STRATEGI BRANDING KOTA SURAKARTA DALAM PENGELOLAAN SEBAGAI DESTINASI WISATA

Received: 30 Aug 2013; Published: 30 Oct 2013.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

STRATEGI BRANDING KOTA SURAKARTA DALAM PENGELOLAAN
SEBAGAI DESTINASI WISATA
Abstrak
Pengembangan pariwisata menjadi salah satu fokus dalam peningkatan kualitas
hidup masyarakat melalui pendapatan daerah. Surakarta menjadi salah satu kota di
Indonesia yang konsen terhadap sektor pariwisata karena memiliki potensi seni
dan budaya untuk dijadikan sebuah produk wisata yang dapat dijual kepada
wisatawan.
Saat ini, Surakarta menjadi sebuah kota wisata dengan konsep wisata
budaya. Tahun 2010 menjadi tahun dimana kota Surakarta mengoptimalkan brand
pariwisatanya yaitu ’Solo, The Spirit of Java’ sejak diresmikan tahun 2003.
Namun pada kenyataanya hingga saat ini, Surakarta masih belum dapat bersaing
dengan kota-kota wisata lainnya seperti Bandung dan Yogyakarta dari segi jumlah
wisatawan.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
strategi branding dan mengevaluasi proses branding kota Surakarta dalam
mengkomunikasikannya sebagai sebuah destinasi wisata. Fase-fase destination
branding dan destination branding model menjadi dasar dalam evaluasi branding
pariwisata kota Surakarta. Oleh karena itu, metode penelitian yang digunakan
adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan evaluatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses branding yang dilakukan oleh
kota Surakarta masih belum sesuai dengan konsep branding sebuah destinasi,
karena tidak ada keterpaduan antara tujuan pemasaran dan tujuan komunikasi.
Surakarta cenderung menekankan pada hal-hal yang bersifat komersial untuk
kepentingan industri pariwisata sehingga mengesampingkan esensi sebenarnya
dari konsep branding sebuah destinasi yaitu penyampaian pesan-pesan
komunikasi brand pariwisata kota Surakarta.
Kata Kunci : branding, Surakarta, destinasi, pariwisata, pemasaran, komunikasi
viii
Nama : Lina Mustikawati
NIM : D2C009012
SURAKARTA CITY’S BRANDING STRATEGIES IN MANAGEMENT AS
A TOURISM DESTINATION
Abstract
Tourism development is one focus in improving quality of life through local
revenues. Surakarta became a city in Indonesia, concentrated on the tourism sector
because it has the potential of arts and culture to be used as a tourism product that
can be sold to tourists.
Currently, Surakarta became a city tour with the concept of cultural
tourism. The year 2010 became the year in which Surakarta optimize its tourism
brand 'Solo, The Spirit of Java' since it was inaugurated in 2003. But the fact is
until today, Surakarta still can not compete with other tourism cities such as
Bandung and Yogyakarta in terms of the number of tourists.
The objectives of this research is to investigate and evaluate the process of
branding strategies branding Surakarta in communicating it as a tourism
destination. Phases of destination branding and destination branding model the
basis for the evaluation of tourism branding Surakarta. Therefore, the research
method used was a qualitative research method with an evaluative approach.
The results showed that the branding process conducted by the city of
Surakarta still not in accordance with the concept of branding a destination,
because there is no coherence between the objectives of marketing and
communication objectives. Surakarta tends to emphasize matters of a commercial
nature for the benefit of the tourism industry to the exclusion of the true essence
of the concept of branding a destination that is delivering brand communication
messages Surakarta tourism.
Key words : branding, Surakarta, destination, tourism, marketing,
communication

STRATEGI BRANDING KOTA SURAKARTA DALAM PENGELOLAAN SEBAGAI
DESTINASI WISATA
1. Pendahuluan
Surakarta atau Solo adalah kota di Jawa Tengah yang tengah menjadi salah satu ikon dalam
promosi pariwisata Indonesia. Strategi komunikasi pariwisata kota Surakarta dikelola oleh
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta yang berkedudukan sebagai National
Tourism Organization (NTO). Berbagai kegiatan difokuskan pada kegiatan yang berujung
pada kota MICE (Meeting, incentive, convention, and exhibition).
Sebagai kota tujuan wisata, komunikasi branding kota Surakarta belum mampu
mencapai posisi teratas dalam kunjungan wisatawan. Surakarta baru mencapai target
kunjungan wisatawan tahun 2012 dengan kunjungan 2.133.848 orang. Sementara brand
pariwisata dengan „Solo, The Spirit of Java‟ sudah berjalan semenjak tahun 2005, namun
selama 5 tahun berjalan hingga tahun 2010, pariwisata kota Surakarta masih belum
menunjukkan perkembangan untuk bersaing dengan kota-kota wisata lainnya. Tahun 2010,
kepemimpinan Jokowi-Rudy periode kedua, Surakarta melakukan perubahan dari berbagai
bidang, baik infrastruktur, kebijakan ekonomi, hingga pariwisata. Angin segar bagi pariwisata
ditunjukkan dengan peresmian badan promosi pada tahun 2010 yang khusus bertugas
mempromosikan pariwisata kota Surakarta kepada calon-calon wisatawan di seluruh daerah.
Kunjungan wisatawan menunjukkan adanya peningkatan, namun terkesan lambat untuk
sebuah kota wisata yang telah dibangun selama 7 tahun. Hal ini ditunjukkan dengan
penurunan tertinggi terjadi pada wisatawan mancanegara yang datang melalui pintu masuk
bandara Adi Sumarmo sebanyak 9,31 persen dari kunjungan wisman tahun 2012 sebanyak
8.044.062 pengunjung. (sumber : Berita resmi statistik, Perkembangan pariwisata, dan
transportasi nasional 2012).Perkembangan pariwisata kota Surakarta pada tahun 2010
ditandai dengan banyaknya penyelenggaraan berbagai event budaya dan promosi pariwisata
di dalam negeri maupun luar negeri, bahkan sempat dinobatkan oleh Indonesia Tourism
Award 2010 sebagai „kota Terfavorit‟ yang dikunjungi wisatawan, dan „Kota dengan
Pelayanan Terbaik‟. Hal ini semestinya berdampak positif pada perkembangan jumlah
wisatawan yang berkunjung ke kota tersebut. Mengamati kondisi tersebut, penelitian ini
bermaksud merumuskan permasalahan tentang bagaimana strategi branding yang dilakukan
kota Surakarta dalam pengelolaannya sebagai daerah destinasi wisata? Apakah dalam proses
mengkomunikasikan brandingnya sesuai dengan tahapan-tahapan yang seharusnya dilakukan
untuk destinasi branding pariwisata?
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi branding yang diterapkan oleh
kota Surakarta dalam pembangunan brand sebagai sebuah destinasi wisata, dan mengevaluasi
proses strategi branding dalam mengkomunikasikan kota Surakarta sebagai sebuah destinasi
wisata. Penelitian ini menggunakan beberapa konsep destination branding, yaitu destination
branding models yang dikemukakan oleh Cai (2002), destination branding phase, destination
branding complexity. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian kualitatif pendekatan evaluatif dimana evaluasi dilakukan secara deskriptif
berdasarkan konsep ideal dari branding sebuah destinasi (destination branding).
Tipe Penelitian ini tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan evaluatif program,
yang berfokus pada proses dan hasil suatu perencanaan strategi program. Sumber data dalam
penelitian ini meliputi data primer yang diperoleh secara langsung dari sumbernya melalui
wawancara mendalam (indepth interview) kepada narasumber terkait dan data sekunder
digunakan sebagai pendukung data primer yang dikumpulkan secara tidak langsung dari
sumber penelitian yaitu berupa tambahan sumber yang diperoleh peneliti secara tidak
langsung melalui media perantara.
2. Pembahasan
Evaluasi dilakukan melalui analisis tentang proses dan kegiatan branding yang dilakukan
kota Surakarta untuk selanjutnya disesuaikan dengan konsep branding sebagai sebuah
destinasi. Hal ini didasarkan dengan analisis SOSTAC yang merupakan langkah-langkah
dalam melakukan pemasaran branding yang nantinya akan terlihat apakah proses branding
kota Surakarta tersebut sesuai dengan konsep branding pariwisata yang seharusnya dilakukan
untuk menciptakan sebuah destinasi.
Latar belakang yang dimiliki oleh kota Surakarta untuk dijadikan sebuah destinasi,
sudah sesuai dengan konsep destination audit, yang meliputi daya tarik, kekuatan destinasi,
dan jangkauan wisatawan. Ketiga faktor ini adalah sesuai dengan target audiens yang ingin
dicapai, yaitu wisatawan, baik asing maupun nusantara dengan segala fasilitas yang ada dapat
menikmati pariwisata di Surakarta. Branding destinasi wisata (destination branding)
didefinisikan sebagai nama, simbol, logo, word mark atau gambaran lainnya yang dapat
mengidentifikasi dan membedakan sebuah destinasi, selebihnya menjanjikan sebuah
pengalaman wisata yang dapat diingat karena keunikan yang dimiliki oleh sebuah destinasi
yang juga berfungsi dalam memperkuat ingatan kenangan yang mengesankan dari sebuah
pengalaman destinasi (Ritchie, Ritchie; 1998). Definisi konsep branding destinasi wisata kota
Surakarta menunjukkan bahwa adanya kesesuaian, dimana Surakarta memiliki keunikan
sebagai pusat peradaban jawa yang berbasis seni dan kultur. Kekayaan yang dimiliki di
dalamnya seperti seni, budaya, kuliner dan wisata belanja memberikan pengalaman wisata
yang menarik karena merupakan potensi khas kota Surakarta tidak dimiliki oleh kota-kota
lainnya. Adapun tujuan (objective) branding destinasi kota Surakarta adalah (1) Keterbukaan
akses yang lebih luas bagi wisatawan, (2) Perkembangan wisatawan yang signifikan setiap
tahunnya (5-10%) untuk menghadirkan multiplier effect bagi sektor perdangangan dan
industri pariwisata, (3) Keanekaragaman objek dan atraksi wisata yang dapat mendukung
lama tinggal wisatawan, (4) Efisiensi sumber daya bagi pengembangan kepariwisataan
(anggaran, SDM dan sumberdaya lainnya).
Proses perencanaan meliputi penentuan strategi yang didahului dengan riset analisis
SWOT dan Benchmarking kota Surakarta terhadap wilayah yang memiliki potensi serupa
seperti Singapura dan Bali. Setelah itu dilakukan penentuan target audiens yang meliputi
Target Primer yaitu Wisatawan Nusantara, Target Sekunder yaitu wisatawan Malaysia,
Singapura, dan Australia, dan target wisatawan tersier yang berdomisili selain target primer
dan sekunder. Strategi branding dituangkan dalam Roadmap pariwisata yang didesain secara
tematik sesuai dengan renstra meliputi Festive City, Theater of Community Arts, Pioneer of
Eco Art, ArtEpolis.
Kegiatan Implementasi dilakukan melalui kegiatan komunikasi pemasaran direct
marketing dengan kegiatan promosi secara langsung seperti pameran pariwisata. Sedangkan
indirect marketing dilakukan melalui kegiatan event seni budaya yang dilakukan dalam satu
tahun penuh. Selain itu dalam memperkuat brand equity, dilakukan maksimalisasi dalam
berbagai komponen seperti brand identity melalui slogan dan logo, endorser melalui putra
dan putri Solo, dan kerjasama promosi melalui asosiasi terkait seperti Visit Jateng dan
Wonderful Indonesia.
Proses evaluasi dilakukan selama 1 tahun sekali, dimana ada indikator tertentu yang
digunakan untuk mengukur keberhasilan dari proses branding yang dilaksanakan, adapun
indikator tersebut adalah The Number of Tourism, Length of Stay (LoS), Peredaran uang,
Peningkatan jumlah akomodasi, dan penghargaan. Indikator keberhasilan kota Surakarta di
atas belum sesuai dengan faktor ideal dalam mengukur keberhasilan branding sebuah
destinasi. Hal ini disebabkan karena tujuan utama yang ingin dicapai oleh kota Surakarta
berfokus pada peningkatan jumlah wisatawan yang masuk ke kota Surakarta.
3. Penutup
Berdasarkan permasalahan dan tujuan dari penelitian ini, maka dapat dipaparkan kesimpulan
sebagai berikut :
3.1 Proses perumusan konsep didasari dengan latar belakang kota Surakarta yang
dijadikan pusat dari pengembangan pariwisata Solo Raya karena memiliki potensi
yang ada sesuai dengan konsep branding sebagai sebuah destinasi wisata (destination
audit) meliputi keragaman atraksi, kekuatan untuk disandingkan dengan destinasi
lainnya, dan jangkauan wisatawan. Perumusan konsep dilakukan oleh berbagai pihak
dimulai dari organisasi pemerintah, badan eksekutif dan legislatif, tokoh seni dan
budaya, serta stakeholder pariwisata. Namun media sendiri yang berkedudukan
sebagai pembentuk opini tidak dilibatkan di sini karena media dianggap sebagai
channel dari pihak eksternal yang berguna dalam penyampaian informasi mengenai
berbagai kegiatan dalam proses branding. Objektif dari branding kota Surakarta masih
bergantung tujuan marketing dibandingkan tujuan komunikasi. Selain itu, target
audiens kota Surakarta didasarkan aspek geografis saja, sedangkan dalam proses
branding, penentuan target audiens, setidaknya harus didasarkan pada aspek
psikografis, karena berkaitan dengan minat dan ketertarikan target audiens terhadap
konsep wisata kota Surakarta sebagai kota Budaya, sehingga akan memudahkan
dalam penyerapan pesan branding.
3.2 Perencanaan strategis dalam jangka panjang penting dilakukan oleh sebuah kota
sebagai dasar untuk melakukan segala kegiatan branding. Strategi tersebut,
diimplementasikan melalui sebuah manajemen yaitu manajemen produk, manajemen
brand, dan manajemen servis.
3.3 Implementasi strategi branding kota Surakarta melibatkan NTO (National Tourism
Organization) dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta dengan
berbagai stakeholder Internal pariwisata yaitu ASITA, PHRI, HPI, dan BPPIS. Dalam
prosesnya, NTO mengikut sertakan para stakeholder pada setiap kegiatan promosi
yang terdiri dari kegiatan direct marketing dan indirect marketing. Penetapan tolak
ukur keberhasilan kegiatan branding kota Surakarta masih belum sesuai dengan
faktor-faktor penentu keberhasilan branding sebuah destinasi yang lebih menekankan
pada komunikasi brand untuk selanjutnya dipahami oleh berbagai stakeholder dan
target audiens. Dalam membranding sebuah destinasi akan terlibat melalui berbagai
aspek, dimana faktor ini sewaktu-waktu akan menghambat dalam proses branding.
Aspek Natural diatasi dengan perjanjian dalam MoU yang ditandatangani oleh
masing-masing walikota dalam kerjasama promosi terhadap keunikan masing-masing
destinasi. Aspek politik yang merujuk pada isu kerusuhan diatasi hal ini,dilakukan
kirab budaya oleh walikota Surakarta dalam rangka menciptakan image kota
Surakarta yang aman dan nyaman. Kendala lain dari aspek ekonomis adalah
budgeting yang dinilai sangat kecil, dilakukan pendekatan untuk menumbuhkan sense
of belonging pada stakeholder eksternal, dimana melalui perasaan tersebut akan
menekan budgeting yang harus dikeluarkan. Manusia menjadi salah satu aspek,
dimana akan mempengaruhi dalam perencanaan branding karena bertindak sebagai
pembuat keputusan. Hal ini dianggap sebagai perubahan selera masyarakat, dan untuk
mengatasinya, Surakarta memfasilitasinya dalam hal ini melalui wisata belanja
dengan produk-produk tradisional sehingga menarik wisatawan seperti batik dan
souvenir.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Aaker , David A. 2000. Brand Leadership. New York : The Free Press.
Aaker, David A . 1991. Managing Brand Equity: Capitalising on the Value of a Brand Name,
London: the Free Press
Bungin, B. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta : Prenada Media Group.
Cultures and Markets. Kogan Page Business Books
Dreyfuss, Henry. 1972. Symbol Sourcebook : An Authoritative Guide to International
Graphic Symbols. McGraw-Hill Inc.
Gelder, Sicco Van. 2005. Global Brand Strategy : Unlocking Brand Potential Across
Countries,
Gregory, Anne. 2010. Planning and Managing Public Relations Campaigns : A Strategic
Approach. Kogan Page Publisher.
Kasali, Rhenald. 1998. Membidik Pasar Indonesia : Segmentasi, Targeting, dan Positioning.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Keller, Kevin Lane. 2003. Strategic Brand Management : Building, Measuring, and
Managing Brand Equity. California : Prentice Hall.
Kerzner, Harold. 2001. Strategic Planning for Project Management Using a Project
Management Maturity Model. Wiley
Kotler Philip & Keller Kevin Lane, 2009, Manajemen Pemasaran, edisi ketiga belas, Jakarta:
Erlangga.
Kotler, P, Haider, DH & Rein, IJ . 1993. Marketing places: Attracting investment, industry,
and Tourism to cities, States, and Nations.
Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana.
Lesly, Philip. 1991. Lesly's Handbook of Public Relations And Communications. McGraw
Hill.
Macnamara, Jim. 1996. Public Relations Handbook For Manager and Executive.
Australia: Prentice Hall.
McNally, David. Speak, Karl D. 2004. Be Your Own Brand. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama.
Moleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Morgan, N., Pritchard, A., & Pride, R. (2004). Destination Branding – Creating the Unique
Destination Proposition. (2ndEd). Oxford: Butterworth-Heinemann.
Patton, Michael Quinn. 2009. Metode Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Percy, Larry. 1987. Advertising Communication and Promotion Management. Mc Graw Hill
Inc.
Ries, A. and Trout,J. 1981. Positioning, The battle for your mind. New York : Warner Books
– McGraw-Hill Inc.
Sadat, Andi M. 2009. Brand Belief : Strategi Membangun Merek Berbasis Keyakinan.
Jakarta : Salemba Empat.
Schultz, Don. E and Barnes, Beth E. (1999). Strategic Brand Communication Campaigns.
Lincolnwood, IL : NTC Business Books.
Smith, Paul Russel. 2003. Great Answer Tough Marketing Quest. Koogan Page Publisher.
Temporal, Paul. 2002. Advanced Brand Management : Managing Brand in A Changing
World. Wiley
Tjiptono, Fandy. 2005. Brand Management & Strategy. Yogyakarta : Andi Offset.
tourism to cities, states, and nations. New York: The Free Press.
UNWTO and ETC. 2009. Handbook on Tourism Destination Branding. Madrid : The World
Tourism Organization and the European Travel Commission.
Upshow, Lynn B. 1995, Building Brand Identity, A strategy for success in hostile
marketplace. John Wiley & Sons, Inc, pp. 15-16.
Worthen, Blaine R. ,Sanders, James R. 1979. Practices and Problems in Competency-Based
Measurement.
Penelitian
Chaerani, R.Y. (2011). Pengaruh City Branding Terhadap City Image (Studi Pencitraan Kota
Solo : „The Spirit of Java’). Laporan Penelitian. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Illiachenko, Elena Y. 2005. Exploring Culture, History and Nature as Tourist Destination
Branding Constructs : The Case of a Peripheral Region in Sweden. Dipresentasikan
pada Seminar Policy and marketing/ Destination image and marketing di Akureyri,
Iceland (22-25 Sept 2005) :1-12
Ionela Cretu. (2011) . Destination image and destination branding in transition countries :
the Romanian tourism branding campaign ‘Explore the Caparthian Garden’ .
Desertasi. University of York.
Liestiandre, Hanugerah K. Analisis Positioning Bali Sebagai Destinasi Wisata. Tesis.
Universitas Udayana Denpasar.
Linh, Duong Thuy. (2012). Practice of Internet Marketing in Destination Branding.
Bachelor’s Thesis. Savonia University.
Morrison, A. M & Anderson, D. J. 2002. Destination Branding, Dipresentasikan pada
Seminar the Annual Meeting of the Missouri Association of Convention and Visitor
Bureaus.
Risitano, M. (2005). The role of destination branding in the tourism stakeholders system. The
Campi Flegrei case. Laporan Penelitian. Faculty of Economics: University of Naples
Federico II.
Stufflebeam, Daniel L. (2003). The CIPP Model for Evaluation. Dipresentasikan pada
Annual Conference of The Oregon Program Evaluators Network (OPEN) di Portland,
Oregon. (10 Maret 2003) : 2-68.
Hassan,Suzan B., Mohamed Soliman A. Hamid, dan H. Al Bohairy. (2001). Perception of
Destination Branding Measures : A Case Study of Alexandria Destination Marketing
Organizations. Laporan Penelitian.
Trost, Klaric, dan Ruzik. (2012). Events as a Framework For Tourist Destination Branding-
Case Studies of Two Cultural Events in Croatia. Laporan Penelitian.
Jurnal
Argenti, Paul A. , Howell, Robert A. , Beck, Karen A. 2005. The Strategic Communication
Imperative. MIT Sloan Management Review. 83-89.
Armstrong, J. Scott. 1986. Strategic Planning Improves Manufacturing Performance.
Marketing Papers. 127-129
Cai, L. A. (2002). Cooperative branding for rural destination. Annals of Tourism Research.
29 (3), 720 – 742.
David A. and Kevin L. Keller (1990), “Consumer Evaluations of Brand Extensions,” Journal
of Marketing, 54 (January), 27-41
Lassar, W., Mittal B. , and Sharma A. (1995). Measuring Customer-Based Brand Equity.
Journal of Consumer Marketing 12(4): 11-19.
Lavidge and Steiner. (1961). A Model for Predictive Measurements of Advertising
Effectiveness. Journal of Marketing (October 1961) : 59–64.
Ritchie, J.R.B. and Ritchie, R.J.B. (1998). Branding of Tourism Destinations : past
achievements and future challenges. A basic report for presentation th the 1998
Annual Congress of the International Association of Scientific Experts in Tourism,
Marrakech, Morocco, September 1998.
Schultz, D., and H. Schultz. 1998. Transforming marketing communication into the twentyfirstcentury.
Journal of Marketing Communications 4, no. 1: 9–26.
Yoo, Bonghee , Donthu, Naven, Lee, Sungho. (2000). An Examination of Selected Marketing
Mix Elements and Brand Equity. Journal of Academy Marketing Science . Sage
Publications, 28 ; 195.
Internet
BPPIS Solo Fokus Promosi ke Tiga Kawasan Potensial . (2013). Dalam
http://www.harianjogja.com/baca/2013/02/01/bppis-solo-fokus-promosi-ke-tigakawasan-
potensial-374585 . Diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul 12.59 WIB.
EUROCITIES. 2010. A shared vision on city branding in Europe [electronic material].
Dalam
http://ddata.overblog.com/xxxyyy/1/19/97/12/eurocities/EUROCITIES_City_brandin
g_final-SMUL.pdf. Diunduh tanggal 15 April 2013 pukul 9.05 WIB
Indonesia Tampil Total dalam Pameran Wisata Berlin . (2013). Dalam
http://www.antaranews.com/berita/359928/indonesia-tampil-total-dalam-pameranpariwisata-
berlin. Diunduh pada tanggal diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul
12.32 WIB.
Kunjungan Wisatawan ke Semarang Meningkat. (2013). Dalam
http://travel.kompas.com/read/2013/01/15/14164693/Kunjungan.Wisatawan.ke.Semar
ang.Meningkat . Diunduh pada 17 Februari 2013 pukul 22.43 WIB.
Kunjungan Wisatawan ke Semarang Meningkat. Dalam
http://travel.kompas.com/read/2013/01/15/14164693/Kunjungan.Wisatawan.ke.Semar
ang.Meningkat diunduh pada tanggal 9 April 2013 pukul 11.10 WIB.
Pertumbuhan Ekonomi Sragen Tertinggi di Surakarta. (2012). Dalam
http://economy.okezone.com/read/2012/12/28/20/738578/2012-pertumbuhanekonomi-
sragen-tertinggi-di-surakarta . Diunduh pada tanggal 17 Maret 2013 pukul
18.00 WIB
Surakarta targetkan 2 juta wisatawan per-tahun. Dalam
http://www.wisatamelayu.com/id/news/12650-Surakarta-Targetkan-2-Juta-
Wisatawan-Per-Tahun diunduh pada tanggal 9 April 2013 pukul 12.07 WIB.
Ulfah, Anita. (2012). ”Eco-Cultural” City Jokowi. Dalam
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/07/26/194009/10/Ecocultural-
City-Jokowi . Diunduh pada tanggal 16 Maret 2013 pukul 11.41 WIB.

Article Metrics: