mendapatkan kesempatan untuk
berkomunikasi, informan juga lebih sering menghubungi pasangan daripada menghubungi
kedua orangtuanya.
Ada biaya yang dikeluarkan, ada pula imbalan yang didapatkan. Imbalan tersebut tidak
hanya berupa apa yang secara langsung diinginkan dari hubungan dan dari pasangan. Salah
satu yang merupakan imbalan adalah masa depan hubungan serta sikap pasangan agar selalu
mengerti keadaan dan keterbatasan pasangan mereka yang berstatus sebagai taruna Akpol.
9) Jenis konflik
Penyebab utama konflik pada pasangan seringkali karena kurangnya pengertian. Namun,
sejauh ini, konflik-konflik tersebut bisa diatasi oleh keduanya dan mereka selalu bisa kembali
menjadi lebih baik setelah pertengkaran. Konflik-konflik kecil juga terjadi pada hubungan
dipicu oleh rasa curiga satu sama lain karena tidak ada kabar saat hari pesiar. Akan tetapi,
walaupun mereka sering mengalami kecurigaan dan prasangka satu sama lain, intensitas
konflik dalam hubungan mereka tidak sering terjadi bahkan jarang. Selain konflik tersebut,
konflik yang terjadi kemudian adalah konflik besar yang tidak pernah dicari solusinya.
Sehingga konflik itu pula yang mengantarkan hubungannya ke arah pemutusan hubungan.
10) Pengelolaan konflik
Pada konflik kecil yang pernah terjadi, menyelesaikan dengan pasangannya dengan
mengakui kesalahan masing-masing, dan berkompromi. Walaupun pada awalnya pasangan
cenderung menghindar. Kekecewaan atas kepercayaan dan kesetiaan yang telah diberikan
juga hilang karena hadirnya pihak ketiga sehingga tidak ada penyelesaian untuk masalah
berat seperti itu. Tiap informan memiliki pandangan yang berbeda atas hadirnya
permasalahan dan konflik dalam hubungan mereka. Konflik bisa sebagai pengingat bagi
dirinya untuk melakukan evaluasi dalam hubungan. sedangkan pasangan lain memiliki
pandangan berbeda berdasarkan pengalamannya. Menurutnya, konflik yang pernah ada
dalam hubungannya membuat ia lebih berhati-hati dalam mempercayai seseorang dan lebih
berpikir panjang ketika akan memutuskan untuk kembali berkomitmen. Kepercayaan diantara
pasangan juga harus lebih ditingkatkan karena seperti itulah resiko hubungan jarak jauh.
11) Komunikasi pasca konflik
Pasca konflik terjadi, introspeksi yang dilakukan adalah dengan meminta pendapat dari
teman satu asramanya. Sedangkan bagi pasangan yang tidak pernah mengalami konflik,
mereka tetap melakukan antisipasi dengan terus menjaga komunikasi tetap baik. Mereka
tidak ingin ada lagi orang-orang iseng yang ikut campur dan mengganggu ketenangan
hubungan mereka.
IV. Pembahasan
Upaya komunikasi dilakukan oleh pasangan untuk mengoptimalkan frekuensi, durasi,
dan intensitas pertemuan selama berhubungan jarak jauh. Pada komunikasi yang
menggunakan computer-mediated, ada kelemahan yang dapat menimbulkan ketidakpuasan
dibandingkan dengan komunikasi secara tatap muka. Isyarat nonverbal yang tidak dapat
terbaca secara lengkap, peran kata-kata tertulis yang memiliki dampak besar dalam pesan,
serta waktu yang lama saat merespons pesan menjadi kelemahan dalam CMC. (Beebe,
2005:360-361)
Mengelola komunikasi adalah faktor paling penting dalam mendukung suatu
hubungan yang kuat, bahkan yang melewati jarak jauh. Semakin seseorang terbuka dan jujur
dalam menjaga komunikasi, maka akan semakin sama kualitasnya pada hubungan jarak jauh
dibanding hubungan jarak dekat. (Beebe, 2005:319)
Hal-hal yang terkait dengan adanya kepercayaan, kepedulian, kejujuran, sikap saling
mendukung, pengertian, dan keterbukaan. Indikasi pada intimacy itulah yang
dikomunikasikan oleh pasangan hubungan jarak jauh. Sedangkan commitment yang diambil
adalah komitmen pasangan untuk saling setia dan berupaya menghadapi kendala-kendala
dalam hubungan mereka. Selain itu, rasa rindu juga menjadi hal paling utama yang ada dalam
hubungan jarak jauh karena minimnya waktu yang dapat dihabiskan bersama.
Bentuk tulisan, gambar, serta foto yang saling ditukarkan oleh informan dapat masuk
ke dalam istilah emoticons. Orang-orang mengekspresikan perasaan cinta, dan benci serta
pengalaman hubungan jarak jauh baik dalam konteks tatap muka atau mediatedcommunication.
Dalam mediated-communication berbasis teks, bentuk paralinguistik seperti
huruf kapital, huruf tebal, maupun miring digunakan untuk menggarisbawahi arti atau
memberikan tekanan pada kata dan emoticons juga digunakan secara luas. (Konijn, dkk,
2008:108). Komunikasi nonverbal hanya nampak ketika terjadi pertemuan diantara pasangan
yang menjalani LDR. Bentuk-bentuk interaksi nonverbal yang dapat dijelaskan dalam
temuan penelitian adalah bentuk komunikasi nonverbal seperti kinesics dan proximate.
Pasangan tetap memiliki area public dan juga area private walaupun mereka berada
pada tahap keintiman yang tinggi. Permasalahan tersebut tidak diceritakan karena lembaga
pendidikan mereka mendidik untuk tidak menceritakan semua yang terjadi di dalam
kehidupan pendidikan kepolisian. Panjang atau lamanya waktu yang digunakan seseorang
akan menentukan kemungkinan banyaknya informasi dan pengungkapan diri yang dilakukan.
(Budyatna&Ganiem, 2011:48)
Imbalan dan biaya yang diharapkan oleh para informan adalah mengenai perkiraan
(forecast), yaitu bagaimana proyeksi dan prediksi atas hubungan yang sedang dijalani dan
bagaimana potensi hubungan tersebut di masa depan. Bentuk biaya adalah pengorbanan serta
perhatian dan kesetiaan yang dimiliki oleh pasangan. Sedangkan imbalan adalah harapan
mereka atas pasangan dan hubungan mereka di masa depan.
Ego yang muncul karena perbedaan antara harapan dan kenyataan yang terjadi pada
suatu hubungan akan menyebabkan perselisihan yang berujung konflik. Dalam hubungan
asmara jarak jauh yang dialami para informan, konflik yang terjadi umumnya adalah
mengenai kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Selain itu, kecurigaan dan prasangka juga
menjadi pemicu adanya konflik pada pasangan. Apabila pada suatu hubungan
memperlihatkan tanda-tanda memburuk tetapi masih ada komitmen kuat pada kedua pihak
untuk mempertahankannya, mereka akan mengatasi hambatan dan memperbaiki keadaan.
(Devito, 1996:252)
Ketika terjadi permasalahan dalam sebuah hubungan, Beebe dan Redmond
(2005:335-336) menyatakan bahwa seseorang mempunyai tiga pilihan dalam menghadapi
permasalahan tersebut; menunggu dan melihat apa yang terjadi; membuat keputusan untuk
mengakhiri hubungan; atau mencoba memperbaiki hubungan. Pasangan yang berkonflik
pernah sampai pada relational de-escalation yaitu di tahapan turmoil atau stagnation.
Tahapan tersebut menunjukkan bahwa konflik meningkat dan partner menemukan kesalahan
yang lainnya. Namun demikian, setelah konflik tersebut pasangan mampu menyelesaikannya
dengan kooperatif sehingga kembali pada tahapan intimacy. Komunikasi yang terjadi pasca
konflik pun kembali pada keintiman yang tinggi.
V. Kesimpulan
Pengelolaan komunikasi yang dilakukan adalah dengan mengoptimalkan komunikasi
melalui telepon hanya saat hari pesiar (Sabtu atau Minggu). Pengungkapan diri juga lebih
dioptimalkan saat pertemuan yang terjadi. Jika mendapat kesempatan, mereka selalu
menghabiskan waktu bersama untuk update kabar masing-masing tanpa ada persoalan
pribadi yang ditutup-tutupi. Komunikasi yang sering dilakukan oleh dengan menggunakan
handphone dan media internet seperti facebook, e-mail, Line, ataupun Skype. Seringkali
peraturan dilanggar dengan mencuri kesempatan menggunakan alat komunikasi di dalam
kampus Akpol. Hadiah dan gambar yang sering dikirimkan kepada pasangan merupakan
bentuk komunikasi nonverbal yang dilakukan untuk mengungkapkan perasaan yang dapat
menguatkan hubungan. Tingginya supportiveness dan rasa saling percaya yang dimiliki oleh
pasangan ini membuat hubungannya dapat bertahan lama.
Konflik yang sering terjadi dalam hubungan karena adanya kesalahpahaman
komunikasi serta pihak ketiga yang datang ke dalam hubungan. biasanya, jika konflik sudah
mulai naik, pasangannya cenderung menghindar. Ia tidak mau berkomunikasi dengan
informan taruna tingkat 1. Penyelesaian masalah dalam konflik tersebut biasanya dilakukan
secara kooperatif saat emosi keduanya mulai menurun. Sedangkan konflik kecil yang sering
terjadi dalam hubungan informan taruna tingkat 2 disebabkan adanya kecurigaan. Kejujuran,
rasa saling percaya, dan pengertian dapat menjadi kunci dalam hubungan jarak jauh yang
memiliki banyak kendala.
Daftar Pustaka
Beebe, Steven A., Susan J. Beebe, and Mark V. Redmond. 2005. Interpersonal
Communication : Relating to Others. 4th ed. Boston: Allyn and Bacon.
Budyatna, Muhammad dan Leila Mona Ganiem. 2011. Teori Komunikasi Antarpribadi.
Kencana: Jakarta.
Cupach, William R. And Daniel J. Canary. 1997. Competence in Interpersonal Conflict.
USA: Waveland Press, Inc.
Devito, Joseph A. 1996. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Profesional Books.
Konijn, Elly A. dkk. 2008. Mediated Interpersonal Communication. New York: Routledge.
Littlejohn, Stephen W. 1999. Theories of Human Comunication. USA: Wadsworth
Publishing Company.
West, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan
Aplikasi (Buku 1). Jakarta: Salemba Humanika.

Article Metrics: