KECEMASAN KOMUNIKASI (COMMUNICATION APPREHENSION) FANS DALAM INTERAKSI LANGSUNG DENGAN IDOLA

Received: 17 Jul 2013; Published: 30 Aug 2013.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

KECEMASAN KOMUNIKASI (COMMUNICATION APPREHENSION)
FANS DALAM INTERAKSI LANGSUNG DENGAN IDOLA
(Studi Terhadap Fans Korean Pop di Indonesia)
Rika Kurniawati1
Abstrak:
Kpop berasal dari musik pop Korea yang telah dimodernisasi dengan sedikit gaya Western seperti
hiphop atau rock. Permasalahan yang ingin diselidiki dalam penelitian ini adalah mengapa kecemasan
komunikasi muncul di dalam interaksi fans dengan idolanya, faktor-faktor apa yang mempengaruhi
dan tipe-tipe kecemasan yang terjadi sehubungan dengan perubahan media interaksi yang
dilakukan.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menjelaskan mengenai kecemasan
komuniaksi yang terjadi, faktor-faktor yang berpengaruh di dalamnya serta tipe-tipe kecemasan
komunikasi yang terjadi sehubungan dengan adanya perubahan media interaksi. Dengan
menggunakan metoda fenomenologi, penulis berusaha menjawab permasalahan tersebut dengan
menggunakan teori kecemasan komunikasi sebagai salah satu penghambat dalam proses
berkomunikasi dan kajian fans dan fandom. Sementara obyek penelitian adalah lima orang fans yang
bersedia menjadi informan dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kecemasan yang terjadi sangat bervariasi pada semua informan. Kecemasan
komunikasi yang terjadi dalam interaksi fans cenderung disebabkan oleh adanya ketidakpastian yang
terjadi terkait dengan komunikasi yang sedang berlangsung atau yang sedang diantisipasi. Perbedaan
media interaksi yang digunakan, dari computer mediated communication menjadi interaksi langsung
tatap muka, bisa memicu timbulnya kecemasan namun tidak berpengaruh terhadap tipe-tipe
kecemasan komunikasi yang terjadi.
Key Words: Kecemasan Komunikasi; fans, fandom, dan kajian fans; pengurangan ketidakpastian
Abstract:
Kpop is the Korean pop music which has been modernized with a Western style such as hip-hop or
rock.. The problems investigated in this study is why communication anxiety appears in the
interaction with the fans of his idol, the factors that affect and the types of anxiety that occurs in
connection with the changes made of media interaction.The objectives of this research is to explain
the communication anxiety happens, the factors that influence in it as well as the types of
communication anxiety that occurs in connection with a change of media interaction.By using a
phenomenological method, the authors sought to answer these problems by using the theory of
communication anxiety as one of the obstacles in the process of communicating and study fans and
fandom. While the object of the study is five fans who are willing to become informants with different
educational backgrounds.The results showed that the anxiety occurs with varies greatly in all
informants. Communication anxiety that occurs in the interaction of fans likely to be caused by the
uncertainties that occur related to the ongoing communications or are anticipated. Differences in the
interaction of media used, from computer mediated communication to face-to-face direct interaction,
can lead to anxiety, but had no effect on the types of communication that occur anxiety.
Key words: Communications apprehension; anxiety; fans, fandom and fans studies; uncertainty.
1 Mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro angkatan tahun 2008
 Pendahuluan
Communication Apprehension sendiri seringkali diartikan sebagai perasaan takut,
gugup dan cemas ketika hendak berkomunikasi dan atau berinteraksi dengan orang lain.
Selama ini fans Kpop yang ada di Indonesia hanya berinteraksi dengan idola mereka melalui
media online/SNS (social networking system) seperti Twitter, Cyworld, Me2day, Weibo dll.
Kesempatan untuk bertemu langsung dengan idola tentu saja tidak sebanyak fans lain yang
ada di Korea secara langsung.
Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut,
mengapa CA terjadi dan muncul pada fans Kpop dengan idolanya dalam interaksi
komunikasi mereka? Kemudian faktor apa saja yang menyebabkan seorang fans mengalami
kecemasan berkomunikasi? Lalu dengan adanya perubahan media interaksi dan pola interaksi
yang dilakukan, pengaruh apa yang muncul di dalam tipe kecemasan berkomunikasi yang
dialami oleh individu?
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena kecemasan komunikasi antara
fans terhadap idolanya, mendeskripsikan penyebab munculnya kecemasan berkomunikasi
seorang fans serta mendeskripsikan mengenai perbedaan media interaksi yang digunakan
sebelumnya dan pola interaksi langsung yang terjadi dengan tipe-tipe kecemasan
berkomunikasi yang dialami.
Dalam berkomunikasi tatap muka, seringkali ditemui adanya kecemasan komunikasi
seorang individu terhadap individu lainnya.
Ada 4 (empat) jenis kecemasan komunikasi yang dapat diidentifikasi, yaitu:
1. Traitlike CA, merupakan kecenderungan kecemasan komunikasi yang relatif
stabil dan panjang waktunya ketika seseorang dihadapkan pada berbagai konteks
komunikasi.
2. Context-based CA, yaitu kecemasan komunikasi yang muncul ketika individuindividu
harus berbicara di depan umum (public speaking), tetapi dia tidak
mengalami kecemasan pada tipe-tipe komunikasi yang lain. Atau dalam istilah
lain, kecemasan komunikasi yang dialami oleh tipe ini akan berubah konteksnya.
3. Audience-based CA, merupakan kecemasan komunikasi yang dialami oleh
seseorang ketika ia berkomunikasi dengan tipe-tipe orang tertentu tanpa
memandang waktu atau konteks.
4. Situational CA, merupakan kecemasan komunikasi yang berhubungan dengan
situasi ketika seseorang mendapatkan perhatian yang tidak biasa (unusual) dari
orang lain.
Fans adalah seseorang yang memiliki ketertarikan yang loyal pada suatu hal
(Jenkins, 2002). Mat Hills (Fans Cultures, 2002) mendefinisikan fans sebagai seseorang yang
terobsesi dengan bintang, selebriti, film, acara TV atau band; seseorang yang bisa
menghasilkan penyebaran informasi di dalam fandom mereka, dan mampu menyitir kalimat
atau lirik, bab dan sajak favorit.
 Metoda
Tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk
menjelaskan fenomena melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Subjek penelitian adalah para fans
Kpop di Indonesia tanpa terkait batasan tempat. Pemilihan informan akan dilakukan dengan
memperhatikan kualifikasi bahwa calon informan tersebut sudah menjadi fans Kpop minimal
selama satu tahun dan sudah pernah bertemu dengan idolanya secara langsung baik melalui
konser maupun acara-acara lainnya.
Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara secara mendalam (in
depth interview) dengan informan. Sementara proses analisis dan interpretasi data
menggunakan metode yang dikemukakan oleh Von Eckartsberg (1986)(dalam Moustakas,
1994) yang melibatkan tahapan sebagai berikut:
1. Permasalahan dan Perumusan Pertanyaan Penelitian (The Problem and Questioning
Formulation: The Phenomenon).
2. Data yang menghasilkan situasi: Teks Pengalaman Kehidupan (The data generating
Situation:The Protocol Life Text).
3. Analisis data: Eksplikasi dan Interpretasi (The Data Analysis: Explication and
Interpretating)
 Hasil Penelitian
Pemilihan informan berdasarkan 5 orang informan dengan pembagian 2 informan
melalui wawancara langsung sementara 3 informan lainnya dengan wawancara melalui
chatting.
Informan I dan IV menempatkan idola sebagai sosok teman dan atau saudara yang
harus didukung dan sesekali dikritik dengan candaan, namun Informan III dan V masih
menempatkan sosok idola sebagai orang asing yang memiliki jarak dengan mereka meskipun
sebagai fans. Informan II mengaku malah kadang dirinya menganggap jika sosok-sosok yang
dia lihat di layar kaca atau laptop itu hanyalah tokoh rekaan atau khayalan yang tak mungkin
bisa dia temui secara nyata di hidupnya.
Bentuk outcomes dari CA yang dialami oleh informan adalah communicative
disruption yang berupa terbata-bata atau stuttering, stuck for words atau hanya bengong dan
membeku di tempat sementara fans-fans lain di sekitarnya berusaha menarik perhatian idola,
serta talking too much atau bisa dikategorikan dalam kata histeris.
Informan I, II, IV dan V mengalami CA berdasarkan pada trait-trait situational
karena mereka mengantisipasi interaksi dengan orang lain sementara Informan III mengalami
CA berdasarkan trait personal yaitu anxiety muncul dari adanya strong negative expectation
terhadap idola yang nantinya hendak berinteraksi langsung dengan dirinya.
Informan I dan IV seolah membentuk sebuat self protector dengan mengungkapkan
jika mereka tidak berharap muluk-muluk akan idola yang mengenal mereka secara personal
dan bahkan menjadi pasangan mereka. Informan II masih merasakan jarak antara dirinya dan
idola sehingga saat dirinya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan idola dirinya justru
membeku dan cenderung menghindari kontak atau interaksi yang mungkin timbul. Informan
III merasakan hal yang sama dengan Informan II, namun dirinya mampu mengatasi perasaan
tersebut pada saat Informan III berada di depan idolanya tepat dan melakukan interaksi yang
lebih intens seperti percakapan singkat, kontak mata dan high-five serta jabatan tangan.
Informan V mengaku dirinya sudah merasa biasa saat menghadiri konser karena
sudah terhitung berkali-kali dia mengikuti konser idola Kpop kesukaannya. Informan V
mengatakan jika dirinya merasa deg-degan dan makin histeris justru ketika teriakannya
ditanggapi oleh idolanya dan mereka melihat ke arah posisi Informan V dalam arena konser
tersebut.
 Pembahasan
Berdasarkan temuan hasil penelitian, kecemasan komunikasi terjadi dalam fase
perubahan interaksi antara fans terhadap idola yang berawal dari interaksi tak langsung dan
langsung melalui media online ke interaksi langsung yang berupa komunikasi tatap muka
dengan berbagai variasi.
Informan I dan Informan IV menyaring segala informasi dan pengetahuan tentang
idola yang diterimanya setiap hari dengan cara yang berbeda. Informan I menempatkan
standar humanis bagi idolanya, dalam artian dia menganggap idolanya sebagai seorang
saudara dan sahabat, bahwa seorang idola juga membutuhkan sosok pendamping hidup
nantinya, dan bahwa dia hanya sebagai fans dan bukan kekasih mereka. Dengan pikiranpikiran
tersebut Informan I berusaha melindungi dirinya sendiri dari rasa kecewa dan juga
menunjukkan batas penerimaan penuh atas idolanya sebagai seorang manusia, bukan hanya
performer di atas panggung. Leon Festinger (dalam West & Turner, 2009) menamakan
perasaan yang tidak seimbang ini sebagai disonansi kognitif atau cognitive dissonance. Hal
ini merupakan perasaan yang dimiliki oleh orang ketika mereka ‘menemukan diri mereka
sendiri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui, atau
mempunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang mereka pegang’.
Kecemasan komunikasi terjadi dalam interaksi Informan I terhadap idola dengan parameter
yang dialami bahwa secara physiological aspect dirinya mengalami perasaan deg-degan,
keringat dingin serta tiba-tiba menangis karena luapan emosi, sementara untuk behavioral
manifestation dan cognitive dimension tidak ditemukan. Informan I juga mengalami
communicative disruption yang berupa stuttering atau berbicara dengan intonasi tidak jelas.
Informan IV mengaku dirinya mengalami kecemasan komunikasi pada awal
pertemuan pertama dengan idola. Communicative disruption berupa stuck for words serta
tiba-tiba menangis dan mengulang kalimat yang sama ‘apakah ini mimpi?’ saat pertemuan
pertama. Beberapa parameter kecemasan komunikasi yang mampu ditemukan dalam
pengalamannya adalah secara physiological aspect dirinya merasa deg-degan, dan histeris,
tidak ditemukan adanya cognitive dimension namun dalam behavioral manifestation dirinya
membentuk sebuah self protector yang mendoktrin bahwa dia hanya akan menerima segala
informasi dan pengetahuan yang menurut dia baik dan menolak menerima pengetahuan yang
mengancam dan membuatnya merasa tidak nyaman serta kecewa. Hal ini juga sesuai dengan
teori cognitive dissonance yang terdapat dalam diri Informan I, namun bedanya Informan IV
menggunakan cognitive dissonance justru sebagai penangkal kecemasan komunikasi. Dengan
adanya self protector Informan IV mengaku dirinya merasa lebih nyaman dalam beraktivitas
sebagai fans karena dia tahu semua idola itu memiliki sisi baik dan sisi buruk, sehingga yang
dia butuhkan hanya menerima sisi baik dan membiarkan sisi buruk mereka tanpa merasa
takut akan kecewa.
Informan III juga mengalami kecemasan komunikasi dalam interaksi langsungnya
dengan idola. Berdasarkan trait personal dari informan, anxiety muncul dari adanya strong
negative expectation yaitu pada saat fanmeet berlangsung dia histeris dan deg-degan karena
akan berhadapan langsung dengan idola dan sentuhan tangan, tapi saat berhadapan langsung
justru deg-degan hilang dan terasa biasa seperti menghadapi teman lama. Informan III tidak
mengalami outcomes berupa communicative disruption yang jelas namun dia mengalami
beberapa parameter dari CA seperti physiological aspect berupa deg-degan, keringat dingin,
panik dan cognitive dimension yang berupa merasa minder karena bentuk badannya yang
lebih kecil dari fans lain, merasa idola tak akan memberi perhatian kepada dirinya. Sementara
behavioral manifestation tidak ada.
Informan III merasa minder dengan fans lain yang memiliki penampilan lebih tinggi
dan dinilai lebih menarik dari dirinya, sehingga dia takut idolanya tidak akan menanggapi
atau memberinya perhatian. Pertemuan pertama yang akan Informan III hadapi dengan idola
juga sarat dengan ketidakpastian, Informan III masih menduga-duga seperti apakah
tanggapan dari idola yang akan dia terima nanti ketika sesi high-five dan jabat tangan
berlangsung. Karena ketidakpastian tersebut kemudian timbul suatu kecemasan komunikasi,
apakah nantinya idola yang dia hadapi ramah? Apakah dia bisa menerima perhatian dan
segala perasaaan cintanya yang disampaikan melalui bingkisan serta ucapan dalam bahasa
inggris? Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat Informan III gugup dan berkeringat
dingin.
Namun kecemasan komunikasi tersebut mampu diatasi seiring dengan hilangnya
ketidakpastian yang ditakutkan. Tanggapan bagus yang Informan III terima saat berkontak
mata membuatnya merasa sedikit tenang sehingga segala kegugupan dan perasaan kacau
yang dia alami sesaat sebelum sesi high-five pun sirna.
Bentuk outcomes dari CA yang Informan II alami adalah communicative disruption
yang berupa stuck for words atau hanya bengong dan membeku di tempat sementara fansfans
lain di sekitarnya berusaha menarik perhatian idola. CA muncul pada Informan II ketika
dia berhadapan dengan seseorang yang dia anggap lebih tinggi posisinya dari dirinya, dalam
hal ini Informan II selalu berpikir jika idolanya tersebut seolah adalah tokoh dunia khayalan
yang hidup di dunia yang berbeda dengan dunia tempat dia hidup. Beberapa parameter CA
yang dialami bisa dilihat dari physiological aspect berupa perasaan deg-degan, badan
membeku serta terasa kaku, dan tangan gemetar. Sementara parameter lain yang berupa
behavioral manifestation bisa dilihat dari caranya menghindari interaksi dengan idola dengan
tidak menarik perhatian si idola tersebut (avoiding communication) dan parameter cognitive
dimension tidak ditemukan.
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, menurut McCroskey (1977b) (dalam
Honeycutt, Choi dan DeBerry, 2009), kecemasan komunikasi dapat didefinisikan sebagai
sebuah level ketakutan atau kecemasan individu dengan komunikasi, yang terjadi serta yang
sedang diantisipasi, dengan orang lain atau orang banyak. Kunci penting dalam pernyatan
tersebut adalah ‘komunikasi yang diantisipasi’, sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa
kecemasan yang disebabkan oleh komunikasi yang akan terjadi bisa sekuat interaksi
sebenarnya. Kalimat pengandaian, perasaan mengantisipasi, kesan pertama, merupakan
kualitas-kualitas dari Imagined interaction (IIs). Honeycutt (2003) mendefinisikan Imagine
Interaction sebagai proses kognisi sosial di mana seseorang membayangkan dan oleh karena
itu secara tidak langsung telah memiliki pengalaman dalam mengantisipasi ataupun interaksi
komunikasi dengan orang lain. Dalam definisi tersebut, dapat dilihat bahwa kecemasan
komunikasi dapat memiliki hubungan dengan Imagined Interaction, karena seseorang mampu
terpengaruh secara langsung oleh pengalamannya sendiri dalam mengantisipasi sebuah
interaksi melalui imajinasinya atau imajinasi orang lain. Jika Honeycutt mengungkapkan
bahwa interaksi yang dibayangkan mampu mengurangi tingkat kecemasan yang terjadi
sehubungan dengan interaksi nyata yang akan terjadi, maka dalam pengalaman Informan II
semua itu justru berbanding terbalik. Semua proses-proses Imagined Interactions yang
Informan II alami tak mampu mengurangi kecemasannya ketika hendak bertemu dengan
idolanya. Nyatanya kecemasan komunikasi yang Informan II alami justru terlihat paling kuat
sehingga dirinya hanya bisa membeku dan cenderung menghindari kontak mata atau
perhatian si idola.
Informan V telah berulang kali bertemu dengan idolanya dalam suatu konser.
Bahakan Informan V juga mengikuti konser artis lain yang bukan idolanya karena ajakan
teman atau promosi harga yang murah. Kecemasan komunikasi terjadi pada saat awal
pertemuan pertama dengan parameter kecemasan komunikasi yang dialami Informan V untuk
physiological aspect berupa histeris. Untuk behavioral manifestation dan cognitive dimension
tidak ditemukan. Communicative disruption terjadi saat teriakannya ditanggapi oleh idola
dengan tatapan mata atau senyuman ke arahnya, biasanya berupa gagap dan menjadi semakin
berteriak histeris. Informan V telah berkali-kali mengikuti konser sehingga perasaan degdegan
karena cemas berganti dengan perasaan deg-degan karena antusias dan terbawa
kehebohan suasana konser. Dari sini dapat ditarik kesimpulan jika ternyata kecemasan
komunikasi tidak hanya terjadi pada interaksi yang sedang terjadi atau yang diantisipasi,
melainkan terjadi variasi kecemasan komunikasi dalam penerimaan feedback.
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa beberapa penyebab munculnya kecemasan
komunikasi dalam interaksi langsung antara fans terhadap idola adalah sebagai berikut:
a) Perubahan media interaksi yang dilakukan dari computer mediated communication
menjadi interaksi tatap muka menyebabkan adanya perasaan yang awalnya dekat
namun tiba-tiba merasa seolah menjadi sosok anonim yang asing.
b) Meskipun Honeycutt (2003) telah mengemukakan hasil riset bahwa imagined
interaction mampu mengurangi adanya kecemasan komunikasi yang timbul, namun
ternyata justru imagined interaction yang berlebihan pun juga mampu menjadi
penyebab seseorang mengalami kecemasan komunikasi.
c) Adanya perasaan ketidakpastian yang timbul terhadap sosok idola yang akan ditemui
atau ketidakpastian akan komunikasi yang sedang diantisipasi oleh fans.
d) Adanya kasus istimewa, bahwa sosok idola memberi feedback terhadap umpanumpan
yang dilontarkan juga memicu adanya kecemasan komunikasi.
Dari semua kecemasan komunikasi yang terjadi, dapat dikelompokkan menjadi dua
tipe kecemasan komunikasi. Informan I, II, III, dan IV mengalami kecemasan komunikasi
karena siapa yang mereka hadapi sementara Informan V mengalami kecemasan komunikasi
karena apa yang dia dapatkan dari idola, yaitu adanya perhatian yang tidak biasa dari orang
lain. Jadi bisa dikatakan Informan I, II, III, dan IV mengalami audience-based CA, bahwa
kecemasan komunikasi yang dialami terjadi karena dia berkomunikasi dengan tipe-tipe orang
tertentu (idola) tanpa memandang waktu atau konteks. Sementara Informan V mengalami
situational CA, karena kecemasan komunikasi yang dia alami berhubungan dengan situasi
ketika dirinya mendapatkan perhatian yang tidak biasa (unusual) dari orang lain (idola). Dari
semua deskripsi tersebut, mampu dirangkum pernyataan jika ternyata tipe media interaksi dan
perbedaan pola interaksi langsung yang dilakukan tidak berpengaruh pada adanya tipe-tipe
kecemasan komunikasi yang terjadi.
Penutup
Pembahasan tentang temuan studi ini menghasilkan beberapa hal yang dapat
disimpulkan, yaitu:
1) Communication apprehension atau kecemasan komunikasi, yang
didefinisikan sebagai ketakutan atau kecemasan terkait dengan komunikasi
langsung atau komunikasi yang akan dan sedang dilakukan dengan orang
lain, pada kenyataannya dialami oleh siapa saja tak terkecuali oleh fans.
Perubahan media interaksi yang dilakukan dari computer mediated
communication menjadi interaksi tatap muka menyebabkan adanya perasaan
yang awalnya dekat namun tiba-tiba merasa seolah menjadi sosok anonim
yang asing.
2) Kecemasan komunikasi yang terjadi dalam interaksi fans cenderung
disebabkan oleh adanya ketidakpastian yang terjadi terkait dengan
komunikasi yang sedang berlangsung atau yang sedang diantisipasi. Ketika
ketidakpastian di antara fans dan idola tersebut mampu diatasi maka
kecemasan komunikasi yang dialami juga mampu teratasi dengan lancar.
3) Beberapa poin khusus yang terjadi mampu menggeser titik penyebab
kecemasan komunikasi tak lagi karena ketidakpastian, namun justru karena
disonansi kognitif dan imagine interaction yang mereka ciptakan dalam
benak individu itu sendiri. Hal menarik lainnya adalah, dalam beberapa
penelitian terdahulu, imagine interaction justru dimunculkan sebagai salah
satu cara untuk mengatasi kecemasan komunikasi yang terjadi sementara
dalam studi ini ditemukan bahwa imagined interaction merupakan salah satu
penyebab munculnya kecemasan yang terjadi. Dalam studi ini juga
ditemukan jika disonansi kognitif, selain menjadi salah satu penyebab adanya
kecemasan komuniaksi yang terjadi, juga mampu digunakan sebagai solusi
untuk mengurangi kecemasan yang dialami.
4) Kecemasan komunikasi tak hanya terjadi pada komunikasi yang diantisipasi
atau sedang berlangsung, namun juga pada saat timbul feedback dari umpanumpan
yang diberikan oleh fans.
5) Perbedaan media interaksi yang digunakan, dari computer mediated
communication menjadi interaksi langsung tatap muka, bisa memicu
timbulnya kecemasan namun tidak berpengaruh terhadap tipe-tipe
kecemasan komunikasi yang terjadi.
Daftar Rujukan
Buku dan E-Book
Griffin, EM. (2012). A First Look at Communication Theory, Eighth Edition. New York: Mc Graw
Hill.
Hills, Matt. (2002). Fan Cultures. New york: Routledge.
Honeycutt, J. M. (2003). Imagined Interactions: Daydreaming About Communication. Cresskill, New
Jersey: Hampton.
Husserl, Edmund. (1970). Logical Investigations (J.N. Findlay. Trans.) (vol. 1). New York:
Humanities press.
Jenkins, Henry. (1992). Textual Poachers: Television Fans and Participatory Culture. New York:
Routledge, Chapman and Hall.
Lewis, Glen and Christina Slade. (1994). Critical Communication. Australia: Prentice Hall Australia.
Littlejohn, Stephen W and Karen A. Foss. (2008). Theories of Human Communication: International
Student Edition. USA: Thomson Wadsworth.
Moleong, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Morreale, Sherwyn P. Brian H. Spitzberg, J. Kevin Barge. Julia T. Wood, Sarah J. Tracy. (2004).
Introduction to Human Communication: the Hugh Down School of Human Communication. Arizona,
USA: Wadsworth Group.
Moustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Method. Beverly Hills, CA: SAGE
Publications.
Artikel atau Bab dalam Buku
Honeycutt, James M, Charles W. Choi, and John R. DeBerry (2009). Communication Apprehension
and Imagined Interactions. Dalam Communication Research Reports vol.26, No. 3 (228-236). New
York: Routledge.
McCroskey, J.C. (1982a). Oral Communication Apprehension: A Reconceptualization. Dalam M.
Burgoon (Ed.), Communication Yearbook 6 (136-170). Beverly Hills, CA: Sage Publishers.
McCroskey, James C. (1984). The communication apprehension perspective. dalam J. A. Daly, and
J. C. McCroskey (Eds.), Avoiding communication: Shyness, reticence, and communication, (pp. 13-
38). Beverly Hills, CA: SAGE Publications.
McCroskey, J. C. And Beatty, M. J. (1986). Oral Communication Apprehension. Dalam W. H. Jones,
J. M. Cheek, & S. R. Briggs (Eds.), Shyness: Perspectives on Research and Treatment (279-293).
New York : Plenum Press.
Jurnal dan Artikel Media Massa
McCroskey,J.C. (1977). Oral Communication Apprehension: A summary of Recent Theory and
Research. Human Communication Research, 4,(78-96).
McCroskey J.C. (2009). Communication Apprehension: What We Have Learned in the Last Four
Decades. Human Communication Research 12(2), (179-187).

Article Metrics: