KEKERASAN SIMBOLIK TERHADAP PEREMPUAN DALAM TAYANGAN KOMEDI OPERA VAN JAVA

Published: 3 Apr 2013.
Open Access
Citation Format:
Abstract
KEKERASAN SIMBOLIK TERHADAP PEREMPUAN DALAM TAYANGAN KOMEDI OPERA VAN JAVAAlfdian Wizqi PutriABSTRACTMass media especially television is one of the medium that used to convey the message. The successful comedy show that being broadcast on Trans7, Opera van Java, give us the potrayal of symbolic violence towards women. How the manifestation of symbolic violence in comedy show will strengthen the dominant ideology that exist in the society.The purpose of this study is to see the manifestation of symbolic violence towards women in comedy show and the background ideology of the symbolic violence. Theories that used in this study are standpoint theory and sosialist feminist theory. Researcher tried to find the meanings that shown in this comedy show through semiotics analysis by Roland Barthes, include the lexias and five major codes.The results of this study indicate that symbolic violence towards women was manifested to stereotypes, domestication and sexual objectification towards women. Women stereotypes that represent through this show are in the domestic space, role as the wife and mother, responsible on houseworking, take care of the husband and children, weak, passive, dependent, don’t have ability to take decisions, as sexual object/symbol and as the object of sexual abuse. Domestication towards women separates women from public space, make the house as the proper place for women. Sexual objetification reducts women ability to be passive and gender object (passion, exploitation, abuse). Symbolic violence towards women was based on patriarchy and capitalism ideology. Therefore, we need to destruct both patriarchy and capitalism to release women from the oppression.Key words: television, comedy, women, symbolic violencePENDAHULUANSemakin banyaknya program yang disajikan oleh stasiun-stasiun televisi swasta diharapkan dapat menambah pilihan tontonan yang bermanfaat bagi para pemirsanya. Akan tetapi, televisi sekarang ini lebih banyak menyajikan konten hiburan, salah satunya yaitu tayangan komedi. Hal yang disayangkan adalah bahwa komedi televisi banyak sekali mengandung konten kekerasan simbolik terhadap perempuan.Kekerasan simbolik merupakan kekerasan yang bekerja pada sekelompok individu tidak secara fisik, melainkan secara simbolik. Dapat berupa pengingkaran diri, diperlakukan inferior atau dibatasi aspirasinya. Pada relasi gender, kekerasan simbolik cenderung terjadi dalam bentuk penyangkalan hak perempuan dan pemberian keuntungan atau keistimewaan bagi laki-laki (Bourdieu, 2002: xvi).Opera van Java merupakan salah satu tayangan komedi yang menyajikan kekerasan simbolik terhadap perempuan. Perempuan digambarkan secara subordinat dan inferior melalui penokohan, alur cerita, serta adegan-adegan yang ditayangkan. Perempuan yang sering menghiasi tayangan komedi OVJ memang seringkali dijadikan objek untuk membuat guyonan-guyonan yang mampu mengundang tawa pemirsanya. Berhubungan dengan hal tersebut, penelitian ini berusaha untuk mengkaji beberapa permasalahan, yaitu mengapa perempuan seringkali menjadi objek kekerasan simbolik dalam komedi? Bagaimana bentuk-bentuk kekerasan simbolik yang terjadi? Serta apakah ideologi dominan yang melandasi kekerasan yang terjadi?Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana bentuk kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan komedi Opera van Java dan membongkar ideologi gender dominan yang melatarbelakanginya.METODA PENELITIANTipe penelitian ini adalah deskriptif dengan metode kualitatif. Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Subyek penelitian adalah salah satu episode tayangan komedi Opera van Java berjudul “Banyak Anak Banyak Rezeki???” yang ditayangkan di Trans7.HASIL PENELITIANMelalui analisis sintagmatik yang meliputi aspek (1) kerja kamera, (2) setting dan kostum, (3) dialog, serta (4) karakter, maka dipilih 20 adegan penting yang dapat memberikan makna mengenai kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan komedi Opera van Java, yaitu adegan nomor 2, 4, 5, 7, 8, 9, 11, 12, 14, 16, 18, 19, 20, 21, 25, 28, 29, 30, 39 dan 50. Selanjutnya, peneliti melakukan analisis paradigmatik dengan menggunakan lima kode pembacaan Roland Barthes yang meliputi kode hermeneutika, kode proarietik, kode simbolik, kode kultural dan kode semik untuk melakukan pemaknaan lebih mendalam di balik penyajian adegan-adegan tersebut.Hasil dari analisis kode hermeneutika dalam tayangan ini menggambarkan perempuan, sebagai istri dan ibu, adalah individu yang tempatnya di rumah, jauh dari sektor produksi. Masalah-masalah yang dihadapi perempuan adalah masalahrumah tangga, seperti mengurus anak, melayani suami dan masalah ekonomi yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Kemudian, perempuan digambarkan sebagai sosok yang bergantung dan tidak dapat menyelesaikan masalah.Hasil dari analisis proarietik menunjukkan bahwa kekerasan simbolik terhadap perempuan yang terjadi melalui domestikasi dan objektifikasi seksualitas perempuan. Selain itu, perempuan juga dimunculkan dengan stereotip tertentu, seperti berada di rumah, berperan sebagai istri dan ibu, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak, lemah, pasif, patuh, bergantung pada laki-laki (suami), tidak mampu membuat keputusan sendiri, sebagai obyek seksual/simbol seks dan obyek pelecehan.Kekerasan simbolik terhadap perempuan berdampak pada kondisi psikis, ekonomi serta sosial perempuan. Dari segi psikologis, efek yang ditimbulkan adalah ketidaknyamanan bahkan kemarahan. Dari segi ekonomi, perempuan bergantung kepada laki-laki secara finansial. Kemudian dari segi sosial, posisi perempuan selalu inferior terhadap laki-laki. Kekerasan simbolik terhadap perempuan berdampak pada semakin langgengnya dominasi laki-laki dalam masyarakat.Hasil dari analisis kode simbolik menunjukkan bahwa simbol-simbol yang ditampilkan merujuk kepada suatu simbol dominan yaitu simbol dominasi laki-laki. Tayangan ini menampilkan laki-laki sebagai sosok yang dominan, baik darisegi ekonomi, posisinya sebagai kepala keluarga yang harus dihormati dan dilayani, maupun tindakan-tindakan kekerasan yang menunjukkan dominasi.Hasil dari analisis kode kultural merujuk pada satu budaya patriarki. Perempuan, baik dalam status sosial tinggi maupun rendah, sama-sama terdominasi oleh kuasa laki-laki. Dominasi laki-laki ini diperlihatkan melalui kepatuhan, pelayanan, serta kebergantungn seorang istri terhadap suami. Selain itu, dominasi laki-laki juga ditunjukkan dalam bentuk kekerasan seksual terhadap perempuan.Hasil dari analisis kode semik adalah kekerasan simbolik terhadap perempuan terjadi secara alami dan tanpa disadari. Kekerasan simbolik terjadi melalui mitos-mitos yang ada dalam masyarakat yang menentukan peran yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Kekerasan simbolik yang terjadi terhadap perempuan merupakan bentuk dari dominasi ideologi kapitalisme dan patriarki.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan komedi Opera van Java terjadi dalam bentuk stereotype, domestikasi dan objektifikasi perempuan. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa kekerasan simbolik yang terjadi dilatarbelakangi oleh ideologi patriarki dan kapitalisme.PEMBAHASANPenelitian ini mengindikasikan adanya kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam berbagai bentuk. Menurut penjelasan Bourdieu (2002: xvi),kekerasan simbolik merupakan kekerasan yang bekerja pada sekelompok individu tidak secara fisik, melainkan secara simbolik. Dapat berupa pengingkaran diri, diperlakukan inferior atau dibatasi aspirasinya. Pada relasi gender, kekerasan simbolik cenderung terjadi dalam bentuk penyangkalan hak perempuan dan pemberian keuntungan atau keistimewaan bagi laki-laki.Kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan ini dapat ditemukan dalam bentuk stereotiping, domestikasi dan objektifikasi. Perempuan dalam tayangan ini digambarkan melalui sifat-sifat tertentu yang menegaskan stereotype gender perempuan dalam masyarakat, demikian halnya dengan laki-laki. Sosok perempuan ditampilkan berada di rumah, berperan sebagai istri dan ibu, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak, lemah, pasif, patuh, bergantung pada laki-laki (suami), tidak mampu membuat keputusan sendiri, sebagai obyek seksual/simbol seks dan obyek pelecehan. Sedangkan laki-laki ditampilkan bekerja, sebagai pemimpin, dominan, kompetitif, mandiri, dilayani, dipatuhi dan sebagai tempat bergantung (istri dan anak-anak).Penggambaran tersebut mengarahkan pada adanya pembagian sifat-sifat maskulin dan feminin. Menurut Bem (dalam Sunarto, 2009: 155-156), stereotype yang dilekatkan kepada kaum perempuan adalah karakter afeksi, gembira, menyukai anak, penuh kasih sayang, tidak berbahasa kasar, mempunyai hasrat besar untuk menyejukkan perasaan yang terluka, feminin, dapat memuji, lemah lembut, mudah tertipu, cinta anak-anak, setia, sensitif terhadap kebutuhan orang lain, malu, bicara halus, simpatik, sabar, pengertian, hangat dan mengalah. Sedangkan kaum laki-laki adalah sebagai pemimpin, agresif, ambisius, atletik,asertif, atletik, kompetitif, mempertahankan keyakinan, dominan, kuat, mempunyai kemampuan kepemimpinan, bebas, individualistik, mudah membuat keputusan, maskulin, percaya diri, mandiri, kepribadian kuat, kemauan bertanggung jawab dan kemauan mengambil resiko.Meskipun demikian, ada juga sifat-sifat maskulin yang melekat pada tokoh perempuan, misalya ekspresi emosi dengan bentuk kemarahan dan kata-kata kasar. Namun, ekspresi ini merupakan efek dari ketidakpuasan perempuan. Selain itu, sikap kasar dan tidak patuh seorang istri terhadap suami dianggap sebagai sesuatu yang tidak seharusnya. Karakter ini dianggap sebagai penyimpangan dari peran istri dan ibu “ideal” yang seharusnya. Tayangan ini menekankan peran gender yang seharusnya bagi laki-laki dan perempuan, serta memberikan penilaian baik bagi peran gender yang seharusnya dan penilaian buruk bagi peran gender yang dianggap tidak sesuai.Selanjutnya, kekerasan simbolik dalam tayangan ini juga ditampilkan dalam bentuk domestikasi perempuan. menurut penjelasan Sunarto (2009: 140), domestikasi dipahami sebagai pembiasaan, pemisahan dan depolitisasi kaum perempuan. Paham ini menempatkan ranah rumah tangga sebagai tempat yang layak dan umum bagi kaum perempuan. Melalui analisis terhadap leksia-leksia yang dipilih dapat ditemukan kecenderungan untuk menempatkan perempuan dalam ranah domestik/rumah tangga. Tokoh-tokoh perempuan diceritakan berada di rumah dan dilekatan dengan kewajiban-kewajiban rumah tangga, seperti memasak, mengasuh anak dan melayani suami. Peran perempuan dalam rumah tangga ini merupakan konstruksi sosial yang dilegitimasi oleh negara. Sepertiyang dicantumkan dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, tugas istri sebagai ibu rumah tangga adalah dengan mengatur urusan rumah tangg sebaik-baiknya, sedangkan laki-laki berkewajiban mencari nafkah dan melindungi keluarga.Domestikasi menegaskan inferioritas perempuan dalam masyarakat, membatasi kaum perempuan untuk mengembangkan potensinya, mengeksploitasi tenaga kerja perempuan dan menjadikan perempuan bergantung terhadap laki-laki (suami). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perempuan dari kelas sosial rendah mengalami depresi melalui peran domestiknya. Melalui tokoh Bu Joko, perempuan ditunjukkan lelah dengan pekerjaan domestik yang menyibukkannya. Selain itu, peran domestik yang dibebankan kepada perempuan menjadikannya tidak memiliki akses yang memadai ke tempat kerja sehingga perempuan tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk mensejahterakan hidupnya. Hal ini menjadikan perempuan bergantung kepada suami. Seperti yang diungkapkan Jaggar (dalam Tong, 2008: 171), pekerjaan domestik yang dilakukan oleh perempuan merupakan bentuk eksploitasi laki-laki terhadap tenaga kerja perempuan. Karena perempuan di dalam sistem kapitalis tidak mempunyai akses yang memadai terhadap tempat kerja, untuk menjaga kelangsungan hidupnya, perempuan harus menggantungkan diri secara finansial kepada laki-laki.Kekerasan simbolik terhadap perempuan juga ditampilkan dalam bentuk objektifikasi seksualitas perempuan. Menurut Sunarto (2009: 140), objektifikasi adalah pereduksian kaum perempuan menjadi pasif dan obyek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subyek manusiasepenuhnya. Perempuan digambarkan sebagai obyek kesenangan laki-laki dan obyek pelecehan seksual. Penggambaran tersebut menampilkan bahwa perempuan hanya dilihat dari seksualitasnya.Kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan ini kemudian mempertanyakan ideologi dominan yang melatarbelangi praktik kekerasan simbolik yang terjadi. Hal yang menarik didiskusikan dalam penelitian ini yang pertama adalah mengenai penggambaran keluarga sebagai suatu bentuk unit kapitalisme patriarkal. Ideologi kapitalisme patriarkal ini ditunjukkan melalui pembagaian kerja secara seksual. Tokoh perempuan dalam tayangan ini digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang kegiatannya berada di rumah, mengurus suami dan merawat anak. Sedangkan laki-laki dewasa digambarkan sebagai kepala keluarga yang bertugas mencari nafkah di luar rumah.Pada zaman prakapitalis, menurut Young (dalam Tong, 2008: 181), perkawinan adalah suatu “rekanan”ekonomi antara laki-laki dan perempuan. Mereka bekerja berdampingan dalam bisnis yang berpusat di rumah. Kapitalisme kemudian muncul dan menciptakan suatu batasan antara tempat kerja dan rumah, mengirimkan laki-laki ke luar menuju tempat kerja sebagai tenaga kerja primer dan memenjarakan perempuan di rumah sebagai tenaga kerja sekunder. Peran istri ini kemudian juga dilihat sebagai fungsi pelaksana reproduksi istri dalam menyediakan tenaga kerja bagi kaum kapitalis. Para istri berperan untuk menjaga stamina tenaga kerja agar siap bekerja kembali keesokan harinya melalui perawatan dan pelayanan kepada suami-suami mereka. Dalam sistem patriarkisme dan kapitalisme, semua yang dilakukan perempuan sebagai pelaksana reproduksitenaga kerja dan calon tenaga kerja merupakan suatu kondisi yang normal dan wajar (Sunarto, 2009: 37-38). Posisi perempuan dalam keluarga dan sistem pembagian kerja secara seksual yang bekerja dalam keluarga menjadikan perempuan tersubordinasi, tidak dapat mengembangkan dirinya, serta menjadikannya lemah dan bergantung kepada laki-laki.Temuan yang menarik selanjutnya adalah bekerjanya ideologi patriarkal kapitalisme ini dalam bentuk perendahan derajat perempuan melalui objektifikasi terhadap seksualitas perempuan. Sosok perempuan yang ditampilkan cantik dan menarik sehingga menjadikannya obyek untuk dinikmati secara visual, digoda, dan bahkan dilecehkan oleh para laki-laki. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Tong (2008: 172) bahwa dalam kapitalisme, seksualitas perempuan menjadi komoditi. Tidak heran bila banyak konten televisi yang mempertontonkan seksualitas perempuan sebagai daya tarik.Penelitian ini menunjukkan dominasi ideologi patriarki yang juga merujuk kepada sistem kapitalis yang ada dalam masyarakat. Melalui pandangan tersebut, peneliti menemukan bahwa kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan ini dilatarbelakangi oleh ideologi patriarki dan kapitalisme yang bekerja bersamaan untuk mengopresi perempuan. Hal ini sejalan dengan pemikiran feminis sosialis yang menyatakan bahwa sumber opresi perempuan terletak pada kaitan antara kedua ideologi ini dan pembebasan kaum perempuan dari ketertindasan hanya dapat terjadi apabila kedua ideologi ini hancur.PENUTUPSimpulanKekerasan simbolik dalam tayangan Opera van Java episode “Banyak Anak Banyak Rezeki???” ditampilkan dalam bentuk stereotype, domestikasi dan objektifikasi seksualitas perempuan. Bentuk kekerasan simbolik yang pertama adalah stereotype perempuan. Tokoh perempuan dalam tayangan ini digambarkan berada di rumah, berperan sebagai istri dan ibu, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak, lemah, pasif, patuh, bergantung pada laki-laki (suami), tidak mampu membuat keputusan sendiri, sebagai obyek seksual/simbol seks dan obyek pelecehan.Bentuk kekerasan simbolik yang kedua adalah domestikasi perempuan. Tokoh perempuan dalam tayangan ini digambarkan dengan tugas-tugas rumah tangga, seperti melayani suami, merawat anak dan mengurus keperluan rumah tangga. Melalui domestikasi, perempuan terpinggirkan dari ranah publik sehingga tidak dapat mengembangkan potensinya.Selanjutnya, kekerasan simbolik dimunculkan dalm bentuk obyektifikasi seksualitas perempuan. Tokoh perempuan dalam tayangan ini sering menjadi obyek kesenangan para laki-laki, baik sebagai obyek tatapan, godaan, rayuan, bahkan pelecehan secara fisik melalui pelukan atau ciuman. Penggambaran tersebut menampilkan bahwa eksistensi perempuan hanya dilihat dari segi seksualitasnya saja, yaitu untuk kesenangan laki-laki.Penggambaran perempuan dalam tayangan ini merujuk pada suatu bentuk ketimpangan gender dalam masyarakat. Perempuan digambarkan subordinat terhadap laki-laki. Kekerasan simbolik yang ditampilkan dalam tayangan ini dilihat sebagai suatu bentuk penegasan dominasi patriarki dan kapitalisme yang ada dalam masyarakat. Dengan demikian, pembebasan perempuan dari opresi hanya dapat dilakukan melalui penghancuran kedua ideologi dominan ini.RekomendasiSecara teoritis, pernelitian ini berusaha memberikan kontribusi dan gagasan ilmiah, serta memperkaya pengetahuan mengenai kekerasan simbolik terhadap perempuan unruk menunjang kemajuan disiplin ilmu komunikasi, khusunya di bidang komunkasi gender. selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi untuk dilakukannya penelitian lebih lanjut terkait masalah yang dialami perempuan sebagai kelompok marginal.Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberi pemahaman bagi para praktisi industri media massa, khususnya televisi mengenai ketimpangan relasi kekuasaan gender yang terjadi melalui penggambaran perempuan dalam media massa. Para praktisi diharapkan lebih memperhatikan kepentingan kaum permepuan agar dapat melakukan pemberitaan atau penggambaran yang layak dan berimbang mengenai perempuan. Dengan demikian, tidak memperkuat ideologi dominan yang menekan kepentingan kaum perempuan yang minoritas.Secara sosial, penelitian ini berusaha mengungkap kekerasan simbolik yang dialami perempuan dalam masyarakat sebagai dampak dari ideologidominan patriarki. Khalayak diharapkan dapat berpikir kritis dan terus mempertanyakan problematika yang dialami oleh perempuan, seperti berbagai bentuk diskriminasi yang dialami perempuan dalam masyarakat. Terwujudnya masyarakat yang memiliki kesadaran gender diharapkan menciptakan masyarakat dengan keseimbangan gender.DAFTAR PUSTAKASumber Buku:Ardianto, Elvinaro, Lukiati Komala dan Siti Karlinah. (2007). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar Edisi Revisi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Arivia, Gadis. (2006). Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.Bourdieu, Pierre. (2010). Dominasi Maskulin. Yogyakarta: Jalasutra.Budiman, Arief. (1982). Pembagian Kerja Secara Seksual. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.Burton, Graeme. (2007). Membincangkan Televisi. Yokgayakarta dan Bandung: Jalasutra.Byerly and Ross. (2006). Women and Media: A Critical Introduction. USA: Blackwell Publishing Ltd.Edwards. Tim. (2006). Cultures of Masculinity. New York: Toutledge Taylor & Francis Group.Feldman, Sylvia D. (1974). The Rights of Women. New Jersey: Hyden Book Company, INC.Fiske, John. (2011). Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra.Griffin, Em. (2012). A First Look At Communication Theory Eight Edition. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, California: SAGE PublicationsKurniawan, Heru. (2009). Sastra Anak: dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi Edisi 9. Jakarta; Penerbit Salemba Humanika.Mangunhardjana, Margija. (1976). Mengenal Film. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.Maryati, Kun dan Juju Suryawati. (2007). Sosiologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.Moleong, Lexy J. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja RosdakaryaNaratama. (2004). Menjadi Sutrada Televisi. Jakarta: Grasindo.Ollenburger, Jane C and Helen A. Moore. (1996). Sosiologi Wanita. Jakarta: PT Rineka Cipta.Pratista, Himawan. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.Rianto, Puji dkk. (2012). Dominasi TV Swasta (Nasional), Tergerusnya Keberagaman Isi dan Kepemilikan. Yogyakarta: PR2Media &Yayasan Tifa.Richardson, Diane dan Victoria Robinson. (1993). Introducing Women’s Studies: Feminist Theory and Practice. London: The Macmillan Press Ltd.Richmond-Abbott, Marie. (1992). Masculine and Feminine: Gender Roles over the Life Cycle. USA: McGraw-Hill, Inc.Siahaan, N.H.T. (2004). Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan. Jakarta: Penerbit Erlangga.Subroto, Darwanto Sastro. (1994). Produksi Acara TV. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.Sumarno, Marselli. (1996). Dasar-Dasar Apresiasi Film. Jakarta: Grasindo.Sunarto. (2000). Analisis Wacana: Ideologi Jender Media Anak-Anak. Semarang: Mimbar bekerjasama dengan Yayasan Adikarya Ikapi dan Ford Foundation.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan, dan Perempuan. Jakarta: Kompas.Suryochondro. Sukanti. (1984). Potret Pergerakan Wanita di Indonesia. Jakarta: CV. Rajawali bekerja sama dengan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial (YIIS).Thornham, Sue. (2007). Women, Feminism and Media. Edinburgh: Edinburgh University Press Ltd.Tong, Rosemarie Putnam. (2008). Feminist Thought : Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta: Jalasutra.Waluya, Bagja. (2007). Sosiologi: Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat. Bandung: PT Setia Purna Inves.Waluyo, Herman J. (1994). Pengkajian Cerita Fiksi. Surakarta: Sebelas Maret University Press.Webb, Jenn dkk. (2002). Understanding Bourdieu. New South Wales: Allen & Unwin.West dan Turner. (2007). Introducing Communication Theory: Analysis and Application. USA: McGraw-Hill, Inc.Widagdo, M. Bayu dan Winastawan Gora S. (2007).Bikin Film Indie Itu Mudah! Yogyakarta: Penerbit Andi.Sumber Lain:Diannita, Yustin. (2009). Sensualitas Perempuan dalam Iklan Axe Effect – Call Me di Televisi. Skripsi. Universitas Diponegoro.Widyastuti, Diahrani. (2002). Komodifikasi Tubuh Perempuan dalam Tayangan Iklan Televisi (Studi kualitatif pada Iklan Minuman Kesehatan). Skripsi. Universitas Diponegoro.Noristania, Harlin Dyah. (2012). Representasi Kekerasan Verbal Terhadap Perempuan Janda (Analisis Semiotika Film Ku Tunggu Jandamu). Skripsi. Universitas Diponegoro.Astuti, Indri. (2010). Menginterpretasikan Kekerasan Dalam Tayangan Komedi (Analisis Resepsi Terhadap Tayangan Opera van Java di Trans 7). Skripsi. Universitas Diponegoro.Sumber Internet:Trans 7. (2011). Opera van Java Episode “Banyak Anak Banyak Rezeki???”. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2012 dari http://www.youtube.com/watch?v=QeltOaSbo5E&list=FLoFVJZ2-8cVm4M2RiRixjTg&index=16Trans 7. (2011). Opera van Java “Episode Kisah Cinta Nyi Ayu Rangrang”. Diakses pada tanggal 4 November 2012 dari http://www.youtube.com/watch?v=C_PsDk11OLYTrans 7. (2011). Opera van Java Episode “Madu Tiga”. Diakses pada tanggal 4 November 2012 dari http://www.youtube.com/watch?v=IvPLRHQ9a9kRayendra, Panditio. (2011). Rating Report: OVJ Sahur dan Primetime Dominasi Rating. Diakses pada tanggal 18 Desember 2012 dalam http://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/ulasan/14659-rating-report-ovj-sahur-dan-primetime-dominasi-rating.html

Article Metrics: