skip to main content

HUBUNGAN TERPAAN PEMBERITAAN KASUS DUGAAN KORUPSI PENGADAAN AL QURAN PADA KEMENTERIAN AGAMA DI MEDIA MASSA DENGAN CITRA KEMENTERIAN AGAMA DI MASYARAKAT


Citation Format:
Abstract

RELATIONSHIP BETWEEN NEWS EXPOSURE TO THE ALLEGED CORRUPTION CASE OF QUR’AN PROCUREMENT IN THE MINISTRY OF RELIGION IN MASS MEDIA WITH IMAGE OF THE MINISTRY OF RELIGION IN SOCIETYABSTRACTCorruption practices in Indonesia for a long time and has penetrated into various aspects of human life. Both newly revealed and in the investigation stage, and in the case of the deepening phase at one point towards the end. Corruption rife in government institutions not to mention dealing with religion though. As happened to the Ministry of Religion Affairs was lodged cases of alleged corruption in the procurement of the Quran 2011-2012 budget. Even the institutions that govern religious life in Indonesia, caught by the alleged corruption case and also involving scripture. News in the media that can be obtained with ease every day, we can see the development of cases of alleged corruption procurement Qur'an.This study aimed to investigate the association between exposure to reporting cases of alleged corruption in the procurement of Qur’an at the Ministry of Religious Affairs in mass media with the image of the Ministry of Religious Affairs in society. Researchers used a quantitative approach with the method of explanation (explanatory research) where the researchers explain causal relationships between variables through hypothesis testing, which describes the relationship or correlation between the reporting of cases of alleged corruption in the procurement of Qur’an at the Ministry of Religious Affairs in mass media (X) on the image of the Ministry of Religious Affairs (Y). Data obtained directly from respondents to the questionnaire and use the stuffing questions.The results of this study showed no association between exposure to news of alleged corruption cases procurement Quran with the Ministry of Religious Affairs in the image. News about cases of alleged corruption in the procurement of Qur’an at the Ministry of Religious Affairs was not a major news in the media were used as an example in this study. This resulted in a low level of exposure obtained by respondents about cases of alleged corruption in the procurement of the Ministry of Religious Affairs Quran. Seeing the reality on the ground, should we follow the mass media as a whole.Keyword: Media Exposure, Explanatory, ImagePENDAHULUAN Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu hal yang sangat penting didalam kehidupan kita. Keseluruhan interaksi yang dilakukan oleh manusia didasari oleh komunikasi. Komunikasi dapat diartikan sebagai proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikasn melalui sebuah media. Pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikastor pasti memiliki tujuan yang berbeda-beda. Komunikasi dikatakan berhasil apabila komunikan dapat menerima dan mengartikan pesan yang disampaikan oleh komunikator. Salah satu bentuk dari komunikasi adalah komunikasi massa, yang diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonym melalui media cetak, atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat ( Rahmat, 2005 ; 189 ).Memahami komunikasi massa tidak akan terlepas dari media massa, karena objek kajian terbesar adalah pada peran dan pengaruh yang dimainkan media massa. Media massa merupakan salah satu saluran komunikasi dimana sumber komunikasi (source) menyampaikan pesan-pesan (messages) kepada penerima (receiver). Saluran ini dianggap sebagai penerus atau penyampai pesan yang berasal dari sumber informasi kepada tujuan informasi. Saluran media massa adalah semua penyampai pesan yang melibatkan mekanisme untuk mencapai audience yang luas dan tak terbatas.Media massa sebagai salah satu fungsinya sebagai pemberi informasi kepada masyarakat memiliki keterikatan yang tinggi dengan masyarakat selakukonsumen media massa. Adanya kebutuhan masyarakat akan informasi mengakibatkan ketergantungan masyarakat pada media. Termasuk kebutuhan untuk mengetahui adanya peristiwa-peristiwa baru yang terjadi akhir-akhir ini atau untuk mengetahui perkembangan terhadap sebuah peristiwa.Di pertengahan tahun 2012, mencuat pemberitaan tentang adanya dugaan kasus korupsi pengadaan Al Quran yang diberitakan oleh media massa. Sampai sekarang ini kita masih dapat melihat perkembangan mengenai kasus ini di media massa. Dugaan adanya korupsi pengadaan Al Quran ini telah menyeret nama Zulkarnaen Djabar selaku anggota Komisi VIII DPR RI dari Partai Golkar yang sekaligus sebagai anggota Badan Anggaran DPR RI yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.Kasus ini muncul di media massa di pertengahan tahun 2012. Pada 29 Juni 2012, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Zulkarnaen Djabar sebagai tersangka beserta Dendy Prasetya selaku Direktur PT. Karya Sinergy Alam Indonesia (KSAI) yang merupakan rekanan dalam pengadaan Al Quran ini. Ironisnya, keduanya adalah ayah-anak. Selain anggota Badan Anggaran DPR, Zulkarnaen tercatat sebagai anggota Komisi VIII DPR yang membidangi keagamaan. KPK menjerat Zulkarnaen, dan anaknya atas 3 kasus korupsi. Pertama, dugaan suap proyek pengadaan Al Quran tahun anggaran 2011 di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Kedua, dugaan korupsi pengadaan laboratorium komputer Madrasah Tsanawiyah tahun anggaran 2011 di Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Ketiga, dugaan suap proyek pengadaan Al Quran tahun anggaran 2012. KPK mendugaZulkarnaen memberi imbalan atau suap kepada penyelenggara negara terkait pembahasan anggaran pengadaan Al Quran senilai Rp35 miliar itu. Modusnya adalah dengan memerintahkan dan mengarahkan pejabat di Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama untuk memenangkan PT Adhi Aksara Abadi Indonesia sebagai pemegang proyek tersebut (http://fokus.news.viva.co.id/news/read/332350-ketika-proyek-pengadaan-quran-ikut-dikorupsi).Dalam pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran, media massa menunjukkan kekuatannya dalam menciptakan gagasan melalui berita. Hal ini dapat dilihat dengan selalu adanya penyebutan kata Kementerian Agama dalam berita yang memuat kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran. Kementerian Agama mendapatkan sorotan yang tajam. Salah satunya di institusi pemerintah yang mengurusi mengenai keagamaan di Indonesia yaitu Kementerian Agama diduga terlibat dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran. Dalam kasus dugaan korupsi ini yang, salah satu yang menjadi tersangka merupakan anggota Badan Anggaran DPR RI periode 2009-2014 dan sekaligus merupakan anggota Komisi VIII DPR RI yang membidangi agama yang kerap kali bersinggungan dengan pihak Kementerian Agama. Pemberitaan tentang kasus korupsi ini dapat dengan mudah dikonsumsi oleh masyarakat. Masyarakat dapat mengetahui perkembangan terkini tentang kasus ini di media massa. Pemberitaan ini memberikan pandangan pada masyarakat terhadap realitas yang telah diciptakan oleh media tentang adanyakasus dugaan korupsi yang telah menyeret nama Kementerian Agama sebagai lembaga negara yang mengurus tentang keagamaan di Indonesia.PEMBAHASANBerita yang ditampilkan, diseleksi dari sejumlah realitas. Dengan adanya pemberitaan yang terdapat dalam media massa, maka akan muncul suatu kondisi yang disebut dengan terpaan media. Terpaan (exposure) merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut yang terjadi pada individu dan kelompok (Kriyantono, 2008:205).Menurut Steven M. Chaffee dalam melihat efek yang ditimbulkan oleh pesan media massa adalah dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa, yaitu:1. Efek Kognitif, efek ini terjadi apabila komunikasi massa memberikan perubahan pada apa yang diketahui, dipahami atau pun dipersepsi oleh khalayak. Kognitif berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, dan informasi.2. Efek Afektif, efek ini terjadi apabila komunikasi massa memberikan perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi ataupun dibenci oleh khalayak. Perubahan pada segi afektif ditunjukkan dengan perubahan perasaan, emosi, sikap ataupun nilai.3. Efek Behavioral, efek behavioural merujuk pada perubahan perilaku nyata yang dapat diamati. Seperti pola-pola tindakan, kegiatan, dan kebiasaan berperilaku. (Rakhmat, 2007: 219)Dari penjelasan diatas, dapat terlihat bahwa media massa memiliki efek yang sangat kuat dalam penyampaian informasi dan pemenuhan kebutuhan khalayak. Dalam hal ini terlihat bahwa pemberitaan di media massa mengenai kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama telah memberikan lebih banyak efek kognitif kepada para khalayak. Apa yang mereka peroleh dari media massa, telah memberi banyak pengetahuan baru.Jalaludin Rakhmat (2007:53) menambahkan bahwa efek media dikuatkan atas hasil ekspos pengulangan suatu berita. Pengulangan pesan yang berkali-kali di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, dapat memperkokoh dampak media massa itu sendiri. Masyarakat akhirnya tidak mempunyai alternatif lain, sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya melalui media massa. Dengan adanya terpaan dari media massa dapat menyebabkan masyarakat menerima beberapa informasi baru yang mungkin tidak diinginkan oleh masyarakat itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam seringnya pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran Kementerian Agama diberbagai media massa yang menceritakan tentang perkembangan kasus tersebut yang menyeret nama lembaga tinggi negara yaitu Kementerian Agama. Pemberitaan tersebut dapat mempengaruhi citra Kementerian Agama yang banyak disorot dalam kasus ini.Citra (image) diyakini sebagai realitas yang tampak sebagai gambaran yang mempunyai makna. Citra adalah kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan. Pemahaman itu sendiri timbul karena adanya informasi (Kasali, 2003:30). Media massa bekerja untuk menyampaikan informasi, bagi khalayak,informasi tersebut dapat membentuk, mempertahankan atau mendefinisikan citra. Persepsi dihasilkan dari bagaimana masyarakat menerima dan mengolah informasi yang diterimanya. Jika informasi buruk, maka persepsi akan buruk, demikian sebaliknya. Informasi itu dapat membentuk, mempertahankan atau meredefinisikan citra (Rakhmat, 2007: 224).Cumulative Effects Theory dari Elisabeth Noelle-Neuman menyimpulkan bahwa media tidak punya efek langsung yang kuat tetapi efek itu akan terus menguat seiring dengan berjalannya waktu. Cumulative Effects Theory menyatakan bahwa tidak ada yang bisa menghindari media, karena sudah ke mana-mana, atau pesan media (Vivian, 2008: 472). Informasi tentang pemberitaan kasus korupsi pengadaan Al Quran Kementerian Agama secara perlahan-lahan terangkai dan membentuk sebuah realitas secara utuh yang dikonsumsi oleh masyarakat. Perulangan melalui berbagai macam media seperti media cetak, elektronik, dan digital yang memuat kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran ini juga dapat berpengaruh pada citra Kementerian Agama di masyarakat.Hubungan Terpaan Pemberitaan Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama di Media Massa (X) dengan citra Kementerian Agama di Masyarakat (Y)N=96 Terpaan Pemberitaan Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama di Media Massa (X) Citra Kementerian Agama di Masyarakat (Y) Total Tinggi Cukup Rendah Tinggi 5 (55,55%) 4 (44,44%) 0 (0%) 9 (100%) Cukup 9 (33,33%) 10 (37,03%) 8 (29,62%) 27 (100%) Rendah 8 (13,33%) 44 (73,33%) 8 (13,33%) 60 (100%)Dari tabel di atas menunjukkan bahwa dari 9 responden, 55,55% yang terkena terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama tinggi memberi nilai tinggi untuk citra Kementerian Agama di masyarakat. Sedangkan sisanya sebesar 44,44% memberi nilai cukup.Dapat dilihat pula sebanyak 37,03% dari 27 responden yang cukup mendapat terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama memberi nilai cukup untuk citra Kementerian Agama di masyarakat. Sedangkan 33,33% memberi nilai tinggi dan 29,62% yang memberi nilai rendah.Kemudian dapat dilihat pula sebanyak 73,33% dari 60 responden yang mendapat terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama rendah memberi nilai cukup untuk citra Kementerian Agama di masyarakat. Sedangkan yang memberi nilai tinggi dan rendah sama-sama 13,33%.Penjelasan di atas menunjukkan bahwa tidak ada kecenderungan hubungan antara terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama di media massa denga citra Kementerian Agama di masyarakat. Sebab, responden yang terkena terpaan rendah menilai cukup pada citra Kementerian Agama. Responden dengan terpaan cukup juga menilai cukup terhadap citra Kementerian Agama. Dan responden dengan terpaan tinggi memberikan nilai yang tinggi terhadap citra Kementerian Agama. Hal ini menunjukkan citra Kementerian Agama di masyarakat tidak dipengaruhi oleh pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama. Dengan demikian, hipotesis hubungan positif yang sebelumnya dibentuk tidak terbukti.PENUTUPMedia massa memiliki pengaruh dalam membentuk citra suatu lembaga, individu, ataupun fenomena yang terjadi di masyarakat. Dari pemberitaan negatif yang mendominasi media mengenai kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama dapat menimbulkan pengaruh kepada penilaian masyarakat yang mengikuti peristiwa tersebut. Citra Kementerian Agama yang dalam hal ini merupakan pemilik program pengadaan ikut terseret dalam pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran tentu dipengaruhi oleh pemberitaan di media massa. Ada juga beberapa masyarakat yang tidak mengetahui adanya campur tangan Badan Anggaran DPR RI dalam pembahasan anggaran terhadap program pengadaan yang selama ini sudah dilakukan oleh Kementerian Agama sejak tahun 2009 ini.Hipotesis penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama di media massa dengan citra Kementerian Agama di masyarakat. Artinya semakin tinggi terpaan berita kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran pada Kementerian Agama maka semakin tinggi pula citra Kementerian Agama di masyarakat.Namun, hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara terpaan pemberitaan kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran dengan citra Kementerian Agama di masyarakat. Hal ini dilihat dari hasil tabulasi silang, dimana citraKementerian Agama menunjukkan nilai cukup baik dari mayoritas responden dengan terpaan rendah, cukup, dan citra tinggi untuk terpaan berita yang tinggi. Jadi disimpulkan bahwa hipotesis awal dari penelitian ini tidak terbukti.DAFTAR PUSTAKAKasali, Rhenald. 2003. Manajemen Public Relations: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kriyantono, Rakhmat. 2008. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana.http://fokus.news.viva.co.id/news/read/332350-ketika-proyek-pengadaan-quran-ikut-dikorupsi diakses pada 15 September 2012.

Fulltext

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.