Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM”

Received: 31 Jul 2013; Published: 30 Aug 2013.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

JUDUL : Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM”
NAMA : Saskia Elvira
NIM : D2C607046
ABSTRAKSI
Persaingan radio yang semakin ketat membuat industri media penyiaran perlu
mencari tahu dan memahami apa yang disukai oleh para pendengar agar tetap dapat
menarik perhatian pendengar. Pemasaran mampu memberikan dampak besar untuk
kelancaran merebut perhatian pendengar. Dalam menciptakan strategi yang tepat
pengelola radio perlu menyajikan hal-hal baru yang seru agar tetap disukai dan
didengarkan oleh audience, salah satu caranya adalah dengan memperhatikan dan
memahami perilaku pendengar mereka, apa yang mereka sukai dan minati. Radio
SSFM adalah radio anak muda yang inspiring, dynamic, dan entertaining. Dengan
basic itulah Radio SSFM melakukan visi misinya. Menjadi radio yang menginspirasi
anak muda, menjadi radio yang dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan
jaman, serta radio yang syarat akan hiburan.
Tujuan dari kampanye PR “Assik Ala SSFM” ini adalah memperkenalkan
Radio SSFM sebagai radio anak muda di Semarang dan meningkatkan awareness
anak muda di Semarang terhadap Radio SSFM melalui event roadshow yang
diselenggarakan di 3 Sekolah Menengah Atas dan sederajat di Semarang dengan cara
mengedukasi target audiens bagaimana berkendara dengan baik dan benar (Safety
Riding). Mengacu pada analisis khalayak yang dituju, target audiens diberikan
pengalaman secara langsung untuk berpartisipasi didalam program acara melalui
permainan-permainan dan informasi mengenai Radio SSFM.
Persiapan event dimulai dengan riset, konsep acara, penyusunan anggaran,
pencarian sponsor, penentuan vendor untuk produksi acara, pembagian kerja untuk
anggota, dan perijinan tempat.
Event dilaksanakan dengan mengambil jam pelajaran sekolah, dengan program
didalamnya berupa edukasi dalam ruangan mengenai safety riding dari pihak Astra
Honda Semarang didalam aula sekolah masing-masing, selanjutnya praktek safety
riding dan 3 permainan mengenai safety riding dengan konten berisi informasi
mengenai Radio SSFM. Tidak lupa juga hiburan berupa pertunjukan music dari siswa
sekolah itu sendiri dan hadiah-hadiah yang menarik. Para penyiar dari Radio SSFM
diperkenalkan dalam event ini agar dapat secara langsung berinteraksi dengan
audiens, mascot radio, informasi program radio, frekuensi radio, dan semua informasi
mengenai radio SSFM.
Kata kunci : Kampanye Humas, Radio SSFM
2
TITLE : PR Campaign SSFM Radio “Assik Ala SSFM”
NAME : Saskia Elvira
NIM : D2C607046
ABSTRACT
Radio industry is getting more competitive, it makes them need to know and
need to understand what the listener want so they can attract the listener attention.
Marketing can give a big impact to grab it. In creating the right strategy, Radio
Management needs to serve 'fresh' things. They need to understand listener behaviour
too. SSFM Radio is youth inspiring, dynamic, and entertaining radio.
PR Campaign "Assik ala SSFM" goal is to introducing SSFM Radio as one of
youth Radio in Semarang and increasing their awareness about SSFM Radio with
roadshow event that held on three high school to educating the Safety Riding. Refer to
target audience analysis, they directly given experience to participate in the program
through games and information about SSFM Radio.
Event preparation start from research, concept, budgeting, sponsorship,
production, job positioning and place pemit.
Event took a school hours with many programs like safety riding education in
the class from Astra Honda Semarang, then safety Riding practice and three games
about safety riding include SSFM Radio information and also entertainment from
school students. many cool marchendise given for student who join the games. MC
introducing the mascot, program radio information, radio frequency and in the middle
of the show, the radio announcers introduce by the MC to make a direct interaction
with audience
Key word : Public Relations, Campaign, SSFM Radio
3
Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM”
Jurnal Laporan Program Director
Penyusun
Nama : Saskia Elvira
NIM : D2C607046
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2013
4
PENDAHULUAN
Saat ini Radio terbilang sebagai salah satu media yang unggul dalam
penyampaian informasi selain itu radio juga menjadi media hiburan bagi pendengar
baik dimana pun dan kapan pun berada. Menurut Asep Syamsul M. Romli dalam
bukunya Broadcast Jurnalism: Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, dan Scripwrite
menjelaskan beberapa karakteristik radio yang menjadi keunggulan dari media lain
diantaranya adalah radio sebagai media yang menggunakan suara, melalui musik,
efek suara, dan kata-kata, radio dapat membuat pendengar berimajinasi atau disebut
juga dengan “Theatre of Mind” yaitu membuat gambar dibenak pendengar. Radio
merupakan media tercepat lebih cepat dari Koran ataupun TV, hal ini dikarenakan
radio tidak membutuhkan proses yang rumit seperti produksi, percetakan, ataupun
siaran TV. Pendengar radio juga dapat merasakan kedekatan secara personal dengan
penyiarnya, rasa hangat dan akrab dengan lagu-lagu yang diputarkan dan obrolan atau
informasi yang dikomunikasikan oleh penyiar radio dapat mempengaruhi emosi bagi
pendengarnya. Radio mempunyai jangkauan yang luas dan media yang murah
dibandingkan dengan media cetak atau media televisi, dan yang terakhir media radio
bersifat fleksibel, pendengar dapat memperoleh informasi tanpa mengganggu aktivitas
lainnya, dengan berkembangnya teknologi radio juga dapat mobile atau dibawa
kemana saja.
Persaingan radio saat ini semakin ketat, sehingga pengelola media siaran harus
benar-benar memahami dan mengenali ekspektasi atau apa yang diinginkan para
pendengar. Para pengelola radio harus berusaha melakukan berbagai perbaikan yang
terus berkembang baik dari segi teknologi audio ataupun dari intonasi penyiar,
persaingan yang semakin ketat akan menimbulkan suatu kompetisi untuk meraih
simpati dari para pendengar, oleh karena itu para pengelola radio mulai melancarkan
berbagai cara untuk mendapatkan perhatian dari para pendengarnya terlebih dari sisi
pemasaran yang akan memberikan dampak bagi kelancaran merebut perhatian
pendengar.
Untuk menciptakan strategi yang tepat dalam membuat mengelola radio agar
tetap disukai dan didengarkan oleh audience adalah dengan memperhatikan dan
memahami perilaku pendengar mereka. Perilaku pendengar dapat dapat didapatkan
dari ketertarikan mereka pada isi dalam radio tersebut, contohnya seperti program
radio, penyiar radio, feature radio, dan lagu-lagu yang disajikan. Pada umumnya
perilaku pendengar yang memiliki kegemaran mendengarkan radio, akan lebih prefer
untuk memilih radio dari kesukaannya pada kategori tersebut, mereka suka pada
program radio yang ada didalamnya contohnya program cerita misteri, program musik
indie, program masalah rumah tangga, dan lainnya.
Dilihat dari segmentasi pendengar, kini konsep radio pun sudah beraneka
ragam. Dibantu oleh teknologi riset, memudahkan bagian program dalam radio
tersebut menentukan pengambilan konsep utama apa yang akan dipakai. Beberapa
konsep radio diantaranya ada radio keluarga, radio wanita, radio yang menonjolkan
suatu genre musik, radio all segmen, radio anak muda, dll.
Dalam konsep radio anak muda, di Semarang sendiri terdapat beberapa radio
diantaranya Prambors, trax, RCT, SSfm dan lainnya. Masing-masing dari radio
tersebut mempunyai ciri khas yang masih berbeda, mulai dari pemilihan musik,
5
program acara di dalamnya, gaya berbicara penyiarnya, dan juga konten-konten di
dalamnya.
Dibandingkan dengan radio dengan segmen anak muda lain, SSfm merupakan
radio yang menyajikan lebih banyak lagu dibanding percakapan penyiarnya. Lagulagu
yang diputar pun merupakan lagu-lagu yang sudah hits atau disebut hits player.
Berbeda dengan radio anak muda lain yang disebutkan di atas, mereka memutarkan
lagu yang belum hits, menjadi hits atau yang di sebut dengan hits maker.
Selain dari perbedaan pemilihan lagu, SSfm memiliki cara yang berbeda dari
segi penyampaian pesan melalui announcer. Announcer tidak diberi waktu yang lama
untuk berbicara, dengan batasan waktu satu menit. Sedangkan radio lain memberikan
waktu penyiar untuk lebih banyak berbicara.
Apabila dilihat dari segi kultur yang ada di Semarang, SSfm merupakan radio
yang localize, hal itu dibuktikan dari adanya aturan announcer dalam penyampaian
pesan yang harus lokalitas. Contohnya penggunaan aku-kamu, sisipan bahasa jawa
dalam talkset, dan adanya program-program serta konten yang diberi nama dari
bahasa jawa.
Strategi-strategi yang dilakukan oleh SSfm sebagai radio anak muda tidak
berpaku dengan musik. Diantaranya beberapa program dan informasi yang disajikan
sesuai dengan hal yang sedang “hype” pada anak muda kota Semarang.
Upaya-upaya di atas masih belum bisa membuat SSfm dikenal oleh masyarakat
khususnya anak muda dikarenakan SSfm masih dikenal sebagai “Suara Sakti” yang
bersegmentasi usia dewasa dan “Suara Semarang” yang sama sekali tidak ada
hubungannya dengan radio SSFM, hal ini dibuktikan dari hasil wawancara yang
dilakukan pada beberapa anak muda di Semarang secara acak. Di lain sisi juga hampir
seluruh dari mereka mengartikan nama “SS” sebagai tempat makan “Spesial Sambal”.
(Wawancara tersebut dilakukan pada kurang lebih 30 anak muda di Semarang
sebelum pembuatan latar belakang)
SSFM adalah sebuah brand yang baru walaupun sebenarnya radio ini sudah
lama berdiri. Dulu SSfm bernama “Suara Sakti” dengan konsep konten-konten lagu
jazz, lalu berubah menjadi radio keluarga, radio untuk profesional muda, dan
kemudian barulah merubah namanya menjadi SSfm (tanpa singkatan) yang
bersegmentasi anak muda, dengan range usia 15 – 34 tahun. Target audience
primernya adalah usia 15 – 25 tahun, target bias sampai dengan 34 tahun.
Target audience yang diutamakan adalah usia SMA, kuliah, dan professional
muda. Dari sangat luasnya target audience yang dimiliki oleh SSfm, sangat sulit pula
untuk mengelola program sesuai dengan masing-masing karakteristik usia tersebut.
Menurut hasil riset pada beberapa anak muda di Semarang dan melihat dari
program-program off air yang sudah pernah dilakukan oleh SSFM sebelumnya,
didapatkanlah kesimpulan bahwa anak muda di Semarang kebanyakan apatis pada
sesuatu yang tidak dekat dengan lingkungan sekitarnya, mereka tidak banyak peduli
pada informasi diluar lingkungan pergaulannya atau diluar lingkup sekolahnya,
termasuk pada program offair SSfm. Oleh karena itu di program-program off air
SSFM kebanyakan berkerjasama dengan komunitas-komunitas anak muda di
Semarang. Untuk acara yang lebih difokuskan untuk anak muda khususnya siswa6
siswi SMA atau sederajat diperlukan suatu usaha untuk menyampaikan informasi
dengan cara lain yaitu mendekatkan diri langsung pada mereka dan mencari tahu apa
yang mereka sukai. Hal ini perlu dilakukan agar brand Radio SSFM dapat lebih
dikenal oleh anak muda. Melalui strategi komunikasi pemasaran yang baik tentunya
dapat membantu menginformasikan suatu brand secara jelas dan terarah.
Pada hakekatnya, promosi adalah bentuk komunikasi pemasaran. Komunikasi
pemasaran adalah aktifitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi,
mempengaruhi atau membujuk dan meningkatkan pasar sasaran atas perusahaan dan
produk agar membeli dan loyal terhadap suatu produk yang ditawarkan perusahaan
tersebut. Kegiatan pemasaran adalah mempromosikan barang dan jasa yang
dihasilkan perusahaan. (Fandy Tjiptono; 2019; Pemasaran Strategik; 2001)
Kegiatan pemasaran juga dapat dilakukan dengan kegiatan kampanye PR yang
digunakan untuk pementukan image dari brand yang akan dipromosikan. untuk
kegiatan kampanye PR, tentunya harus dilakukan resech mengenai isu-isu local yang
sedang marak dilingkunga target audience. Dalam kegiatan kampanye PR yang akan
kami lakukan, kami mengambil isu kecelakaan yang diakibatkan lalainya pengendara
motor khususnya pelajar di Semarang.
Menurut Kepala Cabang PT Jasa Raharja (Persero) Jateng, Sukono
menjelaskan, data kendaraan yang terlibat kecelakaan selama Januari hingga Maret
2012, didominasi oleh sepeda motor. Diikuti mobil pribadi dan truk.. Berdasarkan
usia korban paling besar untuk rentang usia 15-29 tahun (39,22%), diikuti usia 30-49
tahun (30.65%). Sedangkan jika berdasar profesi, sebagian besar adalah karyawan
(28,33%) diikuti pelajar/mahasiswa (23.67%) dan wiraswasta (22,90%).
http://hariansemarangbanget.blogspot.com/2012/04/pengendara-motor-dominasikecelakaan.
html (8 April 2013, 2:10 AM)
Radio SSFM adalah radio anak muda yang inspiring, dynamic, dan
entertaining. Dengan basic itulah Radio SSFM melakukan visi misinya. Menjadi
radio yang menginspirasi anak muda, menjadi radio yang dinamis dan dapat berubah
mengikuti perkembangan jaman, serta radio yang syarat akan hiburan.
Hiburan yang disajikan oleh radio SSFM merupakan hiburan berbentuk lagu,
feature yang dikemas secara kocak yang sangat bergantung pada target audiencenya.
Target audience dari SSFM merupakan range usia 13-30 tahun. dengan target primer
15-25 tahun. Dari segi SES, SSFM menuju pada SES B-C. SSFM memiliki
pendengar di Semarang dan sekitarnya, namun dengan adanya teknologi streaming,
seluruh masyarakat dapat mendengarkan radio SSFM asal tersambung dengan
internet.
Pada bulan September 2012 SSfm mendapatkan peringkat ke 2 dalam rating
segmen radio anak muda oleh ACNielsen. Segmentasi tersebut berada pada range usia
18-25 tahun, yang dalam range usia tersebut merupakan usia mahasiswa perkuliahan
sampai profesional muda.
Dari target audience yang dituju oleh SSfm, usia 15 – 18 tahun masih belum
terlalu mengena. Dalam artian, usia setara Sekolah Menengah Atas masih belum
banyak yang mengenal ataupun mendengarkan SSfm.
7
Berdasarkan target primer dari SSFM dengan range usia 15-25 tahun, anak
muda dengan usia tersebut sudah mulai sadar akan pentingnya dunia teknologi dan
modernisasi. Mereka mempunyai kecenderungan untuk tidak ingin disebut sebagai
orang yang gaptek atau ketinggalan jaman. Mulai dari gadget yang digunakan dan
konsumsi media social. Hampir setiap anak muda di Semarang sudah mempunyai
akun di media social yang umum seperti facebook, twitter, bahkan youtube. Hal
tersebut dilakukan agar mereka tetap up-to-date dan tidak ketinggalan jaman dengan
mengetahui informasi-informasi terbaru yang sedang happening.
Happening yang mereka sukai biasanya seputar lifestyle seperti musik, berita
tentang artis, sepak bola, fashion, film di bioskop, tempat nongkrong, kuliner, acaraacara
hiburan, dsb. Selain hal-hal tersebut, rata-rata dari mereka menyukai hal-hal
yang lucu atau berbau humor, suka besosialisasi, dan suka berkelompok.
Dari latar belakang yang kami kemukakan, maka ditemukanlah permasalahan
dalam SSfm, yaitu masih kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap SSfm yang
baru dengan target audience anak muda. Kurangnya awareness masyarakat tentang
SSfm, dibuktikan dengan hasil riset yang ada di gambar 1.3 dan gambar 1.4 dan juga
hasil wawancara yang dilakukan dengan hasil masih banyaknya masyarakat yang
mengartikan “SS”fm sebagai “Suara Sakti”, “Suara Semarang” atau bahkan “Spesial
Sambal”
Berdasaarkan masalah yang telah dirumuskan, maka terbentuklah beberapa
tujuan yang harus dicapai, yaitu memperkenalkan SSfm sebagai radio anak muda di
Semarang dan meningatkan awareness anak muda di Semarang terhadap radio SSFM
ISI
Untuk mengetahui dimana posisi tingkat awareness anak muda Semarang
terhadap SSFM diperlukan riset terlebih dahulu. Secara harfiah, Awareness berarti
kesadaran. Sedangkan BrandAwareness itu sendiri adalah kemampuan dari seseorang
yang merupakan calon pembeli (potential buyer) untuk mengenali (recognize) atau
menyebutkan kembali (recall) suatu merek merupakan bagian dari suatu kategori
produk ( Aaker, 1991: 61). Menurut riset yang kami peroleh, SSFM masih berada di
tahapan “Unaware of a Brand”, melalui sebuah program kegiatan, kami bertujuan
untuk menaikkan SSFM pada tahapan “Brand Recognition”.
Kegiatan promosi ditujukan untuk mempersuasi audiens dalam mempelajari
sebuah informasi baru, mengubah emosi, atau untuk bertindak sedemikian rupa.
Istilah dan penggunaan persuasi dilakukan demi menghasilkan beberapa perubahan
dalam aspek kognitif,afektif dan perilaku target audiensi.
Teori ini terkait usaha organisasi membujuk audiens untuk mempelajari
informasi baru, mengubah emosi atau untuk bertindak sedemikian rupa. Lattimore,
dkk. menggunakan istilah berikut dalam bicara tentang persuasi (2010: 55):
1. Kesadaran (awareness) : menerima informasi pertama kali,
2. Sikap (attitude) : kecenderungan untuk suka atau tidak suka terhadap sesuatu,
8
3. Keyakinan (beliefs) : penilaian tentang benar atau salahnya sesuatu,
4. Perilaku (behavior) : sebuah aksi yang dapat diamati
Program SSFM yang merupakan sebuah rangkaian kegiatan menjadikan teori
persuasi sebagai landasannya dimana istilah-istilah dalam teori tersebut disesuaikan
dengan setiap kegiatan yang akan dilakukan sehingga nantinya dapat mencapai tujuan
awareness hingga behaviour.
Safety riding diperuntukkan bagi istilah awareness atau kesadaran, yang menjadi
kegiatan awal untuk membuka diri, memberikan informasi pertama kali, serta
memperkenalkan SSFM kepada siswa SMA. Kegiatan ini mencoba untuk menarik
perhatian siswa SMA untuk berpartisipasi dan dapat menyebarluaskan informasi
mengenai radio SSFM dengan cara memberikan edukasi mengenai cara berkendara
motor yang benar dan mematuhi rambu lalu lintas melalui games-games /kompetisi
menarik yang diselipkan berbagai macam informasi tentang radio SSFM yang
diharapkan dapat menyentuh mereka secara emosional, sehingga melalui kegiatan ini
informasi dapat diterima oleh target secara baik dan dapat memberikan penilaian
tentang radio SSFM sekaligus menjadi sebuah pengalaman bagi mereka yang sulit
dilupakan dan akhirnya dapat diceritakan pada orang lain. Selain itu hasil yang
didapatkan bukan hanya para siswa yang menjadi lebih mengenal SSFM secara baik,
namun para siswa juga jadi tahu bagaimana cara berkendara yang aman, dan merubah
pola berkendara mereka.
Untuk mendekatkan diri pada target yang merupakan anak muda, kita harus
mencaritahu isu apa yang sedang marak dikalangan anak muda. Isu yang kami
dapatkan adalah seputar kecelakaan yang banyak terjadi pada anak muda karena
kurangnya keamanan dalam berkendara. Dengan mengangkat isu sosial tersebut,
secara tidak langsung sudah menimbulkan kepedulian terhadap mereka. Dengan
kepedulian tersebut diharapkan respon positif yang didapatkan dan melalui kegiatan
yang langsung mengajak mereka untuk praktek bersama memberikan sebuah
pengalaman tersendiri sehingga dalam perasaan nyaman tersebut, mereka dapat
menerima informasi dengan baik.
Radio SSFM sebagai radio yang inspiring, menjadi salah satu alasan mengapa
kegiatan ini menjadi tools yang digunakan. Diharapkan SSFM dapat menginspirasi
anak muda bahwa aman berkendara adalah hal yang keren. Dalam hal ini dapat
menciptakan image bahwa radio SSFM merupakan radio anak muda yang peduli pada
anak muda.
Dari teori-teori yang telah kami paparkan di atas, mendasari terbentuknya
strategi kegiatan yang akan kami lakukan. Melalui strategi experience yang kami
anggap dapat membantu penyerapan informasi pada target.
Dalam pelaksanaan kegiatan yang melibatkan kegiatan sekolah akan
menggunakan strategi experience yang dianggap efektif untuk mencapai tujuan.
Strategi tersebut dipilih karena memungkinkannya terjadi interaksi dengan target
audience dalam kondisi yang nyaman dan menyenangkan sehingga mampu
memberikan pengalaman menarik dan kesan baik terhadap Radio SSFM, sesuai
dengan karakter psikografis target audiens yang suka tantangan dan suka hal baru
akan memungkinkan informasi diserap secara maksimal. Strategi experience ini juga
9
memberikan pengalaman langsung kepada target audiens mengenai program SSFM.
Dengan keterlibatan audiens diharapkan mampu menciptakan kesan menyenangkan
sehingga akhirnya mereka merasa penasaran dan mencoba untuk mendengarkan
SSFM. Kegiatan utama yang dilakukan adalah Assik ala SSFM (Aman Selamat
Saat Naik Kendaraan ala SSFM). Semua kegiatan ditujukan kepada target audiens
primer dan sekunder dengan tujuan yang sama.
Assik ala SSFM akan digunakan SSFM sebagai tools untuk terjun langsung di
sekolah. Dengan memberikan edukasi mengenai cara berkendara yang baik dan benar
dan dikemas dengan permainan-permainan yang menarik dan berhubungan dengan
features dari radio SSFM. Kegiatan ini dilakukan sebagai proses untuk memasukan
input berupa informasi atau pengetahuan mengenai radio ssfm dan juga edukasi
mengenai cara berkendara yang baik dan benar, input ini diproses secara menarik
dengan permainan-permainan seru yang diikuti siswa-siswa tersebut sehingga
menciptakan mood yang menyenangkan dan dapat dengan mudah untuk menerima
informasi mengenai ssfm. Didalam permainan tersebut dimasukan features dari SSFM
baik dari tagline, frekuensi, dan informasi lainnya, dalam edukasi mengenai safety
riding akan dikemas secara menarik dan interaktif. Untuk memperkuat ingatan
mereka mengenai informasi ini, kami juga menambahkan gimmick yang akan
diberikan kepada siswa berupa helm SNI, masker motor, sarung tangan berkendara,
stiker, gantungan kunci sepeda motor, dan hadiah uang tunai, dengan tujuan siswa
yang berkendara yang baik akan dianggap sebagai anak Assik SSFM. Output yang
diharapkan adalah berupa awareness yang dimiliki siswa-siswa sma yang terlibat
didalam kegiatan tersebut meningkat, baik dalam pengetahuan mengenai radio SSFM
maupun behaviour mereka dalam berkendara.Dalam pemeragaan cara berkendara
yang baik dan benar dilakukan oleh tim dari SSFM “Laskar Kawi”, didalamnya juga
terdapat komptisi-kompetisi menarik seputar berkendara dan hal-hal ang behubungan
dengan SSFM. Tentunya dalam sebuah kompetisi, pemenang akan mendapatkan
hadiah. Hadiah yang kami siapkan dalam satu sekolah berjumlah Rp. 1.052.000,00
yang akan dibagi menjadi 21 hadiah. Sistematika pemilihan sekolah dilakukan oleh
klien yang menurut mereka sekolah tersebut termasuk sasaran utama target dari radio
SSFM.
Kegiatan Assik ala SSFM ini memerlukan promosi dan publikasi untuk
menginformasikan khalayak khususnya siswa SMA untuk mengetahui kegiatan yang
akan dilakukan dan menunjukkan SSFM kepada anak muda Semarang sebagai radio
dengan segmentasi anak muda. Strategi publikasi yang dilakukan meliputi media
massa/ publik serta media luar ruang yang digunakan sebagai publikasi kegiatan yaitu
Radio, dan media online.
Sebagai Program director, yang berperan cukup penting dalam
penyelenggaraan sebuah event karena program director mempunyai tugas utama
bertanggung jawab dalam menyusun konsep, menangani alur acara dalam sebuah
event, menyusun rundown, serta bertanggung jawab terhadap acara secara
keseluruhan. Program director bertanggung jawab pula dalam menghubungi pengisi
acara yang digunakan pada event. Pada pelaksanaan kegiatan “Assik Ala SSFM”
detail tugas program director meliputi Membawahi stage managemen, stage crew dan
floor crew, Bertanggung jawab terhadap kelangsungan acara keseluruhan, Menyusun
konsep acara, Menyusun rundown acara, terutama ketepatan waktu acara agar tidak
terjadi kekosongan dan kemoloran, Bertanggung jawab dan menjalin hubungan
dengan para pengisi acara (talent).
10
Pada saat pelaksanaan kegiatan, tugas Program Director adalah bertanggung
jawab terhadap kelangsungan pelaksanaan kegiatan serta kegiatan kepanitiaan,
Memastikan acara berlangsung sesuai dengan konsep, Berkoordinasi dengan divisi
lainnya (Project Officer, Production Manager, Bussiness Manager, Operational
manager, dan Comunication Manager), Koordinasi talent, Mengawasi pembagian
konsumsi peserta dan distribusi konsumsi talent, Bertanggung jawab atas Distribusi
hadiah, Melakukan evaluasi dengan Tim Pelaksana, Membuat laporan pertanggung
jawaban kepada pihak sponsor dan Radio 105.2 SSFM, Membuat laporan kegiatan.
PENUTUP
Tujuan dari aktivitas PR adalah untuk mempengaruhi perilaku, tanpa melupakan
bahwa hal ini juga berarti ada kemungkinan terjadinya perubahan organisasi maupun
publik. Ada dua syarat utama untuk menjawab pertanyaan tersebut, yaitu dengan
informasi yang didapatkan melalui riset dan analisis yang mendalam. Informasi
tersebut kemudian digunakan untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip dan kekuatan
utama dari program tersebut yang disebut dengan strategi.
Kedua syarat tersebut sudah dilakukan yang kemudian terciptalah program
kegiatan ”ASSIK ALA SSFM”. Dalam penilaian tercapainya tujuan dari program ini
diperlukan adanya evaluasi. Evaluasi adalah suatu proses untuk memantau dan
menguji, serta merupakan analisis terhadap hasil akhir dari suatu kampanye atau
program. (Anne Gregory; 139; Perencanaan dan Manajemen Kampanye Public
Relations; 2004)
Pesan atau informasi yang ada dalam sebuah brand akan tersampaikan dengan
maksimal apabila audiens terlibat secara langsung dan memperoleh experience
dengan mood yang baik didalam sebuah kegiatan yang diadakan. Menurut Tom
Duncan, cara ampuh menyampaikan pesan sebuah brand adalah dengan mengajak
pelanggan dan pelangggan potensial untuk terlibat langsung dalam sebuah event.
Event dapat membuat pelanggan dan pelanggan potensial untuk merasakan sendiri
(memberikan experience kepada pelanggan) produk dari suatu organisasi atau
perusahaan. Dengan dasar inilah akhirnya event “ASSIK ala SSFM” diselenggarakan.
(Tom Duncan; The principles of Advertising and IMC; 2005)
Secara konseptual, event yang menjadi public relations tools ini merupakan
cara yang efektif untuk mampu memberikan proses interaksi kepada audiens sehingga
menciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan kedua belah pihak dan
menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik, bertujuan
menanamkan keinginan baik, kepercayaan saling adanya pengertian dan citra yang
baik dari audiens.
Melihat masih rendahnya awareness anak muda Semarang terhadap Radio
105.2 SSFM berdasarkan hasil riset yang telah kami lakukan, maka tim
penyelenggara bersama pihak manajemen menyelenggarakan sebuah kegiatan yang
dimaksudkan untuk memperkenalkan Radio 105.2 SSFM kepada anak muda
Semarang khususnya pelajar SMA/SMK, karena menurut Guy Materman dan Emma
H. Wood, event digunakan untuk mengkomunikasikan tentang produk, merk, ide atau
organisasi dengan target khalayak tertentu. Dengan dasar inilah event “ASSIK ala
SSFM” diselengggarakan. (Guy Materman & Emma H. Wood; Innovative Marketing
Communication: Strategies for Events Industry; 2006)
Tujuan yang diinginkan oleh Radio SSFM pun dapat dicapai melalui event
ASSIK ala SSFM meningkatnya awareness anak muda khususnya siswa SMA/SMK
dapat mengenal SSFM dengan baik, event ini juga menerima respon positif dari
masyarakat melalui publikasi yang baik.
11
Secara garis besar event sebagai tools PR dalam IMC pada event “ASSIK ala
SSFM” terlakasana dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Peningkatan yang signifikan dalam hal awareness target audiens terhadap radio
SSFM terlihat jelas dari parameter di atas. Menurut teori yang terdapat dalam latar
belakang, Dalam teori segitiga awareness menurut Aaker dalam bukunya “Managing
Brand Equity; Capitalizing on the Value of Brand Name” radio SSFM yang
sebelumnya terletak pada tahapan unaware of a brand, saat ini dapat dikatakan berada
pada brand recognition dimana target audiens dapat mengingat dan menyebutkan
kembali informasi yang telah disampaikan selama event berlangsung.
KESIMPULAN
Kegiatan “ASSIK Ala SSFM” berhasil dilakukan. Seluruh tujuan dari kegiatan
ini dapat dicapai dan di evaluasi dengan baik. Hubungan kerja sama antara pihak
penyelenggara, klien, sponsorship seperti Astra Motor Semarang (Honda), AEOC,
INKRAFT, Rinjani View, serta media lainnya pun berjalan dengan baik.
Pemilihan venue dan perijinan untuk event dapat mengenai sasaran, dan juga
event ini juga dapat menerpa target audiens lainnya yang tidak tersentuh oleh event
tersebut melalui social media.
SARAN
Untuk mengadakan sebuah event yang menyasar pada anak muda khususnya
pelajar SMA/SMK di kota Semarang, perlu adanya survey dan riset yang lebih
mendalam mengenai Sekolah yang dituju. Riset / survey sebaiknya dilakukan dengan
wawancara karena metode pengisian angket / questioner kurang efektif dan valid
untuk hasil yang diharapkan.
12
DAFTAR PUSTAKA
Aaker, David. 1991. Managing Brand Equity; Capitalizing on the Value of Brand
Name. New York : Free Press
(http://www.scribd.com/doc/76703520/Managing-Brand-Equity)
Duncan, Tom. 2005. The Principle of Advertising and IMC. New York : McGraw Hill
Gregory, Anne. 2004. Perencanaan dan Manajemen Kampanye Public
Relations. Jakarta : Erlangga
Kasali, Rhenald. 2009. Manajemen Public Relation Konsep dan
Aplikasinya di Indonesia. Jakarta : Grafiti
Lattimore, Dan., Otis Baskin., Suzette T.Heiman & Elizabeth L.Toth.
(2010). Public Relations : Profesi & Praktik. Jakarta : Salemba
Humanika.
Masterman, Guy & Wood, Emma. 2006. Innovative Marketing Communication,
Strategies for the Events Industry. United Kingdom : Butterworth Heinemann
Peter, J Paul dan Olson, Jerry C. 1996. Customer Behaviour and
Marketing Strategy. 4th Edition. New York : McGraw Hill Co.
http://hariansemarangbanget.blogspot.com/2012/04/pengendara-motor-dominasikecelakaan.
html

Article Metrics: