RELOKASI MUSEUM KRETEK KUDUS DENGAN PENEKANAN DESAIN NEO-VERNAKULAR

*bayu sasongko - 
Edward Endriarto Pandelaki - 
Bambang Supriyadi - 
Published: 31 Jul 2012.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Full Text:
Statistics: 83 90
Abstract


Kota Kudus dikenal dengan Kota Kretek, karena kisah kretek bermula dari Kota Kudus. Akan tetapi untuk
dunia pariwisata Kabupaten Kudus terkenal dengan pariwisata religiusnya karena terdapat dua makam yaitu
Sunan Muria berada di Muria dan Sunan Kudus berada di tengah Kota Kudus, satu kompleks dengan Masjid
dan Menara Kudus.
Karena kedua makam tersebut, Kudus dikunjungi tiap tahun begitu banyak peziarah dari kota manapun,
membuat Kudus mudah dan melekat pada ingatan masyarakat luas bahkan sampai beberapa negara tetangga
kita. Begitu bagusnya potensi itu sudah selayaknya dunia kepariwisataan di Kabupaten Kudus digarap dengan
serius. Menggali semua potensi pariwisata yang belum digali dan memaksimalkan potensi (aset) wisata yang
sudah ada di Kudus ini merupakan dua hal yang perlu dilakukan dengan serius. Maka dari itu perlu ditingkatkan
lagi tentang potensi sejarah kretek yang berkembang di Kota Kudus dengan adanya Museum Kretek.
Kajian diawali dengan mempelajari pengertian dan hal-hal mendasar mengenai kretek, standarstandar

mengenai tata ruang dalam museum, studi banding beberapa museum di Indonesia. Dilakukan juga
tinjauan mengenai lokasi Museum Kretek Kudus dan pembahasan konsep perancangan dengan penekanan
desain Arsitektur Neo-vernakular. Tapak yang digunakan adalah tapak asli relokasi. Selain itu juga dibahas
mengenai tata massa dan ruang bangunan, penampilan bangunan, struktur, serta utilitas yang dipakai dalam
perancangan “Relokasi Museum Kretek dengan Penekanan Desain Neo-Vernakular”.

Konsep perancangan ditekankan desain Arsitektur Neo-vernakular
Yulianto Sumalyo (1997:451) mengartikan vernakular sebagai bahasa setempat yang dalam arsitektur
istilah ini menyebut bentuk-bentuk yang menerapkan unsure-unsur budaya setempat. Lingkungan termasuk
iklim setempat diungkapkan dalam bentuk fisik arsitektural (tata letak, denah, struktur, detail-detail bagian,
ornament, dll). Dengan batasan tersebut maka arsitektural tradisional dalam bentuk permukiman maupun
unit-unit bangunan di dalamnya dapat dikategorikan vernakular murni, terbentuk oleh tradisi turun temurun
tanpa poengaruh dari luar.
Dalam perkembangan arsitektur modern, ada suatu bentuk yang mengacupada bahasa setempat
dengan mengambil elemen-elemen arsitektural yang ada ke dalam bentuk-bentuk modern yaitu neovernakular.

Sedangkan tujuan arsitek neo-vernakular memiliki tujuan melestarikan unsur budaya lokal
setempat yang secara empiris terbentuk oleh perilaku dan tradisi turun temurun termasuk bentuk dan
sistemnya.

Keywords
Museum kretek, Kudus, Arsitektur neo vernakular

Article Metrics: